Title : You are the reason
Cast : Jinyoung B1A4. Gongchan B1A4.
Author : Lee Seo Rin. (asri wijayanti)
#Jika kau ingin aku pergi. Aku akan menghilang seperti buih. Jika kau ingin aku tetap disini. Aku akan tetap di sisimu seperti apapun yang kau mau.
Bel sudah berbunyi. Seluruh siswa berlarian menuju kelas. Seorang siswa yang sangat tampan bernama Jung Jinyoung tengah berjalan menuju kelas seorang diri. Beberapa yeoja memandanginya, tetapi dia tidak menghiraukan sedikitpun. Ia terus berjalan dengan headphone menempel di telinganya.
Seluruh siswa dan siswi sudah memasuki ruangan. Mereka masih menunggu songsaengnim datang. Beberapa saat kemudian songsaengnim datang dengan seorang namja. Sepertinya akan ada siswa baru di kelas Jinyoung. Tapi entah kenapa Jinyoung terus memandang namja yang sedari tadi hanya menunduk itu.
Namja itu mengenakan jaket biru dan kupluk merah. Ia terus menunduk. Setelah songsaengnim mempersilahkan namja itu memperkenalkan dirinya barulah ia mengangkat wajahnya.
Wajahnya terlihat sangat pucat. Sepertinya namja itu sedang sakit atau kenapa-kenapa. Jinyoung masih menatap namja itu.
"Annyeong. Jeoneun Gongchan imnida." Namja bernama Gongchan itu menatap Jinyoung keanehan karena ia sedaritadi menatapnya penuh arti.
Cepat-cepat Jinyoung memalingkan wajahnya. Karena Gongchan memandanginya keanehan.
"Bangapta." Gongchan menunduk 90° lalu ia dipersilahkan duduk di belakang Jinyoung.
Gongchan berjalan pelan-pelan. Kemudian ia duduk di belakang Jinyoung. Hari itu pelajaran telah di mulai Gongchan heran melihat namja yang duduk di depannya itu. Ketika jam pelajaran ia tertidur dan kadang bercanda dengan teman disebelahnya.
Setiap jam pelajaran siswa itu selalu saja tidak memperhatikan. Hingga suatu hari ulangan berlangsung. Namja bernama Jinyoung terlihat diam. Tangannya tidak bergerak sedikitpun. Gongchan yakin kalau Jinyoung tidak tau apa-apa karena setiap jam pelajaran ia selalu bercanda dengan ke 3 sahabatnya itu.
Pagi ini mata pelajarannya adalah bahasa Inggris. Gongchan bingung mencari buku bahasa Inggrisnya. Sepertinya ia lupa memasukkannya ke dalam tas tadi malam. Gongchan kepanikan, setaunya songsaengnim yang mengajar bahas inggris sangat galak dengan hukumannya yang khas.
"Annyeong! Keluarkan buku kalian."
"Ne songsaengnim."
Jinyoung tidak mendengar Gongchan berbicara. Ia melirik Gongchan kepanikan mengubrak-abrik isi tasnya.
"Ada yang tidak membawa buku?"
Jinyoung memberikan buku paketnya kepada Gongchan. Lalu ia berdiri.
"Saya songsaengnim." Ujar Jinyoung.
"Jung Jinyoung. Selalu saja kau membuat masalah. Sebenarnya kau kesekolah untuk apa ha? Apa hanya untuk makan bermain dan bercanda seperti.akan TK?" Ujar Songsaengnim kesal.
Mimik wajah Jinyoung masih santai. Ia tersenyum dan terlihat seperti orang bercanda.
"Setauku setiap orang butuh makan bermain dan bercanda, tidak cukup hanya belajar saja."
"hhh. Kenapa kau masih bisa bercanda! ANGKAT KURSIMU LONCAT BOLAK-BALIK DI LUAR! CEPAT!"
Jinyoung mengangkat kursinya tinggi-tinggi lalu ia keluar sambil meloncat. Gongchan menatap kepergian Jinyoung. Lalu ia fokus menatap buku pelajaran. Gongchan membuka halaman per halaman. Lalu ia tersenyum geli melihat gambar yang di buat oleh Jinyoung.
Ketika jam pulang sekolah tiba Gongchan berjalan bersama Suzy sahabat barunya. Ketiga temannya Jinyoung menatap ke arah Gongchan dan Suzy. Mereka terpesona dengan kecantikannya Suzy. Tetapi lainhalnya dengan Jinyoung. Ia malah memperhatikan keimutannya Gongchan dengan kupluk hitam di kepalanya.
Tanpa Jinyoung Sandeul Baro dan CNU sangka, Suzy dan Gongchan menyapa mereka berempat.
"Bisakah kita bicara?" Tanya Gongchan kepada Jinyoung.
"Aku?" Jinyoung menunjuk dirinya sendiri.
Gongchan hanya mengangguk. Lalu mereka berdua berjalan menjauh dari Suzy dan ketiga sahabatnya Jinyoung.
"Gomawo~" Gongchan mengembalikan buku JinYoung seraya tersenyum manis. "Seharusnya kau tidak melakukan ini semua. Aku jadi merasa berhutang budi." Ujar Gongchan.
"Sudahlah.. Aku hanya ingin merasakan di hukum olehnya." Jinyoung tersenyum.
Gongchan tertawa mendengar ucapan Jinyounh. "Oh iya. Ujian sudah dekat. Aku dengan senang hati mau mengajarimu. Aku ingin membalas budimu."
Jinyoung mendongak menatap langit sambil menyenderkan badannya di pohon. Sepertinya dia tidak mendengarkan perkataan Gongchan.
"Hyung! Kau dengar aku tidak?" Ujar Gongchan sedikit mendorong bahu Jinyoung.
"Hyung? Apa maksudmu?"
"Ya. Karena aku lebih kecil darimu. Aku ikut kelas eksklarasi waktu di sekolahku yang dulu."
"Oh pantas saja kau terlihat.." Jinyoung menghentikan perkataannya kemudian ia berdehem. "Apa yang kau katakan tadi? Maaf aku tidak dengar." Ujar Jinyoung menegakkan tubuhnya.
"Aku mau mengajarimu. Hitung-hitung untuk membalas kebaikanmu tadi. Bagaimana?" Tanya Gongchan bersemangat.
Aku tidak tau kalau sebenarnya Gongchan sangat bersemangat. Tidak seperti pertama kali aku melihatnya dengan wajah pucat.
"Terserah kau sajalah.."
"Baiklah."
***
Setiap pulang sekolah Gongchan selalu memberikan Jinyoung soal-soal agar besok paginya ia bisa memeriksa jawaban Jinyoung. Kadang Jinyoung menghindar dari Gongchan tetapi sepertinya tidak akan bisa.
Setiap pagi Gongchan selalu memeriksa jawaban Jinyoung. Jika jawabannya salah Gongchan menjelaskannya secara detail tapi itu malah membuat Jinyoung mengantuk.
"Hyung!!"
"Oh!" Jinyoung mendengarkan.Gongchan sambil menopang dagunya.
Esoknya lagi Gongchan mengulurkan tangannya. Artinya ia mau melihat jawaban dari soal-soal yang ia berikan kepada Jinyoung kemarin. Jinyoung membuka tasnya dan mengulurkannya kepada Gongchan. Tapi ketika Gongchan ingin mengambilnya Jinyoung malah bercanda dan menyembunyikan kertas jawabannya lagi. Akhirnya mereka berdua bercanda begitu akrabnya.
"Hyung! Berikan padaku!"
"Eitss. Kalo bisa ayo ambil. Haha.."
Jinyoung hyung.. Kau walaupun kau kekanak-kanakan tapi kau berbeda...
Mereka berdua belajar begitu giat walaupun Jinyoung melakukannya dengan sedikit tidak serius tapi Gongchan menyukainya.
"Kenapa kau suka belajar? Apa enaknya belajar? Belajar sangat membosankan."
"Maka dari itu. Orang yang hebat adalah orang yang senang belajar." Ujar Gongchan menatap Jinyoung.
"Oh iya. Besok hyung harus menghafalkan bahasa Inggris halaman 112 ne? Harus hafal." Gongchan melipat buku Jinyoung kemudian ia menggendong tasnya.
"Haruskah aku melakukannya?"
"Itu terserah hyung." Gongchan tersenyum lalu ia berdiri. " Aku pulang dulu hyung. Daah" Gongchan melambaikan tangannya.
Jinyoung hanya mengangguk. Lalu ia memasukkan buku bahasa inggris ke dalam tasnya. Sesampainya di rumah Jinyoung mulai membuka buku bahasa inggrisnya. Ia memulai belajar di balkon rumahnya.
"YOU ARE MY INSPIRATION."
"Ya!! Bisakah kau pelankan suaramu! Lebih baik kau tidur. Mengganggu saja!" Teriak tetangga Jinyoung.
"I'M SLEEP LATE BECAUSE I STUDY ENGLISH VERY HARD!!" teriak Jinyoung ke arah rumah tetangganya sambil menunjukkqn jari tangannya yang membentuk simbol rocker.
"ANAYGICAL EXSPOSISI IS A TEXT TO..."
Jinyoung berjalan sambil membaca bukunya. Ia berjalan menuju kamarnya.
"Chagi! Apakah anak kita sedang ngelindur? Tidak seperti biasanya." ujar eomma Jinyoung kepada suaminya.
Sambil berbaring di tempat tidurnya Jinyoung mencoba menghafalkan text bahasa inggris.
Hhh belajar sangat menyusahkan. Kenapa Gongchan senang belajar? Hhhh aku tidak kuaaaat
Jinyoung menutup wajahnya dengan buku. Lalu ia tertidur lelap.
***
"Hyung!" Gongchan datang menyapa Jinyoung ketika pulang sekolah. Namja lucu itu mengenakan kupluk putih terlihat sangat lucu.
"Wae?" Tanya Jinyoung.
"Mmm. Ikut aku." Ujar Gongchan.
Di perpustakaan
"Ahh. Aku tau kenapa kau mengajakku kesini." Jinyoung duduk jauh di belakang Gongchan. "Kau pasti takut kan gara-gara mendengar cerita horornya Baro si pesulap gadungan itu?"
Gongchan membalikkan badannya dan menatap Ke arah Jinyoung.
"Aku tidak takut. Hanya saja aku ingin kau juga ikut belajar disini. Kenapa? Kau tidak suka hyung?" Tanya Gonhchan.
"Suka.."
Kini Gongchan kembali membaca bukunya dengan serius. Tak lama setelah menutup mulutnya, Jinyoung berceloteh lagi.
"Channie. Bisakah aku memanggilmu seperti itu?"
Gongchan hanya mengangguk dia masih serius membaca bukunya. Tapi ia sedikit melirik ke arah Jinyoung tanpa Jinyoung ketahui.
Keesokan harinya Jinyoung dan Gongchan belajar bersama di perpustakaan seperti kemarin. Entah kenapa Jinyoung memilih duduk di belakang Gongchan.
"Kenapa kau tidak duduk di sampingku saja hyung?" Tanya Gongchan.
"Aku lebih nyaman disini."
"Kau tidak belajar? Bukulah buku mu hyung."
"kau belum tau aku. Aku ini sangat jenius. Jika aku belajar mungkin aku bisa mengalahkanmu. Bahkan menjadi ranking pertama. Bagaimana jika aku mengalahkanmu?"
"Silahkan saja. Aku tidak apa jika kau bisa mengalahkanku."
"Hahaha..." Jinyoung tertawa.terbahak-bahak. "Bagaimana kalau kita taruhan?"
"Taruhan?"
"Iya.. Jika kau kalah kau harus melepas kuplukmu."
"Jika hyung yang kalah. Kau harus memblonde rambutmu."
"Baiklah. Deal!"
Jinyoung dan Gongchan tos seraya tersenyaum bersama-sama.
Setiap hari dan setiap saat Jinyoung membaca buku. Bahkan ketika ke kamar kecil dia masih membaca bukunya. Sampai-sampai eommanya mengomel.
Di sekolah Jinyoung dan Gongchan balapan menajawab soal matematika di depan kelas. Tapi karena Jinyoung sedikit lupa ia mencotek beberapa pekerjaan Gongchan. Hehe
Ketika jam kerja bakti. Kedua namja itu menghafalkan pelajaran Biologi sambil membawa sapu. Bukannya belajar lebih serius Jinyoung malah main gitar-gitaran.dengan sapu yang ia bawa. Ia menirukan gaya rocker kelas atas. Dan Gongchan hanya bisa tertawa.
Tidak hanya itu. Sepertinya Gongchan sudah mulai terbawa sifat kekanakannya Jinyoung. Mau saja Gongchan mengikuti gerak taekwondo abal ala Jinyoung. Gongchan tidak bisa melakukannya lagi, ia cepat tertawa karena tingkahnya Jinyoung.
Di taman sekolah.
Kali ini Jinyoung melempar-lemaparkan bukunya Gongchan. Dan akhirnya bukunya Gongchan nyangkut di pepohonan.
"Bagaimana ini hyung?"
Mereka berdua mendongak menatap buku yang nyangkut di pohon.
"Kau jaga bukunya di bawah ne? Aku akan memanjat."
"Ne hyung."
Perlahan-lahan Jinyoung mencoba memanjat. Perlahan tapi pasti ia dapat menaiki pohon. Dan mengambil buku milik Gongchan.
"Channie! Tangkap ne?"
Gongchan sudah mendapatkan bukunya kembali. Tapi.tapi.. Ketika Jinyoung ingin turun. Ranting yang ia injak sudar.rapuh dan Jinyoung jatuh menimpa Gongchan.
"Aaaaaaa."
Gdubrak
"Awhh."
Jinyoung menurup matanya.
"Apakah aku sudah mati?"
"Hyung.." Gongchan kesakitan akibat tertimpa Jinyoung.
Jinyoung menatap Gongchan. Wajah mereka sangat dekat. Hanya terpaut beberapa sentimeter saja.
Kenapa.. Kenapa jantungku berdegub sekencang ini? Omo~ kenapa ini?
"Ohh. Maafkan aku Channie." Jinyoung segera bangun dan membersihkan bajunya.
"Mmm. Gwenchana hyung." Gongchan memeluk erat bukunya.
"Mmm." Jinyoung terlihat salah tingkah. " Baguslah. Kajja kita ke kelas."
"Ne." Ujar Gongchan mengikuti Jinyoung dari belakang.
***
Akhirnya hasil ujian di umumkan. Gongchan tesenyum melihat hasil ujiannya. Ketika ia menolah. Gongchan melihat Jinyoung di kejauhan dan Gongchan menunjukan angga dua ke arah Jinyoung.
Jinyoung menunjukan jari jempolnya kemudian ia pergi berlalu.
1 minggu kemudian Di perpustakaan.
Gongchan dan Jinyoung kembali belajar.
"Walaupun kau ranking dua tapi kau hebat hyung." Ujar Gongchan.
"Gomawo. Kau lebih hebat channie."
Gongchan tersenyum manis lalu ia membaca bukunya lagi. Di tengah seriusnya ia membaca buku, Gongchan merasa Jinyoung meninggalkannya. Gongchan tidak berani menoleh ke belakang. Karena ia takut dengan cerita horor yang diceritakan oleh Baro.
Tak berselang waktu lama. Pintu perpustakaan berbunyi. Dan suara langkah kaki memasuki perpustakaan.
"Huh. Di luar hujannya lebat sekali."
Ketika Gongchan menoleh. Ternyata dia Jinyoung dengan... Rambut blondenya. Gongchan hanya tersenyum dengan mata berbinar-binar.
Hubungan Jinyoung dan Gongchan semakin hari semakin dekat. Hingga akhirnya 6 bulan kemudian Gongchan menangis di hadapan Jinyoung. Ia menangis karena tidak lulus ujian di universitas gara-gara sakit waktu mengikuti test.
"Hikkhikk. Aku.. Aku sangat bodoh.." Air mata Gongchan tak hentinya menetes. Ia masih berdiri sambil mengusap-usap.air matanya yang menetes.
"Kau tidak bodoh. Ini terjadi.karena waktu itu kau tengah.sakit Channie. Berhentilah menangis." Jinyoung megnusap kupluk yang menutupi kepala Gongchan.
"Tapi.. Hikkhikk.." Tangis Gongchan semakin menjadi-jadi.
Greeb
Jinyoung memeluk tubuh Gongchan. Ia tidak bisa melihat Gongchan bersedih seperti itu.
"Ulji marayo Channie." Jinyoung masih memeluk tubuh Gongchan.
***
3 bulan kemudian.
Hari ini adalah awal musim dingin. Gongchan dan Jinyoung baru bisa bertemu. Karena mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sorot mata Jinyoung mengarah ke bagian kepala Gongchan. Namja itu tidak mengenakan kupluknya.
"Kenapa kau tidak memakai kuplukmu?"
"Apa hyung tidak suka?". Tanya Gongchan.
Jinyoung menatap Gongchan lalu ia menggenggam tangan Gongchan. Walaupun sedikit terkejut tetapi Gongchan merasa sangat senang.
JinChan berhenti di pinggir sebuah danau. Mereka tengah membawa lampion besar yang akan mereka terbangkan.
Masing-masing harus menulis apapun yang mereka pikirkan saat sedang bersama-sama di lampion itu. Tetapi tidak boleh mengintip satu sama lain.
Setelah menulis, Jinyoung dan Gongchan segera menerbangkan lampion tersebut. Perlahan lampion mulai naik dan perlahan mereka dapat saling menatap.
"Ayo kita pulang." Jinyoung menggenggam erat tangan Gongchan. Dan Gongchan hanya bisa berjalan di sebelah Jinyoung.
"Apa yang hyung tulis tadi?"
"Kau tidak perlu tau Channie. Karena... Semua itu sangat bodoh."
Gongchan hanya menunduk sepanjang perjalanan. Begitu juga dengan Jinyoung. Tangannya masih ttetap menggenggam erat tangan Gongchan.
Lampion terus terbang terbawa angin.
Jinyoung : biarkan aku mencintaimu Channie. Aku rasa kau tidak perlu tau perasaanku ini untuk selamanya. Itu akan lebih baik.
Gongchan : hyung.. Kau berhasil. Kau berhasil membuatku jatuh cinta. Aku akan tetap seperti ini. Diam-diam menyukaimu.