Author : Asri Wijayanti
Genre : Horror
Semua siswa sudah tertidur. Hanya Haruka yang masih terbangun. Ia mendengar deting jam tua yang menggelantung di tembok aula asrama. Aneh sekali, jam itu tak henti-hentinya berbunyi.
Haruka memutuskan untuk keluar dan ia mendekat ke arah jam dinding. Ternyata bukan di sana sumbernya. Langkah Haruka berlanjut. Ia menuruni tangga asrama. Tidak ada siapapun yang ia lihat. Karena seluruh lampu koridor
dimatikan.
Tiba-tiba saja Haruka mendengar suara aneh di ruang bawah tanah. Ia penasaran dan ketika tangannya menyentuh gagang pintu, jantungnya berdegub kencang.
Dengan penuh keberanian Haruka membuka pintu dan ia langsung menjerit ketakutan. Ia ingin berlari tapi sebuah tangan mencengkram kakinya dan menariknya masuk ke dalam.
Keiko hanya bisa bersembunyi melihat semua itu. Kaki tangan bahkan seluruh tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Air mata bercucuran menetes di pipinya.
Ia bisa melihat bayangan itu. Seseorang telah membunuh Haruka. Tak lama kemudian, dia, pembunuh itu menyeret mayat Haruka keluar dan menggantungnya di aula asrama.
Tangis Keiko semakin menjadi-jadi. Ia merangkak ketakutan memasuki ruang tidurnya. Ia.sangat takut, sampai-sampai Keiko membalut dirinya dengan selimut dan bersembunyi di dalam lemari. Pintu ia kunci dan gorden jendela ia tutup rapat.
"Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati." Keiko menangis ketakutan.
Karena lampu Koridor mati, Keiko tidak dapat melihat dengan jelas siapa pembunuh Haruka. Ia hanya tau kalau pembunuh itu adalah seorang lelaki.
***
Pagi telah tiba seluruh siswa dan siswi sudah bangun dan bergegas pergi ke sekolah. Jeritan seorang siswi mengagetkan seluruh siswa siswi SMA Sakura. Semua berlari ke aula dan ketakutan melihat mayat Haruka menggantung di atas.
Semua menutup mulut dan menangis ketakutan. Darah di kepala Haruka terus menetes dan mengalir di lantai.
"Ada apa ini?" Tanya Yosada sensei.
"Haruka! Dia bunuh diri sensei." Ujar seorang siswa.
"Apa?" Yosada sensei dan Mei sensei segera melihat keadaan Haruka.
Mereka berdua menenangkan seluruh siswa. Sedangkan Mei sensei masih menelpon Tomoyuki sensei untuk segera menghubungi polisi.
Sementara semua siswa ribut membicarakan kematian Haruka, Yuto kebingungan mencari seseorang. Sejak tadi Keiko memang tidak terlihat.
Pikiran Yuto kemana-mana. Ia takut ada sesuatu yang terjadi dengan Keiko. Haruka adalah teman sekamarnya Keiko. Jadi mereka sering main bersama.
Dengan sedikit berlari Yuto menuju asrama putri. Ia tidak takut jika harus di hukum karena sudah menginjakkan kaki di asrama putri. Yuto hanya ingin tau keadaan Keiko.
Aku tidak mau mati. Haruka mati karena ia melihat pembunuhan itu. Aku tidak akan membuka mulut tentang pembunuhan Haruka. Aku tidak ingin mati.
Keiko tertidur di dalam lemari. Bahkan ketika Yuto datang dan menggetok pintu kamarnya, Keiko tidak bangun. Dan membuat Yuto panik.
"Keiko!! Buka pintumu!!" teriak Yuto. Siswa itu masih menggedor-gedor pintu kamar Keiko.
"Keiko! Apakah kau baik-baik saja? Jawab aku! Aku Yuto!!!" teriakan Yuto membawa Mei sensei ke sana menghampirinya. Mei sensei terganggu dengan teriakan-teriakan Yuto.
"Yuto! Apa yang kau cari kesini? Kau tau aturan?" delik Mei sensei yang merupakan kakak kandungnya Keiko.
"Keiko! Aku kesini hanya ingin melihat keadaannya. Sejak tadi pagi Keiko tidak kelihatan. Aku takut hal yang sama terjadi dengannya."
Mei sensei mencoba menggetok pintu dan membukanya. Tapi percuma saja. Pintu telah Keiko kunci rapat-rapat. Sekali lagi Mei sensei mencobanya tapi tak ada tanggapan apapun dari dalam kamar Keiko.
"Sepertinya ada yang tidak beres disini." ujar Mei sensei. Ia segera pergi untuk mencari kunci serep kamar asrama Keiko.
Yuto masih menunggu Mei sensei datang. Tak berselang waktu lama dengan penampilannya yang rapi, Mei sensei datang dan langsung membuka pintu kamar.
"Tidak ada siapa-siapa. Kemana dia pergi?" ujar Mei sensesi masih curiga.
Mereka berdua memanggil nama Keiko. Dan tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu jatuh. Yuto dan Mei sensei menoleh ke sumber suara. Mereka kaget melihat tubuh lemah Keiko keluar dari lemari. Tubuhnya di balut selimut putih tebal.
"Keiko!!" Yuto segera menghampiri Keiko.
"Keiko! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersembunyi di dalam lemari?" tanya Mei sensei.
"Aku tidak mau mati." kata Keiko sedikit pelan. Air matanya menetes. Ia masih dalam pangkuan Mei sensei.
"Dia mengetahuinya." ujar Yuto menatap Mei sensei.
Tanpa mereka sadari seorang siswi melihat adegan di kamar asrama Keiko. Siswi itu langsung berlari ke sekolah yang berada tak jauh dari asrama.
Yuto menggendong Keiko ke luar. Sebuah mobil ambulance sudah menunggu di luar. Keiko segera masuk ke dalam.
"Lebih baik kau sekolah saja. Biar aku yang mengantarnya."
"baiklah sensei."
Yuto masih menatap kepergian ambulance yang membawa Keiko. Ia masih penasaran dan ia yakin kalau Keiko mengetahui tentang kematian Haruka.
***
Di dalam ambulance , Keiko menjerit ketakutan. Matanya masih tertutup tetapi ia gelisah dan ketakutan. Tangannya mencengkram erat sisi kereta dorong. Sambil sesekali ia berkata "Aku tidak mau mati." Mei sensei hanya bisa menggenggam tangan Keiko.
"Aku tidak mau mati. Tidakkk!!" Keiko terbangun. Keringatnya bercucuran dan wajahnya sangat pucat. Ia menatap Mei sensei.
"Tenanglah Keiko! Ada kakak disini!" Mei sensei menenangkan Keiko.
"Aku tidak tau! Jangan tanya kepadaku tentang kematian Haruka. Aku tidak tau." Keiko terdiam "Aku tidak tau. Aaa...." Keiko menutup telinganya. Ia terus berteriak dan sorot matanya seperti orang kebingungan dan ketakutan.
"Tenanglah!"
"Kenapa harus aku? Apakah aku akan mati juga kak? Jawab!!" Keiko memukul-mukul dadanya.
Mei sensei menahan tangan Keiko. Ia segera mendekap adik satu-satunya itu. Tapi Keiko melawan dan ia menjerit ketakutan.
"Jawab aku!" Keiko menangis sejadi jadinya dalam pelukan Mei sensei. Tetapi tiba-tiba saja Ia meloncat sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar.
"Haruka! Itu Haruka. Dia masih hidup. Aku harus keluar dari sini." Keiko ingin turun dari mobil ambulance tapi dengan cepat Mei sensei menahannya.
Karena Keiko tidak bisa diam dan hal itu bisa menyakiti dirinya. Akhirnya dokter menyuntikkan obat penenang. Dan akhirnya Keiko tenang dan tertidur.
Kini Keiko telah tertidur di ruang rawat. Mei sensei meninggalkan Keiko sendiri. Karena dia harus pergi ke sekolah untuk mengajar. Ia sudah berpesan kepada perawat agar segera mrnghubunginya jika ada sesuatu yang terjadi dengan Keiko.
Mei berharap semuanya akan kembali normal. Adiknya akan kembali ceria dan tidak ketakutan seperti tadi.
***
Jam masuk kelas sudah berbunyi tetapi karena tragedi kematian Haruka membuat proses belajar mengajar terganggu. Semua siswa di seluruh penjuru sekolah membicarakan hal itu.
Saat ini Yuto membasuh wajahnya. Ia masih memikirkan keadaan Keiko. Yuto merasa kalau Keiko tau kejadian pembunuhan Haruka.
"Mungkin saja dia pembunuhnya." ujar seorang siswa dengan temannya. Siswa itu masuk ke toilet hanya untuk merapikan rambutnya.
"Katanya dia ketakutan dan bersembunyi di dalam lemari. Apa itu tidak mencurigakan. Sepertinya Mei sensei sengaja menyembunyikan kesalahan adiknya." ujar siswa itu lagi.
"Apa maksudmu?" Yuto menggebrak wastafel.
"Kenapa kau ini?"
"Siapa yang kau bilang pembunuh?" Yuto mulai emosi
"Apa-apaan kau ini. Aku tidak ada urusan denganmu."
Siswa itu dan juga temannya berjalan keluar meninggakan Yuto. Kali ini Yuto bisa menahan dirinya. Ia berjalan keluar meninggalkan toilet.
"Aku rasa, memang Keiko pembunuhnya." Yuto mendengar kata-kata itu ketika ia hendak masuk ke kelas.
"Siapa tukang fitnah itu?"
"Kenapa? Bukankah Keiko patut di curigai? Siapa tau dia yang membunuh Haruka." Ujar siswa yang membuat Yuto kesal di toilet tadi.
"Lancang kau ya!!"
Bug
Sebuah pukulan keras menghantam pipi siswa itu. Yuto tidak tahan lagi dengan gosip yang menyebar. Jika di biarkan seperti itu, Keiko akan disalahkan.
Perkelahian akhirnya terjadi. Yuto dan siswa yang bernama Niko itu saling memukul dan meninju. Siswa siswi yang ada disana hanya bisa menonton perkelahian itu. Hingga akhirnya Tomoyuki sensei datang dan menghentikan perkelahian tersebut.
Mereka dibawa ke ruang Tomoyuki sensei. Wajah mereka memar sana sini. Yuto menunduk, sebenarnya ia tidak ingin perkelahian ini terjadi tapi Niko telah memfitnah Keiko dan keadaan itu yang membuat Yuto kesal.
"Jelaskan kepada sensei! Apa yang kalian ributkan? Apakah kalian fikir sensei di sekolah ini kurang kerjaan hah? Orang-orang seperti kalian harus aku apakan?" Tomoyuki sensei terlihat sangat kesal.
"Maafkan aku.". Ujar Yuto.
"Sudah sepantasnya kau minta maaf. Karena kau yang memukulku lebih dulu." ujar Niko.
Yuto hanya melirik Niko. Ia meredam emosinya yang mulai terpancing.
"Kenapa kau lakukan itu Yuto?" Tanya Tomoyuki sensei.
Haruskah aku berkata sejujurnya. Tapi, Keiko akan ada dalam masalah yang sangat sulit.
Yuto memilih untuk tidak mengatakan alasannya memukul tukang fitnah seperti Niko, ia hanya terdiam. Tapi Niko malah mengatakan alasan Yuto memukulnya dan membuat Yuto marah.
"Hey diam kau tukang fitnah!" Teriak Yuto.
"Aku hanya memberi tau Tomoyuki sensei. Tidak salah kan jika aku mencurigainya? Karena seorang siswi melihat Keiko bersembunyi di dalam lemari saat Mei sensei datang ia menangis ketakutan. Bukankah itu harus kita curigai?" Ujar Niko.
"Sudah-sudah!!" Bentak Tomoyuki sensei. "apakah kalian polisi? Tugas kalian hanya belajar! Biarkan polisi yang mengurusnya" ujar Tomoyuki sensei.
***
Mei sensei tiba di sekolah. Ia kaget karena Tomoyuki memanggilnya ke ruangan. Dengan perasaan ragu ia segera pergi ke ruangan Tomoyuki sensei.
Setelah dipersilahkan duduk Mei sensei menanyakan alasan ia disuruh datang ke ruangan Tomoyuki Sensei.
"Benarkah adikmu bersembunyi di lemari dan ketakutan saat kematian Haruka?"
Alis Mei sensei mengerut. Ia tidak tau siapa yang telah melihatnya tapi semua itu akan menempatkan Keiko dalam posisi yang serba salah.
"Dimana dia sekarang? Dia harus diperiksa juga, karena polisi hanya menemukan bukti.adanya penganiayaan. Bukan bunuh diri."
"Jadi anda menuduh adik saya?"
"Bukan. Tapi adikmu harus diperiksa polisi juga."
"Apa?"
Tiba-tiba saja Yosada sensei masuk ke ruangan Tomoyuki sensei sambil membawa sebuah amplop.
"Permisi." ujar Yosada.
"Kenapa?" tanya Tomoyuki.
"Ada yang tidak beres lagi. Seorang siswa menemukan surat ini di atas Mizaki sensei!" Yosada memberikan surat itu dan Tomoyuki segera membukanya.
Dengan mimik wajah terkejut ia membaca surat itu sampai akhir. Tomoyuki terlihat sangat kesal. Ia membuang surat itu dan memalingkan wajahnya.
Surat itu berada tak jauh dari kaki Mei, ia memungutnya dan membacanya bersama-sama dengan Yosada.
"Aku akan pergi untuk selamanya."
Mereka berdua terkejut melihat tulisan yang ditulis dengan darah. Ia rasa ini adalah sebuah teror yang konyol. Mei segera pergi membawa surat itu menemui polisi dan juga detektif yang masih melakukan penyelidikan di asrama.
***
Seusainya proses belajar mengajar, Yuto bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Keiko. Sebelumnya ia sudah menanyakan ruang rawat Keiko kepada Mei.
Sesampainya disana, Yuto melihat Keiko tengah membawa sebuah amplop putih. Wajah Keiko memerah ketakutan. Ketika Yuto masuk ke dalam Keiko terkejut hampir menjerit.
"Ini aku." Ujar Yuto.
Sekarang Keiko bisa tenang. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Ia masih memegang kertas yang ia dapatkan dari dalam amplop.
Yuto meminta kertas itu dari Keiko. Tangan Keiko sangat gemetaran. Mata Yuto membelalak kaget ketika membaca surat yang ditulis dengan darah itu.
"Ha.Haruka kah yang membuatnya? Apakah dia akan membunuhku?" Keiko menatap Yuto. Keringatnya selalu membasahi keningnya.
"Ini hanyalah teror! Kau akan baik-baik saja." Yuto mencoba menenangkan Keiko.
"Tadi Haruka mencariku dalam mimpi. Aku takut. Aku tidak mau mati. Tidak." Keiko menangis sambil menunduk.
"Keiko! Apakah kau melihat pembunuhan itu? Kenapa kau seperti ini?" Tanya Yuto.
Mata Keiko mendelik Yuto. Dia terlihat menyeramkan. Keiko terlihat seperti bukan Keiko. Ia berteriak ke arah Yuto.
"Aku tidak tau! Aku tidak tau kematian siapapun! Jangan tanyakan hal itu kepadaku! Aku tidak mau mati Yuto!!!" Keiko menutup telinganya. "Aku tidak mau mati." Keiko menangis tersedu-sedu.
"Maaf. Maafkan aku Keiko." Yuto memeluk Keiko.
Malam telah tiba. Mei dan Yuto sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit. Mereka harus membawa Keiko kabur sejauh-jauhnya. Detektif tidak boleh mengintrogasi Keiko. Ia akan gila kalau ditanya masalah kematian Haruka.
Semua ini memang salah. Membawa Keiko kabur memang tindakan yang salah. Tapi Mei tidak tega melihat adiknya seperti orang gila ketika ditanya masalah kematian Haruka. Apalagi kini Keiko sudah mulai di teror juga oleh si pembunuh yang entah siapa dia.
"Makasi Yuto. Kau sudah menolong Keiko sejauh ini. Tapi kau tidak boleh berlelahi seperti ini lagi."
"Ia sensei. Aku janji. Hanya saja aku tidak terima orang-orang itu menuduh Keiko seenaknya."
Mereka berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Tak jauh lagi mereka akan sampai di ruang rawat Keiko. Perlahan Mei membuka pintu ruang rawat. Pekikan Mei sensei mengagetkan Yuto. Mei dan Yuto kebingungan karena Keiko tidak ada di ruang rawatnya.
Kepanikan terjadi di ruang rawat Keiko. Ke sana kemari Mei mencari-cari adiknya di ruang rawat. Tapi ia tidak menemukannya. Tanpa ragu lagi Mei berlari keluar dari ruangan. Sedangkan Yuto masih mencari-cari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.
Sebuah kertas membuat Yuto curiga. Si pembunuh telah mebawa Keiko kabur. Ini sangat berbahaya. Yuto segera mengejar Mei sensei.
Sebelum Mei sempat mengubrak abrik kantor polisi karena ia kira mereka yang membawa kabur Keiko. Yuto datang mencegahnya.
"Sensei! Keiko bersama pembunuh itu. Ayo cepat kita ke asrama." Ujar Yuto meyakinkan Mei.
Mereka berdua bergegas menuju asrama. Air mata Mei tak henti-hentinya menetes. Saat ini tidak ada lagi seseorang yang ia miliki lagi, hanya Keiko satu-satunya keluarganya. Ayah dan Ibunya sudah meninggal karena kecelakaan ketika Keiko masih kecil. Hidup Keiko sangat kasihan tanpa kasih sayang dari orang tua. Mei selalu menjaga Keiko sebagai ayah dan ibunya.
Sesampainya di asrama, police line masih membatasi asrama. Ketika ingin masuk ke dalam, Yuto merasa telah menginjak sesuatu. Ia jongkok dan melihat sebutir mutiara hiasan gelang jatuh. Yuto memungutnya dan memperlihatkannya ke Mei.
"Ini, ini mutiara di gelang Keiko. Gelang kesayangannya."
Ya. Jejak mutiara itu membawa mereka berdua ke sekolah. Sepertinya pembunuh itu tidak ingin siapapun mengetahuinya. Segera Mei dan Yuto berpencar mencari Keiko.
***
Keiko ketakutan. Ia ingin berteriak tetapi mulutnya di tutup dan tangannya diikat. Ia tidak bisa melihat siapa pembunuh berdarah dingin itu. Keiki menangis sekeras-kerasnya.
"Hey! Kau diam atau mau mati hah?" bentak pembunuh yang mengenakan topeng.
Pembunuh itu sedang meminum sesuatu. Keiko mempunyai sebuah akal. Ia menangis sekeras-kerasnya agar pembunuh itu kesal danmelempar gelasnya. Pecahan gelas itu akan Keiko gunakan untuk memotobg tali yang mengikat tangannya di sebuah kursi di gudang sekolah.
Rencana Keiko berhasil, pembunuh itu melempar gelasnya sampai pecah. Sayangnya pecahan itu terlempar cukup jauh dari jangkauan Keiko. Ia mencoba menggapai pecahan gelas dengan kakinya. Memaksakan diri untuk tenang agar pembunuh itu tidak curiga.
Tanpa sengaja, ketika Keiko menyeret pecahan gelas, kakinya yang tanpa alas terkena goresan gelas. Ia merasa kakinya sangat perih. Tapi tidak ia hiraukan darah yang keluar dari sela-sela jarinya.
Pelan-pelan Keiko mencoba memotong tali yang mengikatnya. Air matanya menetes tanpa henti. Ia merasa telah melukai tangannya sendiri. Tapi itu tidak seberapa. Ia harus bebas dari sana. Keiko tidak ingin mati konyol seperti Haruka.
Mata Keiko mendelik. Ia telah memutuskan tali yang mengikatnya. Dengan sangat hati-hati Keiko melepaskab tali yang mengikat tubuhnya di kursi. Sedangkan pembunuh tengah sibuk membelakanginya.
Tali itu sudah lepas dari tubuh Keiko. Ia harus segera pergi. Tapi kemana ia harus berlari? Mata Keiko melirik ke arah jendela di sebelah kanan yang masih terbuka. Gordennya menari-nari di hembus oleh angin.
Keiko membuka lakban yang menutup mulutnya dan ia segera merangkak menuju jendela. Sepertinya pembunuh itu belum sadar kalau Keiko ingin kabur. Kesempatan bagi Keiko untuk mempercepat gerakkannya.
Tepat ketika Keiko membuka gorden. Ia melihat Mei dan Yuto berjalan di halaman sekolah. Keiko melambaikan tangannya tetapi sepertinya mereka tidak melihat Keiko. Tanpa ragu lagi, Keiko ingin segera melompat keluar melalui jendela. Tapi. Tapi. Tubuhnya ditarik dengan kasar. Keiko merasa sakit dan ia menjerit.
"Aaaaa. Tolong!!"
Pembunug itu marah. Sangat marah. Ia menyeret Keiko seperti boneka. Kedua kakinya diseret menuju tempat semula.
"Jangan lakukan ini! Lepaskan aku!!"
Teriak Keiko. Ia merasa kepalanya sangat sakit ditarik bak boneka oleh si pembunuh.
Pembunuh itu menghempaskan Keiko ke sebuah rak buku. Hantaman keras mengenai tubuh Keiko membuatnya kesakitan. Pembunuh itu mendekati Keiko dan membuka topengnya.
Rambut Keiko sembrautan kesana kemari. Ia menunduk sambil menangis. Dan pembunuh itu mengangkat dagu Keiko.
"Aku harus apakan kamu Keiko?"
Ketika melihat wajah si pembunuh. Keiko menutup mulutnya dan air matanya menetes bak hujan deras.
"Yosada sensei. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau."
"Aku harus memusnahkan bukti kematian mereka. Di dalam dirimu ada bukti kuat. Jadi.." Yosada tersenyum seperti orang gila. "Aku akan memusnahkanmu. Hahaha." Yosada tertawa terbahak-bahak.
"Jangan lakukan itu!! Aku janji. Aku tidak akan mengatakannya."
"Tidak. Tidak dan tidak. Kau harus mati juga. Hahaha." Wajah bahagia Yosada tiba-tiba berubah seperti orang kasihan dan sedih. Ia menegang wajah Keiko dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku Keiko." Bahkan ia memeluk Keiko sangat hangat.
Bug.
Keiko mendorong Yosada hingga pria itu menghantam meja yang berisi sebuah laptop.
"Kau psikopat! Kau gila!!!" teriak Keiko.
Yosada hanya tersenyum. Ia mendekati Keiko sambil tersenyum manis mencekam.
"Aku psikopat? Aku gila?" Ia mencekik leher Keiko. Tangan Keiko mencoba menahan tangan kekar Yosada. Bahkan Keiko mencakar Yosada dengan kuku panjangnya.
"Bisakah kau tutup mulutmu?" Yosada berbalik. Ia duduk di depan laptop.
"Kenapa harus aku dan Haruka??" Keiko menunduk. Ia seakan tengah berbicara dengan dirinya sendiri.
"Lihat-lihat ke laptop!" Yosada mengangkat wajah Keiko. "Titipkan salamku kepada mereka."
Sebuah rekaman pembunuhan Mizaki sensei membuat Keiko menjerit.
"Tidaakkk!!!! Aku tidak mau melihatnya! Tidak!!"