Kamis, 05 Desember 2013

You are the reason | FF Jinyoung Gongchan Couple |

Title : You are the reason
Cast : Jinyoung B1A4. Gongchan B1A4.
Author : Lee Seo Rin. (asri wijayanti)

#Jika kau ingin aku pergi. Aku akan menghilang seperti buih. Jika kau ingin aku tetap disini. Aku akan tetap di sisimu seperti apapun yang kau mau.

Bel sudah berbunyi. Seluruh siswa berlarian menuju kelas. Seorang siswa yang sangat tampan bernama Jung Jinyoung tengah berjalan menuju kelas seorang diri. Beberapa yeoja memandanginya, tetapi dia tidak menghiraukan sedikitpun. Ia terus berjalan dengan headphone menempel di telinganya.

Seluruh siswa dan siswi sudah memasuki ruangan.  Mereka masih menunggu songsaengnim datang. Beberapa saat kemudian songsaengnim datang dengan seorang namja. Sepertinya akan ada siswa baru di kelas Jinyoung. Tapi entah kenapa Jinyoung terus memandang namja yang sedari tadi hanya menunduk itu.

Namja itu mengenakan jaket biru dan kupluk merah. Ia terus menunduk. Setelah songsaengnim mempersilahkan namja itu memperkenalkan dirinya barulah ia mengangkat wajahnya.

Wajahnya terlihat sangat pucat. Sepertinya namja itu sedang sakit atau kenapa-kenapa. Jinyoung masih menatap namja itu.

"Annyeong. Jeoneun Gongchan imnida." Namja bernama Gongchan itu menatap Jinyoung keanehan karena ia sedaritadi menatapnya penuh arti.

Cepat-cepat Jinyoung memalingkan wajahnya. Karena Gongchan memandanginya keanehan.

"Bangapta." Gongchan menunduk 90° lalu ia dipersilahkan duduk di belakang Jinyoung.

Gongchan berjalan pelan-pelan. Kemudian ia duduk di belakang Jinyoung. Hari itu pelajaran telah di mulai Gongchan heran melihat namja yang duduk di depannya itu. Ketika jam pelajaran ia tertidur dan kadang bercanda dengan teman disebelahnya.

Setiap jam pelajaran siswa itu selalu saja tidak memperhatikan. Hingga suatu hari ulangan berlangsung. Namja bernama Jinyoung terlihat diam. Tangannya tidak bergerak sedikitpun. Gongchan yakin kalau Jinyoung tidak tau apa-apa karena setiap jam pelajaran ia selalu bercanda dengan ke 3 sahabatnya itu.

Pagi ini mata pelajarannya adalah bahasa Inggris. Gongchan bingung mencari buku bahasa Inggrisnya. Sepertinya ia lupa memasukkannya ke dalam tas tadi malam. Gongchan kepanikan, setaunya songsaengnim yang mengajar bahas inggris sangat galak dengan hukumannya yang khas.

"Annyeong! Keluarkan buku kalian."

"Ne songsaengnim."

Jinyoung tidak mendengar Gongchan berbicara. Ia melirik Gongchan kepanikan mengubrak-abrik isi tasnya.

"Ada yang tidak membawa buku?"

Jinyoung memberikan buku paketnya kepada Gongchan. Lalu ia berdiri.
"Saya songsaengnim." Ujar Jinyoung.

"Jung Jinyoung. Selalu saja kau membuat masalah. Sebenarnya kau kesekolah untuk apa ha? Apa hanya untuk makan bermain dan bercanda seperti.akan TK?" Ujar Songsaengnim kesal.

Mimik wajah Jinyoung masih santai. Ia tersenyum dan terlihat seperti orang bercanda.

"Setauku setiap orang butuh makan bermain dan bercanda, tidak cukup hanya belajar saja."

"hhh. Kenapa kau masih bisa bercanda! ANGKAT KURSIMU LONCAT BOLAK-BALIK DI LUAR! CEPAT!"

Jinyoung mengangkat kursinya tinggi-tinggi lalu ia keluar sambil meloncat. Gongchan menatap kepergian Jinyoung. Lalu ia fokus menatap buku pelajaran. Gongchan membuka halaman per halaman. Lalu ia tersenyum geli melihat gambar yang di buat oleh Jinyoung.

Ketika jam pulang sekolah tiba Gongchan berjalan bersama Suzy sahabat barunya. Ketiga temannya Jinyoung menatap ke arah Gongchan dan Suzy. Mereka terpesona dengan kecantikannya Suzy. Tetapi lainhalnya dengan Jinyoung. Ia malah memperhatikan keimutannya Gongchan dengan kupluk hitam di kepalanya.

Tanpa Jinyoung Sandeul Baro dan CNU sangka, Suzy dan Gongchan menyapa mereka berempat.

"Bisakah kita bicara?" Tanya Gongchan kepada Jinyoung.

"Aku?" Jinyoung menunjuk dirinya sendiri.
Gongchan hanya mengangguk. Lalu mereka berdua berjalan menjauh dari Suzy dan ketiga sahabatnya Jinyoung.

"Gomawo~" Gongchan mengembalikan buku JinYoung seraya tersenyum manis. "Seharusnya kau tidak melakukan ini semua. Aku jadi merasa berhutang budi." Ujar Gongchan.

"Sudahlah.. Aku hanya ingin merasakan di hukum olehnya." Jinyoung tersenyum.

Gongchan tertawa mendengar ucapan Jinyounh. "Oh iya. Ujian sudah dekat. Aku dengan senang hati mau mengajarimu. Aku ingin membalas budimu."

Jinyoung mendongak menatap langit sambil menyenderkan badannya di pohon.  Sepertinya dia tidak mendengarkan perkataan Gongchan.

"Hyung! Kau dengar aku tidak?" Ujar Gongchan sedikit mendorong bahu Jinyoung.

"Hyung? Apa maksudmu?"

"Ya. Karena aku lebih kecil darimu. Aku ikut kelas eksklarasi waktu di sekolahku yang dulu."

"Oh pantas saja kau terlihat.." Jinyoung menghentikan perkataannya kemudian ia berdehem. "Apa yang kau katakan tadi? Maaf aku tidak dengar." Ujar Jinyoung menegakkan tubuhnya.

"Aku mau mengajarimu. Hitung-hitung untuk membalas kebaikanmu tadi. Bagaimana?" Tanya Gongchan bersemangat.

Aku tidak tau kalau sebenarnya Gongchan sangat bersemangat. Tidak seperti pertama kali aku melihatnya dengan wajah pucat.

"Terserah kau sajalah.."

"Baiklah."

                 ***

Setiap pulang sekolah Gongchan selalu memberikan Jinyoung soal-soal agar besok paginya ia bisa memeriksa jawaban Jinyoung. Kadang Jinyoung menghindar dari Gongchan tetapi sepertinya tidak akan bisa.

Setiap pagi Gongchan selalu memeriksa jawaban Jinyoung. Jika jawabannya salah Gongchan menjelaskannya secara detail tapi itu malah membuat Jinyoung mengantuk.

"Hyung!!"

"Oh!" Jinyoung mendengarkan.Gongchan sambil menopang dagunya.

Esoknya lagi Gongchan mengulurkan tangannya. Artinya ia mau melihat jawaban dari soal-soal yang ia berikan kepada Jinyoung kemarin. Jinyoung membuka tasnya dan mengulurkannya kepada Gongchan. Tapi ketika Gongchan ingin mengambilnya Jinyoung malah bercanda dan menyembunyikan kertas jawabannya lagi. Akhirnya mereka berdua bercanda begitu akrabnya.

"Hyung! Berikan padaku!"

"Eitss. Kalo bisa ayo ambil. Haha.."

Jinyoung hyung.. Kau walaupun kau kekanak-kanakan tapi kau berbeda...

Mereka berdua belajar begitu giat walaupun Jinyoung melakukannya dengan sedikit tidak serius tapi Gongchan menyukainya.

"Kenapa kau suka belajar? Apa enaknya belajar? Belajar sangat membosankan."

"Maka dari itu. Orang yang hebat adalah orang yang senang belajar." Ujar Gongchan menatap Jinyoung.

"Oh iya. Besok hyung harus menghafalkan bahasa Inggris halaman 112 ne? Harus hafal." Gongchan melipat buku Jinyoung kemudian ia menggendong tasnya.

"Haruskah aku melakukannya?"

"Itu terserah hyung." Gongchan tersenyum lalu ia berdiri. " Aku pulang dulu hyung. Daah" Gongchan melambaikan tangannya.

Jinyoung hanya mengangguk. Lalu ia memasukkan buku bahasa inggris ke dalam tasnya. Sesampainya di rumah Jinyoung mulai membuka buku bahasa inggrisnya. Ia memulai belajar di balkon rumahnya.

"YOU ARE MY INSPIRATION."

"Ya!! Bisakah kau pelankan suaramu! Lebih baik kau tidur. Mengganggu saja!" Teriak tetangga Jinyoung.

"I'M SLEEP LATE BECAUSE I STUDY ENGLISH VERY HARD!!" teriak Jinyoung ke arah rumah tetangganya sambil menunjukkqn jari tangannya yang membentuk simbol rocker.

"ANAYGICAL EXSPOSISI IS A TEXT TO..."

Jinyoung berjalan sambil membaca bukunya. Ia berjalan menuju kamarnya.

"Chagi! Apakah anak kita sedang ngelindur? Tidak seperti biasanya." ujar eomma Jinyoung kepada suaminya.

Sambil berbaring di tempat tidurnya Jinyoung mencoba menghafalkan text bahasa inggris.

Hhh belajar sangat menyusahkan. Kenapa Gongchan senang belajar? Hhhh aku tidak kuaaaat

Jinyoung menutup wajahnya dengan buku. Lalu ia tertidur lelap.

                 ***

"Hyung!" Gongchan datang menyapa Jinyoung ketika pulang sekolah. Namja lucu itu mengenakan kupluk putih terlihat sangat lucu.

"Wae?" Tanya Jinyoung.

"Mmm. Ikut aku." Ujar Gongchan.

Di perpustakaan

"Ahh. Aku tau kenapa kau mengajakku kesini." Jinyoung duduk jauh di belakang Gongchan. "Kau pasti takut kan gara-gara mendengar cerita horornya Baro si pesulap gadungan itu?"

Gongchan membalikkan badannya dan menatap Ke arah Jinyoung.
"Aku tidak takut. Hanya saja aku ingin kau juga ikut belajar disini. Kenapa? Kau tidak suka hyung?" Tanya Gonhchan.

"Suka.."

Kini Gongchan kembali membaca bukunya dengan serius. Tak lama setelah menutup mulutnya, Jinyoung berceloteh lagi.

"Channie. Bisakah aku memanggilmu seperti itu?"

Gongchan hanya mengangguk dia masih serius membaca bukunya. Tapi ia sedikit melirik ke arah Jinyoung tanpa Jinyoung ketahui.

Keesokan harinya Jinyoung dan Gongchan belajar bersama di perpustakaan seperti kemarin. Entah kenapa Jinyoung memilih duduk di belakang Gongchan.

"Kenapa kau tidak duduk di sampingku saja hyung?" Tanya Gongchan.

"Aku lebih nyaman disini."

"Kau tidak belajar? Bukulah buku mu hyung."

"kau belum tau aku. Aku ini sangat jenius. Jika aku belajar mungkin aku bisa mengalahkanmu. Bahkan menjadi ranking pertama. Bagaimana jika aku mengalahkanmu?"

"Silahkan saja. Aku tidak apa jika kau bisa mengalahkanku."

"Hahaha..." Jinyoung tertawa.terbahak-bahak. "Bagaimana kalau kita taruhan?"

"Taruhan?"

"Iya.. Jika kau kalah kau harus melepas kuplukmu."

"Jika hyung yang kalah. Kau harus memblonde rambutmu."

"Baiklah. Deal!"

Jinyoung dan Gongchan tos seraya tersenyaum bersama-sama.

Setiap hari dan setiap saat Jinyoung membaca buku. Bahkan ketika ke kamar kecil dia masih membaca bukunya. Sampai-sampai eommanya mengomel.

Di sekolah Jinyoung dan Gongchan balapan menajawab soal matematika di depan kelas. Tapi karena Jinyoung sedikit lupa ia mencotek beberapa pekerjaan Gongchan. Hehe

Ketika jam kerja bakti. Kedua namja itu menghafalkan pelajaran Biologi sambil membawa sapu. Bukannya belajar lebih serius Jinyoung malah main gitar-gitaran.dengan sapu yang ia bawa. Ia menirukan gaya rocker kelas atas. Dan Gongchan hanya bisa tertawa.

Tidak hanya itu. Sepertinya Gongchan sudah mulai terbawa sifat kekanakannya Jinyoung. Mau saja Gongchan mengikuti gerak taekwondo abal ala Jinyoung. Gongchan tidak bisa melakukannya lagi, ia cepat tertawa karena tingkahnya Jinyoung.

Di taman sekolah.

Kali ini Jinyoung melempar-lemaparkan bukunya Gongchan. Dan akhirnya bukunya Gongchan nyangkut di pepohonan.

"Bagaimana ini hyung?"

Mereka berdua mendongak menatap buku yang nyangkut di pohon.

"Kau jaga bukunya di bawah ne? Aku akan memanjat."

"Ne hyung."

Perlahan-lahan Jinyoung mencoba memanjat. Perlahan tapi pasti ia dapat menaiki pohon. Dan mengambil buku milik Gongchan.

"Channie! Tangkap ne?"

Gongchan sudah mendapatkan bukunya kembali. Tapi.tapi.. Ketika Jinyoung ingin turun. Ranting yang ia injak sudar.rapuh dan Jinyoung jatuh menimpa Gongchan.

"Aaaaaaa."

Gdubrak

"Awhh."

Jinyoung menurup matanya.
"Apakah aku sudah mati?"
"Hyung.." Gongchan kesakitan akibat tertimpa Jinyoung.

Jinyoung menatap Gongchan. Wajah mereka sangat dekat. Hanya terpaut beberapa sentimeter saja.

Kenapa.. Kenapa jantungku berdegub sekencang ini? Omo~ kenapa ini?

"Ohh. Maafkan aku Channie." Jinyoung segera bangun dan membersihkan bajunya.

"Mmm. Gwenchana hyung." Gongchan memeluk erat bukunya.

"Mmm." Jinyoung terlihat salah tingkah. " Baguslah. Kajja kita ke kelas."

"Ne." Ujar Gongchan mengikuti Jinyoung dari belakang.

                      ***
Akhirnya hasil ujian di umumkan. Gongchan tesenyum melihat hasil ujiannya. Ketika ia menolah. Gongchan melihat Jinyoung di kejauhan dan Gongchan menunjukan angga dua ke arah Jinyoung.

Jinyoung menunjukan jari jempolnya kemudian ia pergi berlalu.

1 minggu kemudian Di perpustakaan.

Gongchan dan Jinyoung kembali belajar.

"Walaupun kau ranking dua tapi kau hebat hyung." Ujar Gongchan.

"Gomawo. Kau lebih hebat channie."

Gongchan tersenyum manis lalu ia membaca bukunya lagi. Di tengah seriusnya ia membaca buku, Gongchan merasa Jinyoung meninggalkannya. Gongchan tidak berani menoleh ke belakang. Karena ia takut dengan cerita horor yang diceritakan oleh Baro.

Tak berselang waktu lama. Pintu perpustakaan berbunyi. Dan suara langkah kaki memasuki perpustakaan.

"Huh. Di luar hujannya lebat sekali."

Ketika Gongchan menoleh. Ternyata dia Jinyoung dengan... Rambut blondenya. Gongchan hanya tersenyum dengan mata berbinar-binar.

Hubungan Jinyoung dan Gongchan semakin hari semakin dekat. Hingga akhirnya 6 bulan kemudian Gongchan menangis di hadapan Jinyoung. Ia menangis karena tidak lulus ujian di universitas gara-gara sakit waktu mengikuti test.

"Hikkhikk. Aku.. Aku sangat bodoh.." Air mata Gongchan tak hentinya menetes. Ia masih berdiri sambil mengusap-usap.air matanya yang menetes.

"Kau tidak bodoh. Ini terjadi.karena waktu itu kau tengah.sakit Channie. Berhentilah menangis." Jinyoung megnusap kupluk yang menutupi kepala Gongchan.

"Tapi.. Hikkhikk.." Tangis Gongchan semakin menjadi-jadi.

Greeb

Jinyoung memeluk tubuh Gongchan. Ia tidak bisa melihat Gongchan bersedih seperti itu.

"Ulji marayo Channie." Jinyoung masih memeluk tubuh Gongchan.

                       ***

3 bulan kemudian.

Hari ini adalah awal musim dingin. Gongchan dan Jinyoung baru bisa bertemu. Karena mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sorot mata Jinyoung mengarah ke bagian kepala Gongchan. Namja itu tidak mengenakan kupluknya.

"Kenapa kau tidak memakai kuplukmu?"

"Apa hyung tidak suka?". Tanya Gongchan.

Jinyoung menatap Gongchan lalu ia menggenggam tangan Gongchan. Walaupun sedikit terkejut tetapi Gongchan merasa sangat senang.

JinChan berhenti di pinggir sebuah danau. Mereka tengah membawa lampion besar yang akan mereka terbangkan.

Masing-masing harus menulis apapun yang mereka pikirkan saat sedang bersama-sama di lampion itu. Tetapi tidak boleh mengintip satu sama lain.

Setelah menulis, Jinyoung dan Gongchan segera menerbangkan lampion tersebut. Perlahan lampion mulai naik dan perlahan mereka dapat saling menatap.

"Ayo kita pulang." Jinyoung menggenggam erat tangan Gongchan. Dan Gongchan hanya bisa berjalan di sebelah Jinyoung.

"Apa yang hyung tulis tadi?"

"Kau tidak perlu tau Channie. Karena... Semua itu sangat bodoh."

Gongchan hanya menunduk sepanjang perjalanan. Begitu juga dengan Jinyoung. Tangannya masih ttetap menggenggam erat tangan Gongchan.

Lampion terus terbang terbawa angin.

Jinyoung :  biarkan aku mencintaimu Channie. Aku rasa kau tidak perlu tau perasaanku ini untuk selamanya. Itu akan lebih baik.

Gongchan : hyung.. Kau berhasil. Kau berhasil membuatku jatuh cinta. Aku akan tetap seperti ini. Diam-diam menyukaimu.

Kamis, 07 November 2013

Terror of Psycopath part II end | cerpen |

Author : Asri Wijayanti
Genre : Horror

Sebelumnya

"Kenapa harus aku dan Haruka??" Keiko menunduk. Ia seakan tengah berbicara dengan dirinya sendiri.

"Lihat-lihat ke laptop!" Yosada mengangkat wajah Keiko. "Titipkan salamku kepada mereka."

Sebuah video pembunuhan Mizaki sensei membuat Keiko menjerit.

"Tidaakkk!!!! Aku tidak mau melihatnya! Tidak!!"

Part II

Keiko mencoba menutup matanya tetapi Yosada memaksanya untuk melihat video pembunuhan Mizaki sensei.

"Mi. Mizaki sensei? Kau?"

Yosada sensei benar-benar sudah gila. Tega-teganya dia membunuh dan menyiksa Mizaki sensei. Ia mengikat Mizaki sensei di sebuah bangku tepat di ruang bawah tanah asrama. Tanpa segan-segan Yosada menampar Mizaki jika ia berani menjerit. Mizaki terlihat mencoba melawan dan Yosada semakin murka.

Sebuah pisau tajam Yosada tunjukkan ke arah kamera. Ia segera berbalik dan mendekatkan pisau itu ke wajah Mizaki.

Suara jam dinding berbunyi. Yosada terlihat semakin menyeramkan. Jam dinding terus berbunyi terdengar sangat menyeramkan dan mencekam.

"Oh.  Tidak! Aku melukai wajahnya." ujar Yosada sambil menatap Keiko.

Yosada menggoreskan pisau itu di pipi Mizaki. Air mata Mizaki menetes dan ia merintih kesakitan. Ia menggoreskannya tak hanya sekali tapi berkali-kali.

Keiko tidak bisa mendengar kata-kata yang di ucapkan Mizaki. Nafas Keiko naik turun dan ia hanya bisa menangis ketika rambutnya ditarik agar wajahnya tidak menunduk.

"Hentikan. Aku mohon hentikan!!!" Teriak Keiko.

Pisau tajam itu perlahan-lahan membus perut Mizaki. Mizaki tidak bisa bernafas. Karena Yosada menutup hidung dan mulutnya dengan tangan kirinya. Darah segar mengucur.keluar dari perutnya yang sudah robek. Nyawa Mizaki telah melayang. Tangan Yosada terlihat penuh darah.

"Lihat! Aku sudah membunuhnya. Haha. Tapi.. " Yosada menundukkan wajahnya. "Aku takut Keiko."

Keiko melihat Yosada menunduk ketakutan. Yosada yang ramah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Keadaan itu membuat Keiko kepanikan. Wajahnya basah oleh keringat dan matanya sembab karena menangis.

Suara ponsel terdengar seperti denting jam dinding. Ternyata ponsel Mizaki sensei yang berdering. Ia kembali melihat ke arah laptop dan tepat saat itu. Yosada tengah mencari-cari ponsel Mizaki di dalam tasnya. Dan tiba-tiba ia menoleh ke belakang. Ya. Tepat saat itu Haruka membuka pintu yang ternyata lupa Yosada kunci.

Semula yang terlihat hanyalah kaki Haruka. Kemudian Yosada sensei menarik sebuah tongkat baseball yang berada tak jauh dari sana. Tanpa belas kasihan, ia memukul kepala Haruka sampai pecah. Yosada terlihat membabi buta hingga akhirnya ia rasa Haruka telah mati, ia pun menghentikannya. Tiba - tiba Keiko menjerit.

"HARUKA!!!!" Keiko meloncat ke arah meja dan menutup laptop itu. Keiko seperti orang kesurupan. Ia menjerit jerit sambil memegangi kepalanya.  Ia menemukan sebuah pisau. Keiko menggambilnya dan menodongkannya ke arah Yosada.

"Jangan mendekat!!"

"Hhaha. Kau pikir kau bisa mengancam ku? " Yosada semakin mendekati Keiko.

Keiko berlari ke arah pintu. Ia mencoba membukanya tapi pintu ternyata di kunci.

"Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya." ujar Yosada. Senyumnya sangat menyeramkan. Ia benar-benar sudah sakit jiwa.

Keiko menggedor pintu sambil berteriak meminta tolong. Ia berharap kakaknya akan mendengar teriakannya jika mereka masuk ke dalam sekolah.

"Jangan mendekat!! Aku bilang jangan mendekat!" Keiko menodongkan pisau ke arah Yosada. Ia masih memakai baju rumah sakit. Dan rambut panjangnya tak beraturan.

"Keiko!!" Panggil seseorang dari luar.

"Diam!! Kau mau mereka aku bunuh juga hah??" Yosada mendelik Keiko untuk tidak menjawab panggilan Mei dari luar.

"Kakak! Yuto tolong aku." Keiko menangis. Ia tidak mau menuruti kata-kata Yosada. Bahkan ia menggedor pintu sekuat yang ia bisa.

Tiba-tiba ketika Keiko lengah tanpa ia sangka Yosada mengambil pisaunya dan menahan tangannya dengan sangat kuat. Matanya mengerikan dan dia sangat menyeramkan.

"Aku. Mohon! Jangan bunuh aku sensei." Keiko menangis. Poninya ditarik ke atas oleh Yosada sehingga Keiko mendongak menatap Yosada yang kini berdiri di belakangnya.

                 ***

"Disana!"

Mei mendengar bunyi seseorang menggedor pintu. Ia yakin teriakan minta tolong tadi adalah suara Keiko.

Mereka cepat-cepat menuju gudang. Mei mendengarkannya. Itu memang suara Keiko.

"Keiko!!" panggil Mei.

"Kakak. Yuto tolong aku." Suara tangisan Keiko membuat Mei sedih. Ia tidak ingin adiknya terluka.

Tak berselang waktu lama, Mei mendengar suara pekikan. Ia kepanikan dan mencoba mendobrak pintu gudang.

"Keiko!! Apa yang harus kakak lakukan?"

Tidak ada tanggapan dari dalam. Mei sensei menggedor pintu, bibirnya bergetar. Ia terlihat sangat panik dan tak henti-hentinya ia menggedor pintu.

"Keiko! Bertahanlah! Keiko!!" Mei menangis sambil masih mencoba menubrukkan badannya ke pintu.

Yuto berlari dan meninggalkan Mei. Semua yang dia lihat tadi ternyata bukanlah halusinasi. Seseorang yang melambaikan tangan tadi memang benar-benar Keiko.

Sekuat tenaga Yuto berlari. Ia harap belum terlambat. Tidak ada yang boleh menjadi korban teror lagi. Ia harus menyelamatkan Keiko. Karena dia adalah seseorang yang sangat Yuto sayangi. Walaupun mungkin Keiko tidak menyadarinya.

Sesampainya di sana ternyata jendela sudah di tutup rapat.

Apa yang harus aku lakukan??

Tangan Yuto berusaha mencari sesuatu yang bisa menghancurkan kaca jendela. Di sana sangat gelap. Yuto bahkan tidak bisa melihat batu atau bata atau apapun itu.

"Jangan! Aku tidak mau mati." terdengar suara tangis Keiko. Yuto tidak bisa lama-lama lagi. Ia berdiri di depan jendela.

Ini tidak akan sakit Yuto!!

Dalam hitungan tiga Yuto melepaskan pukulan ke arah kaca jendela berkali-kali hingga kaca jendela hancur berkeping - keping. Darah di tangan Yuto menetes begitu banyak. Yah. Itu pasti sangat perih.

Tanpa basa basi lagi Yuto segera masuk ke dalam. Tiba-tiba lampu senter yang semula hidup di atas meja mati. Ruangan jadi gelap gulita. Yuto tidak bisa melihat apapun.

Ia menggambil ponsel di saku jaketnya. Dan berusaha mencari Keiko.

"Keiko!!" Teriak Yuto.

"Ahhh!!" Tubuh Yuto terjatuh di lantai. Ia merasa seseorang sudah menggoreskan benda tajam pada kakinya. "Awhh." Yuto mengarahkan ponselnya ke arah samping. Tidak ia lihat siapapun juga. Yuto mencoba bangun walaupun tangan dan kakinya terasa perih. Ia berjalan berusaha tanpa suara. Agar pembunuh itu tidak mengetahuinya.

Aku harus hati-hati. Dia pasti bersembunyi. Baiklah.. Kita mulai permainan ini.

Dengan sedikit pincang Yuto berjalan mendekati meja tempat laptop. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu jatuh dari arah belakang rak buku. Yuto melangkahkan kakinya. Entah kenapa hentakan kaki ia buat sedemikian kerasnya.
                      

                  ***

Yosada menyeret Keiko untuk bersembunyi di belakang rak buku. Karena seseorang terdengar telah memecahkan kaca jendela.

Yuto. Itu pasti kau. Tolong aku...

Terdengar berkali-kali suara Yuto memukul kaca jendela. Keiko menangis tanpa suara. Karena Yosada menutup mulutnya. Ia benci dengan Yosada. Karena teror ini, banyak darah yang menetes.

Seluruh ruangan menjadi gelap. Dada Keiko bedegub semakin kencang. Ia takut gelap. Ia tidak suka dengan gelap. Tiba-tiba ia mendegar Yuto merintih kesakitan. Dan terdengar suara tubuhnya terjatuh.

"Awhh."

Yuto.. Kau harus kuat.. Kau harus tolong aku..

Yosada mendorong tubuh Keiko. Ia mengikat seluruh tubuh Keiko dan menyumpal mulutnya. Kemudian laki-laki sakit jiwa itu memasukkannya ke dalam sebuah lemari.

Keiko mencoba melawan. Bisa-bisa ia akan mati jika terus di kurung di dalam sana dengan kondisi gelap. Tapi apa daya, sekarang Keiko sudah berada di dalam lemari bersama debu-debu di dalam sana.

Ketika Yosada pikir Yuto sudah pergi, ia berjalan ke arah meja tempat laptop. Kemudian sesuatu mencengkram kakinya dengan keras.

"Binggo!!" Yuto mencengkram erat pergelangan kaki Yosada. Ia bersembunyi di bawah meja.

"Heh!! Lepaskan kakiku. Beraninya kau!" Yosada menendang tubuh Yuto hingga terlempar ke dinding.

Yuto memegangi punggungnya. Ia menatap pembunuh itu dan matanya membelalak kaget. Ia mengucek-ucek matanya dan tetap saja seseorang yang kini berdiri di hadapannya masih sama. Yosada sensei.

"Yosada sensei?" Yuto berdiri dan mendekati Yosada yang masih memegang pisau. "Kenapa kau lakukan ini?"

"Sebenarnya ini bukan urusanmu. Tetapi sepertinya kau ingin mati juga seperti mereka." Yosada membersihkan darah di pisau dengan tangannya.

"Mereka?" Yuto melirik ke segala arah. "Dimana Keiko? Kenapa kau menyakitinya?"

"Kau diam saja." Ujar Yosada santai.

"Bagimana aku bisa diam? Ada apa denganmu sensei? Kenapa kau seperti ini?" Teriak Yuto.

"Hey!! Beraninya kau membentak ku!" Yosada menodongkan pisaunya ke arah Yuto.

Perlahan Yuto menggerakkan kakinya agar terhindar dari pisau yang dipegang Yosada. Ia fokus menatap pisau itu dan kemudian ia menghempaskan tangan Yosada. Pisau terlempar jauh dan mata Yosada membelalak geram.

Gerakkannya sangat cepat. Yosada memukul perut Yuto sampai-sampai Yuto terhuyung-huyung. Yosada melipat lengan bajunya dan ia berdiri di depan Yuto yang tengah bersandar di dinding.

"Kau mau mati dengan cara apa hah?"

"Sensei. Uhhuk uhhuk." Yuto batuk-batuk akibat pukulan dari Yosada tadi.

"Ohh pahlawan kesiangan yang malang. Uuh?" Yosada memegang dagu Yuto. Tapi Yuto menghempaskan tangan Yosada.

"Jangan biarkan aku memukulmu sensei. Kau adalah sensei yang sangat aku hormati."
"Haha. Oh. Kau kesini untuk mencari pacarmu hah? Wah wah rela mati demi cinta. Bodoh sekali!! Kau tau? Keiko mungkin sekarang sudahh. Maaaa tiii!!"

Tiba-tiba mata Yuto berlinang air mata. Tangannya bergetar hebat dan ia tidak sadar telah menarik kerah baju Yosada dan memukul Yosada dengan tangannya yang berdarah akibat memukul kaca jendela. Tidak ada rasa sakit sedikitpun. Ia memukul Yosada tanpa henti. Yuto sepertinya sangat marah ketika mendengar pengakuan Yosada.

"Beritau aku sensei!! Dimana kau sembunyikan Keiko??" Yuto menyenderkan Yosada di dinding.

Yosada menghapus darah di bibirnya. Kemudian tanpa Yuto sangka Yosada tak kehilangan tenaga setelah ia pukul. Bahkan ia semakin kejam. Yosada mendorong Yuto ke pintu hingga pintu berbunyi sangat keras. Terdengar pekikan dari luar dan di dalam lemari. Yosada memukul Yuto tanpa henti.

Samar-samar Yuto melihat lemari bergoyang. "Ke..iii.. Keiko.. Uhukk." Yosada masih memukulinya.

                  ***

Ketika Mei masih mencoba membuka pintu. Ia mendengar suara hentakan keras dari dalam. Mei menjerit dan ia berusaha membukanya.

"Pasti ada jalan lain."

Mei berlari keluar. Hingga ia melewati sebuah kaca jendela.yang pecah. Percikan darah mengotori kaca yang telah pecah itu. Mei berhenti. Ia menyibak sedikit gorden. Matanya membelalak kaget. Lalu ia menutupnya kembali. Mei menutup mulutnya.

                    ***

"Sen..sei! Hentikan!"

Yosada melepaskan kerah baju Yuto. Dan tubuh Yuto terjatuh lemas. Wajahnya penuh luka disana sini. Tiba-tiba Yuto mencengkram kaki Yosada.

"Cukup aku saja! Jangan uhhuk uhhuk. Jangan ada korban lagi.." tanpa Yuto sadari ia menangis.

Luka di wajahnya sangat parah. Dan darah di tangan Yuto keluar semakin banyak. Wajahnya sangat pucat dan tatapannya sangat sayup.

Yosada berjalan menuju lemari tak jauh dari rak buku. Ia membuka kuncinya dan terlihat tubuh lemas Keiko. Matanya sayup. Wajahnya basah penuh  air mata dan tubuhnya terikat tali.

Perlahan Yuto menatap ke arah Keiko. Air matanya menetes sedikit demi sedikit. Dan tubuhnya bergetar. Ketika Yuto memanggil Keiko terlihat gigi Yuto yang penuh darah.

"Hmm siapa yang harus ku habiskan terlebih dulu?" Yosada berjalan ke arah Yuto. Keiko yang melihat Yosada mendekati Yuto ingin mencegahnya tetapi ia tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya terikat tali.

"Sepertinya aku harus membunuh pahlawan kesiangan dulu." Yosada mengambil pisaunya dan memdekati Yuto.

Keiko menggeleng ketakutan. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Tubuhnya terlalu lemah untuk memberontak.

"Kau mau menyampaikan kata-kata terakhir?" Yosada jongkok di hadapan Yuto yang tak bertenaga. Yosada menepuk-nepuk pipi Yuto.

"Ak..u ha..nya ing..in tau alasan..mu me..la..ku..kan se..mua ini sen...sei."

"Oh itu. Aku.. Intinya. Aku benci dengan manusia yang senang merendahkan orang lain. Kau.mengerti?"

"Ap..a mak..sud mu? Lalu ad..akah hub..ungan..nya de..ngan kau mem..bunuh Har..ruka?"

"Karena dia melihatku membunuh Mizaki. Hhh malangnya dia, bukan begitu huh?" Yosada mendekatkan pisau ke baju Yuto.

Tanpa Yosada ketahui Yuto telah merekam perkataannya. Dan itu akan menjadi bukti pendukung kejahatan Yosada.

Perlahan pisau merobek baju Yuto tapi tapi Yuto memberanikan diri menendang tubuh Yosada sekeras mungkin hingga ia jatuh di tumbukan barang-barang yang tidak berguna lagi.

"Ahh. Rupanya kau masih kuat. Baiklah. Kita akhiri sekarang juga." Yosada perlahan mendekati Yuto ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ya. Sebuah pistol.

Mata Yuto membelalak. Ia berusaha bangkit tetapi ia tidak terlalu kuat untuk bangkit.

"Matilah kau!!'

"Yaaat"

BUG!!

Untung saja Mei datang dan memukul punggung Yosada. Sekarang ia tak sadarkan diri. Yosada telungkup di lantai.

Mei menutup mulutnya tidak percaya. Ia meneteskan air mata ketika melihat pelaku pembunuhan itu adalah Yosada. Seseorang yang sangat ia kagumi. Yosada pernah menjadi seseorang yang menghiasi hari-harinya. Dialah orang pertama yang menerima Mei sebagai guru baru di sekolah tersebut. Mei jongkok sambil menangis di hadapan Yuto.

"Kei..ko." Yuto menunjuk ke arah lemari yang terbuka.

Tanpa basa-basi lagi Mei menolong adiknya yang sudah lemas. Ia mencoba menyuruh Keiko berjalan tetapi sepertinya dia terlalu lemas.

"Kau tidak apa-apa kan Keiko?" Mei melihat darah di tangan Keiko akibat terkena goresan pecahan gelas dan luka gores di telapak kakinya.

"Biar kakak gendong kita harus cepat pergi."

"Tidak usah. Aku bisa sendiri." Keiko berjalan terhuyun huyun hingga ia terjatuh.

Sekuat tenaga Mei mencoba menggendong Keiko. Tetapi tubuh Keiko lebih besar darinya. Mei tidak kuat menggendong Keiko.

"Biar aku saja." Yuto jongkok di hadapan mereka berdua. Wajahnya benar-benar sudah habis terluka. Dan deret giginya tak terlihat karena tertutup darah.

Ia segera menggendong Keiko dan Mei mengambil kunci gudang dari saku celana Yosada. Sebelum pergi Mei mengikat kaki Yosada dan tangannya agar dia tidak melarikan diri.

Perlahan-lahan Yuto melangkahkan kakinya. Melihat wajah Yuto yang sangat pucat membuat Mei kuwatir. Karena banyak darah yang menetes dari tangan Yuto. Bahkan bajunya telah sobek. Ia hampir mati gara-gara menyelamatkan Keiko.

"Sensei.. Kalau aku pergi. Aku ingin kau berjanji."

"Apa maksudmu?"

Sebelum sempat Yuto menjawab. Mereka telah tiba di halaman sekolah. Beberapa mobil polisi datang membuat mata mereka silau.

Yuto menurunkan Keiko. Ia merasa tidak ada tenaga lagi. Semua terlihat samar-samar. Dan matanya mulai berkunang-kunang.

"Yuto.. Kau baik-baik saja?" Ujar Mei.

Keiko yang kini berada di pangkuan Mei menggenggam erat tangan Yuto yang kini tengah bersimpuh.

"Sen..sei.. Jagalah di..rimu dan Kei..ko baik-ba..ik. Uhhuk uhuuk." Darah segar keluar dari mulut Yuto. Ia mencoba membuka matanya tetapi dadanya terasa sakit. Dan seluruh tubuhnya terasa lemas.

"Beri..kan in..i kepa..da polisi sen..sei." Yuto memberikan rekaman suara perbincangannya dengan Yosada.

Tangan Yuto terjatuh lemas dan ia pun tak sadarkan diri. Tubuhnya terlentang di halaman sekolah. Keiko dan Mei menangis tersedu-sedu. Mereka meminta pertolongan untuk membawa Yuto ke rumah sakit sesegera mungkin.

                ***

Kini Yosada sudah ditangkap. Begitu juga kematian Mizaki dan Haruka telah terungkap.

Tiba-tiba Mei mendengar isak tangis di ruang UGD. Dengan sedikit berlari ia memasuki ruang UGD. Orang tua Yuto dan keluarganya memangis. Mei melihat ke arah dokter dan dokter hanya menggeleng.

"Apa? Tidak bisakah kau berusaha lagi. Dia siswa yang kuat!"

"dia kehilangan bayak darah. Kami sudah melakukan yang terbaik. Maafkan kami."

"Yuto.." Mei menangis sambil memeluk ibu Yuto yang terlihat sangat kehilangan.

Sambil memikirkan semua hal yang telah terjadi, Mei kini berjalan di koridor rumah sakit. Wajahnya masih kusut dan kecewa. Tiba-tiba lamunannya buyar akibat teriakan Keiko yang berlari menabraknya.

"Keiko!" Cegah Mei.

"Aku mau menemui Yuto kak. Aku harus menemuinya." Mei tidak bisa menahan Keiko. Ia hanya bisa mengejar Keiko yang kini berada di ruang UGD.

Gadis itu terisak. Air matanya jatuh tak henti-hentinya. Ia mendekati Yuto yang tak bernyawa lagi. Wajah Yuto penuh luka. Dan tanpa segan Keiko menangis di dada Yuto. Ia merasa berhutang nyawa dengan Yuto. Bagaimana pun Yuto adalah orang yang telah menyelamatkannya.

"Kenapa kau meninggalkanku? Bukankah dulu kau bilang akan melindungiku selamanya hah? Kau pembohong ihhik ihhik." Keiko menangis tersedu-sedu.

                          ***

Kini Mei tengah bergegas ke kantor polisi karena rekaman suara yang diberikan Yuto belum sempat ia berikan kepada polisi. Setibanya disana, ia melihat Yosada tengah di borgol dan di introgasi.

"Maaf. Ini bukti lainnya pak." Mei memberikan rekaman suara itu. Sebelum ia pergi, Mei menatap mata Yosada.

"Kenapa kau lakukan semua ini.Yosada?"

Yosada hanya terdiam. Ia hanya membalas menatap tatapan Mei.

"Kenapa kau membunuh orang-orang yang tak bersalah seperti mereka? Apa kau sudah gila. Apa mungkin kau juga akan membunuhku jika kasus ini belum terungkap?" Mata Mei berkaca-kaca. Ia berusaha tegar dan bergegas pergi. Tetapi kata-kata Yosada membuatnya menghentikan langkahnya.

"Aku tidak akan melakukannya kepadamu. Mizaki.." Yosada menunduk. "Mizaki telah mempermalukanku di hadapanmu waktu makan malam bersama rekan-rekan. Aku sakit hati kepadanya."

"Apa?" air mata Mei mulai menetes. "Dasar." Mei segera pergi meninggalkan Yosada.

Yosada malu ketika Mizaki mengejeknya di hadapanku saat makan berasama dengan rekan-rekan guru? Tapi.. Apakah dia harus bertindak seceroboh dan sebodoh itu? Dia memang sudah sakit jiwa!!

                  ***

Keiko masih dirawat di rumah sakit. Ibu Yuto memberikan Keiko sebuah buku skets. Di atas ranjang Keiko membuka-buka buku skets milik Yuto. Di dalamnya banyak gambar wajah Keiko.

Keiko.. Ketika malam tiba aku sangat senang. Karena itu artinya besok kita akan bertemu.

Jika seseorang bertanya siapa yang ku pikirkan saat aku membuka mata. Jawabannya adalah Keiko

Ketika salju turun.. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu Keiko Sato

Terror of Psycopath part II end | cerpen |

Author : Asri Wijayanti
Genre : Horror

Sebelumnya

"Kenapa harus aku dan Haruka??" Keiko menunduk. Ia seakan tengah berbicara dengan dirinya sendiri.

"Lihat-lihat ke laptop!" Yosada mengangkat wajah Keiko. "Titipkan salamku kepada mereka."

Sebuah video pembunuhan Mizaki sensei membuat Keiko menjerit.

"Tidaakkk!!!! Aku tidak mau melihatnya! Tidak!!"

Part II

Keiko mencoba menutup matanya tetapi Yosada memaksanya untuk melihat video pembunuhan Mizaki sensei.

"Mi. Mizaki sensei? Kau?"

Yosada sensei benar-benar sudah gila. Tega-teganya dia membunuh dan menyiksa Mizaki sensei. Ia mengikat Mizaki sensei di sebuah bangku tepat di ruang bawah tanah asrama. Tanpa segan-segan Yosada menampar Mizaki jika ia berani menjerit. Mizaki terlihat mencoba melawan dan Yosada semakin murka.

Sebuah pisau tajam Yosada tunjukkan ke arah kamera. Ia segera berbalik dan mendekatkan pisau itu ke wajah Mizaki.

Suara jam dinding berbunyi. Yosada terlihat semakin menyeramkan. Jam dinding terus berbunyi terdengar sangat menyeramkan dan mencekam.

"Oh.  Tidak! Aku melukai wajahnya." ujar Yosada sambil menatap Keiko.

Yosada menggoreskan pisau itu di pipi Mizaki. Air mata Mizaki menetes dan ia merintih kesakitan. Ia menggoreskannya tak hanya sekali tapi berkali-kali.

Keiko tidak bisa mendengar kata-kata yang di ucapkan Mizaki. Nafas Keiko naik turun dan ia hanya bisa menangis ketika rambutnya ditarik agar wajahnya tidak menunduk.

"Hentikan. Aku mohon hentikan!!!" Teriak Keiko.

Pisau tajam itu perlahan-lahan membus perut Mizaki. Mizaki tidak bisa bernafas. Karena Yosada menutup hidung dan mulutnya dengan tangan kirinya. Darah segar mengucur.keluar dari perutnya yang sudah robek. Nyawa Mizaki telah melayang. Tangan Yosada terlihat penuh darah.

"Lihat! Aku sudah membunuhnya. Haha. Tapi.. " Yosada menundukkan wajahnya. "Aku takut Keiko."

Keiko melihat Yosada menunduk ketakutan. Yosada yang ramah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Keadaan itu membuat Keiko kepanikan. Wajahnya basah oleh keringat dan matanya sembab karena menangis.

Suara ponsel terdengar seperti denting jam dinding. Ternyata ponsel Mizaki sensei yang berdering. Ia kembali melihat ke arah laptop dan tepat saat itu. Yosada tengah mencari-cari ponsel Mizaki di dalam tasnya. Dan tiba-tiba ia menoleh ke belakang. Ya. Tepat saat itu Haruka membuka pintu yang ternyata lupa Yosada kunci.

Semula yang terlihat hanyalah kaki Haruka. Kemudian Yosada sensei menarik sebuah tongkat baseball yang berada tak jauh dari sana. Tanpa belas kasihan, ia memukul kepala Haruka sampai pecah. Yosada terlihat membabi buta hingga akhirnya ia rasa Haruka telah mati, ia pun menghentikannya. Tiba - tiba Keiko menjerit.

"HARUKA!!!!" Keiko meloncat ke arah meja dan menutup laptop itu. Keiko seperti orang kesurupan. Ia menjerit jerit sambil memegangi kepalanya.  Ia menemukan sebuah pisau. Keiko menggambilnya dan menodongkannya ke arah Yosada.

"Jangan mendekat!!"

"Hhaha. Kau pikir kau bisa mengancam ku? " Yosada semakin mendekati Keiko.

Keiko berlari ke arah pintu. Ia mencoba membukanya tapi pintu ternyata di kunci.

"Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya." ujar Yosada. Senyumnya sangat menyeramkan. Ia benar-benar sudah sakit jiwa.

Keiko menggedor pintu sambil berteriak meminta tolong. Ia berharap kakaknya akan mendengar teriakannya jika mereka masuk ke dalam sekolah.

"Jangan mendekat!! Aku bilang jangan mendekat!" Keiko menodongkan pisau ke arah Yosada. Ia masih memakai baju rumah sakit. Dan rambut panjangnya tak beraturan.

"Keiko!!" Panggil seseorang dari luar.

"Diam!! Kau mau mereka aku bunuh juga hah??" Yosada mendelik Keiko untuk tidak menjawab panggilan Mei dari luar.

"Kakak! Yuto tolong aku." Keiko menangis. Ia tidak mau menuruti kata-kata Yosada. Bahkan ia menggedor pintu sekuat yang ia bisa.

Tiba-tiba ketika Keiko lengah tanpa ia sangka Yosada mengambil pisaunya dan menahan tangannya dengan sangat kuat. Matanya mengerikan dan dia sangat menyeramkan.

"Aku. Mohon! Jangan bunuh aku sensei." Keiko menangis. Poninya ditarik ke atas oleh Yosada sehingga Keiko mendongak menatap Yosada yang kini berdiri di belakangnya.

                 ***

"Disana!"

Mei mendengar bunyi seseorang menggedor pintu. Ia yakin teriakan minta tolong tadi adalah suara Keiko.

Mereka cepat-cepat menuju gudang. Mei mendengarkannya. Itu memang suara Keiko.

"Keiko!!" panggil Mei.

"Kakak. Yuto tolong aku." Suara tangisan Keiko membuat Mei sedih. Ia tidak ingin adiknya terluka.

Tak berselang waktu lama, Mei mendengar suara pekikan. Ia kepanikan dan mencoba mendobrak pintu gudang.

"Keiko!! Apa yang harus kakak lakukan?"

Tidak ada tanggapan dari dalam. Mei sensei menggedor pintu, bibirnya bergetar. Ia terlihat sangat panik dan tak henti-hentinya ia menggedor pintu.

"Keiko! Bertahanlah! Keiko!!" Mei menangis sambil masih mencoba menubrukkan badannya ke pintu.

Yuto berlari dan meninggalkan Mei. Semua yang dia lihat tadi ternyata bukanlah halusinasi. Seseorang yang melambaikan tangan tadi memang benar-benar Keiko.

Sekuat tenaga Yuto berlari. Ia harap belum terlambat. Tidak ada yang boleh menjadi korban teror lagi. Ia harus menyelamatkan Keiko. Karena dia adalah seseorang yang sangat Yuto sayangi. Walaupun mungkin Keiko tidak menyadarinya.

Sesampainya di sana ternyata jendela sudah di tutup rapat.

Apa yang harus aku lakukan??

Tangan Yuto berusaha mencari sesuatu yang bisa menghancurkan kaca jendela. Di sana sangat gelap. Yuto bahkan tidak bisa melihat batu atau bata atau apapun itu.

"Jangan! Aku tidak mau mati." terdengar suara tangis Keiko. Yuto tidak bisa lama-lama lagi. Ia berdiri di depan jendela.

Ini tidak akan sakit Yuto!!

Dalam hitungan tiga Yuto melepaskan pukulan ke arah kaca jendela berkali-kali hingga kaca jendela hancur berkeping - keping. Darah di tangan Yuto menetes begitu banyak. Yah. Itu pasti sangat perih.

Tanpa basa basi lagi Yuto segera masuk ke dalam. Tiba-tiba lampu senter yang semula hidup di atas meja mati. Ruangan jadi gelap gulita. Yuto tidak bisa melihat apapun.

Ia menggambil ponsel di saku jaketnya. Dan berusaha mencari Keiko.

"Keiko!!" Teriak Yuto.

"Ahhh!!" Tubuh Yuto terjatuh di lantai. Ia merasa seseorang sudah menggoreskan benda tajam pada kakinya. "Awhh." Yuto mengarahkan ponselnya ke arah samping. Tidak ia lihat siapapun juga. Yuto mencoba bangun walaupun tangan dan kakinya terasa perih. Ia berjalan berusaha tanpa suara. Agar pembunuh itu tidak mengetahuinya.

Aku harus hati-hati. Dia pasti bersembunyi. Baiklah.. Kita mulai permainan ini.

Dengan sedikit pincang Yuto berjalan mendekati meja tempat laptop. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu jatuh dari arah belakang rak buku. Yuto melangkahkan kakinya. Entah kenapa hentakan kaki ia buat sedemikian kerasnya.
                      

                  ***

Yosada menyeret Keiko untuk bersembunyi di belakang rak buku. Karena seseorang terdengar telah memecahkan kaca jendela.

Yuto. Itu pasti kau. Tolong aku...

Terdengar berkali-kali suara Yuto memukul kaca jendela. Keiko menangis tanpa suara. Karena Yosada menutup mulutnya. Ia benci dengan Yosada. Karena teror ini, banyak darah yang menetes.

Seluruh ruangan menjadi gelap. Dada Keiko bedegub semakin kencang. Ia takut gelap. Ia tidak suka dengan gelap. Tiba-tiba ia mendegar Yuto merintih kesakitan. Dan terdengar suara tubuhnya terjatuh.

"Awhh."

Yuto.. Kau harus kuat.. Kau harus tolong aku..

Yosada mendorong tubuh Keiko. Ia mengikat seluruh tubuh Keiko dan menyumpal mulutnya. Kemudian laki-laki sakit jiwa itu memasukkannya ke dalam sebuah lemari.

Keiko mencoba melawan. Bisa-bisa ia akan mati jika terus di kurung di dalam sana dengan kondisi gelap. Tapi apa daya, sekarang Keiko sudah berada di dalam lemari bersama debu-debu di dalam sana.

Ketika Yosada pikir Yuto sudah pergi, ia berjalan ke arah meja tempat laptop. Kemudian sesuatu mencengkram kakinya dengan keras.

"Binggo!!" Yuto mencengkram erat pergelangan kaki Yosada. Ia bersembunyi di bawah meja.

"Heh!! Lepaskan kakiku. Beraninya kau!" Yosada menendang tubuh Yuto hingga terlempar ke dinding.

Yuto memegangi punggungnya. Ia menatap pembunuh itu dan matanya membelalak kaget. Ia mengucek-ucek matanya dan tetap saja seseorang yang kini berdiri di hadapannya masih sama. Yosada sensei.

"Yosada sensei?" Yuto berdiri dan mendekati Yosada yang masih memegang pisau. "Kenapa kau lakukan ini?"

"Sebenarnya ini bukan urusanmu. Tetapi sepertinya kau ingin mati juga seperti mereka." Yosada membersihkan darah di pisau dengan tangannya.

"Mereka?" Yuto melirik ke segala arah. "Dimana Keiko? Kenapa kau menyakitinya?"

"Kau diam saja." Ujar Yosada santai.

"Bagimana aku bisa diam? Ada apa denganmu sensei? Kenapa kau seperti ini?" Teriak Yuto.

"Hey!! Beraninya kau membentak ku!" Yosada menodongkan pisaunya ke arah Yuto.

Perlahan Yuto menggerakkan kakinya agar terhindar dari pisau yang dipegang Yosada. Ia fokus menatap pisau itu dan kemudian ia menghempaskan tangan Yosada. Pisau terlempar jauh dan mata Yosada membelalak geram.

Gerakkannya sangat cepat. Yosada memukul perut Yuto sampai-sampai Yuto terhuyung-huyung. Yosada melipat lengan bajunya dan ia berdiri di depan Yuto yang tengah bersandar di dinding.

"Kau mau mati dengan cara apa hah?"

"Sensei. Uhhuk uhhuk." Yuto batuk-batuk akibat pukulan dari Yosada tadi.

"Ohh pahlawan kesiangan yang malang. Uuh?" Yosada memegang dagu Yuto. Tapi Yuto menghempaskan tangan Yosada.

"Jangan biarkan aku memukulmu sensei. Kau adalah sensei yang sangat aku hormati."
"Haha. Oh. Kau kesini untuk mencari pacarmu hah? Wah wah rela mati demi cinta. Bodoh sekali!! Kau tau? Keiko mungkin sekarang sudahh. Maaaa tiii!!"

Tiba-tiba mata Yuto berlinang air mata. Tangannya bergetar hebat dan ia tidak sadar telah menarik kerah baju Yosada dan memukul Yosada dengan tangannya yang berdarah akibat memukul kaca jendela. Tidak ada rasa sakit sedikitpun. Ia memukul Yosada tanpa henti. Yuto sepertinya sangat marah ketika mendengar pengakuan Yosada.

"Beritau aku sensei!! Dimana kau sembunyikan Keiko??" Yuto menyenderkan Yosada di dinding.

Yosada menghapus darah di bibirnya. Kemudian tanpa Yuto sangka Yosada tak kehilangan tenaga setelah ia pukul. Bahkan ia semakin kejam. Yosada mendorong Yuto ke pintu hingga pintu berbunyi sangat keras. Terdengar pekikan dari luar dan di dalam lemari. Yosada memukul Yuto tanpa henti.

Samar-samar Yuto melihat lemari bergoyang. "Ke..iii.. Keiko.. Uhukk." Yosada masih memukulinya.

                  ***

Ketika Mei masih mencoba membuka pintu. Ia mendengar suara hentakan keras dari dalam. Mei menjerit dan ia berusaha membukanya.

"Pasti ada jalan lain."

Mei berlari keluar. Hingga ia melewati sebuah kaca jendela.yang pecah. Percikan darah mengotori kaca yang telah pecah itu. Mei berhenti. Ia menyibak sedikit gorden. Matanya membelalak kaget. Lalu ia menutupnya kembali. Mei menutup mulutnya.

                    ***

"Sen..sei! Hentikan!"

Yosada melepaskan kerah baju Yuto. Dan tubuh Yuto terjatuh lemas. Wajahnya penuh luka disana sini. Tiba-tiba Yuto mencengkram kaki Yosada.

"Cukup aku saja! Jangan uhhuk uhhuk. Jangan ada korban lagi.." tanpa Yuto sadari ia menangis.

Luka di wajahnya sangat parah. Dan darah di tangan Yuto keluar semakin banyak. Wajahnya sangat pucat dan tatapannya sangat sayup.

Yosada berjalan menuju lemari tak jauh dari rak buku. Ia membuka kuncinya dan terlihat tubuh lemas Keiko. Matanya sayup. Wajahnya basah penuh  air mata dan tubuhnya terikat tali.

Perlahan Yuto menatap ke arah Keiko. Air matanya menetes sedikit demi sedikit. Dan tubuhnya bergetar. Ketika Yuto memanggil Keiko terlihat gigi Yuto yang penuh darah.

"Hmm siapa yang harus ku habiskan terlebih dulu?" Yosada berjalan ke arah Yuto. Keiko yang melihat Yosada mendekati Yuto ingin mencegahnya tetapi ia tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya terikat tali.

"Sepertinya aku harus membunuh pahlawan kesiangan dulu." Yosada mengambil pisaunya dan memdekati Yuto.

Keiko menggeleng ketakutan. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Tubuhnya terlalu lemah untuk memberontak.

"Kau mau menyampaikan kata-kata terakhir?" Yosada jongkok di hadapan Yuto yang tak bertenaga. Yosada menepuk-nepuk pipi Yuto.

"Ak..u ha..nya ing..in tau alasan..mu me..la..ku..kan se..mua ini sen...sei."

"Oh itu. Aku.. Intinya. Aku benci dengan manusia yang senang merendahkan orang lain. Kau.mengerti?"

"Ap..a mak..sud mu? Lalu ad..akah hub..ungan..nya de..ngan kau mem..bunuh Har..ruka?"

"Karena dia melihatku membunuh Mizaki. Hhh malangnya dia, bukan begitu huh?" Yosada mendekatkan pisau ke baju Yuto.

Tanpa Yosada ketahui Yuto telah merekam perkataannya. Dan itu akan menjadi bukti pendukung kejahatan Yosada.

Perlahan pisau merobek baju Yuto tapi tapi Yuto memberanikan diri menendang tubuh Yosada sekeras mungkin hingga ia jatuh di tumbukan barang-barang yang tidak berguna lagi.

"Ahh. Rupanya kau masih kuat. Baiklah. Kita akhiri sekarang juga." Yosada perlahan mendekati Yuto ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ya. Sebuah pistol.

Mata Yuto membelalak. Ia berusaha bangkit tetapi ia tidak terlalu kuat untuk bangkit.

"Matilah kau!!'

"Yaaat"

BUG!!

Untung saja Mei datang dan memukul punggung Yosada. Sekarang ia tak sadarkan diri. Yosada telungkup di lantai.

Mei menutup mulutnya tidak percaya. Ia meneteskan air mata ketika melihat pelaku pembunuhan itu adalah Yosada. Seseorang yang sangat ia kagumi. Yosada pernah menjadi seseorang yang menghiasi hari-harinya. Dialah orang pertama yang menerima Mei sebagai guru baru di sekolah tersebut. Mei jongkok sambil menangis di hadapan Yuto.

"Kei..ko." Yuto menunjuk ke arah lemari yang terbuka.

Tanpa basa-basi lagi Mei menolong adiknya yang sudah lemas. Ia mencoba menyuruh Keiko berjalan tetapi sepertinya dia terlalu lemas.

"Kau tidak apa-apa kan Keiko?" Mei melihat darah di tangan Keiko akibat terkena goresan pecahan gelas dan luka gores di telapak kakinya.

"Biar kakak gendong kita harus cepat pergi."

"Tidak usah. Aku bisa sendiri." Keiko berjalan terhuyun huyun hingga ia terjatuh.

Sekuat tenaga Mei mencoba menggendong Keiko. Tetapi tubuh Keiko lebih besar darinya. Mei tidak kuat menggendong Keiko.

"Biar aku saja." Yuto jongkok di hadapan mereka berdua. Wajahnya benar-benar sudah habis terluka. Dan deret giginya tak terlihat karena tertutup darah.

Ia segera menggendong Keiko dan Mei mengambil kunci gudang dari saku celana Yosada. Sebelum pergi Mei mengikat kaki Yosada dan tangannya agar dia tidak melarikan diri.

Perlahan-lahan Yuto melangkahkan kakinya. Melihat wajah Yuto yang sangat pucat membuat Mei kuwatir. Karena banyak darah yang menetes dari tangan Yuto. Bahkan bajunya telah sobek. Ia hampir mati gara-gara menyelamatkan Keiko.

"Sensei.. Kalau aku pergi. Aku ingin kau berjanji."

"Apa maksudmu?"

Sebelum sempat Yuto menjawab. Mereka telah tiba di halaman sekolah. Beberapa mobil polisi datang membuat mata mereka silau.

Yuto menurunkan Keiko. Ia merasa tidak ada tenaga lagi. Semua terlihat samar-samar. Dan matanya mulai berkunang-kunang.

"Yuto.. Kau baik-baik saja?" Ujar Mei.

Keiko yang kini berada di pangkuan Mei menggenggam erat tangan Yuto yang kini tengah bersimpuh.

"Sen..sei.. Jagalah di..rimu dan Kei..ko baik-ba..ik. Uhhuk uhuuk." Darah segar keluar dari mulut Yuto. Ia mencoba membuka matanya tetapi dadanya terasa sakit. Dan seluruh tubuhnya terasa lemas.

"Beri..kan in..i kepa..da polisi sen..sei." Yuto memberikan rekaman suara perbincangannya dengan Yosada.

Tangan Yuto terjatuh lemas dan ia pun tak sadarkan diri. Tubuhnya terlentang di halaman sekolah. Keiko dan Mei menangis tersedu-sedu. Mereka meminta pertolongan untuk membawa Yuto ke rumah sakit sesegera mungkin.

                ***

Kini Yosada sudah ditangkap. Begitu juga kematian Mizaki dan Haruka telah terungkap.

Tiba-tiba Mei mendengar isak tangis di ruang UGD. Dengan sedikit berlari ia memasuki ruang UGD. Orang tua Yuto dan keluarganya memangis. Mei melihat ke arah dokter dan dokter hanya menggeleng.

"Apa? Tidak bisakah kau berusaha lagi. Dia siswa yang kuat!"

"dia kehilangan bayak darah. Kami sudah melakukan yang terbaik. Maafkan kami."

"Yuto.." Mei menangis sambil memeluk ibu Yuto yang terlihat sangat kehilangan.

Sambil memikirkan semua hal yang telah terjadi, Mei kini berjalan di koridor rumah sakit. Wajahnya masih kusut dan kecewa. Tiba-tiba lamunannya buyar akibat teriakan Keiko yang berlari menabraknya.

"Keiko!" Cegah Mei.

"Aku mau menemui Yuto kak. Aku harus menemuinya." Mei tidak bisa menahan Keiko. Ia hanya bisa mengejar Keiko yang kini berada di ruang UGD.

Gadis itu terisak. Air matanya jatuh tak henti-hentinya. Ia mendekati Yuto yang tak bernyawa lagi. Wajah Yuto penuh luka. Dan tanpa segan Keiko menangis di dada Yuto. Ia merasa berhutang nyawa dengan Yuto. Bagaimana pun Yuto adalah orang yang telah menyelamatkannya.

"Kenapa kau meninggalkanku? Bukankah dulu kau bilang akan melindungiku selamanya hah? Kau pembohong ihhik ihhik." Keiko menangis tersedu-sedu.

                          ***

Kini Mei tengah bergegas ke kantor polisi karena rekaman suara yang diberikan Yuto belum sempat ia berikan kepada polisi. Setibanya disana, ia melihat Yosada tengah di borgol dan di introgasi.

"Maaf. Ini bukti lainnya pak." Mei memberikan rekaman suara itu. Sebelum ia pergi, Mei menatap mata Yosada.

"Kenapa kau lakukan semua ini.Yosada?"

Yosada hanya terdiam. Ia hanya membalas menatap tatapan Mei.

"Kenapa kau membunuh orang-orang yang tak bersalah seperti mereka? Apa kau sudah gila. Apa mungkin kau juga akan membunuhku jika kasus ini belum terungkap?" Mata Mei berkaca-kaca. Ia berusaha tegar dan bergegas pergi. Tetapi kata-kata Yosada membuatnya menghentikan langkahnya.

"Aku tidak akan melakukannya kepadamu. Mizaki.." Yosada menunduk. "Mizaki telah mempermalukanku di hadapanmu waktu makan malam bersama rekan-rekan. Aku sakit hati kepadanya."

"Apa?" air mata Mei mulai menetes. "Dasar." Mei segera pergi meninggalkan Yosada.

Yosada malu ketika Mizaki mengejeknya di hadapanku saat makan berasama dengan rekan-rekan guru? Tapi.. Apakah dia harus bertindak seceroboh dan sebodoh itu? Dia memang sudah sakit jiwa!!

                  ***

Keiko masih dirawat di rumah sakit. Ibu Yuto memberikan Keiko sebuah buku skets. Di atas ranjang Keiko membuka-buka buku skets milik Yuto. Di dalamnya banyak gambar wajah Keiko.

Keiko.. Ketika malam tiba aku sangat senang. Karena itu artinya besok kita akan bertemu.

Jika seseorang bertanya siapa yang ku pikirkan saat aku membuka mata. Jawabannya adalah Keiko

Ketika salju turun.. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu Keiko Sato

Selasa, 29 Oktober 2013

Terror of Psycopath part I | cerpen |

Author : Asri Wijayanti
Genre : Horror

Semua siswa sudah tertidur. Hanya Haruka yang masih terbangun. Ia mendengar deting jam tua yang menggelantung di tembok aula asrama. Aneh sekali, jam itu tak henti-hentinya berbunyi.

Haruka memutuskan untuk keluar dan ia mendekat ke arah jam dinding. Ternyata bukan di sana sumbernya. Langkah Haruka berlanjut. Ia menuruni tangga asrama. Tidak ada siapapun yang ia lihat. Karena seluruh lampu koridor
dimatikan.

Tiba-tiba saja Haruka mendengar suara aneh di ruang bawah tanah. Ia penasaran dan ketika tangannya menyentuh gagang pintu, jantungnya berdegub kencang.

Dengan penuh keberanian Haruka membuka pintu dan ia langsung menjerit ketakutan. Ia ingin berlari tapi sebuah tangan mencengkram kakinya dan menariknya masuk ke dalam.

Keiko hanya bisa bersembunyi melihat semua itu. Kaki tangan bahkan seluruh tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Air mata bercucuran menetes di pipinya.

Ia bisa melihat bayangan itu. Seseorang telah membunuh Haruka. Tak lama kemudian, dia, pembunuh itu menyeret mayat Haruka keluar dan menggantungnya di aula asrama.

Tangis Keiko semakin menjadi-jadi. Ia merangkak ketakutan memasuki ruang tidurnya. Ia.sangat takut, sampai-sampai Keiko membalut dirinya dengan selimut dan bersembunyi di dalam lemari. Pintu ia kunci dan gorden jendela ia tutup rapat.

"Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati." Keiko menangis ketakutan.

Karena lampu Koridor mati, Keiko tidak dapat melihat dengan jelas siapa pembunuh Haruka. Ia hanya tau kalau pembunuh itu adalah seorang lelaki.

                   ***

Pagi telah tiba seluruh siswa dan siswi sudah bangun dan bergegas pergi ke sekolah. Jeritan seorang siswi mengagetkan seluruh siswa siswi SMA Sakura. Semua berlari ke aula dan ketakutan melihat mayat Haruka menggantung di atas.

Semua menutup mulut dan menangis ketakutan. Darah di kepala Haruka terus menetes dan mengalir di lantai.

"Ada apa ini?" Tanya Yosada sensei.
"Haruka! Dia bunuh diri sensei." Ujar seorang siswa.
"Apa?" Yosada sensei dan Mei sensei segera melihat keadaan Haruka.

Mereka berdua menenangkan seluruh siswa. Sedangkan Mei sensei masih menelpon Tomoyuki sensei untuk segera menghubungi polisi.

Sementara semua siswa ribut membicarakan kematian Haruka, Yuto kebingungan mencari seseorang. Sejak tadi Keiko memang tidak terlihat.

Pikiran Yuto kemana-mana. Ia takut ada sesuatu yang terjadi dengan Keiko. Haruka adalah teman sekamarnya Keiko. Jadi mereka sering main bersama.

Dengan sedikit berlari Yuto menuju asrama putri. Ia tidak takut jika harus di hukum karena sudah menginjakkan kaki di asrama putri. Yuto hanya ingin tau keadaan Keiko.

Aku tidak mau mati. Haruka mati karena ia melihat pembunuhan itu. Aku tidak akan membuka mulut tentang pembunuhan Haruka. Aku tidak ingin mati.

Keiko tertidur di dalam lemari. Bahkan ketika Yuto datang dan menggetok pintu kamarnya, Keiko tidak bangun. Dan membuat Yuto panik.

"Keiko!! Buka pintumu!!" teriak Yuto. Siswa itu masih menggedor-gedor pintu kamar Keiko.
"Keiko! Apakah kau baik-baik saja? Jawab aku! Aku Yuto!!!" teriakan Yuto membawa Mei sensei ke sana menghampirinya. Mei sensei terganggu dengan teriakan-teriakan Yuto.

"Yuto! Apa yang kau cari kesini? Kau tau aturan?" delik Mei sensei yang merupakan kakak kandungnya Keiko.
"Keiko! Aku kesini hanya ingin melihat keadaannya. Sejak tadi pagi Keiko tidak kelihatan. Aku takut hal yang sama terjadi dengannya."

Mei sensei mencoba menggetok pintu dan membukanya. Tapi percuma saja. Pintu telah Keiko kunci rapat-rapat. Sekali lagi Mei sensei mencobanya tapi tak ada tanggapan apapun dari dalam kamar Keiko.

"Sepertinya ada yang tidak beres disini." ujar Mei sensei. Ia segera pergi untuk mencari kunci serep kamar asrama Keiko.

Yuto masih menunggu Mei sensei datang. Tak berselang waktu lama dengan penampilannya yang rapi, Mei sensei datang dan langsung membuka pintu kamar.

"Tidak ada siapa-siapa. Kemana dia pergi?" ujar Mei sensesi masih curiga.

Mereka berdua memanggil nama Keiko. Dan tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu jatuh. Yuto dan Mei sensei menoleh ke sumber suara. Mereka kaget melihat tubuh lemah Keiko keluar dari lemari. Tubuhnya di balut selimut putih tebal.

"Keiko!!" Yuto segera menghampiri Keiko.
"Keiko! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersembunyi di dalam lemari?" tanya Mei sensei.
"Aku tidak mau mati." kata Keiko sedikit pelan. Air matanya menetes. Ia masih dalam pangkuan Mei sensei.
"Dia mengetahuinya." ujar Yuto menatap Mei sensei.

Tanpa mereka sadari seorang siswi melihat adegan di kamar asrama Keiko. Siswi itu langsung berlari ke sekolah yang berada tak jauh dari asrama.

Yuto menggendong Keiko ke luar. Sebuah mobil ambulance sudah menunggu di luar. Keiko segera masuk ke dalam.

"Lebih baik kau sekolah saja. Biar aku yang mengantarnya."

"baiklah sensei."

Yuto masih menatap kepergian ambulance yang membawa Keiko. Ia masih penasaran dan ia yakin kalau Keiko mengetahui tentang kematian Haruka.

                  ***

Di dalam ambulance , Keiko menjerit ketakutan. Matanya masih tertutup tetapi ia gelisah dan ketakutan.  Tangannya mencengkram erat sisi kereta dorong. Sambil sesekali ia berkata "Aku tidak mau mati." Mei sensei hanya bisa menggenggam tangan Keiko.

"Aku tidak mau mati. Tidakkk!!" Keiko terbangun. Keringatnya bercucuran dan wajahnya sangat pucat. Ia menatap Mei sensei.

"Tenanglah Keiko! Ada kakak disini!" Mei sensei menenangkan Keiko.

"Aku tidak tau! Jangan tanya kepadaku tentang kematian Haruka. Aku tidak tau." Keiko terdiam "Aku tidak tau. Aaa...." Keiko menutup telinganya. Ia terus berteriak dan sorot matanya seperti orang kebingungan dan ketakutan.

"Tenanglah!"

"Kenapa harus aku? Apakah aku akan mati juga kak? Jawab!!" Keiko memukul-mukul dadanya.

Mei sensei menahan tangan Keiko. Ia segera mendekap adik satu-satunya itu. Tapi Keiko melawan dan ia menjerit ketakutan.

"Jawab aku!" Keiko menangis sejadi jadinya dalam pelukan Mei sensei. Tetapi tiba-tiba saja Ia meloncat sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar.

"Haruka! Itu Haruka. Dia masih hidup. Aku harus keluar dari sini." Keiko ingin turun dari mobil ambulance tapi dengan cepat Mei sensei menahannya.

Karena Keiko tidak bisa diam dan hal itu bisa menyakiti dirinya. Akhirnya dokter menyuntikkan obat penenang. Dan akhirnya Keiko tenang dan tertidur.

Kini Keiko telah tertidur di ruang rawat. Mei sensei meninggalkan Keiko sendiri. Karena dia harus pergi ke sekolah untuk mengajar. Ia sudah berpesan kepada perawat agar segera mrnghubunginya jika ada sesuatu yang terjadi dengan Keiko.

Mei berharap semuanya akan kembali normal. Adiknya akan kembali ceria dan tidak ketakutan seperti tadi.

                ***

Jam masuk kelas sudah berbunyi tetapi karena tragedi kematian Haruka membuat proses belajar mengajar terganggu. Semua siswa di seluruh penjuru sekolah membicarakan hal itu.

Saat ini Yuto membasuh wajahnya. Ia masih memikirkan keadaan Keiko. Yuto merasa kalau Keiko tau kejadian pembunuhan Haruka.

"Mungkin saja dia pembunuhnya." ujar seorang siswa dengan temannya. Siswa itu masuk ke toilet hanya untuk merapikan rambutnya.

"Katanya dia ketakutan dan bersembunyi di dalam lemari. Apa itu tidak mencurigakan. Sepertinya Mei sensei sengaja menyembunyikan kesalahan adiknya." ujar siswa itu lagi.

"Apa maksudmu?" Yuto menggebrak wastafel.

"Kenapa kau ini?"

"Siapa yang kau bilang pembunuh?" Yuto mulai emosi

"Apa-apaan kau ini. Aku tidak ada urusan denganmu."

Siswa itu dan juga temannya berjalan keluar meninggakan Yuto. Kali ini Yuto bisa menahan dirinya. Ia berjalan keluar meninggalkan toilet.

"Aku rasa, memang Keiko pembunuhnya." Yuto mendengar kata-kata itu ketika ia hendak masuk ke kelas.
"Siapa tukang fitnah itu?"
"Kenapa? Bukankah Keiko patut di curigai? Siapa tau dia yang membunuh Haruka." Ujar siswa yang membuat Yuto kesal di toilet tadi.
"Lancang kau ya!!"

Bug

Sebuah pukulan keras menghantam pipi siswa itu. Yuto tidak tahan lagi dengan gosip yang menyebar. Jika di biarkan seperti itu, Keiko akan disalahkan.

Perkelahian akhirnya terjadi. Yuto dan siswa yang bernama Niko itu saling memukul dan meninju. Siswa siswi yang ada disana hanya bisa menonton perkelahian itu. Hingga akhirnya Tomoyuki sensei datang dan menghentikan perkelahian tersebut.

Mereka dibawa ke ruang Tomoyuki sensei. Wajah mereka memar sana sini. Yuto menunduk, sebenarnya ia tidak ingin perkelahian ini terjadi tapi Niko telah memfitnah Keiko dan keadaan itu yang membuat Yuto kesal.

"Jelaskan kepada sensei! Apa yang kalian ributkan? Apakah kalian fikir sensei di sekolah ini kurang kerjaan hah? Orang-orang seperti kalian harus aku apakan?" Tomoyuki sensei terlihat sangat kesal.

"Maafkan aku.". Ujar Yuto.
"Sudah sepantasnya kau minta maaf. Karena kau yang memukulku lebih dulu." ujar Niko.

Yuto hanya melirik Niko. Ia meredam emosinya yang mulai terpancing.

"Kenapa kau lakukan itu Yuto?" Tanya Tomoyuki sensei.

Haruskah aku berkata sejujurnya. Tapi, Keiko akan ada dalam masalah yang sangat sulit.

Yuto memilih untuk tidak mengatakan alasannya memukul tukang fitnah seperti Niko, ia hanya terdiam. Tapi Niko malah mengatakan alasan Yuto memukulnya dan membuat Yuto marah.

"Hey diam kau tukang fitnah!" Teriak Yuto.
"Aku hanya memberi tau Tomoyuki sensei. Tidak salah kan jika aku mencurigainya? Karena seorang siswi melihat Keiko bersembunyi di dalam lemari saat Mei sensei datang ia menangis ketakutan. Bukankah itu harus kita curigai?" Ujar Niko.
"Sudah-sudah!!" Bentak Tomoyuki sensei. "apakah kalian polisi? Tugas kalian hanya belajar! Biarkan polisi yang mengurusnya" ujar Tomoyuki sensei.
                   
                  ***

Mei sensei tiba di sekolah. Ia kaget karena Tomoyuki memanggilnya ke ruangan. Dengan perasaan ragu ia segera pergi ke ruangan Tomoyuki sensei.

Setelah dipersilahkan duduk Mei sensei menanyakan alasan ia disuruh datang ke ruangan Tomoyuki Sensei.

"Benarkah adikmu bersembunyi di lemari dan ketakutan saat kematian Haruka?"

Alis Mei sensei mengerut. Ia tidak tau siapa yang telah melihatnya tapi semua itu akan menempatkan Keiko dalam posisi yang serba salah.

"Dimana dia sekarang? Dia harus diperiksa juga, karena polisi hanya menemukan bukti.adanya penganiayaan. Bukan bunuh diri."

"Jadi anda menuduh adik saya?"

"Bukan. Tapi adikmu harus diperiksa polisi juga."

"Apa?"

Tiba-tiba saja Yosada sensei masuk ke ruangan Tomoyuki sensei sambil membawa sebuah amplop.

"Permisi." ujar Yosada.
"Kenapa?" tanya Tomoyuki.
"Ada yang tidak beres lagi. Seorang siswa menemukan surat ini di atas Mizaki sensei!" Yosada  memberikan surat itu dan Tomoyuki segera membukanya.

Dengan mimik wajah terkejut ia membaca surat itu sampai akhir. Tomoyuki terlihat sangat kesal. Ia membuang surat itu dan memalingkan wajahnya.

Surat itu berada tak jauh dari kaki Mei, ia memungutnya dan membacanya bersama-sama dengan Yosada.

"Aku akan pergi untuk selamanya."

Mereka berdua terkejut melihat tulisan yang ditulis dengan darah. Ia rasa ini adalah sebuah teror yang konyol. Mei segera pergi membawa surat itu menemui polisi dan juga detektif yang masih melakukan penyelidikan di asrama.

                ***

Seusainya proses belajar mengajar, Yuto bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Keiko. Sebelumnya ia sudah menanyakan ruang rawat Keiko kepada Mei.

Sesampainya disana, Yuto melihat Keiko tengah membawa sebuah amplop putih. Wajah Keiko memerah ketakutan. Ketika Yuto masuk ke dalam Keiko terkejut hampir menjerit.

"Ini aku." Ujar Yuto.

Sekarang Keiko bisa tenang.  Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Ia masih memegang kertas yang ia dapatkan dari dalam amplop.

Yuto meminta kertas itu dari Keiko. Tangan Keiko sangat gemetaran. Mata Yuto membelalak kaget ketika membaca surat yang ditulis dengan darah itu.

"Ha.Haruka kah yang membuatnya? Apakah dia akan membunuhku?" Keiko menatap Yuto. Keringatnya selalu membasahi keningnya.

"Ini hanyalah teror! Kau akan baik-baik saja." Yuto mencoba menenangkan Keiko.

"Tadi Haruka mencariku dalam mimpi. Aku takut. Aku tidak mau mati. Tidak." Keiko menangis sambil menunduk.

"Keiko! Apakah kau melihat pembunuhan itu? Kenapa kau seperti ini?" Tanya Yuto.

Mata Keiko mendelik Yuto. Dia terlihat menyeramkan. Keiko terlihat seperti bukan Keiko. Ia berteriak ke arah Yuto.

"Aku tidak tau! Aku tidak tau kematian siapapun! Jangan tanyakan hal itu kepadaku! Aku tidak mau mati Yuto!!!" Keiko menutup telinganya. "Aku tidak mau mati." Keiko menangis tersedu-sedu.

"Maaf. Maafkan aku Keiko." Yuto memeluk Keiko.

Malam telah tiba. Mei dan Yuto sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit. Mereka harus membawa Keiko kabur sejauh-jauhnya. Detektif tidak boleh mengintrogasi Keiko. Ia akan gila kalau ditanya masalah kematian Haruka.

Semua ini memang salah. Membawa Keiko kabur memang tindakan yang salah. Tapi Mei tidak tega melihat adiknya seperti orang gila ketika ditanya masalah kematian Haruka. Apalagi kini Keiko sudah mulai di teror juga oleh si pembunuh yang entah siapa dia.

"Makasi Yuto. Kau sudah menolong Keiko sejauh ini. Tapi kau tidak boleh berlelahi seperti ini lagi."

"Ia sensei. Aku janji. Hanya saja aku tidak terima orang-orang itu menuduh Keiko seenaknya."

Mereka berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Tak jauh lagi mereka akan sampai di ruang rawat Keiko. Perlahan Mei membuka pintu ruang rawat. Pekikan Mei sensei mengagetkan Yuto. Mei dan Yuto kebingungan karena Keiko tidak ada di ruang rawatnya.

Kepanikan terjadi di ruang rawat Keiko. Ke sana kemari Mei mencari-cari adiknya di ruang rawat. Tapi ia tidak menemukannya. Tanpa ragu lagi Mei berlari keluar dari ruangan. Sedangkan Yuto masih mencari-cari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.

Sebuah kertas membuat Yuto curiga. Si pembunuh telah mebawa Keiko kabur. Ini sangat berbahaya. Yuto segera mengejar Mei sensei.

Sebelum Mei sempat mengubrak abrik kantor polisi karena ia kira mereka yang membawa kabur Keiko. Yuto datang mencegahnya.

"Sensei! Keiko bersama pembunuh itu. Ayo cepat kita ke asrama." Ujar Yuto meyakinkan Mei.

Mereka berdua bergegas menuju asrama. Air mata Mei tak henti-hentinya menetes. Saat ini tidak ada lagi seseorang yang ia miliki lagi, hanya Keiko satu-satunya keluarganya. Ayah dan Ibunya sudah meninggal karena kecelakaan ketika Keiko masih kecil. Hidup Keiko sangat kasihan tanpa kasih sayang dari orang tua. Mei selalu menjaga Keiko sebagai ayah dan ibunya.

Sesampainya di asrama, police line masih membatasi asrama. Ketika ingin masuk ke dalam, Yuto merasa telah menginjak sesuatu. Ia jongkok dan melihat sebutir mutiara hiasan gelang jatuh. Yuto memungutnya dan memperlihatkannya ke Mei.

"Ini, ini mutiara di gelang Keiko. Gelang kesayangannya."

Ya. Jejak mutiara itu membawa mereka berdua ke sekolah. Sepertinya pembunuh itu tidak ingin siapapun mengetahuinya. Segera Mei dan Yuto berpencar mencari Keiko.

                       ***

Keiko ketakutan. Ia ingin berteriak tetapi mulutnya di tutup dan tangannya diikat. Ia tidak bisa melihat siapa pembunuh berdarah dingin itu. Keiki menangis sekeras-kerasnya.

"Hey! Kau diam atau mau mati hah?" bentak pembunuh yang mengenakan topeng.

Pembunuh itu sedang meminum sesuatu. Keiko mempunyai sebuah akal. Ia menangis sekeras-kerasnya agar pembunuh itu kesal danmelempar gelasnya. Pecahan gelas itu akan Keiko gunakan untuk memotobg tali yang mengikat tangannya di sebuah kursi di gudang sekolah.

Rencana Keiko berhasil, pembunuh itu melempar gelasnya sampai pecah. Sayangnya pecahan itu terlempar cukup jauh dari jangkauan Keiko. Ia mencoba menggapai pecahan gelas dengan kakinya. Memaksakan diri untuk tenang agar pembunuh itu tidak curiga.

Tanpa sengaja, ketika Keiko menyeret pecahan gelas, kakinya yang tanpa alas terkena goresan gelas. Ia merasa kakinya sangat perih. Tapi tidak ia hiraukan darah yang keluar dari sela-sela jarinya.

Pelan-pelan Keiko mencoba memotong tali yang mengikatnya. Air matanya menetes tanpa henti. Ia merasa telah melukai tangannya sendiri. Tapi itu tidak seberapa. Ia harus bebas dari sana. Keiko tidak ingin mati konyol seperti Haruka.

Mata Keiko mendelik. Ia telah memutuskan tali yang mengikatnya. Dengan sangat hati-hati Keiko melepaskab tali yang mengikat tubuhnya di kursi. Sedangkan pembunuh tengah sibuk membelakanginya.

Tali itu sudah lepas dari tubuh Keiko. Ia harus segera pergi. Tapi kemana ia harus berlari? Mata Keiko melirik ke arah jendela di sebelah kanan yang masih terbuka. Gordennya menari-nari di hembus oleh angin.

Keiko membuka lakban yang menutup mulutnya dan ia segera merangkak menuju jendela. Sepertinya pembunuh itu belum sadar kalau Keiko ingin kabur. Kesempatan bagi Keiko untuk mempercepat gerakkannya.

Tepat ketika Keiko membuka gorden. Ia melihat Mei dan Yuto berjalan di halaman sekolah. Keiko melambaikan tangannya tetapi sepertinya mereka tidak melihat Keiko. Tanpa ragu lagi, Keiko ingin segera melompat keluar melalui jendela. Tapi. Tapi. Tubuhnya ditarik dengan kasar. Keiko merasa sakit dan ia menjerit.

"Aaaaa. Tolong!!"

Pembunug itu marah. Sangat marah. Ia menyeret Keiko seperti boneka. Kedua kakinya diseret menuju tempat semula.

"Jangan lakukan ini! Lepaskan aku!!"

Teriak Keiko. Ia merasa kepalanya sangat sakit ditarik bak boneka oleh si pembunuh.

Pembunuh itu menghempaskan Keiko ke sebuah rak buku. Hantaman keras mengenai tubuh Keiko membuatnya kesakitan. Pembunuh itu mendekati Keiko dan membuka topengnya.

Rambut Keiko sembrautan kesana kemari. Ia menunduk sambil menangis. Dan pembunuh itu mengangkat dagu Keiko.

"Aku harus apakan kamu Keiko?"
Ketika melihat wajah si pembunuh. Keiko menutup mulutnya dan air matanya menetes bak hujan deras.

"Yosada sensei. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau."

"Aku harus memusnahkan bukti kematian mereka. Di dalam dirimu ada bukti kuat. Jadi.." Yosada tersenyum seperti orang gila. "Aku akan memusnahkanmu. Hahaha." Yosada tertawa terbahak-bahak.

"Jangan lakukan itu!! Aku janji. Aku tidak akan mengatakannya."

"Tidak. Tidak dan tidak. Kau harus mati juga. Hahaha." Wajah bahagia Yosada tiba-tiba berubah seperti orang kasihan dan sedih. Ia menegang wajah Keiko dengan kedua tangannya.

"Maafkan aku Keiko." Bahkan ia memeluk Keiko sangat hangat.

Bug.

Keiko mendorong Yosada hingga pria itu menghantam meja yang berisi sebuah laptop.

"Kau psikopat! Kau gila!!!" teriak Keiko.

Yosada hanya tersenyum. Ia mendekati Keiko sambil tersenyum manis mencekam.

"Aku psikopat?  Aku gila?" Ia mencekik leher Keiko. Tangan Keiko mencoba menahan tangan kekar Yosada. Bahkan Keiko mencakar Yosada dengan kuku panjangnya.

"Bisakah kau tutup mulutmu?" Yosada berbalik. Ia duduk di depan laptop.

"Kenapa harus aku dan Haruka??" Keiko menunduk. Ia seakan tengah berbicara dengan dirinya sendiri.

"Lihat-lihat ke laptop!" Yosada mengangkat wajah Keiko. "Titipkan salamku kepada mereka."

Sebuah rekaman pembunuhan Mizaki sensei membuat Keiko menjerit.

"Tidaakkk!!!! Aku tidak mau melihatnya! Tidak!!"

Rabu, 02 Oktober 2013

FanFict Romance |Beautiful Love|

Title : Beautiful Love
Cast : Gongchan B1A4 as Gongchan, Suzy miss A as Suzy, Min miss A as Min, CNU B1A4 as Shin woo
Genre : Romance
Author: Asri Lee

Annyeong, ini FF romance pertamaku. Seneng banget akhirnya selesai buat FF ini. Ya udah enjoyed the story.

Hari ini cuacanya sangat dingin. Terlihat samar-samar seorang yeoja tengah berjalan sendirian. Rambut se bahunya berkilau terkena lampu jalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Yeoja itu sepertinya bukan pelajar.

Tak lama kemudian seorang ahjussi betubuh gempal dengan rambut dicukur pendek sekali mendekati yeoja itu. Sepertinya ahjussi itu ingin melukai yeoja tersebut. Ahjussi berambut pendek hampir botak itu menarik-narik yeoja itu, tapi yeoja itu melawan dan bersikeras. Tapi ahjussi itu tetap ingin mengajak yeoja itu pergi. Tetap yeoja itu menolak. Bahkan ia berterik meminta tolong. Dan apa yang terjadi? Ahjussi itu menampar si yeoja. Yeoja itu memekik kesakitan. Gongchan yang sedari tadi mengamati yeoja itu dan ahjussi itu langsung menghampiri mereka.

"Ahjussi! Apa yang kau lakukan. Kenapa kau memperlakukan wanita seperti itu?" Teriak Gongchan yang masih berseragam sekolah dengan jaket tebal membalut tubuhnya yang tinggi dan putih. Gongchan menarik yeoja itu dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.

"Haha." ahjussi itu tertawa terbahak-bahak. "Hey kau bocah ingusan! Lebih baik kau segera pulang. Cuci kaki dan pergi ketempat tidurmu. Jangan ikut campur urusan orang lain."

"Aku tidak bisa. Tidak sepantasnya orang setua kau memperlakukan yeoja seperti tadi. Kau sudah tua tapi kenapa kelakuanmu seperti bayi."
Yeoja yang bersembunyi di balik punggung Gongchan menarik-naik jaket tebalnya. Mengisyaratkan agar tidak meladeni ahjussi bertubuh gempal itu.

"Kurang ajar kau!"
Ahjussi itu ingin memukul tepat di pipi Gongchan. Tapi Gongchan bisa menangkisnya dan menyerang tulang kering ahjussi itu. Ahjussi itu langsung tetjatuh kesakitan.
"Kurang ajar kau bocah tengik."
"Kau yang melayangkan pukulan duluan. Jangan salahkan aku."
"Kau ini."
Ahjussi itu melayangkan pukulannya lagi dan Gongchan bisa menahannya lagi. Akhirnya setelah beberapa kali di pukul Gongchan, ahjussi itu kabur berlari menjauh dari Gongchan dan Yeoja itu.
"Dia pasti mabuk. Bau alkohol menyengat sekali." ujar Gongchan.
"Gamsahamnida." Ujar yeoja itu. Bibirnya berdarah. Pasti semua itu karena tamparan ahjussi tadi.
"Bibirmu berdarah. Gwenchana?" Sekarang Gongchan bisa melihat dengan jelas wajah yeoja itu. Mungkin tepatnya ia panggil nonna. Nonna itu memegangi bibirnya.

"Tunggu sebentar." Segera Gongchan mengulurkan sebuah sapu tangan berisi sulaman nama. Nonna itu menerima sapu tangan yang diberikan Gongchan.
"Gamsahamnida Gongchan." ujar nonna itu.
"Nonna tau namaku? Apakah kita saling kenal?"
Mendengar pertanyaan Gongchan tadi membuat nonna itu terkekeh.
"Kau lucu sekali. Aku tau namamu dari sapu tangan yang kau berikan. Sulamannya berbunyi Gongchan. Pasti hadiah dari seorang yeoja."
"Ah iya. Kenapa aku bodoh sekali. Itu memang dari yeoja chinguku. Lalu nama nonna siapa?" tanya Gongchan.
"Panggil saja aku Min." Min nonna melipat sapu tangan Gongchan. "Oh iya. Nanti akan ku titipkan sapu tangan ini ke saeng ku ya Gongchan. Dia juga bersekolah di sekolahmu."
"Nonna tau sekolahku? Darimana nonna tau?"
"Dari seragam yang kau kenakan."
"Ah iya. Benar juga. Benarkah saeng mu satu sekolah denganku?"
"Ne."
"Siapa namanya?"
Sebelum Min sempat menjawab pertanyaan Gongchan, ponselnya berdering. Ia segera mengangkatnya. Sepertinya telepon dari saengnya. Pasti saengnya sangat kuwatir. Bahkan Min nonna hanya melambaikan tangannya kearah Gongchan sambil mengucapkan gamsahamnida. Lalu ia pergi mencari taxi.

Gongchan berjalan menuju rumahnya. Gongchan bukanlah tipe namja yang nakal. Dia penurut dan baik. Dia sangat mencintai renang. Hari ini ia pulang malam bukan karena keluyuran, tapi tadi Gongchan harus pergi ke butik eommanya untuk mengambil kunci rumah. Eommanya bilang malam ini ia tidak pulang ke rumah. Ia harus pergi ke rumah harabudji bersama appa dan saengnya dan menginap disana selama 3 hari. Sebenarnya Gongchan ingin ikut, tapi besok dia harus pergi kesekolah. Karena ujian sudah sangat dekat. Ia harus rajin belajar. Jadi ia tidak bisa ikut pergi bersama familynya. Tiba - tiba Gonhchan teringat dengan yeoja chingunya.

Kalau Suzy tau sapu tangan hadiah darinya kuberikan kepada Min nonna, apakah dia akan marah? Hmm entahlah, aku rasa dia hanya akan mengomeliku.

Keesokan harinya.

Akhirnya jam pelajaranpun usai sudah. Semua siswa memasukkan buku mereka dan bergegas pulang ke rumah masing-masing.
"Chagiya!" panggil Suzy.
"wae?"
"Chagi.. " Suzy menggandeng tangan Gongchan.
"wae yeobo?"
"Aku lapar."
"Mmm.. Nado~ aku juga lapar." Gongchan mengacak rambut Suzy.
Karena sama-sama merasa lapar, sebelum pulang mereka pergi ke kantin sebentar. Mereka segera memesan makanan dan minuman di kantin sekolah. Sesekali Suzy menyuapi Gongchan dan tersenyum melihat Gongchan mengunyah makanannya. Suzy sangat senang karena ia adalah yeoja chingu Gongchan shik. Namja tampan yang sangat ia cintai. Mereka sudah pacaran hampir 6 bulan dan itu terbilang sudah sangat lama. Selama ini Gongchan selalu melindungi Suzy. Dia sangat baik walau kadang ia menjadi namja yang sangat menjengkelkan. Apalagi kalau saat moodnya down. Kalau ditanya ia tidak akan menjawab sepatah kata pun.

Perut sudah terisi penuh. Itu tandanya mereka akan segera pulang. Gongchan dan Suzy segera menggendong tas mereka dan beranjak dari kantin sekolah. Ketika Suzy hendak berbalik seorang yeoja secara tidak sengaja menabraknya dan hasilnya minuman.yang dibawa yeoja itu menyiram seragam Suzy.
"Aissh."
"Mianhae. Aku tidak sengaja. Mianhae." yeoja itu membungkuk 90°
"Sudahlah tidak apa-apa." ujar Suzy segera pergi bersama Gongchan.
"Gwenchana yeobo?" tanya Gongchan

Suzy mencoba membersihkan seragamnya. Tapi sepertinya warna minuman itu susah dihilangkan.
"Bagaimana ini?"
"Sini mendekatlah." Gongchan menarik Suzy ke arahnya. Suzy berdiri tepat di depan Gongchan. Dengan berhati-hati Gongchan mencoba menghilangkan bekas minuman dari seragam Suzy. Perlahan-lahan Gongchan mencoba menghilangkan bekas minuman yang berwarna merah itu. Ia melakukannya dengan tulus dan Suzy bisa merasakannya. Dengan sabar Gongchan mencoba menbersihkan seragam Suzy, tapi sepertinya tidak bisa hilang.
"Sepertinya tidak akan bisa dihilangkan dengan tisu. Lebih baik kau cuci dirumah saja, bagaimana?" Gongchan yang sedari tadi menunduk kini menatap wajah Suzy yang melongo memandanginya sedari tadi.
"Yeobo! Kau baik-baik saja?" Gongchan melambaikan tanganya di depan wajah Suzy.
"Ne! Aku baik kok. Ayo kita pulang."
"Tunggu sebentar." Gongchan mencegah Suzy. Ia mengeluarkan dua buah tiket bioskop. Ia mengajak Suzy untuk menonton film nanti malam.
"Bisakah kau datang nanti malam?'
"Gerom! Aku pasti akan datang Chagi. Ayo pulang." Suzy menggandeng tangan Gongchan erat.

Mereka memang pasangan yang sangat serasi. Sama sama lucu dan terlihat menarik. Hari ini mereka akan pulang naik bus.

Musim dingin memang sabgat menyebalkan. Di halte bus Suzy mendadak menggigil kedinginan. Karena seragam sekolahnya yang basah  membuatnya kedinginan. Padahal ia sudah mengenakan syal tebal.

"Yeobo kau kenapa ?" Tanya Gongchan menggenggam tangan Suzy.
Suzy hanya menggeleng. Ia merasa tubuhnya bergetar

Issh kenapa dingin sekali. Padahal baru awal musim dingin. Tuhan.. Aku merasa seperti ada di kutub utara.

Suzy menahan rasa dingin seraya menutup matanya. Tapi.. Tapi.. Kenapa sekarang Suzy merasa sesuatu membuat tubuhnya tidak menggigil lagi? Ia merasa tubuhnya hangat.
"Sudah tidak dingin lagi kan?" tanya Gongchan. Namja itu tersenyum manis. Ia telah memberikan jaket tebalnya untuk Suzy. Ia menutupi tubuh Suzy dengan jaket yang ia kenakan.
"Gomawo chagi. Tapi kau.."
"Busnya sudah datang. Ayo cepat." Gongchan segera menarik Suzy untuk cepat-cepat masuk ke dalam bus. Padahal Suzy ingin menolak pemberian jaket dari Gongchan. Karena Suzy tau pasti Gongchan juga kedinginan.

Di dalam bus, Gongchan dan Suzy duduk berdampingan. Gongchan terlihat melipat kedua tanganya.

Chagi.. Kau pasti kedinginan.

Suzy menarik tangan Gongchan dan menggenggamnya dengan erat.
"Kata eonni ku begini caranya kalau kedinginan." ujar Suzy.

Gongchan menatap wajah yeoja chingunya. Kemudian ia tersenyum manis.

"Arasseo. Bilang saja kalau kau ingin menggenggam tanganku. Ya kan?"
"Kau ini! Sudah untung aku melindungimu dari kedinginan." Suzy melepaskan genggaman tangannya. Ia membuang muka.

"Hey! kau marah?" Gongchan menyiku Suzy. "Kau lebih terlihat cantik kalo marah seperti ini. Serius." rayu Gongchan.
"Ihhh!! Kau menyebalkan!!" Suzy memukuli Gongchan. Mereka bercanda di dalam bus. Mereka tidak sadar kalau banyak orang yang melihat mereka. Dan seseorang yang memandangi mereka dengan sinis membuat Suzy terdiam dan mencengkram erat tangan Gongchan.
"Waeyo?" tanya Gongchan keheranan.
"Aniya. Sudahlah. Sebaiknya kau cepat turun. Bus sudah berhenti."
"Kau akan datang kan nanti malam?"
"Pasti! Aku pasti akan datang."
"Baiklah. Aku duluan ne?"
"Ne. Hati-hati chagi."
____________________

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Gongchan segera bergegas pergi ke bioskop. Ia mengenakan jaket terbaiknya. Hari ini ia rasa ia akan pergi ke bioskop cukup jalan kaki saja. Hitung-hitung menghilangkan rasa dingin yang menggerogotinya.

Tapi tiba-tiba sebuah mobil mewah berwaran hitam berhenti tepat di depan Gongchan. Dengan sangat kaget, Gongchan menghentikan langkahnya. Gongchan kebingungan 2 orang pria berjas hitam dan wajahnya sangat sangar keluar dari mobil.
"Ada apa ini?" Gongchan mengundur langkahnya.
Tidak ada jawaban dari kedua ahjussi itu. Mereka hanya berdiri dengan tatapan mengerikan.
"Siapa kalian?" Tanya Gongchan.
"Kau masih ingat denganku?" Tanya seseorang. Ia keluar dari mobil mewah paling akhir.
"A... Ahjussi?" Gongchan membelalak kaget. Ia merasakan ada hal yang tidak beres. Pirasatnya selama ini tidak pernah salah.
"Siapa yang kau panggil ahjussi bocah tengik!!" Ahjussi itu mendekati Gongchan dan mendorong tubuh  Gongchan sampai-sampai Gongchan terjatuh.

Gongchan memcoba bangun tetapi dua orang teman ahjussi yang menyerang Min nonna kemarin membangunkan Gongchan dan memegangi kedua tangannya.

"Lepaskan aku! Kalian bisanya main keroyokan! Dasar penjahat!"
"Lalu kenapa? Kau mau melawan?" Ahjussi itu mengangkat dagu Gongchan.
"ishh!" Gongchan menendang kaki Ahjussi. Dan membuat ahjussi itu kesakitan dan marah.
"Berani kau ya." sebuah pukulan mendarat di pipi Gongchan. Ia merasa pipinya sangat-sangat sakit. Dan sebuah pukulan lagi menghantam pelipisnya.

Gongchan merasa kepalanya pusing. Samar-samar ia melihat ahjussi itu menaikkan lengan kemejanya. Karena hanya dia yang tidak memakai jas.

"Kau harus membayar pukulanmu waktu ini."

Bug Bug

Ahjussi itu berkali kali memukuli Gongchan sampai-sampai Gongchan melemas. Ia tidak mungkin bisa melawan, karena kedua tangannya dipegang oleh 2 orang berjas.

Kini Gongchan hanya bisa pasrah. Menunggu pertolongan dari seseorang. Wajahnya penuh luka dan darah. Sekali lagi sebuah pukulan menghantam perut Gongchan. Dan menbuat Gongchan batuk batuk.

Ketika tangannya di lepaskan oleh 2 orang berjas, tubuh Gongchan langsung terjatuh tersungkur. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit. Sangat sakit. Tidak ada sedikit kekuatan untuk sekedar berdiri apalagi melawan ahjussi dan teman-temannya.

"Lain kali ku peringatkan! Jangan ikut campur urusan orang lain!  dasar bocah tengik!"

Sebelum ahjussi itu pergi, Gongchan menahan kakinya.
"Ak..aku tidak akan me.. Menurutimu. Ka..kau bukan siapa-sia..pa!! Pe..cun..dang!" Ujar Gongchan terbata-bata.
"Dasar kau ini!!!" Ahjussi itu menendang tubuh Gongchan. Membuat Gongchan kesakitan dan mengguling-gulingkan tubuhnya karena menahan sakit yang ia rasakan.
"Uhhuk uhhhuk." Gongchan langsung batuk batuk. Ia memegangi perutnya.

"Ya!! Apa yang kalian lakukan!!" Teriak seseorang dari kejauhan.

Tak lama kemudian ahjussi dan teman-temanya menaiki mobil mereka kemudian pergi.

Gongchan mencoba mengambil ponsel di saku jaketnya tapi.. Tapi.. Ia rasa  ia tidak kuat lagi.

Suzy mianhae. Aku tidak bisa menemuimu sekarang. Mianhae.
"Ya!! Gwenchana??" Gongchan tidak tau siapa yang kini ada di hadapannya. Semuanya terlihat samar-samar. Ia hanya merasa tubuhnya yang amat sangat sakit itu diguncang-guncang.

_________________

Gongchan merasa tubuhnya masih sangat sakit. Ia membuka matanya dan ternyata dia tertidur di kamarnya.
"Kau sudah sadar rupanya."
Mendengar suara seseorang tadi, membuat Gongchan langsung menoleh.
"Dokter Shin woo." Ujar Gongchan
"Mianhae. Aku terlambat menolongmu. Ada apa sebenarnya?" tanya Dokter Shin woo. Dokter muda yang sangat tampan. Dia juga merupakan tetangganya Gongchan.
"Seseorang balas dendam denganku. Sudahlah jangan bahas itu lagi."
"Sebentar lagi orang tuamu akan pulang. Aku sudah menghubunginya."
"Shinwoo hyung! Kenapa kau... Aishh aku akan dimarahi appa!"
"Tumben kau menanggilku Shinwoo hyung."
"Karena aku kesal denganmu. Issh bagaimana ini?" Gongchan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tak lama kemudian ia teringat dengan Suzy. "Jam berapa ini? Aku harus pergi ke sekolah."
"Jam 10. Percuma juga pergi ke sekolah. Palingan gerbang sekolah sudah di tutup Chan!" ujar Dokter Shinwoo.
"Tapi.. Shinwoo hyung! Tolong ambilkan ponselku."

Lama Gongchan menatap ponselnya. Ia merasa bersalah. Pasti Suzy telah lama menunggunya tadi malam di bioskop. 20 missed call dari Suzy dan 15 pesan tak terbaca. Gongchan memejamkan matanya sejenak sebelum ia mengetik sesuatu untuk ia kirimkan ke Suzy. Gongchan tau saat ini Suzy masih di sekolah dan tidak mungkin Suzy membawa ponselnya. Tapi setidaknya sepulang sekolah ia bisa membaca pesan dari Gongchan.

Tapi kenapa Gongchan tidak jujur saja? Kenapa ia menyembunyikan kejadian sebenarnya? Semua itu karena ia tidak ingin Suzy kuwatir. Ia tidak ingin yeoja chingu yang ia sukai dan sangat ia sayangi kuwatir dengan keadaannya sekarang.

Brakk

Terdengar pintu utama rumah terbuka. Gongchan cepat-cepat menutup matanya. Agar appanya tidak memarahinya.
"Hyung! Bilang aku masih tidur ne! Aku mohon."
"Aishh. Ne hyung akan berusaha berbohong."

Segera Gongchan tidur. Ia menutup matanya yang tidak mengantuk sama sekali. Lalu terdengar suara eomma dan saengnya masuk ke kamar Gongchan. Eommanya terdengar kepanikan tapi kenapa tidak ada suara appa? Gongchan membuka sebelah matanya. Dan tepat saat itu saengnya melihat mata Gongchan terbuka.
"Eomma. Hyung sudah bangun." teriaknya.

Aih ketahuan juga. Aku harap appa tidak memarahiku

"Eomma." panggil Gongchan
" Gwenchana?"
Gongchan hanya mengangguk. Sementara itu dokter Shinwoo menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Dan yang pasti Shinwoo tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.

"Siapa yang menyerangmu? Beritau eomma."
"Aniya eomma. Tapi.. Appa dimana?"
"Appa sedang di kantor polisi. Ia akan berusaha mencari siapa yang mengeroyokmu. Untung Shin woo sempat meluhat nomor kendaraan orang yang menghajarmu. Eomma harap bisa di temukan orang yang berani memukuli anak eomma."
"Shin woo hyung gomawo." Gongchan tersenyum simpul. Karena ia merasa bibirnya masih sakit, karena ada sedikit luka di bibirnya.
"Tapi.. Apakah dia tidak akan bertindak macam-macam dengan Min nonna?"
"Siapa dia?" tanya eomma.
"Aku menolong dia 2 hari yang lalu. Dia dihadang seorang ahjussi yang memukuliku kemarin. Bukan aku yang mencari gara-gara kepadanya tapi apakah aku salah memcampuri urusan orang lain demi kebaikan dan keselamatan seorang yeoja?"
"Eomma bangga. Kau pemberani! Kau telah melakukan hal terbaik. Eomma yakin Min nonna yang kau bilang itu baik-baik saja. " Eomma mengelus-elus rambut hitam Gongchan. Kemudian ia keluar mengantar Shinwoo. Karena Shinwoo hyung juga harus pergi ke kliniknya.

Aku telah melakukan hal terbaik? Tidak sepenuhnya benar. Karena.. Aku telah mengecewakan yeoja chinguku. Mianhae Suzy. Aku harap besok aku diijinkan bersekolah.

Pagi hari tiba

Semua keluarga Gongchan sudah menunggu Gongchan sarapan. Hari ini Gongchan di ijinkan pergi ke sekolah oleh eomma.

Pagi itu juga appa Gongchan mendapat telepon kalau orang yang memukuli Gongchan sudah di temukan dan akan di beri hukuman. Orang itu memang buronan polisi karena telah banyak perbuatan yang melanggar yang ia dan teman-temannya lakukan selama ini.

Mendengar berita kalau ahjussi si pemukul akan diberi hukuman, Gongchan dapat bernafas lega. Setidaknya ia tidak akan mengganggu siapa-siapa lagi.

Pagi ini Gongchan pergi kesekolah naik bus. Ia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Ia berada di dalam bus dengan headphone menempel di telinganya. Lagu yang mengalun merdu ia acuhkan. Gongchan sibuk memikirkan kata-kata yang ingin ia sampaikan kepada Suzy.

Kemarin Suzy tidak membalas pesan dari Gongchan. Dia juga tidak mengaktifkan ponselnya. Pasti dia sangat marah. Dan apa yang harus Gongchan lakukan kalau Suzy tetap marah? Gongchan juga tidak tau apa jawabannya.

Setibanya di sekolah semua menanyakan luka luka di wajah Gongchan. Dan Gongchan mengatakan bahwa dirinya berkelahi dengan seseorang karena salah faham. Bukan karena dikeroyok.

Seharian ini Suzy tidak menghiraukan Gongchan. Sesekali Gongchan mendekatinya tapi ia malah menghindar. Dan ketika jam pulang sekolah tiba. Gongchan menaruh secarik kertas di atas meja Suzy. Tanpa bicara sepatah katapun Gongchan langsung pergi.

Perlahan-lahan Suzy buka kertas itu dan membacanya.

Aku tau aku salah. Tapi.. Semua ini juga tidak aku inginkan. Jika saja aku tidak berkelahi dengan orang asing itu mungkin kita bisa menonton bersama. Mianhae neomu mianhae. Kalau kau memaafkan ku aku akan menunggumu di taman sekolah. Aku akan menjelaskan sejelas-jelasnya.

"Apa maksudnya? Apakah perkelahian lebih penting baginya? Sejak kapan Gongchan yang ku kenal suka berkelahi? Sejak kapan ia berubah menjadi berandalan?" Suzy membuang kertas dari Gongchan lalu ia berjalan menyusuri koridor sekolah. Melanjutkan perjalanannya menuju gerbang sekolah tanpa sedikitpun berniat menghampiri Gongchan di taman sekolah.

Memang seharian ini Suzy tidak menatap Gongchan secara seksama. Tapi kata sahabatnya, wajah Gongchan penuh luka luka. Suzy sempat merasa kasihan tapi kekesalannya lebih besar daripada rasa kasihannya.

Dan hari ini Suzy harus naik bus sendirian. Belakangan ini ia harus menikmai rasanya naik bus sendirian tanpa seorang Gongchan disisinya.

Ketika bus baru menempuh perjalanan kira-kira 30 meter, tiba-tiba bus berhenti. Dan saat itu jua seorang namja yang sangat Suzy kenal menaiki bus.

Gongchan.. Kenapa harus seperti ini? Aku.. Ya Tuhan, lukanya lumayan parah. Tidak. Aku tidak boleh kasihan dengannya.

Suzy membuang muka. Ketika Gongchan melewatinya. Ia menangkap sebuah kata Mianhae. Kata itu terucap sangat jelas. Suzy menoleh kearah jendela. Ia merasa serba salah. Karena kini Gongchan duduk di belakangnya.

Bus masih tetap melaju. Ketika melewati gang rumah Gongchan bus masih tetap melaju. Suzy hanya terdiam, walaupun sebenarnya ia ingin sekali menanyakan keadaan Gongchan.

"Nona! Sudah sampai." ujar sopir bus.

Cepat-cepat Suzy turun dari bus. Dan ia rasa Gongchan juga ikut turun bersamanya. Suzy masih mencoba tidak menghiraukan Gongchan. Ia menambah kecepatannya berjalan. Tapi.. Sayang sekali saat itu kaki Suzy kesandung batu dan tubuhnya terjatuh.

"Suzy!! Gwenchana?" Gongchan menghampiri Suzy dan membangunkannya.
Tidak ada tanggapan apa-apa dari Suzy. Ia membersihkan seragamnya dari debu kemudian ia melirik Gongchan dengan sinis. Suzy ingin pergi tapi Gongchan menahannya.

"Kau masih marah? Jelaskan padaku! Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah.lagi."
"Aku tidak tau." Suzy sama sekali tidak mau menatap wajah Gongchan.
"Suzy! Tatap aku! Katakan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa terus seperti ini." ujar Gongchan.
"Apakah aku harus menatap wajah berandalan penuh luka sepertimu? Apakah aku harus menatap wajah namja chinguku yang lebih mementingkan perkelahian?" mata Suzy berkaca-kaca. "Aku kecewa Gongchan! Aku harap kau cepat pulang ! Jangan ikuti aku lagi." Ujar Suzy segera melangkahkan kakinya.
"AKU TIDAK BERKELAHI!" teriak Gongchan membuat Suzy menghentikan langkahnya. "Aku.. Aku dikeroyok. Aku dikeroyok tiga orang ahjussi. Jika aku mengatakan seperti itu apakah kau akan percaya?" Ujar Gongchan. Ia hanya bisa melihat punggung Suzy.

Suzy melajutkan langkahnya. Ia kaget mendengarkan pengakuan Gongchan. Ia bingung apakah semua yang di katakan Gongchan itu benar atau tidak.

"Kenapa kau tidak percaya? Lalu siapa yang akan kau percayai HAH?!" Teriak Gongchan masih mengikuti Suzy.

Air mata Suzy mulai menetes. Ia membuka gerbang rumahnya dan segera masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari.

Gongchan menunggu Suzy di pagar rumahnya. Ia berharap Suzy akan menaafkannya. Ia yakin Suzy akan memaafkannya. Karena setau Gongchan, Suzy bukanlah yeoja yang keras kepala.

"Annyeong haseyo!" Ujar seorang yeoja menyapa Gongchan dari belakang. Gongchan membalikkan tubuhnya memandang yeoja yang menyapanya tadi.
"Min nonna!'
"AIGO!! Go..Gong..Gongchan!! Wajahmu. Omo, apa yang telah terjadi?" Min mengguncang-guncang lengan Gongchan.
"Aku.."
"Ya sudah. Kita masuk dulu." Min membuka gerbang rumahnya.
"Tunggu. Jadi... Suzy adalah.."
"Suzy adalah saengku. Kau. Kau kesini mau mencari Suzy?"
"Aku mau meminta maaf. Tapi sepertinya dia tidak mau bertemu denganku."
"Ya sudah. Kita masuk dulu. Kita bicarakan satu persatu. Ne?"
Gongchan mengaangguk dan mengikuti Min masuk ke dalam rumahnya. Setelah dipersilahkan duduk dan diambilkan minum oleh Min, kemudian Gongchan menceritakan apa yang telah terjadi. Min merasa sangat bersalah terhadap Gongchan tapi Gongchan mencoba menenangkan Min.
"Tidak ada luka yang serius kan? Apa ada tulang yang patah?"
"Tidak separah itu Min nonna. Hanya saja.. Aku dan Suzy tidak jadi menonton gara-gara pengeroyokan itu."
"Oh.. Jadi yeoja chingu yang memberimu sapu tangan adalah Suzy? Ya tuhan. Jadi gara-gara tidak jadi menonton anak itu mengurung dirinya semalaman."
Gongchan mengamati seluruh ruangan di rumah Min dan Suzy.
"Karena aku merasa berutang nyawa denganmu, aku akan memanggilkan Suzy kesini. Tunggu dulu ne?"
"Ah.. Tidak usah. Mungkin lebih baik aku pulang saja daripada membuat Suzy kecewa."
"Andwe! Aku akan membantumu."

Min menaiki tangga rumahnya dan memanggil Suzy yang masih ada di kamarnya. Terdengar Suzy setuju untuk turun ke ruang tamu berkat kebohongan Min.

Mata Suzy membelalak kaget ketika melihat Gongchan duduk menunggunya di ruang tamu. Namja itu menatapnya penuh arti. Langkah demi langkah Suzy membawanya semakin mendekat dengan Gongchan.
"Duduklah." Ujar Min menyuruh Suzy duduk.

Ya Tuhan.. Lukanya semakin terlihat sangat jelas.

Suzy mencoba mengalihkan pandangannya yang sedari tadi memandangi wajah Gongchan.

"Kau pasti sudah kenal Gongchan." Ujar Min kepada Suzy. "Oh iya" Min mengeluarkan sapu tangan milik Gongchan dari tas tangannya.

Melihat sapu tangan yang ia berikan kepada Gongchan dibawa oleh eonninya membuat Suzy kaget dan bertanya-tanya.

"Apa maksudnya ini?" tanya Suzy.
"Dia adalah namja yang ku ceritakan waktu ini. Namja yang menolongku dari pemabuk. Tapi.. Karena menolongku dia jadi seperti ini. Karena aku Gongchan dikeroyok pemabuk dan teman-temannya. Aku merasa berhutang nyawa."
"Gwenchana Min nonna. Kau jangan merasa bersalah seperti itu. Ini hanya luka ringan akibat pukulan ahjussi itu." Ujar Gongchan mencoba tersenyum.

Deg

"Lalu.. Kenapa kau berbohong kepadaku? Kenapa kau harus berbohong dan membuatku membencimu?" Tanya Suzy.

Min tau diri. Mungkin hanya sebatas itu ia mencampuri urusan saengnya. Ia harus segera pergi dari sana.

"karena.." Gongchan menunduk. Ia merasa dirinya amat sangat bodoh."Karena aku tidak ingin kau kuwatir. Aku tidak ingin kau mengkuwatirkan keadaanku saat itu."

"sudah seharusnya aku mengkuwarirkanmu! Aku yeoja chingumu. Semua ini karena kau berbohong kepadaku!! Dasar pembohong!"

"Aku memang pembohong. Tapi itu kulakukan hanya agar kau tidak terlalu kuwatir."
"benar. Aku memang tidak kuwatir. Bahkan aku berhasil mebencimu!" Suzy membuang muka.

"Jadi. Sampai sekarang kau masih membenciku."

"Menurutmu?" Suzy masih tidak ingin memandang wajah Gongchan.

"maafkan aku telah membogongimu. Aku memang jahat dan pembohong. Mianhae. Mungkin sebaiknya aku harus pulang sekarang agar kau tidak merasa terganggu dengan keberadaanku." Gongchan tidak mendapat tanggapan apa-apa dari Suzy. "Apakah aku juga harus menjauhimu dan memutuskan hubungan dengamu? Apakah dengan seperti itu kau akan merasa tenang?" Tanya Gongchan. Suzy masih tidak menjawab. Yeoja itu membuang muka.

Mata Gongchan berkaca-kaca. Ia mengangguk tanda mengerti. Gongchan beranjak dari tempat duduknya. Kini Gongchan  berdiri.

"Aku akan pulang. Mianhae aku telah menyakitimu dan membohingimu. Aku akan mencoba.." Gongchan menguatkan dirinya. Seorang namja tidak boleh menangis. Ia menahan air matanya agar tidak menetes. "Aku akan mencoba menghindar darimu. Aku harap aku bisa. Tapi.. Aku akan tetap mencintaimu. Sampai kapanpun Suzy. Selamat sore." ujar Gongchan segera melangkahkan kakinya.

Ia rasa semua sudah berakhir. Suzy benar-benar sudah membencinya. Selama perjalanan Gongchan pulang ke rumahnya ia merasa tubuhnya lemas. Ia tidak bersemangat melakukan apapun. Bahkan sesampai dirumah ia langsung pergi kekamar dan membenamkan wajahnya di bantal. Gongchan memejamkan matanya. Ia harap ia bisa tidur dan ketika terbangun nanti semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk.

"Channie! Kau sudah mandi dan mengobati lukamu?" panggil eomma
Buru-buru Gongchan membukakan eommanya pintu.
"Wae eomma?"
"Omo! Kau belum mandi? Cepat mandi dan obati lukamu itu."
"Ne ne arasseo. Aku akaandi sekarang. Eomma cerewet sekali."

Gongchan segera menutup pintu kamarnya. Sebelum sempat membuka seragam sekolahnya, ia mendengar ponselnya berdering. Segera Gongchan membuka pesan masuk. Dan.. Mata Gongchan membelalak ketika membaca isi pesan itu.

Jaket tebal yang menggantung di belakang pintu ia tarik dan ia kenakan. Tanpa basa basi Gongchan langsung berlari keluar rumah. Bahkan teriakan eommanya pun tidak ia hiraukan. Dengan masih berseragam sekolah ia berlari menuju sungai han. Secepat-cepatnya Gongchan mencoba berlari. Ia tidak mau Suzy lama menunggunya.

Yang terdengar hanyalah hembusan nafas Gongchan. Lampu jalanan yang sudah mulai menyala menerangi jalanan. Gongchan berlari diantar orang-orang. Ia berharap segera sampai dan bertemu dengan Suzy.

Rambut Gongchan sembrautan kesana kemari saking cepatnya ia berlari. 15 menit kemudian ia telah sampai di sungai han. Dari kerjauhan Gongchan melihat seorang yeoja tengah berdiri di pinggir sungai. Gongchan menghampirinya dan berdiri di belakangnya.

"Ada apa kau menyuruhku kesini?" nafas Gongchan belum teratur. Sepertinya Suzy bisa mendengar nafas Gongchan.

Suzy membalikkan tubuhnya. Kini ia behadapan dengan Gongchan. Suzy melihat Gongchan masih mengenakan seragamnya.

"Kau berlari? Kenapa kau belum mengganti seragammu?"
"Aku tidak ingin kau menunggu terlalu lama." ujar Gongchan.
"Oh." Ujar suzy.
"Oh? Lalu untuk apa kau menyuruhku kesini?"

Suzy merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sapu tangan yang ia berikan kepada Gongchan. Ia memasukkannya ke dalam saku jaket Gongchan.

"Hanya untuk mengembalikan sapu tangan?" tanya Gongchan keheranan. Saking herannya Gongchan menggeleng-geleng tidak percaya.

"Aku berlari dari rumah. Aku berfikir kau akan.. Ternyata dugaanku salah. Aku sudah berfikir kau ak." belum sempat Gongchan menyelesaikan perkataannya ia terkejut dan tidak menyangka. Saat ini Suzy tengah memeluknya sangat erat.

"Aku memaafkanmu. Jadi kau tidak usah menghindariku." kata Suzy masih memeluk erat tubuh Gongchan.

"Hhh.. Kau pikir aku akan benar-benar menghindar darimu? Aku tidak akan bisa." Gongchan membalas pelukan Suzy.

Mereka tetap seperti itu selama beberapa menit. Gongchan merasa bahagia akhirnya mereka bisa baikan juga. Ia harap tidak akan ada masalah seperti ini lagi.

"Kau tidak kenapa-napa kan chagi? Luka akibat keroyokan itu tidak parah kan?" Suzy melepaskan pelukannya. Kini ia menatap dengan saksama wajah namja chingunya.

Suzy hanya menangkap senyum manis Gongchan. Namja itu memegang kedua bahunya.  Kemudian kedua telunjuknya menunjuk ke pipi Suzy yang agak memerah karena suhu saat itu lumayan dingin.

"Selama kau tetap tersenyum dan mencintaiku, aku akan baik-baik saja." Ujar Gongchan

Suzy merasa jantungnya berdegub sangat kencang. Ia tersenyum manis mendengar kata-kata Gongchan.

"pasti. Aku akan selalu tersenyum dan mencintaimu. Agar kau baik-baik saja chagi."

"Baiklah yeobo. Kajja kita pulang." ajak Gongchan.

Sepanjang perjalanan mereka selalu berpegangan tangan. Dia antara orang-orang yang berlalu lalang mereka yang terlihat paling bahagia.

               §§§§§ TheEnd §§§§§