Selasa, 29 Oktober 2013

Terror of Psycopath part I | cerpen |

Author : Asri Wijayanti
Genre : Horror

Semua siswa sudah tertidur. Hanya Haruka yang masih terbangun. Ia mendengar deting jam tua yang menggelantung di tembok aula asrama. Aneh sekali, jam itu tak henti-hentinya berbunyi.

Haruka memutuskan untuk keluar dan ia mendekat ke arah jam dinding. Ternyata bukan di sana sumbernya. Langkah Haruka berlanjut. Ia menuruni tangga asrama. Tidak ada siapapun yang ia lihat. Karena seluruh lampu koridor
dimatikan.

Tiba-tiba saja Haruka mendengar suara aneh di ruang bawah tanah. Ia penasaran dan ketika tangannya menyentuh gagang pintu, jantungnya berdegub kencang.

Dengan penuh keberanian Haruka membuka pintu dan ia langsung menjerit ketakutan. Ia ingin berlari tapi sebuah tangan mencengkram kakinya dan menariknya masuk ke dalam.

Keiko hanya bisa bersembunyi melihat semua itu. Kaki tangan bahkan seluruh tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Air mata bercucuran menetes di pipinya.

Ia bisa melihat bayangan itu. Seseorang telah membunuh Haruka. Tak lama kemudian, dia, pembunuh itu menyeret mayat Haruka keluar dan menggantungnya di aula asrama.

Tangis Keiko semakin menjadi-jadi. Ia merangkak ketakutan memasuki ruang tidurnya. Ia.sangat takut, sampai-sampai Keiko membalut dirinya dengan selimut dan bersembunyi di dalam lemari. Pintu ia kunci dan gorden jendela ia tutup rapat.

"Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati." Keiko menangis ketakutan.

Karena lampu Koridor mati, Keiko tidak dapat melihat dengan jelas siapa pembunuh Haruka. Ia hanya tau kalau pembunuh itu adalah seorang lelaki.

                   ***

Pagi telah tiba seluruh siswa dan siswi sudah bangun dan bergegas pergi ke sekolah. Jeritan seorang siswi mengagetkan seluruh siswa siswi SMA Sakura. Semua berlari ke aula dan ketakutan melihat mayat Haruka menggantung di atas.

Semua menutup mulut dan menangis ketakutan. Darah di kepala Haruka terus menetes dan mengalir di lantai.

"Ada apa ini?" Tanya Yosada sensei.
"Haruka! Dia bunuh diri sensei." Ujar seorang siswa.
"Apa?" Yosada sensei dan Mei sensei segera melihat keadaan Haruka.

Mereka berdua menenangkan seluruh siswa. Sedangkan Mei sensei masih menelpon Tomoyuki sensei untuk segera menghubungi polisi.

Sementara semua siswa ribut membicarakan kematian Haruka, Yuto kebingungan mencari seseorang. Sejak tadi Keiko memang tidak terlihat.

Pikiran Yuto kemana-mana. Ia takut ada sesuatu yang terjadi dengan Keiko. Haruka adalah teman sekamarnya Keiko. Jadi mereka sering main bersama.

Dengan sedikit berlari Yuto menuju asrama putri. Ia tidak takut jika harus di hukum karena sudah menginjakkan kaki di asrama putri. Yuto hanya ingin tau keadaan Keiko.

Aku tidak mau mati. Haruka mati karena ia melihat pembunuhan itu. Aku tidak akan membuka mulut tentang pembunuhan Haruka. Aku tidak ingin mati.

Keiko tertidur di dalam lemari. Bahkan ketika Yuto datang dan menggetok pintu kamarnya, Keiko tidak bangun. Dan membuat Yuto panik.

"Keiko!! Buka pintumu!!" teriak Yuto. Siswa itu masih menggedor-gedor pintu kamar Keiko.
"Keiko! Apakah kau baik-baik saja? Jawab aku! Aku Yuto!!!" teriakan Yuto membawa Mei sensei ke sana menghampirinya. Mei sensei terganggu dengan teriakan-teriakan Yuto.

"Yuto! Apa yang kau cari kesini? Kau tau aturan?" delik Mei sensei yang merupakan kakak kandungnya Keiko.
"Keiko! Aku kesini hanya ingin melihat keadaannya. Sejak tadi pagi Keiko tidak kelihatan. Aku takut hal yang sama terjadi dengannya."

Mei sensei mencoba menggetok pintu dan membukanya. Tapi percuma saja. Pintu telah Keiko kunci rapat-rapat. Sekali lagi Mei sensei mencobanya tapi tak ada tanggapan apapun dari dalam kamar Keiko.

"Sepertinya ada yang tidak beres disini." ujar Mei sensei. Ia segera pergi untuk mencari kunci serep kamar asrama Keiko.

Yuto masih menunggu Mei sensei datang. Tak berselang waktu lama dengan penampilannya yang rapi, Mei sensei datang dan langsung membuka pintu kamar.

"Tidak ada siapa-siapa. Kemana dia pergi?" ujar Mei sensesi masih curiga.

Mereka berdua memanggil nama Keiko. Dan tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu jatuh. Yuto dan Mei sensei menoleh ke sumber suara. Mereka kaget melihat tubuh lemah Keiko keluar dari lemari. Tubuhnya di balut selimut putih tebal.

"Keiko!!" Yuto segera menghampiri Keiko.
"Keiko! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersembunyi di dalam lemari?" tanya Mei sensei.
"Aku tidak mau mati." kata Keiko sedikit pelan. Air matanya menetes. Ia masih dalam pangkuan Mei sensei.
"Dia mengetahuinya." ujar Yuto menatap Mei sensei.

Tanpa mereka sadari seorang siswi melihat adegan di kamar asrama Keiko. Siswi itu langsung berlari ke sekolah yang berada tak jauh dari asrama.

Yuto menggendong Keiko ke luar. Sebuah mobil ambulance sudah menunggu di luar. Keiko segera masuk ke dalam.

"Lebih baik kau sekolah saja. Biar aku yang mengantarnya."

"baiklah sensei."

Yuto masih menatap kepergian ambulance yang membawa Keiko. Ia masih penasaran dan ia yakin kalau Keiko mengetahui tentang kematian Haruka.

                  ***

Di dalam ambulance , Keiko menjerit ketakutan. Matanya masih tertutup tetapi ia gelisah dan ketakutan.  Tangannya mencengkram erat sisi kereta dorong. Sambil sesekali ia berkata "Aku tidak mau mati." Mei sensei hanya bisa menggenggam tangan Keiko.

"Aku tidak mau mati. Tidakkk!!" Keiko terbangun. Keringatnya bercucuran dan wajahnya sangat pucat. Ia menatap Mei sensei.

"Tenanglah Keiko! Ada kakak disini!" Mei sensei menenangkan Keiko.

"Aku tidak tau! Jangan tanya kepadaku tentang kematian Haruka. Aku tidak tau." Keiko terdiam "Aku tidak tau. Aaa...." Keiko menutup telinganya. Ia terus berteriak dan sorot matanya seperti orang kebingungan dan ketakutan.

"Tenanglah!"

"Kenapa harus aku? Apakah aku akan mati juga kak? Jawab!!" Keiko memukul-mukul dadanya.

Mei sensei menahan tangan Keiko. Ia segera mendekap adik satu-satunya itu. Tapi Keiko melawan dan ia menjerit ketakutan.

"Jawab aku!" Keiko menangis sejadi jadinya dalam pelukan Mei sensei. Tetapi tiba-tiba saja Ia meloncat sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar.

"Haruka! Itu Haruka. Dia masih hidup. Aku harus keluar dari sini." Keiko ingin turun dari mobil ambulance tapi dengan cepat Mei sensei menahannya.

Karena Keiko tidak bisa diam dan hal itu bisa menyakiti dirinya. Akhirnya dokter menyuntikkan obat penenang. Dan akhirnya Keiko tenang dan tertidur.

Kini Keiko telah tertidur di ruang rawat. Mei sensei meninggalkan Keiko sendiri. Karena dia harus pergi ke sekolah untuk mengajar. Ia sudah berpesan kepada perawat agar segera mrnghubunginya jika ada sesuatu yang terjadi dengan Keiko.

Mei berharap semuanya akan kembali normal. Adiknya akan kembali ceria dan tidak ketakutan seperti tadi.

                ***

Jam masuk kelas sudah berbunyi tetapi karena tragedi kematian Haruka membuat proses belajar mengajar terganggu. Semua siswa di seluruh penjuru sekolah membicarakan hal itu.

Saat ini Yuto membasuh wajahnya. Ia masih memikirkan keadaan Keiko. Yuto merasa kalau Keiko tau kejadian pembunuhan Haruka.

"Mungkin saja dia pembunuhnya." ujar seorang siswa dengan temannya. Siswa itu masuk ke toilet hanya untuk merapikan rambutnya.

"Katanya dia ketakutan dan bersembunyi di dalam lemari. Apa itu tidak mencurigakan. Sepertinya Mei sensei sengaja menyembunyikan kesalahan adiknya." ujar siswa itu lagi.

"Apa maksudmu?" Yuto menggebrak wastafel.

"Kenapa kau ini?"

"Siapa yang kau bilang pembunuh?" Yuto mulai emosi

"Apa-apaan kau ini. Aku tidak ada urusan denganmu."

Siswa itu dan juga temannya berjalan keluar meninggakan Yuto. Kali ini Yuto bisa menahan dirinya. Ia berjalan keluar meninggalkan toilet.

"Aku rasa, memang Keiko pembunuhnya." Yuto mendengar kata-kata itu ketika ia hendak masuk ke kelas.
"Siapa tukang fitnah itu?"
"Kenapa? Bukankah Keiko patut di curigai? Siapa tau dia yang membunuh Haruka." Ujar siswa yang membuat Yuto kesal di toilet tadi.
"Lancang kau ya!!"

Bug

Sebuah pukulan keras menghantam pipi siswa itu. Yuto tidak tahan lagi dengan gosip yang menyebar. Jika di biarkan seperti itu, Keiko akan disalahkan.

Perkelahian akhirnya terjadi. Yuto dan siswa yang bernama Niko itu saling memukul dan meninju. Siswa siswi yang ada disana hanya bisa menonton perkelahian itu. Hingga akhirnya Tomoyuki sensei datang dan menghentikan perkelahian tersebut.

Mereka dibawa ke ruang Tomoyuki sensei. Wajah mereka memar sana sini. Yuto menunduk, sebenarnya ia tidak ingin perkelahian ini terjadi tapi Niko telah memfitnah Keiko dan keadaan itu yang membuat Yuto kesal.

"Jelaskan kepada sensei! Apa yang kalian ributkan? Apakah kalian fikir sensei di sekolah ini kurang kerjaan hah? Orang-orang seperti kalian harus aku apakan?" Tomoyuki sensei terlihat sangat kesal.

"Maafkan aku.". Ujar Yuto.
"Sudah sepantasnya kau minta maaf. Karena kau yang memukulku lebih dulu." ujar Niko.

Yuto hanya melirik Niko. Ia meredam emosinya yang mulai terpancing.

"Kenapa kau lakukan itu Yuto?" Tanya Tomoyuki sensei.

Haruskah aku berkata sejujurnya. Tapi, Keiko akan ada dalam masalah yang sangat sulit.

Yuto memilih untuk tidak mengatakan alasannya memukul tukang fitnah seperti Niko, ia hanya terdiam. Tapi Niko malah mengatakan alasan Yuto memukulnya dan membuat Yuto marah.

"Hey diam kau tukang fitnah!" Teriak Yuto.
"Aku hanya memberi tau Tomoyuki sensei. Tidak salah kan jika aku mencurigainya? Karena seorang siswi melihat Keiko bersembunyi di dalam lemari saat Mei sensei datang ia menangis ketakutan. Bukankah itu harus kita curigai?" Ujar Niko.
"Sudah-sudah!!" Bentak Tomoyuki sensei. "apakah kalian polisi? Tugas kalian hanya belajar! Biarkan polisi yang mengurusnya" ujar Tomoyuki sensei.
                   
                  ***

Mei sensei tiba di sekolah. Ia kaget karena Tomoyuki memanggilnya ke ruangan. Dengan perasaan ragu ia segera pergi ke ruangan Tomoyuki sensei.

Setelah dipersilahkan duduk Mei sensei menanyakan alasan ia disuruh datang ke ruangan Tomoyuki Sensei.

"Benarkah adikmu bersembunyi di lemari dan ketakutan saat kematian Haruka?"

Alis Mei sensei mengerut. Ia tidak tau siapa yang telah melihatnya tapi semua itu akan menempatkan Keiko dalam posisi yang serba salah.

"Dimana dia sekarang? Dia harus diperiksa juga, karena polisi hanya menemukan bukti.adanya penganiayaan. Bukan bunuh diri."

"Jadi anda menuduh adik saya?"

"Bukan. Tapi adikmu harus diperiksa polisi juga."

"Apa?"

Tiba-tiba saja Yosada sensei masuk ke ruangan Tomoyuki sensei sambil membawa sebuah amplop.

"Permisi." ujar Yosada.
"Kenapa?" tanya Tomoyuki.
"Ada yang tidak beres lagi. Seorang siswa menemukan surat ini di atas Mizaki sensei!" Yosada  memberikan surat itu dan Tomoyuki segera membukanya.

Dengan mimik wajah terkejut ia membaca surat itu sampai akhir. Tomoyuki terlihat sangat kesal. Ia membuang surat itu dan memalingkan wajahnya.

Surat itu berada tak jauh dari kaki Mei, ia memungutnya dan membacanya bersama-sama dengan Yosada.

"Aku akan pergi untuk selamanya."

Mereka berdua terkejut melihat tulisan yang ditulis dengan darah. Ia rasa ini adalah sebuah teror yang konyol. Mei segera pergi membawa surat itu menemui polisi dan juga detektif yang masih melakukan penyelidikan di asrama.

                ***

Seusainya proses belajar mengajar, Yuto bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Keiko. Sebelumnya ia sudah menanyakan ruang rawat Keiko kepada Mei.

Sesampainya disana, Yuto melihat Keiko tengah membawa sebuah amplop putih. Wajah Keiko memerah ketakutan. Ketika Yuto masuk ke dalam Keiko terkejut hampir menjerit.

"Ini aku." Ujar Yuto.

Sekarang Keiko bisa tenang.  Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Ia masih memegang kertas yang ia dapatkan dari dalam amplop.

Yuto meminta kertas itu dari Keiko. Tangan Keiko sangat gemetaran. Mata Yuto membelalak kaget ketika membaca surat yang ditulis dengan darah itu.

"Ha.Haruka kah yang membuatnya? Apakah dia akan membunuhku?" Keiko menatap Yuto. Keringatnya selalu membasahi keningnya.

"Ini hanyalah teror! Kau akan baik-baik saja." Yuto mencoba menenangkan Keiko.

"Tadi Haruka mencariku dalam mimpi. Aku takut. Aku tidak mau mati. Tidak." Keiko menangis sambil menunduk.

"Keiko! Apakah kau melihat pembunuhan itu? Kenapa kau seperti ini?" Tanya Yuto.

Mata Keiko mendelik Yuto. Dia terlihat menyeramkan. Keiko terlihat seperti bukan Keiko. Ia berteriak ke arah Yuto.

"Aku tidak tau! Aku tidak tau kematian siapapun! Jangan tanyakan hal itu kepadaku! Aku tidak mau mati Yuto!!!" Keiko menutup telinganya. "Aku tidak mau mati." Keiko menangis tersedu-sedu.

"Maaf. Maafkan aku Keiko." Yuto memeluk Keiko.

Malam telah tiba. Mei dan Yuto sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit. Mereka harus membawa Keiko kabur sejauh-jauhnya. Detektif tidak boleh mengintrogasi Keiko. Ia akan gila kalau ditanya masalah kematian Haruka.

Semua ini memang salah. Membawa Keiko kabur memang tindakan yang salah. Tapi Mei tidak tega melihat adiknya seperti orang gila ketika ditanya masalah kematian Haruka. Apalagi kini Keiko sudah mulai di teror juga oleh si pembunuh yang entah siapa dia.

"Makasi Yuto. Kau sudah menolong Keiko sejauh ini. Tapi kau tidak boleh berlelahi seperti ini lagi."

"Ia sensei. Aku janji. Hanya saja aku tidak terima orang-orang itu menuduh Keiko seenaknya."

Mereka berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Tak jauh lagi mereka akan sampai di ruang rawat Keiko. Perlahan Mei membuka pintu ruang rawat. Pekikan Mei sensei mengagetkan Yuto. Mei dan Yuto kebingungan karena Keiko tidak ada di ruang rawatnya.

Kepanikan terjadi di ruang rawat Keiko. Ke sana kemari Mei mencari-cari adiknya di ruang rawat. Tapi ia tidak menemukannya. Tanpa ragu lagi Mei berlari keluar dari ruangan. Sedangkan Yuto masih mencari-cari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.

Sebuah kertas membuat Yuto curiga. Si pembunuh telah mebawa Keiko kabur. Ini sangat berbahaya. Yuto segera mengejar Mei sensei.

Sebelum Mei sempat mengubrak abrik kantor polisi karena ia kira mereka yang membawa kabur Keiko. Yuto datang mencegahnya.

"Sensei! Keiko bersama pembunuh itu. Ayo cepat kita ke asrama." Ujar Yuto meyakinkan Mei.

Mereka berdua bergegas menuju asrama. Air mata Mei tak henti-hentinya menetes. Saat ini tidak ada lagi seseorang yang ia miliki lagi, hanya Keiko satu-satunya keluarganya. Ayah dan Ibunya sudah meninggal karena kecelakaan ketika Keiko masih kecil. Hidup Keiko sangat kasihan tanpa kasih sayang dari orang tua. Mei selalu menjaga Keiko sebagai ayah dan ibunya.

Sesampainya di asrama, police line masih membatasi asrama. Ketika ingin masuk ke dalam, Yuto merasa telah menginjak sesuatu. Ia jongkok dan melihat sebutir mutiara hiasan gelang jatuh. Yuto memungutnya dan memperlihatkannya ke Mei.

"Ini, ini mutiara di gelang Keiko. Gelang kesayangannya."

Ya. Jejak mutiara itu membawa mereka berdua ke sekolah. Sepertinya pembunuh itu tidak ingin siapapun mengetahuinya. Segera Mei dan Yuto berpencar mencari Keiko.

                       ***

Keiko ketakutan. Ia ingin berteriak tetapi mulutnya di tutup dan tangannya diikat. Ia tidak bisa melihat siapa pembunuh berdarah dingin itu. Keiki menangis sekeras-kerasnya.

"Hey! Kau diam atau mau mati hah?" bentak pembunuh yang mengenakan topeng.

Pembunuh itu sedang meminum sesuatu. Keiko mempunyai sebuah akal. Ia menangis sekeras-kerasnya agar pembunuh itu kesal danmelempar gelasnya. Pecahan gelas itu akan Keiko gunakan untuk memotobg tali yang mengikat tangannya di sebuah kursi di gudang sekolah.

Rencana Keiko berhasil, pembunuh itu melempar gelasnya sampai pecah. Sayangnya pecahan itu terlempar cukup jauh dari jangkauan Keiko. Ia mencoba menggapai pecahan gelas dengan kakinya. Memaksakan diri untuk tenang agar pembunuh itu tidak curiga.

Tanpa sengaja, ketika Keiko menyeret pecahan gelas, kakinya yang tanpa alas terkena goresan gelas. Ia merasa kakinya sangat perih. Tapi tidak ia hiraukan darah yang keluar dari sela-sela jarinya.

Pelan-pelan Keiko mencoba memotong tali yang mengikatnya. Air matanya menetes tanpa henti. Ia merasa telah melukai tangannya sendiri. Tapi itu tidak seberapa. Ia harus bebas dari sana. Keiko tidak ingin mati konyol seperti Haruka.

Mata Keiko mendelik. Ia telah memutuskan tali yang mengikatnya. Dengan sangat hati-hati Keiko melepaskab tali yang mengikat tubuhnya di kursi. Sedangkan pembunuh tengah sibuk membelakanginya.

Tali itu sudah lepas dari tubuh Keiko. Ia harus segera pergi. Tapi kemana ia harus berlari? Mata Keiko melirik ke arah jendela di sebelah kanan yang masih terbuka. Gordennya menari-nari di hembus oleh angin.

Keiko membuka lakban yang menutup mulutnya dan ia segera merangkak menuju jendela. Sepertinya pembunuh itu belum sadar kalau Keiko ingin kabur. Kesempatan bagi Keiko untuk mempercepat gerakkannya.

Tepat ketika Keiko membuka gorden. Ia melihat Mei dan Yuto berjalan di halaman sekolah. Keiko melambaikan tangannya tetapi sepertinya mereka tidak melihat Keiko. Tanpa ragu lagi, Keiko ingin segera melompat keluar melalui jendela. Tapi. Tapi. Tubuhnya ditarik dengan kasar. Keiko merasa sakit dan ia menjerit.

"Aaaaa. Tolong!!"

Pembunug itu marah. Sangat marah. Ia menyeret Keiko seperti boneka. Kedua kakinya diseret menuju tempat semula.

"Jangan lakukan ini! Lepaskan aku!!"

Teriak Keiko. Ia merasa kepalanya sangat sakit ditarik bak boneka oleh si pembunuh.

Pembunuh itu menghempaskan Keiko ke sebuah rak buku. Hantaman keras mengenai tubuh Keiko membuatnya kesakitan. Pembunuh itu mendekati Keiko dan membuka topengnya.

Rambut Keiko sembrautan kesana kemari. Ia menunduk sambil menangis. Dan pembunuh itu mengangkat dagu Keiko.

"Aku harus apakan kamu Keiko?"
Ketika melihat wajah si pembunuh. Keiko menutup mulutnya dan air matanya menetes bak hujan deras.

"Yosada sensei. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau."

"Aku harus memusnahkan bukti kematian mereka. Di dalam dirimu ada bukti kuat. Jadi.." Yosada tersenyum seperti orang gila. "Aku akan memusnahkanmu. Hahaha." Yosada tertawa terbahak-bahak.

"Jangan lakukan itu!! Aku janji. Aku tidak akan mengatakannya."

"Tidak. Tidak dan tidak. Kau harus mati juga. Hahaha." Wajah bahagia Yosada tiba-tiba berubah seperti orang kasihan dan sedih. Ia menegang wajah Keiko dengan kedua tangannya.

"Maafkan aku Keiko." Bahkan ia memeluk Keiko sangat hangat.

Bug.

Keiko mendorong Yosada hingga pria itu menghantam meja yang berisi sebuah laptop.

"Kau psikopat! Kau gila!!!" teriak Keiko.

Yosada hanya tersenyum. Ia mendekati Keiko sambil tersenyum manis mencekam.

"Aku psikopat?  Aku gila?" Ia mencekik leher Keiko. Tangan Keiko mencoba menahan tangan kekar Yosada. Bahkan Keiko mencakar Yosada dengan kuku panjangnya.

"Bisakah kau tutup mulutmu?" Yosada berbalik. Ia duduk di depan laptop.

"Kenapa harus aku dan Haruka??" Keiko menunduk. Ia seakan tengah berbicara dengan dirinya sendiri.

"Lihat-lihat ke laptop!" Yosada mengangkat wajah Keiko. "Titipkan salamku kepada mereka."

Sebuah rekaman pembunuhan Mizaki sensei membuat Keiko menjerit.

"Tidaakkk!!!! Aku tidak mau melihatnya! Tidak!!"

Rabu, 02 Oktober 2013

FanFict Romance |Beautiful Love|

Title : Beautiful Love
Cast : Gongchan B1A4 as Gongchan, Suzy miss A as Suzy, Min miss A as Min, CNU B1A4 as Shin woo
Genre : Romance
Author: Asri Lee

Annyeong, ini FF romance pertamaku. Seneng banget akhirnya selesai buat FF ini. Ya udah enjoyed the story.

Hari ini cuacanya sangat dingin. Terlihat samar-samar seorang yeoja tengah berjalan sendirian. Rambut se bahunya berkilau terkena lampu jalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Yeoja itu sepertinya bukan pelajar.

Tak lama kemudian seorang ahjussi betubuh gempal dengan rambut dicukur pendek sekali mendekati yeoja itu. Sepertinya ahjussi itu ingin melukai yeoja tersebut. Ahjussi berambut pendek hampir botak itu menarik-narik yeoja itu, tapi yeoja itu melawan dan bersikeras. Tapi ahjussi itu tetap ingin mengajak yeoja itu pergi. Tetap yeoja itu menolak. Bahkan ia berterik meminta tolong. Dan apa yang terjadi? Ahjussi itu menampar si yeoja. Yeoja itu memekik kesakitan. Gongchan yang sedari tadi mengamati yeoja itu dan ahjussi itu langsung menghampiri mereka.

"Ahjussi! Apa yang kau lakukan. Kenapa kau memperlakukan wanita seperti itu?" Teriak Gongchan yang masih berseragam sekolah dengan jaket tebal membalut tubuhnya yang tinggi dan putih. Gongchan menarik yeoja itu dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.

"Haha." ahjussi itu tertawa terbahak-bahak. "Hey kau bocah ingusan! Lebih baik kau segera pulang. Cuci kaki dan pergi ketempat tidurmu. Jangan ikut campur urusan orang lain."

"Aku tidak bisa. Tidak sepantasnya orang setua kau memperlakukan yeoja seperti tadi. Kau sudah tua tapi kenapa kelakuanmu seperti bayi."
Yeoja yang bersembunyi di balik punggung Gongchan menarik-naik jaket tebalnya. Mengisyaratkan agar tidak meladeni ahjussi bertubuh gempal itu.

"Kurang ajar kau!"
Ahjussi itu ingin memukul tepat di pipi Gongchan. Tapi Gongchan bisa menangkisnya dan menyerang tulang kering ahjussi itu. Ahjussi itu langsung tetjatuh kesakitan.
"Kurang ajar kau bocah tengik."
"Kau yang melayangkan pukulan duluan. Jangan salahkan aku."
"Kau ini."
Ahjussi itu melayangkan pukulannya lagi dan Gongchan bisa menahannya lagi. Akhirnya setelah beberapa kali di pukul Gongchan, ahjussi itu kabur berlari menjauh dari Gongchan dan Yeoja itu.
"Dia pasti mabuk. Bau alkohol menyengat sekali." ujar Gongchan.
"Gamsahamnida." Ujar yeoja itu. Bibirnya berdarah. Pasti semua itu karena tamparan ahjussi tadi.
"Bibirmu berdarah. Gwenchana?" Sekarang Gongchan bisa melihat dengan jelas wajah yeoja itu. Mungkin tepatnya ia panggil nonna. Nonna itu memegangi bibirnya.

"Tunggu sebentar." Segera Gongchan mengulurkan sebuah sapu tangan berisi sulaman nama. Nonna itu menerima sapu tangan yang diberikan Gongchan.
"Gamsahamnida Gongchan." ujar nonna itu.
"Nonna tau namaku? Apakah kita saling kenal?"
Mendengar pertanyaan Gongchan tadi membuat nonna itu terkekeh.
"Kau lucu sekali. Aku tau namamu dari sapu tangan yang kau berikan. Sulamannya berbunyi Gongchan. Pasti hadiah dari seorang yeoja."
"Ah iya. Kenapa aku bodoh sekali. Itu memang dari yeoja chinguku. Lalu nama nonna siapa?" tanya Gongchan.
"Panggil saja aku Min." Min nonna melipat sapu tangan Gongchan. "Oh iya. Nanti akan ku titipkan sapu tangan ini ke saeng ku ya Gongchan. Dia juga bersekolah di sekolahmu."
"Nonna tau sekolahku? Darimana nonna tau?"
"Dari seragam yang kau kenakan."
"Ah iya. Benar juga. Benarkah saeng mu satu sekolah denganku?"
"Ne."
"Siapa namanya?"
Sebelum Min sempat menjawab pertanyaan Gongchan, ponselnya berdering. Ia segera mengangkatnya. Sepertinya telepon dari saengnya. Pasti saengnya sangat kuwatir. Bahkan Min nonna hanya melambaikan tangannya kearah Gongchan sambil mengucapkan gamsahamnida. Lalu ia pergi mencari taxi.

Gongchan berjalan menuju rumahnya. Gongchan bukanlah tipe namja yang nakal. Dia penurut dan baik. Dia sangat mencintai renang. Hari ini ia pulang malam bukan karena keluyuran, tapi tadi Gongchan harus pergi ke butik eommanya untuk mengambil kunci rumah. Eommanya bilang malam ini ia tidak pulang ke rumah. Ia harus pergi ke rumah harabudji bersama appa dan saengnya dan menginap disana selama 3 hari. Sebenarnya Gongchan ingin ikut, tapi besok dia harus pergi kesekolah. Karena ujian sudah sangat dekat. Ia harus rajin belajar. Jadi ia tidak bisa ikut pergi bersama familynya. Tiba - tiba Gonhchan teringat dengan yeoja chingunya.

Kalau Suzy tau sapu tangan hadiah darinya kuberikan kepada Min nonna, apakah dia akan marah? Hmm entahlah, aku rasa dia hanya akan mengomeliku.

Keesokan harinya.

Akhirnya jam pelajaranpun usai sudah. Semua siswa memasukkan buku mereka dan bergegas pulang ke rumah masing-masing.
"Chagiya!" panggil Suzy.
"wae?"
"Chagi.. " Suzy menggandeng tangan Gongchan.
"wae yeobo?"
"Aku lapar."
"Mmm.. Nado~ aku juga lapar." Gongchan mengacak rambut Suzy.
Karena sama-sama merasa lapar, sebelum pulang mereka pergi ke kantin sebentar. Mereka segera memesan makanan dan minuman di kantin sekolah. Sesekali Suzy menyuapi Gongchan dan tersenyum melihat Gongchan mengunyah makanannya. Suzy sangat senang karena ia adalah yeoja chingu Gongchan shik. Namja tampan yang sangat ia cintai. Mereka sudah pacaran hampir 6 bulan dan itu terbilang sudah sangat lama. Selama ini Gongchan selalu melindungi Suzy. Dia sangat baik walau kadang ia menjadi namja yang sangat menjengkelkan. Apalagi kalau saat moodnya down. Kalau ditanya ia tidak akan menjawab sepatah kata pun.

Perut sudah terisi penuh. Itu tandanya mereka akan segera pulang. Gongchan dan Suzy segera menggendong tas mereka dan beranjak dari kantin sekolah. Ketika Suzy hendak berbalik seorang yeoja secara tidak sengaja menabraknya dan hasilnya minuman.yang dibawa yeoja itu menyiram seragam Suzy.
"Aissh."
"Mianhae. Aku tidak sengaja. Mianhae." yeoja itu membungkuk 90°
"Sudahlah tidak apa-apa." ujar Suzy segera pergi bersama Gongchan.
"Gwenchana yeobo?" tanya Gongchan

Suzy mencoba membersihkan seragamnya. Tapi sepertinya warna minuman itu susah dihilangkan.
"Bagaimana ini?"
"Sini mendekatlah." Gongchan menarik Suzy ke arahnya. Suzy berdiri tepat di depan Gongchan. Dengan berhati-hati Gongchan mencoba menghilangkan bekas minuman dari seragam Suzy. Perlahan-lahan Gongchan mencoba menghilangkan bekas minuman yang berwarna merah itu. Ia melakukannya dengan tulus dan Suzy bisa merasakannya. Dengan sabar Gongchan mencoba menbersihkan seragam Suzy, tapi sepertinya tidak bisa hilang.
"Sepertinya tidak akan bisa dihilangkan dengan tisu. Lebih baik kau cuci dirumah saja, bagaimana?" Gongchan yang sedari tadi menunduk kini menatap wajah Suzy yang melongo memandanginya sedari tadi.
"Yeobo! Kau baik-baik saja?" Gongchan melambaikan tanganya di depan wajah Suzy.
"Ne! Aku baik kok. Ayo kita pulang."
"Tunggu sebentar." Gongchan mencegah Suzy. Ia mengeluarkan dua buah tiket bioskop. Ia mengajak Suzy untuk menonton film nanti malam.
"Bisakah kau datang nanti malam?'
"Gerom! Aku pasti akan datang Chagi. Ayo pulang." Suzy menggandeng tangan Gongchan erat.

Mereka memang pasangan yang sangat serasi. Sama sama lucu dan terlihat menarik. Hari ini mereka akan pulang naik bus.

Musim dingin memang sabgat menyebalkan. Di halte bus Suzy mendadak menggigil kedinginan. Karena seragam sekolahnya yang basah  membuatnya kedinginan. Padahal ia sudah mengenakan syal tebal.

"Yeobo kau kenapa ?" Tanya Gongchan menggenggam tangan Suzy.
Suzy hanya menggeleng. Ia merasa tubuhnya bergetar

Issh kenapa dingin sekali. Padahal baru awal musim dingin. Tuhan.. Aku merasa seperti ada di kutub utara.

Suzy menahan rasa dingin seraya menutup matanya. Tapi.. Tapi.. Kenapa sekarang Suzy merasa sesuatu membuat tubuhnya tidak menggigil lagi? Ia merasa tubuhnya hangat.
"Sudah tidak dingin lagi kan?" tanya Gongchan. Namja itu tersenyum manis. Ia telah memberikan jaket tebalnya untuk Suzy. Ia menutupi tubuh Suzy dengan jaket yang ia kenakan.
"Gomawo chagi. Tapi kau.."
"Busnya sudah datang. Ayo cepat." Gongchan segera menarik Suzy untuk cepat-cepat masuk ke dalam bus. Padahal Suzy ingin menolak pemberian jaket dari Gongchan. Karena Suzy tau pasti Gongchan juga kedinginan.

Di dalam bus, Gongchan dan Suzy duduk berdampingan. Gongchan terlihat melipat kedua tanganya.

Chagi.. Kau pasti kedinginan.

Suzy menarik tangan Gongchan dan menggenggamnya dengan erat.
"Kata eonni ku begini caranya kalau kedinginan." ujar Suzy.

Gongchan menatap wajah yeoja chingunya. Kemudian ia tersenyum manis.

"Arasseo. Bilang saja kalau kau ingin menggenggam tanganku. Ya kan?"
"Kau ini! Sudah untung aku melindungimu dari kedinginan." Suzy melepaskan genggaman tangannya. Ia membuang muka.

"Hey! kau marah?" Gongchan menyiku Suzy. "Kau lebih terlihat cantik kalo marah seperti ini. Serius." rayu Gongchan.
"Ihhh!! Kau menyebalkan!!" Suzy memukuli Gongchan. Mereka bercanda di dalam bus. Mereka tidak sadar kalau banyak orang yang melihat mereka. Dan seseorang yang memandangi mereka dengan sinis membuat Suzy terdiam dan mencengkram erat tangan Gongchan.
"Waeyo?" tanya Gongchan keheranan.
"Aniya. Sudahlah. Sebaiknya kau cepat turun. Bus sudah berhenti."
"Kau akan datang kan nanti malam?"
"Pasti! Aku pasti akan datang."
"Baiklah. Aku duluan ne?"
"Ne. Hati-hati chagi."
____________________

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Gongchan segera bergegas pergi ke bioskop. Ia mengenakan jaket terbaiknya. Hari ini ia rasa ia akan pergi ke bioskop cukup jalan kaki saja. Hitung-hitung menghilangkan rasa dingin yang menggerogotinya.

Tapi tiba-tiba sebuah mobil mewah berwaran hitam berhenti tepat di depan Gongchan. Dengan sangat kaget, Gongchan menghentikan langkahnya. Gongchan kebingungan 2 orang pria berjas hitam dan wajahnya sangat sangar keluar dari mobil.
"Ada apa ini?" Gongchan mengundur langkahnya.
Tidak ada jawaban dari kedua ahjussi itu. Mereka hanya berdiri dengan tatapan mengerikan.
"Siapa kalian?" Tanya Gongchan.
"Kau masih ingat denganku?" Tanya seseorang. Ia keluar dari mobil mewah paling akhir.
"A... Ahjussi?" Gongchan membelalak kaget. Ia merasakan ada hal yang tidak beres. Pirasatnya selama ini tidak pernah salah.
"Siapa yang kau panggil ahjussi bocah tengik!!" Ahjussi itu mendekati Gongchan dan mendorong tubuh  Gongchan sampai-sampai Gongchan terjatuh.

Gongchan memcoba bangun tetapi dua orang teman ahjussi yang menyerang Min nonna kemarin membangunkan Gongchan dan memegangi kedua tangannya.

"Lepaskan aku! Kalian bisanya main keroyokan! Dasar penjahat!"
"Lalu kenapa? Kau mau melawan?" Ahjussi itu mengangkat dagu Gongchan.
"ishh!" Gongchan menendang kaki Ahjussi. Dan membuat ahjussi itu kesakitan dan marah.
"Berani kau ya." sebuah pukulan mendarat di pipi Gongchan. Ia merasa pipinya sangat-sangat sakit. Dan sebuah pukulan lagi menghantam pelipisnya.

Gongchan merasa kepalanya pusing. Samar-samar ia melihat ahjussi itu menaikkan lengan kemejanya. Karena hanya dia yang tidak memakai jas.

"Kau harus membayar pukulanmu waktu ini."

Bug Bug

Ahjussi itu berkali kali memukuli Gongchan sampai-sampai Gongchan melemas. Ia tidak mungkin bisa melawan, karena kedua tangannya dipegang oleh 2 orang berjas.

Kini Gongchan hanya bisa pasrah. Menunggu pertolongan dari seseorang. Wajahnya penuh luka dan darah. Sekali lagi sebuah pukulan menghantam perut Gongchan. Dan menbuat Gongchan batuk batuk.

Ketika tangannya di lepaskan oleh 2 orang berjas, tubuh Gongchan langsung terjatuh tersungkur. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit. Sangat sakit. Tidak ada sedikit kekuatan untuk sekedar berdiri apalagi melawan ahjussi dan teman-temannya.

"Lain kali ku peringatkan! Jangan ikut campur urusan orang lain!  dasar bocah tengik!"

Sebelum ahjussi itu pergi, Gongchan menahan kakinya.
"Ak..aku tidak akan me.. Menurutimu. Ka..kau bukan siapa-sia..pa!! Pe..cun..dang!" Ujar Gongchan terbata-bata.
"Dasar kau ini!!!" Ahjussi itu menendang tubuh Gongchan. Membuat Gongchan kesakitan dan mengguling-gulingkan tubuhnya karena menahan sakit yang ia rasakan.
"Uhhuk uhhhuk." Gongchan langsung batuk batuk. Ia memegangi perutnya.

"Ya!! Apa yang kalian lakukan!!" Teriak seseorang dari kejauhan.

Tak lama kemudian ahjussi dan teman-temanya menaiki mobil mereka kemudian pergi.

Gongchan mencoba mengambil ponsel di saku jaketnya tapi.. Tapi.. Ia rasa  ia tidak kuat lagi.

Suzy mianhae. Aku tidak bisa menemuimu sekarang. Mianhae.
"Ya!! Gwenchana??" Gongchan tidak tau siapa yang kini ada di hadapannya. Semuanya terlihat samar-samar. Ia hanya merasa tubuhnya yang amat sangat sakit itu diguncang-guncang.

_________________

Gongchan merasa tubuhnya masih sangat sakit. Ia membuka matanya dan ternyata dia tertidur di kamarnya.
"Kau sudah sadar rupanya."
Mendengar suara seseorang tadi, membuat Gongchan langsung menoleh.
"Dokter Shin woo." Ujar Gongchan
"Mianhae. Aku terlambat menolongmu. Ada apa sebenarnya?" tanya Dokter Shin woo. Dokter muda yang sangat tampan. Dia juga merupakan tetangganya Gongchan.
"Seseorang balas dendam denganku. Sudahlah jangan bahas itu lagi."
"Sebentar lagi orang tuamu akan pulang. Aku sudah menghubunginya."
"Shinwoo hyung! Kenapa kau... Aishh aku akan dimarahi appa!"
"Tumben kau menanggilku Shinwoo hyung."
"Karena aku kesal denganmu. Issh bagaimana ini?" Gongchan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tak lama kemudian ia teringat dengan Suzy. "Jam berapa ini? Aku harus pergi ke sekolah."
"Jam 10. Percuma juga pergi ke sekolah. Palingan gerbang sekolah sudah di tutup Chan!" ujar Dokter Shinwoo.
"Tapi.. Shinwoo hyung! Tolong ambilkan ponselku."

Lama Gongchan menatap ponselnya. Ia merasa bersalah. Pasti Suzy telah lama menunggunya tadi malam di bioskop. 20 missed call dari Suzy dan 15 pesan tak terbaca. Gongchan memejamkan matanya sejenak sebelum ia mengetik sesuatu untuk ia kirimkan ke Suzy. Gongchan tau saat ini Suzy masih di sekolah dan tidak mungkin Suzy membawa ponselnya. Tapi setidaknya sepulang sekolah ia bisa membaca pesan dari Gongchan.

Tapi kenapa Gongchan tidak jujur saja? Kenapa ia menyembunyikan kejadian sebenarnya? Semua itu karena ia tidak ingin Suzy kuwatir. Ia tidak ingin yeoja chingu yang ia sukai dan sangat ia sayangi kuwatir dengan keadaannya sekarang.

Brakk

Terdengar pintu utama rumah terbuka. Gongchan cepat-cepat menutup matanya. Agar appanya tidak memarahinya.
"Hyung! Bilang aku masih tidur ne! Aku mohon."
"Aishh. Ne hyung akan berusaha berbohong."

Segera Gongchan tidur. Ia menutup matanya yang tidak mengantuk sama sekali. Lalu terdengar suara eomma dan saengnya masuk ke kamar Gongchan. Eommanya terdengar kepanikan tapi kenapa tidak ada suara appa? Gongchan membuka sebelah matanya. Dan tepat saat itu saengnya melihat mata Gongchan terbuka.
"Eomma. Hyung sudah bangun." teriaknya.

Aih ketahuan juga. Aku harap appa tidak memarahiku

"Eomma." panggil Gongchan
" Gwenchana?"
Gongchan hanya mengangguk. Sementara itu dokter Shinwoo menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Dan yang pasti Shinwoo tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.

"Siapa yang menyerangmu? Beritau eomma."
"Aniya eomma. Tapi.. Appa dimana?"
"Appa sedang di kantor polisi. Ia akan berusaha mencari siapa yang mengeroyokmu. Untung Shin woo sempat meluhat nomor kendaraan orang yang menghajarmu. Eomma harap bisa di temukan orang yang berani memukuli anak eomma."
"Shin woo hyung gomawo." Gongchan tersenyum simpul. Karena ia merasa bibirnya masih sakit, karena ada sedikit luka di bibirnya.
"Tapi.. Apakah dia tidak akan bertindak macam-macam dengan Min nonna?"
"Siapa dia?" tanya eomma.
"Aku menolong dia 2 hari yang lalu. Dia dihadang seorang ahjussi yang memukuliku kemarin. Bukan aku yang mencari gara-gara kepadanya tapi apakah aku salah memcampuri urusan orang lain demi kebaikan dan keselamatan seorang yeoja?"
"Eomma bangga. Kau pemberani! Kau telah melakukan hal terbaik. Eomma yakin Min nonna yang kau bilang itu baik-baik saja. " Eomma mengelus-elus rambut hitam Gongchan. Kemudian ia keluar mengantar Shinwoo. Karena Shinwoo hyung juga harus pergi ke kliniknya.

Aku telah melakukan hal terbaik? Tidak sepenuhnya benar. Karena.. Aku telah mengecewakan yeoja chinguku. Mianhae Suzy. Aku harap besok aku diijinkan bersekolah.

Pagi hari tiba

Semua keluarga Gongchan sudah menunggu Gongchan sarapan. Hari ini Gongchan di ijinkan pergi ke sekolah oleh eomma.

Pagi itu juga appa Gongchan mendapat telepon kalau orang yang memukuli Gongchan sudah di temukan dan akan di beri hukuman. Orang itu memang buronan polisi karena telah banyak perbuatan yang melanggar yang ia dan teman-temannya lakukan selama ini.

Mendengar berita kalau ahjussi si pemukul akan diberi hukuman, Gongchan dapat bernafas lega. Setidaknya ia tidak akan mengganggu siapa-siapa lagi.

Pagi ini Gongchan pergi kesekolah naik bus. Ia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Ia berada di dalam bus dengan headphone menempel di telinganya. Lagu yang mengalun merdu ia acuhkan. Gongchan sibuk memikirkan kata-kata yang ingin ia sampaikan kepada Suzy.

Kemarin Suzy tidak membalas pesan dari Gongchan. Dia juga tidak mengaktifkan ponselnya. Pasti dia sangat marah. Dan apa yang harus Gongchan lakukan kalau Suzy tetap marah? Gongchan juga tidak tau apa jawabannya.

Setibanya di sekolah semua menanyakan luka luka di wajah Gongchan. Dan Gongchan mengatakan bahwa dirinya berkelahi dengan seseorang karena salah faham. Bukan karena dikeroyok.

Seharian ini Suzy tidak menghiraukan Gongchan. Sesekali Gongchan mendekatinya tapi ia malah menghindar. Dan ketika jam pulang sekolah tiba. Gongchan menaruh secarik kertas di atas meja Suzy. Tanpa bicara sepatah katapun Gongchan langsung pergi.

Perlahan-lahan Suzy buka kertas itu dan membacanya.

Aku tau aku salah. Tapi.. Semua ini juga tidak aku inginkan. Jika saja aku tidak berkelahi dengan orang asing itu mungkin kita bisa menonton bersama. Mianhae neomu mianhae. Kalau kau memaafkan ku aku akan menunggumu di taman sekolah. Aku akan menjelaskan sejelas-jelasnya.

"Apa maksudnya? Apakah perkelahian lebih penting baginya? Sejak kapan Gongchan yang ku kenal suka berkelahi? Sejak kapan ia berubah menjadi berandalan?" Suzy membuang kertas dari Gongchan lalu ia berjalan menyusuri koridor sekolah. Melanjutkan perjalanannya menuju gerbang sekolah tanpa sedikitpun berniat menghampiri Gongchan di taman sekolah.

Memang seharian ini Suzy tidak menatap Gongchan secara seksama. Tapi kata sahabatnya, wajah Gongchan penuh luka luka. Suzy sempat merasa kasihan tapi kekesalannya lebih besar daripada rasa kasihannya.

Dan hari ini Suzy harus naik bus sendirian. Belakangan ini ia harus menikmai rasanya naik bus sendirian tanpa seorang Gongchan disisinya.

Ketika bus baru menempuh perjalanan kira-kira 30 meter, tiba-tiba bus berhenti. Dan saat itu jua seorang namja yang sangat Suzy kenal menaiki bus.

Gongchan.. Kenapa harus seperti ini? Aku.. Ya Tuhan, lukanya lumayan parah. Tidak. Aku tidak boleh kasihan dengannya.

Suzy membuang muka. Ketika Gongchan melewatinya. Ia menangkap sebuah kata Mianhae. Kata itu terucap sangat jelas. Suzy menoleh kearah jendela. Ia merasa serba salah. Karena kini Gongchan duduk di belakangnya.

Bus masih tetap melaju. Ketika melewati gang rumah Gongchan bus masih tetap melaju. Suzy hanya terdiam, walaupun sebenarnya ia ingin sekali menanyakan keadaan Gongchan.

"Nona! Sudah sampai." ujar sopir bus.

Cepat-cepat Suzy turun dari bus. Dan ia rasa Gongchan juga ikut turun bersamanya. Suzy masih mencoba tidak menghiraukan Gongchan. Ia menambah kecepatannya berjalan. Tapi.. Sayang sekali saat itu kaki Suzy kesandung batu dan tubuhnya terjatuh.

"Suzy!! Gwenchana?" Gongchan menghampiri Suzy dan membangunkannya.
Tidak ada tanggapan apa-apa dari Suzy. Ia membersihkan seragamnya dari debu kemudian ia melirik Gongchan dengan sinis. Suzy ingin pergi tapi Gongchan menahannya.

"Kau masih marah? Jelaskan padaku! Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah.lagi."
"Aku tidak tau." Suzy sama sekali tidak mau menatap wajah Gongchan.
"Suzy! Tatap aku! Katakan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa terus seperti ini." ujar Gongchan.
"Apakah aku harus menatap wajah berandalan penuh luka sepertimu? Apakah aku harus menatap wajah namja chinguku yang lebih mementingkan perkelahian?" mata Suzy berkaca-kaca. "Aku kecewa Gongchan! Aku harap kau cepat pulang ! Jangan ikuti aku lagi." Ujar Suzy segera melangkahkan kakinya.
"AKU TIDAK BERKELAHI!" teriak Gongchan membuat Suzy menghentikan langkahnya. "Aku.. Aku dikeroyok. Aku dikeroyok tiga orang ahjussi. Jika aku mengatakan seperti itu apakah kau akan percaya?" Ujar Gongchan. Ia hanya bisa melihat punggung Suzy.

Suzy melajutkan langkahnya. Ia kaget mendengarkan pengakuan Gongchan. Ia bingung apakah semua yang di katakan Gongchan itu benar atau tidak.

"Kenapa kau tidak percaya? Lalu siapa yang akan kau percayai HAH?!" Teriak Gongchan masih mengikuti Suzy.

Air mata Suzy mulai menetes. Ia membuka gerbang rumahnya dan segera masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari.

Gongchan menunggu Suzy di pagar rumahnya. Ia berharap Suzy akan menaafkannya. Ia yakin Suzy akan memaafkannya. Karena setau Gongchan, Suzy bukanlah yeoja yang keras kepala.

"Annyeong haseyo!" Ujar seorang yeoja menyapa Gongchan dari belakang. Gongchan membalikkan tubuhnya memandang yeoja yang menyapanya tadi.
"Min nonna!'
"AIGO!! Go..Gong..Gongchan!! Wajahmu. Omo, apa yang telah terjadi?" Min mengguncang-guncang lengan Gongchan.
"Aku.."
"Ya sudah. Kita masuk dulu." Min membuka gerbang rumahnya.
"Tunggu. Jadi... Suzy adalah.."
"Suzy adalah saengku. Kau. Kau kesini mau mencari Suzy?"
"Aku mau meminta maaf. Tapi sepertinya dia tidak mau bertemu denganku."
"Ya sudah. Kita masuk dulu. Kita bicarakan satu persatu. Ne?"
Gongchan mengaangguk dan mengikuti Min masuk ke dalam rumahnya. Setelah dipersilahkan duduk dan diambilkan minum oleh Min, kemudian Gongchan menceritakan apa yang telah terjadi. Min merasa sangat bersalah terhadap Gongchan tapi Gongchan mencoba menenangkan Min.
"Tidak ada luka yang serius kan? Apa ada tulang yang patah?"
"Tidak separah itu Min nonna. Hanya saja.. Aku dan Suzy tidak jadi menonton gara-gara pengeroyokan itu."
"Oh.. Jadi yeoja chingu yang memberimu sapu tangan adalah Suzy? Ya tuhan. Jadi gara-gara tidak jadi menonton anak itu mengurung dirinya semalaman."
Gongchan mengamati seluruh ruangan di rumah Min dan Suzy.
"Karena aku merasa berutang nyawa denganmu, aku akan memanggilkan Suzy kesini. Tunggu dulu ne?"
"Ah.. Tidak usah. Mungkin lebih baik aku pulang saja daripada membuat Suzy kecewa."
"Andwe! Aku akan membantumu."

Min menaiki tangga rumahnya dan memanggil Suzy yang masih ada di kamarnya. Terdengar Suzy setuju untuk turun ke ruang tamu berkat kebohongan Min.

Mata Suzy membelalak kaget ketika melihat Gongchan duduk menunggunya di ruang tamu. Namja itu menatapnya penuh arti. Langkah demi langkah Suzy membawanya semakin mendekat dengan Gongchan.
"Duduklah." Ujar Min menyuruh Suzy duduk.

Ya Tuhan.. Lukanya semakin terlihat sangat jelas.

Suzy mencoba mengalihkan pandangannya yang sedari tadi memandangi wajah Gongchan.

"Kau pasti sudah kenal Gongchan." Ujar Min kepada Suzy. "Oh iya" Min mengeluarkan sapu tangan milik Gongchan dari tas tangannya.

Melihat sapu tangan yang ia berikan kepada Gongchan dibawa oleh eonninya membuat Suzy kaget dan bertanya-tanya.

"Apa maksudnya ini?" tanya Suzy.
"Dia adalah namja yang ku ceritakan waktu ini. Namja yang menolongku dari pemabuk. Tapi.. Karena menolongku dia jadi seperti ini. Karena aku Gongchan dikeroyok pemabuk dan teman-temannya. Aku merasa berhutang nyawa."
"Gwenchana Min nonna. Kau jangan merasa bersalah seperti itu. Ini hanya luka ringan akibat pukulan ahjussi itu." Ujar Gongchan mencoba tersenyum.

Deg

"Lalu.. Kenapa kau berbohong kepadaku? Kenapa kau harus berbohong dan membuatku membencimu?" Tanya Suzy.

Min tau diri. Mungkin hanya sebatas itu ia mencampuri urusan saengnya. Ia harus segera pergi dari sana.

"karena.." Gongchan menunduk. Ia merasa dirinya amat sangat bodoh."Karena aku tidak ingin kau kuwatir. Aku tidak ingin kau mengkuwatirkan keadaanku saat itu."

"sudah seharusnya aku mengkuwarirkanmu! Aku yeoja chingumu. Semua ini karena kau berbohong kepadaku!! Dasar pembohong!"

"Aku memang pembohong. Tapi itu kulakukan hanya agar kau tidak terlalu kuwatir."
"benar. Aku memang tidak kuwatir. Bahkan aku berhasil mebencimu!" Suzy membuang muka.

"Jadi. Sampai sekarang kau masih membenciku."

"Menurutmu?" Suzy masih tidak ingin memandang wajah Gongchan.

"maafkan aku telah membogongimu. Aku memang jahat dan pembohong. Mianhae. Mungkin sebaiknya aku harus pulang sekarang agar kau tidak merasa terganggu dengan keberadaanku." Gongchan tidak mendapat tanggapan apa-apa dari Suzy. "Apakah aku juga harus menjauhimu dan memutuskan hubungan dengamu? Apakah dengan seperti itu kau akan merasa tenang?" Tanya Gongchan. Suzy masih tidak menjawab. Yeoja itu membuang muka.

Mata Gongchan berkaca-kaca. Ia mengangguk tanda mengerti. Gongchan beranjak dari tempat duduknya. Kini Gongchan  berdiri.

"Aku akan pulang. Mianhae aku telah menyakitimu dan membohingimu. Aku akan mencoba.." Gongchan menguatkan dirinya. Seorang namja tidak boleh menangis. Ia menahan air matanya agar tidak menetes. "Aku akan mencoba menghindar darimu. Aku harap aku bisa. Tapi.. Aku akan tetap mencintaimu. Sampai kapanpun Suzy. Selamat sore." ujar Gongchan segera melangkahkan kakinya.

Ia rasa semua sudah berakhir. Suzy benar-benar sudah membencinya. Selama perjalanan Gongchan pulang ke rumahnya ia merasa tubuhnya lemas. Ia tidak bersemangat melakukan apapun. Bahkan sesampai dirumah ia langsung pergi kekamar dan membenamkan wajahnya di bantal. Gongchan memejamkan matanya. Ia harap ia bisa tidur dan ketika terbangun nanti semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk.

"Channie! Kau sudah mandi dan mengobati lukamu?" panggil eomma
Buru-buru Gongchan membukakan eommanya pintu.
"Wae eomma?"
"Omo! Kau belum mandi? Cepat mandi dan obati lukamu itu."
"Ne ne arasseo. Aku akaandi sekarang. Eomma cerewet sekali."

Gongchan segera menutup pintu kamarnya. Sebelum sempat membuka seragam sekolahnya, ia mendengar ponselnya berdering. Segera Gongchan membuka pesan masuk. Dan.. Mata Gongchan membelalak ketika membaca isi pesan itu.

Jaket tebal yang menggantung di belakang pintu ia tarik dan ia kenakan. Tanpa basa basi Gongchan langsung berlari keluar rumah. Bahkan teriakan eommanya pun tidak ia hiraukan. Dengan masih berseragam sekolah ia berlari menuju sungai han. Secepat-cepatnya Gongchan mencoba berlari. Ia tidak mau Suzy lama menunggunya.

Yang terdengar hanyalah hembusan nafas Gongchan. Lampu jalanan yang sudah mulai menyala menerangi jalanan. Gongchan berlari diantar orang-orang. Ia berharap segera sampai dan bertemu dengan Suzy.

Rambut Gongchan sembrautan kesana kemari saking cepatnya ia berlari. 15 menit kemudian ia telah sampai di sungai han. Dari kerjauhan Gongchan melihat seorang yeoja tengah berdiri di pinggir sungai. Gongchan menghampirinya dan berdiri di belakangnya.

"Ada apa kau menyuruhku kesini?" nafas Gongchan belum teratur. Sepertinya Suzy bisa mendengar nafas Gongchan.

Suzy membalikkan tubuhnya. Kini ia behadapan dengan Gongchan. Suzy melihat Gongchan masih mengenakan seragamnya.

"Kau berlari? Kenapa kau belum mengganti seragammu?"
"Aku tidak ingin kau menunggu terlalu lama." ujar Gongchan.
"Oh." Ujar suzy.
"Oh? Lalu untuk apa kau menyuruhku kesini?"

Suzy merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sapu tangan yang ia berikan kepada Gongchan. Ia memasukkannya ke dalam saku jaket Gongchan.

"Hanya untuk mengembalikan sapu tangan?" tanya Gongchan keheranan. Saking herannya Gongchan menggeleng-geleng tidak percaya.

"Aku berlari dari rumah. Aku berfikir kau akan.. Ternyata dugaanku salah. Aku sudah berfikir kau ak." belum sempat Gongchan menyelesaikan perkataannya ia terkejut dan tidak menyangka. Saat ini Suzy tengah memeluknya sangat erat.

"Aku memaafkanmu. Jadi kau tidak usah menghindariku." kata Suzy masih memeluk erat tubuh Gongchan.

"Hhh.. Kau pikir aku akan benar-benar menghindar darimu? Aku tidak akan bisa." Gongchan membalas pelukan Suzy.

Mereka tetap seperti itu selama beberapa menit. Gongchan merasa bahagia akhirnya mereka bisa baikan juga. Ia harap tidak akan ada masalah seperti ini lagi.

"Kau tidak kenapa-napa kan chagi? Luka akibat keroyokan itu tidak parah kan?" Suzy melepaskan pelukannya. Kini ia menatap dengan saksama wajah namja chingunya.

Suzy hanya menangkap senyum manis Gongchan. Namja itu memegang kedua bahunya.  Kemudian kedua telunjuknya menunjuk ke pipi Suzy yang agak memerah karena suhu saat itu lumayan dingin.

"Selama kau tetap tersenyum dan mencintaiku, aku akan baik-baik saja." Ujar Gongchan

Suzy merasa jantungnya berdegub sangat kencang. Ia tersenyum manis mendengar kata-kata Gongchan.

"pasti. Aku akan selalu tersenyum dan mencintaimu. Agar kau baik-baik saja chagi."

"Baiklah yeobo. Kajja kita pulang." ajak Gongchan.

Sepanjang perjalanan mereka selalu berpegangan tangan. Dia antara orang-orang yang berlalu lalang mereka yang terlihat paling bahagia.

               §§§§§ TheEnd §§§§§