Title : Beautiful Love
Cast : Gongchan B1A4 as Gongchan, Suzy miss A as Suzy, Min miss A as Min, CNU B1A4 as Shin woo
Genre : Romance
Author: Asri Lee
Annyeong, ini FF romance pertamaku. Seneng banget akhirnya selesai buat FF ini. Ya udah enjoyed the story.
Hari ini cuacanya sangat dingin. Terlihat samar-samar seorang yeoja tengah berjalan sendirian. Rambut se bahunya berkilau terkena lampu jalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Yeoja itu sepertinya bukan pelajar.
Tak lama kemudian seorang ahjussi betubuh gempal dengan rambut dicukur pendek sekali mendekati yeoja itu. Sepertinya ahjussi itu ingin melukai yeoja tersebut. Ahjussi berambut pendek hampir botak itu menarik-narik yeoja itu, tapi yeoja itu melawan dan bersikeras. Tapi ahjussi itu tetap ingin mengajak yeoja itu pergi. Tetap yeoja itu menolak. Bahkan ia berterik meminta tolong. Dan apa yang terjadi? Ahjussi itu menampar si yeoja. Yeoja itu memekik kesakitan. Gongchan yang sedari tadi mengamati yeoja itu dan ahjussi itu langsung menghampiri mereka.
"Ahjussi! Apa yang kau lakukan. Kenapa kau memperlakukan wanita seperti itu?" Teriak Gongchan yang masih berseragam sekolah dengan jaket tebal membalut tubuhnya yang tinggi dan putih. Gongchan menarik yeoja itu dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.
"Haha." ahjussi itu tertawa terbahak-bahak. "Hey kau bocah ingusan! Lebih baik kau segera pulang. Cuci kaki dan pergi ketempat tidurmu. Jangan ikut campur urusan orang lain."
"Aku tidak bisa. Tidak sepantasnya orang setua kau memperlakukan yeoja seperti tadi. Kau sudah tua tapi kenapa kelakuanmu seperti bayi."
Yeoja yang bersembunyi di balik punggung Gongchan menarik-naik jaket tebalnya. Mengisyaratkan agar tidak meladeni ahjussi bertubuh gempal itu.
"Kurang ajar kau!"
Ahjussi itu ingin memukul tepat di pipi Gongchan. Tapi Gongchan bisa menangkisnya dan menyerang tulang kering ahjussi itu. Ahjussi itu langsung tetjatuh kesakitan.
"Kurang ajar kau bocah tengik."
"Kau yang melayangkan pukulan duluan. Jangan salahkan aku."
"Kau ini."
Ahjussi itu melayangkan pukulannya lagi dan Gongchan bisa menahannya lagi. Akhirnya setelah beberapa kali di pukul Gongchan, ahjussi itu kabur berlari menjauh dari Gongchan dan Yeoja itu.
"Dia pasti mabuk. Bau alkohol menyengat sekali." ujar Gongchan.
"Gamsahamnida." Ujar yeoja itu. Bibirnya berdarah. Pasti semua itu karena tamparan ahjussi tadi.
"Bibirmu berdarah. Gwenchana?" Sekarang Gongchan bisa melihat dengan jelas wajah yeoja itu. Mungkin tepatnya ia panggil nonna. Nonna itu memegangi bibirnya.
"Tunggu sebentar." Segera Gongchan mengulurkan sebuah sapu tangan berisi sulaman nama. Nonna itu menerima sapu tangan yang diberikan Gongchan.
"Gamsahamnida Gongchan." ujar nonna itu.
"Nonna tau namaku? Apakah kita saling kenal?"
Mendengar pertanyaan Gongchan tadi membuat nonna itu terkekeh.
"Kau lucu sekali. Aku tau namamu dari sapu tangan yang kau berikan. Sulamannya berbunyi Gongchan. Pasti hadiah dari seorang yeoja."
"Ah iya. Kenapa aku bodoh sekali. Itu memang dari yeoja chinguku. Lalu nama nonna siapa?" tanya Gongchan.
"Panggil saja aku Min." Min nonna melipat sapu tangan Gongchan. "Oh iya. Nanti akan ku titipkan sapu tangan ini ke saeng ku ya Gongchan. Dia juga bersekolah di sekolahmu."
"Nonna tau sekolahku? Darimana nonna tau?"
"Dari seragam yang kau kenakan."
"Ah iya. Benar juga. Benarkah saeng mu satu sekolah denganku?"
"Ne."
"Siapa namanya?"
Sebelum Min sempat menjawab pertanyaan Gongchan, ponselnya berdering. Ia segera mengangkatnya. Sepertinya telepon dari saengnya. Pasti saengnya sangat kuwatir. Bahkan Min nonna hanya melambaikan tangannya kearah Gongchan sambil mengucapkan gamsahamnida. Lalu ia pergi mencari taxi.
Gongchan berjalan menuju rumahnya. Gongchan bukanlah tipe namja yang nakal. Dia penurut dan baik. Dia sangat mencintai renang. Hari ini ia pulang malam bukan karena keluyuran, tapi tadi Gongchan harus pergi ke butik eommanya untuk mengambil kunci rumah. Eommanya bilang malam ini ia tidak pulang ke rumah. Ia harus pergi ke rumah harabudji bersama appa dan saengnya dan menginap disana selama 3 hari. Sebenarnya Gongchan ingin ikut, tapi besok dia harus pergi kesekolah. Karena ujian sudah sangat dekat. Ia harus rajin belajar. Jadi ia tidak bisa ikut pergi bersama familynya. Tiba - tiba Gonhchan teringat dengan yeoja chingunya.
Kalau Suzy tau sapu tangan hadiah darinya kuberikan kepada Min nonna, apakah dia akan marah? Hmm entahlah, aku rasa dia hanya akan mengomeliku.
Keesokan harinya.
Akhirnya jam pelajaranpun usai sudah. Semua siswa memasukkan buku mereka dan bergegas pulang ke rumah masing-masing.
"Chagiya!" panggil Suzy.
"wae?"
"Chagi.. " Suzy menggandeng tangan Gongchan.
"wae yeobo?"
"Aku lapar."
"Mmm.. Nado~ aku juga lapar." Gongchan mengacak rambut Suzy.
Karena sama-sama merasa lapar, sebelum pulang mereka pergi ke kantin sebentar. Mereka segera memesan makanan dan minuman di kantin sekolah. Sesekali Suzy menyuapi Gongchan dan tersenyum melihat Gongchan mengunyah makanannya. Suzy sangat senang karena ia adalah yeoja chingu Gongchan shik. Namja tampan yang sangat ia cintai. Mereka sudah pacaran hampir 6 bulan dan itu terbilang sudah sangat lama. Selama ini Gongchan selalu melindungi Suzy. Dia sangat baik walau kadang ia menjadi namja yang sangat menjengkelkan. Apalagi kalau saat moodnya down. Kalau ditanya ia tidak akan menjawab sepatah kata pun.
Perut sudah terisi penuh. Itu tandanya mereka akan segera pulang. Gongchan dan Suzy segera menggendong tas mereka dan beranjak dari kantin sekolah. Ketika Suzy hendak berbalik seorang yeoja secara tidak sengaja menabraknya dan hasilnya minuman.yang dibawa yeoja itu menyiram seragam Suzy.
"Aissh."
"Mianhae. Aku tidak sengaja. Mianhae." yeoja itu membungkuk 90°
"Sudahlah tidak apa-apa." ujar Suzy segera pergi bersama Gongchan.
"Gwenchana yeobo?" tanya Gongchan
Suzy mencoba membersihkan seragamnya. Tapi sepertinya warna minuman itu susah dihilangkan.
"Bagaimana ini?"
"Sini mendekatlah." Gongchan menarik Suzy ke arahnya. Suzy berdiri tepat di depan Gongchan. Dengan berhati-hati Gongchan mencoba menghilangkan bekas minuman dari seragam Suzy. Perlahan-lahan Gongchan mencoba menghilangkan bekas minuman yang berwarna merah itu. Ia melakukannya dengan tulus dan Suzy bisa merasakannya. Dengan sabar Gongchan mencoba menbersihkan seragam Suzy, tapi sepertinya tidak bisa hilang.
"Sepertinya tidak akan bisa dihilangkan dengan tisu. Lebih baik kau cuci dirumah saja, bagaimana?" Gongchan yang sedari tadi menunduk kini menatap wajah Suzy yang melongo memandanginya sedari tadi.
"Yeobo! Kau baik-baik saja?" Gongchan melambaikan tanganya di depan wajah Suzy.
"Ne! Aku baik kok. Ayo kita pulang."
"Tunggu sebentar." Gongchan mencegah Suzy. Ia mengeluarkan dua buah tiket bioskop. Ia mengajak Suzy untuk menonton film nanti malam.
"Bisakah kau datang nanti malam?'
"Gerom! Aku pasti akan datang Chagi. Ayo pulang." Suzy menggandeng tangan Gongchan erat.
Mereka memang pasangan yang sangat serasi. Sama sama lucu dan terlihat menarik. Hari ini mereka akan pulang naik bus.
Musim dingin memang sabgat menyebalkan. Di halte bus Suzy mendadak menggigil kedinginan. Karena seragam sekolahnya yang basah membuatnya kedinginan. Padahal ia sudah mengenakan syal tebal.
"Yeobo kau kenapa ?" Tanya Gongchan menggenggam tangan Suzy.
Suzy hanya menggeleng. Ia merasa tubuhnya bergetar
Issh kenapa dingin sekali. Padahal baru awal musim dingin. Tuhan.. Aku merasa seperti ada di kutub utara.
Suzy menahan rasa dingin seraya menutup matanya. Tapi.. Tapi.. Kenapa sekarang Suzy merasa sesuatu membuat tubuhnya tidak menggigil lagi? Ia merasa tubuhnya hangat.
"Sudah tidak dingin lagi kan?" tanya Gongchan. Namja itu tersenyum manis. Ia telah memberikan jaket tebalnya untuk Suzy. Ia menutupi tubuh Suzy dengan jaket yang ia kenakan.
"Gomawo chagi. Tapi kau.."
"Busnya sudah datang. Ayo cepat." Gongchan segera menarik Suzy untuk cepat-cepat masuk ke dalam bus. Padahal Suzy ingin menolak pemberian jaket dari Gongchan. Karena Suzy tau pasti Gongchan juga kedinginan.
Di dalam bus, Gongchan dan Suzy duduk berdampingan. Gongchan terlihat melipat kedua tanganya.
Chagi.. Kau pasti kedinginan.
Suzy menarik tangan Gongchan dan menggenggamnya dengan erat.
"Kata eonni ku begini caranya kalau kedinginan." ujar Suzy.
Gongchan menatap wajah yeoja chingunya. Kemudian ia tersenyum manis.
"Arasseo. Bilang saja kalau kau ingin menggenggam tanganku. Ya kan?"
"Kau ini! Sudah untung aku melindungimu dari kedinginan." Suzy melepaskan genggaman tangannya. Ia membuang muka.
"Hey! kau marah?" Gongchan menyiku Suzy. "Kau lebih terlihat cantik kalo marah seperti ini. Serius." rayu Gongchan.
"Ihhh!! Kau menyebalkan!!" Suzy memukuli Gongchan. Mereka bercanda di dalam bus. Mereka tidak sadar kalau banyak orang yang melihat mereka. Dan seseorang yang memandangi mereka dengan sinis membuat Suzy terdiam dan mencengkram erat tangan Gongchan.
"Waeyo?" tanya Gongchan keheranan.
"Aniya. Sudahlah. Sebaiknya kau cepat turun. Bus sudah berhenti."
"Kau akan datang kan nanti malam?"
"Pasti! Aku pasti akan datang."
"Baiklah. Aku duluan ne?"
"Ne. Hati-hati chagi."
____________________
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Gongchan segera bergegas pergi ke bioskop. Ia mengenakan jaket terbaiknya. Hari ini ia rasa ia akan pergi ke bioskop cukup jalan kaki saja. Hitung-hitung menghilangkan rasa dingin yang menggerogotinya.
Tapi tiba-tiba sebuah mobil mewah berwaran hitam berhenti tepat di depan Gongchan. Dengan sangat kaget, Gongchan menghentikan langkahnya. Gongchan kebingungan 2 orang pria berjas hitam dan wajahnya sangat sangar keluar dari mobil.
"Ada apa ini?" Gongchan mengundur langkahnya.
Tidak ada jawaban dari kedua ahjussi itu. Mereka hanya berdiri dengan tatapan mengerikan.
"Siapa kalian?" Tanya Gongchan.
"Kau masih ingat denganku?" Tanya seseorang. Ia keluar dari mobil mewah paling akhir.
"A... Ahjussi?" Gongchan membelalak kaget. Ia merasakan ada hal yang tidak beres. Pirasatnya selama ini tidak pernah salah.
"Siapa yang kau panggil ahjussi bocah tengik!!" Ahjussi itu mendekati Gongchan dan mendorong tubuh Gongchan sampai-sampai Gongchan terjatuh.
Gongchan memcoba bangun tetapi dua orang teman ahjussi yang menyerang Min nonna kemarin membangunkan Gongchan dan memegangi kedua tangannya.
"Lepaskan aku! Kalian bisanya main keroyokan! Dasar penjahat!"
"Lalu kenapa? Kau mau melawan?" Ahjussi itu mengangkat dagu Gongchan.
"ishh!" Gongchan menendang kaki Ahjussi. Dan membuat ahjussi itu kesakitan dan marah.
"Berani kau ya." sebuah pukulan mendarat di pipi Gongchan. Ia merasa pipinya sangat-sangat sakit. Dan sebuah pukulan lagi menghantam pelipisnya.
Gongchan merasa kepalanya pusing. Samar-samar ia melihat ahjussi itu menaikkan lengan kemejanya. Karena hanya dia yang tidak memakai jas.
"Kau harus membayar pukulanmu waktu ini."
Bug Bug
Ahjussi itu berkali kali memukuli Gongchan sampai-sampai Gongchan melemas. Ia tidak mungkin bisa melawan, karena kedua tangannya dipegang oleh 2 orang berjas.
Kini Gongchan hanya bisa pasrah. Menunggu pertolongan dari seseorang. Wajahnya penuh luka dan darah. Sekali lagi sebuah pukulan menghantam perut Gongchan. Dan menbuat Gongchan batuk batuk.
Ketika tangannya di lepaskan oleh 2 orang berjas, tubuh Gongchan langsung terjatuh tersungkur. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit. Sangat sakit. Tidak ada sedikit kekuatan untuk sekedar berdiri apalagi melawan ahjussi dan teman-temannya.
"Lain kali ku peringatkan! Jangan ikut campur urusan orang lain! dasar bocah tengik!"
Sebelum ahjussi itu pergi, Gongchan menahan kakinya.
"Ak..aku tidak akan me.. Menurutimu. Ka..kau bukan siapa-sia..pa!! Pe..cun..dang!" Ujar Gongchan terbata-bata.
"Dasar kau ini!!!" Ahjussi itu menendang tubuh Gongchan. Membuat Gongchan kesakitan dan mengguling-gulingkan tubuhnya karena menahan sakit yang ia rasakan.
"Uhhuk uhhhuk." Gongchan langsung batuk batuk. Ia memegangi perutnya.
"Ya!! Apa yang kalian lakukan!!" Teriak seseorang dari kejauhan.
Tak lama kemudian ahjussi dan teman-temanya menaiki mobil mereka kemudian pergi.
Gongchan mencoba mengambil ponsel di saku jaketnya tapi.. Tapi.. Ia rasa ia tidak kuat lagi.
Suzy mianhae. Aku tidak bisa menemuimu sekarang. Mianhae.
"Ya!! Gwenchana??" Gongchan tidak tau siapa yang kini ada di hadapannya. Semuanya terlihat samar-samar. Ia hanya merasa tubuhnya yang amat sangat sakit itu diguncang-guncang.
_________________
Gongchan merasa tubuhnya masih sangat sakit. Ia membuka matanya dan ternyata dia tertidur di kamarnya.
"Kau sudah sadar rupanya."
Mendengar suara seseorang tadi, membuat Gongchan langsung menoleh.
"Dokter Shin woo." Ujar Gongchan
"Mianhae. Aku terlambat menolongmu. Ada apa sebenarnya?" tanya Dokter Shin woo. Dokter muda yang sangat tampan. Dia juga merupakan tetangganya Gongchan.
"Seseorang balas dendam denganku. Sudahlah jangan bahas itu lagi."
"Sebentar lagi orang tuamu akan pulang. Aku sudah menghubunginya."
"Shinwoo hyung! Kenapa kau... Aishh aku akan dimarahi appa!"
"Tumben kau menanggilku Shinwoo hyung."
"Karena aku kesal denganmu. Issh bagaimana ini?" Gongchan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tak lama kemudian ia teringat dengan Suzy. "Jam berapa ini? Aku harus pergi ke sekolah."
"Jam 10. Percuma juga pergi ke sekolah. Palingan gerbang sekolah sudah di tutup Chan!" ujar Dokter Shinwoo.
"Tapi.. Shinwoo hyung! Tolong ambilkan ponselku."
Lama Gongchan menatap ponselnya. Ia merasa bersalah. Pasti Suzy telah lama menunggunya tadi malam di bioskop. 20 missed call dari Suzy dan 15 pesan tak terbaca. Gongchan memejamkan matanya sejenak sebelum ia mengetik sesuatu untuk ia kirimkan ke Suzy. Gongchan tau saat ini Suzy masih di sekolah dan tidak mungkin Suzy membawa ponselnya. Tapi setidaknya sepulang sekolah ia bisa membaca pesan dari Gongchan.
Tapi kenapa Gongchan tidak jujur saja? Kenapa ia menyembunyikan kejadian sebenarnya? Semua itu karena ia tidak ingin Suzy kuwatir. Ia tidak ingin yeoja chingu yang ia sukai dan sangat ia sayangi kuwatir dengan keadaannya sekarang.
Brakk
Terdengar pintu utama rumah terbuka. Gongchan cepat-cepat menutup matanya. Agar appanya tidak memarahinya.
"Hyung! Bilang aku masih tidur ne! Aku mohon."
"Aishh. Ne hyung akan berusaha berbohong."
Segera Gongchan tidur. Ia menutup matanya yang tidak mengantuk sama sekali. Lalu terdengar suara eomma dan saengnya masuk ke kamar Gongchan. Eommanya terdengar kepanikan tapi kenapa tidak ada suara appa? Gongchan membuka sebelah matanya. Dan tepat saat itu saengnya melihat mata Gongchan terbuka.
"Eomma. Hyung sudah bangun." teriaknya.
Aih ketahuan juga. Aku harap appa tidak memarahiku
"Eomma." panggil Gongchan
" Gwenchana?"
Gongchan hanya mengangguk. Sementara itu dokter Shinwoo menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Dan yang pasti Shinwoo tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Siapa yang menyerangmu? Beritau eomma."
"Aniya eomma. Tapi.. Appa dimana?"
"Appa sedang di kantor polisi. Ia akan berusaha mencari siapa yang mengeroyokmu. Untung Shin woo sempat meluhat nomor kendaraan orang yang menghajarmu. Eomma harap bisa di temukan orang yang berani memukuli anak eomma."
"Shin woo hyung gomawo." Gongchan tersenyum simpul. Karena ia merasa bibirnya masih sakit, karena ada sedikit luka di bibirnya.
"Tapi.. Apakah dia tidak akan bertindak macam-macam dengan Min nonna?"
"Siapa dia?" tanya eomma.
"Aku menolong dia 2 hari yang lalu. Dia dihadang seorang ahjussi yang memukuliku kemarin. Bukan aku yang mencari gara-gara kepadanya tapi apakah aku salah memcampuri urusan orang lain demi kebaikan dan keselamatan seorang yeoja?"
"Eomma bangga. Kau pemberani! Kau telah melakukan hal terbaik. Eomma yakin Min nonna yang kau bilang itu baik-baik saja. " Eomma mengelus-elus rambut hitam Gongchan. Kemudian ia keluar mengantar Shinwoo. Karena Shinwoo hyung juga harus pergi ke kliniknya.
Aku telah melakukan hal terbaik? Tidak sepenuhnya benar. Karena.. Aku telah mengecewakan yeoja chinguku. Mianhae Suzy. Aku harap besok aku diijinkan bersekolah.
Pagi hari tiba
Semua keluarga Gongchan sudah menunggu Gongchan sarapan. Hari ini Gongchan di ijinkan pergi ke sekolah oleh eomma.
Pagi itu juga appa Gongchan mendapat telepon kalau orang yang memukuli Gongchan sudah di temukan dan akan di beri hukuman. Orang itu memang buronan polisi karena telah banyak perbuatan yang melanggar yang ia dan teman-temannya lakukan selama ini.
Mendengar berita kalau ahjussi si pemukul akan diberi hukuman, Gongchan dapat bernafas lega. Setidaknya ia tidak akan mengganggu siapa-siapa lagi.
Pagi ini Gongchan pergi kesekolah naik bus. Ia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Ia berada di dalam bus dengan headphone menempel di telinganya. Lagu yang mengalun merdu ia acuhkan. Gongchan sibuk memikirkan kata-kata yang ingin ia sampaikan kepada Suzy.
Kemarin Suzy tidak membalas pesan dari Gongchan. Dia juga tidak mengaktifkan ponselnya. Pasti dia sangat marah. Dan apa yang harus Gongchan lakukan kalau Suzy tetap marah? Gongchan juga tidak tau apa jawabannya.
Setibanya di sekolah semua menanyakan luka luka di wajah Gongchan. Dan Gongchan mengatakan bahwa dirinya berkelahi dengan seseorang karena salah faham. Bukan karena dikeroyok.
Seharian ini Suzy tidak menghiraukan Gongchan. Sesekali Gongchan mendekatinya tapi ia malah menghindar. Dan ketika jam pulang sekolah tiba. Gongchan menaruh secarik kertas di atas meja Suzy. Tanpa bicara sepatah katapun Gongchan langsung pergi.
Perlahan-lahan Suzy buka kertas itu dan membacanya.
Aku tau aku salah. Tapi.. Semua ini juga tidak aku inginkan. Jika saja aku tidak berkelahi dengan orang asing itu mungkin kita bisa menonton bersama. Mianhae neomu mianhae. Kalau kau memaafkan ku aku akan menunggumu di taman sekolah. Aku akan menjelaskan sejelas-jelasnya.
"Apa maksudnya? Apakah perkelahian lebih penting baginya? Sejak kapan Gongchan yang ku kenal suka berkelahi? Sejak kapan ia berubah menjadi berandalan?" Suzy membuang kertas dari Gongchan lalu ia berjalan menyusuri koridor sekolah. Melanjutkan perjalanannya menuju gerbang sekolah tanpa sedikitpun berniat menghampiri Gongchan di taman sekolah.
Memang seharian ini Suzy tidak menatap Gongchan secara seksama. Tapi kata sahabatnya, wajah Gongchan penuh luka luka. Suzy sempat merasa kasihan tapi kekesalannya lebih besar daripada rasa kasihannya.
Dan hari ini Suzy harus naik bus sendirian. Belakangan ini ia harus menikmai rasanya naik bus sendirian tanpa seorang Gongchan disisinya.
Ketika bus baru menempuh perjalanan kira-kira 30 meter, tiba-tiba bus berhenti. Dan saat itu jua seorang namja yang sangat Suzy kenal menaiki bus.
Gongchan.. Kenapa harus seperti ini? Aku.. Ya Tuhan, lukanya lumayan parah. Tidak. Aku tidak boleh kasihan dengannya.
Suzy membuang muka. Ketika Gongchan melewatinya. Ia menangkap sebuah kata Mianhae. Kata itu terucap sangat jelas. Suzy menoleh kearah jendela. Ia merasa serba salah. Karena kini Gongchan duduk di belakangnya.
Bus masih tetap melaju. Ketika melewati gang rumah Gongchan bus masih tetap melaju. Suzy hanya terdiam, walaupun sebenarnya ia ingin sekali menanyakan keadaan Gongchan.
"Nona! Sudah sampai." ujar sopir bus.
Cepat-cepat Suzy turun dari bus. Dan ia rasa Gongchan juga ikut turun bersamanya. Suzy masih mencoba tidak menghiraukan Gongchan. Ia menambah kecepatannya berjalan. Tapi.. Sayang sekali saat itu kaki Suzy kesandung batu dan tubuhnya terjatuh.
"Suzy!! Gwenchana?" Gongchan menghampiri Suzy dan membangunkannya.
Tidak ada tanggapan apa-apa dari Suzy. Ia membersihkan seragamnya dari debu kemudian ia melirik Gongchan dengan sinis. Suzy ingin pergi tapi Gongchan menahannya.
"Kau masih marah? Jelaskan padaku! Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah.lagi."
"Aku tidak tau." Suzy sama sekali tidak mau menatap wajah Gongchan.
"Suzy! Tatap aku! Katakan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa terus seperti ini." ujar Gongchan.
"Apakah aku harus menatap wajah berandalan penuh luka sepertimu? Apakah aku harus menatap wajah namja chinguku yang lebih mementingkan perkelahian?" mata Suzy berkaca-kaca. "Aku kecewa Gongchan! Aku harap kau cepat pulang ! Jangan ikuti aku lagi." Ujar Suzy segera melangkahkan kakinya.
"AKU TIDAK BERKELAHI!" teriak Gongchan membuat Suzy menghentikan langkahnya. "Aku.. Aku dikeroyok. Aku dikeroyok tiga orang ahjussi. Jika aku mengatakan seperti itu apakah kau akan percaya?" Ujar Gongchan. Ia hanya bisa melihat punggung Suzy.
Suzy melajutkan langkahnya. Ia kaget mendengarkan pengakuan Gongchan. Ia bingung apakah semua yang di katakan Gongchan itu benar atau tidak.
"Kenapa kau tidak percaya? Lalu siapa yang akan kau percayai HAH?!" Teriak Gongchan masih mengikuti Suzy.
Air mata Suzy mulai menetes. Ia membuka gerbang rumahnya dan segera masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari.
Gongchan menunggu Suzy di pagar rumahnya. Ia berharap Suzy akan menaafkannya. Ia yakin Suzy akan memaafkannya. Karena setau Gongchan, Suzy bukanlah yeoja yang keras kepala.
"Annyeong haseyo!" Ujar seorang yeoja menyapa Gongchan dari belakang. Gongchan membalikkan tubuhnya memandang yeoja yang menyapanya tadi.
"Min nonna!'
"AIGO!! Go..Gong..Gongchan!! Wajahmu. Omo, apa yang telah terjadi?" Min mengguncang-guncang lengan Gongchan.
"Aku.."
"Ya sudah. Kita masuk dulu." Min membuka gerbang rumahnya.
"Tunggu. Jadi... Suzy adalah.."
"Suzy adalah saengku. Kau. Kau kesini mau mencari Suzy?"
"Aku mau meminta maaf. Tapi sepertinya dia tidak mau bertemu denganku."
"Ya sudah. Kita masuk dulu. Kita bicarakan satu persatu. Ne?"
Gongchan mengaangguk dan mengikuti Min masuk ke dalam rumahnya. Setelah dipersilahkan duduk dan diambilkan minum oleh Min, kemudian Gongchan menceritakan apa yang telah terjadi. Min merasa sangat bersalah terhadap Gongchan tapi Gongchan mencoba menenangkan Min.
"Tidak ada luka yang serius kan? Apa ada tulang yang patah?"
"Tidak separah itu Min nonna. Hanya saja.. Aku dan Suzy tidak jadi menonton gara-gara pengeroyokan itu."
"Oh.. Jadi yeoja chingu yang memberimu sapu tangan adalah Suzy? Ya tuhan. Jadi gara-gara tidak jadi menonton anak itu mengurung dirinya semalaman."
Gongchan mengamati seluruh ruangan di rumah Min dan Suzy.
"Karena aku merasa berutang nyawa denganmu, aku akan memanggilkan Suzy kesini. Tunggu dulu ne?"
"Ah.. Tidak usah. Mungkin lebih baik aku pulang saja daripada membuat Suzy kecewa."
"Andwe! Aku akan membantumu."
Min menaiki tangga rumahnya dan memanggil Suzy yang masih ada di kamarnya. Terdengar Suzy setuju untuk turun ke ruang tamu berkat kebohongan Min.
Mata Suzy membelalak kaget ketika melihat Gongchan duduk menunggunya di ruang tamu. Namja itu menatapnya penuh arti. Langkah demi langkah Suzy membawanya semakin mendekat dengan Gongchan.
"Duduklah." Ujar Min menyuruh Suzy duduk.
Ya Tuhan.. Lukanya semakin terlihat sangat jelas.
Suzy mencoba mengalihkan pandangannya yang sedari tadi memandangi wajah Gongchan.
"Kau pasti sudah kenal Gongchan." Ujar Min kepada Suzy. "Oh iya" Min mengeluarkan sapu tangan milik Gongchan dari tas tangannya.
Melihat sapu tangan yang ia berikan kepada Gongchan dibawa oleh eonninya membuat Suzy kaget dan bertanya-tanya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Suzy.
"Dia adalah namja yang ku ceritakan waktu ini. Namja yang menolongku dari pemabuk. Tapi.. Karena menolongku dia jadi seperti ini. Karena aku Gongchan dikeroyok pemabuk dan teman-temannya. Aku merasa berhutang nyawa."
"Gwenchana Min nonna. Kau jangan merasa bersalah seperti itu. Ini hanya luka ringan akibat pukulan ahjussi itu." Ujar Gongchan mencoba tersenyum.
Deg
"Lalu.. Kenapa kau berbohong kepadaku? Kenapa kau harus berbohong dan membuatku membencimu?" Tanya Suzy.
Min tau diri. Mungkin hanya sebatas itu ia mencampuri urusan saengnya. Ia harus segera pergi dari sana.
"karena.." Gongchan menunduk. Ia merasa dirinya amat sangat bodoh."Karena aku tidak ingin kau kuwatir. Aku tidak ingin kau mengkuwatirkan keadaanku saat itu."
"sudah seharusnya aku mengkuwarirkanmu! Aku yeoja chingumu. Semua ini karena kau berbohong kepadaku!! Dasar pembohong!"
"Aku memang pembohong. Tapi itu kulakukan hanya agar kau tidak terlalu kuwatir."
"benar. Aku memang tidak kuwatir. Bahkan aku berhasil mebencimu!" Suzy membuang muka.
"Jadi. Sampai sekarang kau masih membenciku."
"Menurutmu?" Suzy masih tidak ingin memandang wajah Gongchan.
"maafkan aku telah membogongimu. Aku memang jahat dan pembohong. Mianhae. Mungkin sebaiknya aku harus pulang sekarang agar kau tidak merasa terganggu dengan keberadaanku." Gongchan tidak mendapat tanggapan apa-apa dari Suzy. "Apakah aku juga harus menjauhimu dan memutuskan hubungan dengamu? Apakah dengan seperti itu kau akan merasa tenang?" Tanya Gongchan. Suzy masih tidak menjawab. Yeoja itu membuang muka.
Mata Gongchan berkaca-kaca. Ia mengangguk tanda mengerti. Gongchan beranjak dari tempat duduknya. Kini Gongchan berdiri.
"Aku akan pulang. Mianhae aku telah menyakitimu dan membohingimu. Aku akan mencoba.." Gongchan menguatkan dirinya. Seorang namja tidak boleh menangis. Ia menahan air matanya agar tidak menetes. "Aku akan mencoba menghindar darimu. Aku harap aku bisa. Tapi.. Aku akan tetap mencintaimu. Sampai kapanpun Suzy. Selamat sore." ujar Gongchan segera melangkahkan kakinya.
Ia rasa semua sudah berakhir. Suzy benar-benar sudah membencinya. Selama perjalanan Gongchan pulang ke rumahnya ia merasa tubuhnya lemas. Ia tidak bersemangat melakukan apapun. Bahkan sesampai dirumah ia langsung pergi kekamar dan membenamkan wajahnya di bantal. Gongchan memejamkan matanya. Ia harap ia bisa tidur dan ketika terbangun nanti semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk.
"Channie! Kau sudah mandi dan mengobati lukamu?" panggil eomma
Buru-buru Gongchan membukakan eommanya pintu.
"Wae eomma?"
"Omo! Kau belum mandi? Cepat mandi dan obati lukamu itu."
"Ne ne arasseo. Aku akaandi sekarang. Eomma cerewet sekali."
Gongchan segera menutup pintu kamarnya. Sebelum sempat membuka seragam sekolahnya, ia mendengar ponselnya berdering. Segera Gongchan membuka pesan masuk. Dan.. Mata Gongchan membelalak ketika membaca isi pesan itu.
Jaket tebal yang menggantung di belakang pintu ia tarik dan ia kenakan. Tanpa basa basi Gongchan langsung berlari keluar rumah. Bahkan teriakan eommanya pun tidak ia hiraukan. Dengan masih berseragam sekolah ia berlari menuju sungai han. Secepat-cepatnya Gongchan mencoba berlari. Ia tidak mau Suzy lama menunggunya.
Yang terdengar hanyalah hembusan nafas Gongchan. Lampu jalanan yang sudah mulai menyala menerangi jalanan. Gongchan berlari diantar orang-orang. Ia berharap segera sampai dan bertemu dengan Suzy.
Rambut Gongchan sembrautan kesana kemari saking cepatnya ia berlari. 15 menit kemudian ia telah sampai di sungai han. Dari kerjauhan Gongchan melihat seorang yeoja tengah berdiri di pinggir sungai. Gongchan menghampirinya dan berdiri di belakangnya.
"Ada apa kau menyuruhku kesini?" nafas Gongchan belum teratur. Sepertinya Suzy bisa mendengar nafas Gongchan.
Suzy membalikkan tubuhnya. Kini ia behadapan dengan Gongchan. Suzy melihat Gongchan masih mengenakan seragamnya.
"Kau berlari? Kenapa kau belum mengganti seragammu?"
"Aku tidak ingin kau menunggu terlalu lama." ujar Gongchan.
"Oh." Ujar suzy.
"Oh? Lalu untuk apa kau menyuruhku kesini?"
Suzy merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sapu tangan yang ia berikan kepada Gongchan. Ia memasukkannya ke dalam saku jaket Gongchan.
"Hanya untuk mengembalikan sapu tangan?" tanya Gongchan keheranan. Saking herannya Gongchan menggeleng-geleng tidak percaya.
"Aku berlari dari rumah. Aku berfikir kau akan.. Ternyata dugaanku salah. Aku sudah berfikir kau ak." belum sempat Gongchan menyelesaikan perkataannya ia terkejut dan tidak menyangka. Saat ini Suzy tengah memeluknya sangat erat.
"Aku memaafkanmu. Jadi kau tidak usah menghindariku." kata Suzy masih memeluk erat tubuh Gongchan.
"Hhh.. Kau pikir aku akan benar-benar menghindar darimu? Aku tidak akan bisa." Gongchan membalas pelukan Suzy.
Mereka tetap seperti itu selama beberapa menit. Gongchan merasa bahagia akhirnya mereka bisa baikan juga. Ia harap tidak akan ada masalah seperti ini lagi.
"Kau tidak kenapa-napa kan chagi? Luka akibat keroyokan itu tidak parah kan?" Suzy melepaskan pelukannya. Kini ia menatap dengan saksama wajah namja chingunya.
Suzy hanya menangkap senyum manis Gongchan. Namja itu memegang kedua bahunya. Kemudian kedua telunjuknya menunjuk ke pipi Suzy yang agak memerah karena suhu saat itu lumayan dingin.
"Selama kau tetap tersenyum dan mencintaiku, aku akan baik-baik saja." Ujar Gongchan
Suzy merasa jantungnya berdegub sangat kencang. Ia tersenyum manis mendengar kata-kata Gongchan.
"pasti. Aku akan selalu tersenyum dan mencintaimu. Agar kau baik-baik saja chagi."
"Baiklah yeobo. Kajja kita pulang." ajak Gongchan.
Sepanjang perjalanan mereka selalu berpegangan tangan. Dia antara orang-orang yang berlalu lalang mereka yang terlihat paling bahagia.
§§§§§ TheEnd §§§§§
Tidak ada komentar:
Posting Komentar