Minggu, 21 Juni 2015

FF EXO Oneshot [I'll Be On Your Side]


Tittle : I'll Be On Your Side
Cast : Sehun EXO as Sehun , Kai EXO as Kim Jong In, Jimin (BTS) as Jimin, EunHyuk (Suju) as Lee Songsaengnim
Genre : Friendship
Author : Kim Jaemi (naega)
Note : Sehun dan Jongin adalah teman sekelas di salah satu SMA Seni di Seoul. Mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Jongin sangatlah percaya diri dan agak sedikit emosian sedangkan Sehun tidak terlalu percaya diri dan sedikit pendiam.
--------
Karena kita sahabat, karena kau sahabatku, terima kasih telah melindungiku. Jangan khawatir semua akan baik baik saja.
Di Sekolah
Seluruh siswa berjalan bergandengan di koridor sekolah. Mereka saling mengobrol satu sama lain. Sementara Sehun berjalan seorang diri diantara kerumunan siswa lainnya. Ia seolah waspada dengan lingkungan sekitar. Tatapan mata Sehun menyapu seluruh sudut koridor. Ia selalu terlihat berjaga jaga. Sesuatu terasa aneh, ia merasa seseorang membuntutinya dari belakang. Langkah kaki ia percepat seolah ingin kabur dari seseorang. Tiba tiba ketika seseorang menepuk pundaknya ia refleks langsung menyiku perut orang tersebut.

"YA!! Oh Sehun, ada apa denganmu." Jongin memegangi perutnya. "Omo perutku."
Sehun terlihat begitu terkejut karena telah menyiku perut Jongin sahabatnya. "Aigu~ mianhae Jongin. Kupikir kau siapa."

Melihat betapa gelisahnya Sehun membuat Jongin curiga dengan temannya ini. "Kaupikir aku setan hah? Aigu aigu perutku." Jongin berdiri tegap karena sebenarnya sikuan Sehun tak terasa apapun di perutnya yang six pack itu. Kemudian Ia menyipitkan matanya seolah menyelidiki Sehun. "Jimin membuat masalah lagi?" Jongin menatap mata Sehun tetapi anak itu memalingkan wajahnya.

"Ani." Tanpa berbicara apapun lagi Sehun melangkahkan kakinya tetapi Jongin menarik tas hitam yang bertengger di punggung Sehun. "YA! Apa apaan kau ini."

"Sekali lagi aku bertanya. Jimin membuat masalah lagi kan?" Jongin menunggu jawaban dari Sehun.

"Kau sudah tau kenapa bertanya lagi!?" Sehun melangkah pergi meninggalkan Jongin.
Dengan sedikit berlari Jongin menyusul Sehun dan merangkul sahabat karibnya. "Ishh kenapa kau jadi pemarah seperti ini huh?" Jongin masih merangkul bahu Sehun.

Tatapan mata Sehun membuat Jongin takut. "Lepaskan tanganmu atau akan kujitak kepalamu."

"Aish" Jongin mengeratkan rangkulan tangannya di bahu Sehun dan menjitak jidat Sehun.

"Ya! KIM JONGIN!" Bentak Sehun. Ia berlari mengejar Jongin yang sengaja melakukan itu kepadanya. "Jangan kabur kau Kim Jongin!"
Mereka berlarian sepanjang koridor hingga akhirnya Sehun mendapatkan Jongin dan menjitak kepalanya. "Ku hajar kau!!." Sehun merangkul bahu Jongin seraya menjitakinya.

"Oh Sehun kau psyco hah? Kau membuat kepalaku sakit!" Sehun dan Jongin tertawa bersama di depan ruang dance. Karena hari ini akan ada kelas dance.

Sebelumnya Sehun ragu untuk ikut kelas ini karena cukup tau diri Sehun tidak terlalu bisa meliuk liukan tubuh seperti Jongin maupun Jimin yang terkenal sebagai the best dancer di sekolah. Berkat dukungan Jongin akhirnya Sehun mau mengikutinya. Sebenarnya menurut pandangan mata seorang Jongin, ia melihat ada bakat terpendam di dalam diri 
Sehun hanya saja dia tidak pernah melatihnya. Kepercayaan dirinya terlalu rapuh dan mudah runtuh hanya gara gara perkataan tak berbobot Jimin.

Di dalam ruangan terlihat sudah sangat ramai. Jongin menatap Sehun dan merangkul sahabatnya itu. Tetapi belum sempat melangkahkan kaki, tiba tiba pembuat masalah yang kesepian datang dengan senyum liciknya. Benar benar ingin Jongin robek wajah sombong tengilnya Jimin.

"Aigu~. Untuk apa kau bawa dia kemari?" Jimin menatap Sehun seolah merendahkannya.

Api amarah membara di sekeliling Jongin. "Ya Jimin! menyingkirlah!"

Tatapan Jimin membuat Sehun benar benar merasa kesal. Tetapi ia tidak ingin mencari masalah untuk hari ini. Ia membalas tatapan Jimin kemudian berkata "Kita lihat saja nanti." Ucap Sehun dingin membuat Jimin tertawa

"Bhahahaha. Baiklah kita lihat pertunjukan menarikmu Oh Sehun." Jimin menyingkir dan membiarkan mereka masuk. Saking kesalnya Jongin ingin sekali menonjok wajah Jimin tetapi Sehun mencegahnya dan segera menarik tangan Jongin segera masuk kedalam ruang dance.

Seluruh siswa berbaris dengan rapi. Jimin berbaris di barisan paling depan. Ia memang benar benar sombong. Berhasil membuat Jongin kesal dengan tingkahnya. Sesekali ia menoleh ke arah Sehun seolah ingin mendropkan mental Sehun.
Jongin menyiku lengan Sehun "Jangan dihiraukan eo?" Seraya tersenyum.
Mendengar ucapan Jongin tadi membuat Sehun kembali percaya diri. Seorang teman memang selalu berada di sisi kita disaat senang maupun susah. Sehun mengangguk dan tersenyum lalu menatap lurus kedepan.

Lee Songsaengnim memasuki ruangan dengan penuh wibawa. Beliau memang selalu memakai pakaian dance karena dia adalah dancer terkenal di Seoul. Dia memiliki style yang sangat menarik.

"Perhatian! Hari ini akan diadakan test permulaan untuk seluruh siswa yang masuk ke kelas dance. Satu persatu akan saya panggil untuk maju kedepan." Ucapnya segera membuka buku absen. "Oh iya. Test kali ini bukan hanya untuk mencari nilai tetapi dalam rangka melatih diri untuk persiapan seleksi dancer oleh agensi terkenal WoW Ent (agensi milik author kkkk)"

"Woa~ keren sekali aku akan ikut sleksi itu " ujar seluruh siswa di ruangan itu. Seorang siswa mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan. "Sem! Bagaimana cara daftarnya?"

"Seluruh siswa yang terdaftar dalam kelas dance akan sekolah daftarkan tidak terkecuali." Ujar songsaengnim membuat seluruh siswa berteriak histeris.
"Maka dari itu, berlatihlah dengan giat dan kedepankan disiplin. Arayo?" Songsaengnim menyemangati seluruh siswa.

"Ne Sem!"

Sehun terlihat begitu gugup padahal hari ini hanya latihan. Jongin mencoba menenangkannya. "Ya! Gwenchana?" Tanya Jongin. Sehun hanya menggeleng pelan.

"Aku tidak yakin." Ujar Sehun. Keringatnya bercucuran.

"Oh Sehun ini bukan perlombaan. Rilex saja huh?." Jongin menepuk bahu Sehun.
"Em. Gomawo Jongin-ah." Sehun menarik nafas lalu ia hembuskan.

Songsaengnim memanggil nama Jimin dan serempak seluruh ruangan berteriak menyemangati. Anak itu semakin menjadi jadi. Ia menaikan sebelah alisnya, menatap Sehun dengan tatapan menyindir. Jongin mengepalkan tangannya dan menujukannya kepada Jimin. Tetapi Sehun segera menurunkan tangan Jongin. "Apa apaan kau!"

"Dia menyebalkan! Aku tidak suka melihat kau terus direndahkan." Jongin menjelaskan kepada Sehun.

"Sudahlah." Sehun mempersiapkan  diri karena ia memiliki feeling setelah ini ia akan dipanggil.

Lagu beralun. Jimin benar benar menguasai lagu ini. Yah lagu Taeyang Bigbang Ringa Linga benar benar dapat dia jiwai. Bahkan Sehun terkesima melihat bagaimana cara Jimin meliuk liukan badannya.

Beberapa menit berlalu musik berhenti. Jimin menghentikan gerakannya , ia tersenyum bangga menatap seluruh siswa di ruangan itu. Kemudian melangkah kembali ke tempatnya. Ia mengangkat wajahnya sombong sambil menyunggingkan senyum liciknya.

"Oh Sehun." Panggil songsaengnim mengejutkan Sehun. Ia menelan ludah dan menoleh ke arah Jongin, namja itu menyemangatinya terus terusan.

Semua mata menatap Sehun yang kini telah berdiri di depan. Mereka berbisik tentang Sehun. Mata Sehun metatap seluruh siswa di hadapannya.
Ya! Untuk apa dia disini?
Apakah dia bisa ngedance?
Apa dia hanya ingin bermain main?
Kurasa dia tidak akan bisa melakukannya. Tidak bisa dance untuk apa ikut kelas dance? Dasar tidak tau malu.

Semua bisikan itu dapat Sehun dengar. Sehun mengepalkan tangannya dan ia menggigit bibirnya. Detak jantungnya berdegub sangat kencang

Dalam hati Sehun berkata aku tidak bisa melakukannya. Sehun menatap Jongin, namja itu berharap cemas dan terus menyemangatinya seolah berkata. Sehun kau pasti bisa!

"Oh Sehun kau ingin kami melihat patung berdiri seperti itu hah? Jangan diam saja." Ujar Jimin memprovokator yang lainnya agar ikut memojokkan Sehun.

Seperti orang kebingungan Sehun hanya menunduk sambil mengepalkan tangannya. "Oh Sehun kau sudah siap?" Tanya Songsaengnim.

"Eo? Eo." Ucap Sehun gelagapan.
Musikpun beralun tetapi tubuh sehun terasa kaku untuk digerakkan. Kakinya terasa berat. Seperti di ikat oleh tali. semua yang ia pelajari selama ini tiba tiba melenyap begitu saja dari pikirannya. 30 detik musik beralun ia hanya bisa melakukan gerak robotik saja. Tubuh Sehun terjatuh begitu saja.

Brak.

Semua mata terpaku menatap Sehun sementara Jimin tertawa terbahak bahak melihat Sehun terjatuh bersimpuh dihadapannya. Songsaengnim mengentikan musiknya.

"Sepertinya kau belum pemanasan." Ucap Songsaengnim menutup buku absen.

"Pemanasan pun mungkin dia tidak bisa. Bahaha, apalagi melakukan gerakan dance." Ujar Jimin mengajak seluruh siswa mentertawai Sehun. Serempak seluruh isi ruangan mentertawai Sehun. Tangan Sehun mengepal ia masih bersimpuh.

------Sehun POV-----

Kenapa harus aku? Apa salahku? Kenapa aku harus secengeng ini. Air mata menetes dia atas kepalan tanganku. Sekuat mungkin ku coba menahan tetesan air mataku. Tetapi rasa malu yang ku rasakan rasa kesal yang ku derita dan rasa menyesal yang kupikirkan telah meluap luap.

Benar kata mereka. Seharusnya aku tidak berada disini berdiri seperti patung. Saking bodohnya diriku sampai sampai kini aku seperti badut yang ditertawakan oleh mereka. Ku tatap wajah wajah mereka semua. Semua mata yang menatapku seolah mengejekku. Kau bodoh! Ya! Keluar saja dari kelas ini memalukan! . AKu bersumpah akan membuat kalian terkeseima denganku. Ingat itu baik baik.

-----Author POV----

Tanpa mengucapkan apapun Sehun bangkit. Ia berdiri kemudian berlari meninggalkan ruang dance. Jongin yang sedari tadi terlihat cemas langsung menyusul tanpa berpamitan dengan songsaengnim. Ia mengejar Sehun yang masih berlari di hadapannya. Jongin memanggil manggil tetapi Sehun tidak mau behenti dia terus berlari semakin jauh.

"Ya! Oh Sehun! Kenapa kau berlari! Kau seperti pengecut jika seperti ini." Bentak Jongin. Perlahan kaki Sehun berhenti melangkah. Jongin segera berdiri di hadapan Sehun. Namja berambut blonde dengan kulit putih itu hanya menunduk sambil sesenggukan menangis. Jongin berkacak pinggang.
"Mwo? Kenapa kau menangis?." Tanpa menjawab pertanyaan Jongin mata Sehun terus meneteskan butiran butiran bening. Dasar anak polos ini. "Sehun-a uljima. Kau harus kuat kau pasti bisa." Jongin memegang pundak Sehun meyakinkan sahabatnya. Tetapi Sehun hanya menggeleng sembari terus menangis.

"Aku. Aku Kim Jongin berjanji akan membantumu. Kau harus berusaha keras. Kau tunjukkan kepada mereka yang mentertawakanmu bahwa kau adalah bintang yang bersinar paling terang. Eo?" Jongin menatap Sehun lekat lekat

Perlahan Sehun menggeleng. "A-aku tidak bisa!" Ucapnya pelan sambil menyeka air matanya.

Jongin mengangkat wajah Sehun. "Kenapa kau terus berkata aku tidak bisa? Ya! Kau dengarkan aku. Kau harus yakin bahwa kau bisa! Aku yakin kau bisa! Kita akan berlatih bersama. Ketika kau jatuh aku selalu berada disisimu mengulurkan tangan membantumu berdiri lagi dan menari mengikuti alunan lagu hingga akhir. Arasseo?" Jongin menunjukkan senyumnya kepada Sehun. "Smile." Dengan telunjukknya Jongin menarik ujung bibir Sehun agar namja itu tersenyum kembali. "Busungkan dadamu Oh Sehun." Ujar Jongin menepuk punggung Sehun.

Senyum itu kembali melekat di bibir manis Sehun. "Gomawo nae jinjja jinjja jangida chinguya." Sehun mememeluk Jongin berterima kasih banyak.

"Ya! Lepaskan pelukanmu." Jongin berucap ketus dalam pelukan Sehun membuat Sehun menatapnya aneh. "Aku haus, kita beli minum saja eo?" Jongin mengacak rambut Sehun kemudian berlari meninggalkan Sehun.

"Aish, tunggu aku!" Sehun menyusul Jongin.

--------

Ketika seluruh siswa di asrama tengah tertidur pulas lain halnya dengan Sehun dan Jongin. Mereka menggunakan ruangan dance untuk berlatih. Sesekali Sehun terjatuh sesekali ia mengeluh tetapi Jongin selalu menarik tangan Sehun ketika ia sudah kelelahan dan ingin mundur. Ia selalu menariknya agar berlatih dan berlatih.

Setiap hari mereka berdua selalu berlatih berdua. Perlahan Jongin menunjukkan beberapa Dance kepada Sehun dan dia mulai mengikuti gerakan tersebut. Lagu barat tersebut terus berputar menembus heningnya malam. Derap langkah dan liukan tubuh mereka semakin lama semakin beriringan. Jongin tersenyum melihat betapa kerennya Sehun ketika melakukan  dance seperti sekarang ini.

"Ya! Kau hebat Sehun-ah!" Jongin high 5 dengan Sehun. Keringat mereka bercucuran. Walaupun tubuh begitu lelahnya, Jongin cukup senang bisa membantu Sehun yang semakin lama semakin menjadi.

Setengan botol air Sehun teguk habis. Ia duduk di lantai kayu di ruangan itu bersama Jongin di sebelahnya.

"Kau lelah?" Tanya Jongin mengulurkan handuk kecil kepada Sehun.

"Tidak. Karena bersama sahabat keren sepertimu aku tidak merasa lelah." Ujar Sehun polos.

Mendengar ucapan Sehun membuat Jongin berdecih. " Kau menggodaku? Ya! Aku bukan seorang gadis." Jongin mengutak atik ponselnya.

"Siapa juga yang bilang kau seorang gadis. Tapi ngomong ngomong aku tidak bisa membalas jasamu Jongin. Kau begitu baik denganku. Tetapi waktu itu kau kabur dari kelas apa tidak masalah?" Sehun menoleh ke arah Jongin.

Sepertinya Jongin tidak mendengarkan kata-kata Sehun barusan. Atau mungkin ia berpura pura tidak mendengarkannya. "Kau dengarkanlah. Ini jawabankun" Jongin mengulurkan sebelah headsetnya kepada Sehun. Mereka mendengarkan lagu Coffee boy feat Haeun I'll be on your side. Sehun hanya menoleh Jongin lalu mereka tersenyum bersama. Lagu terus mengalun membawa mereka menelusuri pikiran mereka masing masing.
                          
Nuga nae mameul wirohalkka nuga nae mameul arajulkka moduga nareul biutneun geot gata kidael got hana eopne
Siapa yang bisa mengerti perasaanku ?
Siapa yang bisa mengetahui perasaanku ?
Semua orang sepertinya menertawakanku.
Aku tidak punya tempat untuk bersandar.

 ijen gwaenchanhda haesseotneunde iksukhaejin jul aratneunde dasi chajaon i jeolmange naneun tto sseuryeojyeo honja namaitne
 Aku bilang aku baik2 saja sekarang.
Ku pikir aku sudah terbiasa dengan itu sekarang. Keputusasaan kini menemuiku lagi . Dan aku jatuh lagi

naega ni pyeoni doe.eojulke gwaenchanhda marhaejulke da jal dwilgeorago neon bitnalgeorago neon na.ege sojunghandago
Aku akan berada di sisimu.
Aku akan memberitahumu semuanya.
Ini semuanya akan baik2 saja dan kau akan bersinar.
Kamu sangat penting bagiku.

modu kkeutnan geot gateun nare nae moksoril gi.eokhae gwaenchanha da jal doelgeoya neon na.ege gajang sojunghan saram
Ketika kau pikir semuanya sudah berakhir
Ingatlah suaraku.
Tidak usah khawatir semuanya akan baik2 saja.
Kamu orang yang paling penting bagiku

-------

Kelas dance telah dimulai. Sehun berdiri disebelah Jongin. Kali ini ia terlihat lebih percaya diri sambil sesekali menghentak hentakkan kakinya. Ketika Jongin dipanggil oleh Songsaengnim , Sehun tersenyum dan memeperhatikannya dengan baik.

Bukan hanya gerakan bahkan Jongin dapat mengekspresikan lagu tersebut lewat mimik wajahnya. Sehun merasa kini dirinya telah menjadi fans pengagum dance Jongin.
Songsaengnim sudah pasti memberikan tepuk tangan kepada Jongin karena dia adalah murid kesayangannya.

Setelah beberapa siswa maju Songsaengnim menghentikan ucapannya. Ia menoleh ke arah Sehun. "Oh Sehun. Kau sudah pemanasan?" Seluruh siswa menoleh ke arah. Sehun mengangguk tegas lalu songsaengnim segera menunjukknya maju.

Bisikan bisikan itu bisa Sehun dengar tetapi ia tidak akan menghiraukannya lagi. Anggap saja mereka yang ada di hadapan adalah fans berat yang begitu mengaguminya.
Ya, ini lagu yang pas untuk Sehun. Ia menikmati penampilannya. Ia merasa rilexs tanpa beban. Sehun benar benar telah berusaha keras. Ia berhasil memukai songsengnim dan seluruh siswa disana kecuali Jimin yang mulai merasa tersaingi.

Musikpun berhenti. Sehun merentangkan kedua tangannya masih menatap kedepan. Jongin dan Songsaengnim bertepuk tangan diikuti oleh seluruh siswa yang lainnya. Sehun menunjukkan senyum manisnya seraya membungkukkan badannya.

"Gamsahabnida."

Wajah Jimin terlihat begitu kesal. Tatapan Sehun berhasil membuatnya kesal tetapi Sehun tak ingin membuat masalah ia melewati Jimin sambil tersenyum. Kemudian high5 dengan Jongin dan teman yang lainnya.

"Ya! Kau keren sekali." Tutur Jongin seraya merangkul Sehun.

"Karena kau juga. Jeongmal gomawo eo?" Sehun membalas merangkul Jongin.

Jam istirahat

Semua siswa berkerumun di hadapan monitor pengumuman. Jongin yang baru saja keluar dari wc langsung berlari ke arah kerumunan. Ternyata pengumuman sleksi dancer yang diadakan WoW Ent.

Mereka akan melakukannya dengan cara battle dance. Menarik sekali. Setiap siswa akan dipasangkan satusamalain. Jongin menatap daftar battle dance. Ia tidak masalah harus bettle dengan Min Joon. Dia terus menatap daftar itu dan matanya membulat sempurna.

"Pertarungan yang sebenarnya." Jongin segera berlari menemui Sehun yang tengah berlatih di ruang dance.

"Sehun-ah. Oh Sehun! Ini benar benar pertarungan yang sebenarnya!" nafas Jongin ngos ngosan.

Sehun menegerutkan keningnya. Ia samasekali tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Jongin.

"Kau! Di seleksi itu kau akan battle dengan Jimin! Woah keren bukan?"

"MWO??" Pekik Sehun seraya membulakan matanya ia terlihat sangat syok. "Yang benar saja! Aku dan Jimin. Apa jadinya?" Sehun merasa benar benar khawatir.

"Masih saja seperti ini. Anggap saja dia lebih bodoh darimu! Yang terpenting harus menang huh?" Jongin menepuk pipi Sehun.

Lama Sehun melamun entah apa yang dia pikirkan. Lalu ia menatap Jongin. "Bagaimana denganmu? Siapa pasanganmu?"

"Aku? Aku berpasangan dengan Min Joon. Ku dengar akan dipilih 2 orang dancer pria dan 2 dancer wanita. Kau dan aku harus menjadi juaranya. Eo? Maka dari itu Kita harus terus berusaha." Jongin terlihat begitu gembira.

"Tapi aku tidak yakin." Ujar Sehun

"Ya! Sekali lagi kau berkata seperti itu kubotaki kepalamu Oh Sehun."

"Andwe! Hahaha."

"Berhentilah latihan. Kita santai dulu. Eotteyo?" Jongin merangkul bahu Sehun seraya mengedipkan matanya.

"Aish! Kau terlihat seperti orang cacingan."

Tanpa mereka sadari Jimin tengah memantau mereka. Sepertinya setelah melihat kemampuan dance Sehun dia merasa Sehun tidak bisa diremehkan lagi. Dia benar benar menjadi bomerang bagi Jimin.

Hari Seleksi  WoW Ent

Hari ini adalah hari dimana Wow Ent akan mengadakan seleksi di sekolah dimana Sehun dan Jongin bersekolah. Jam masih menunjukkan pukul 7. Siswa siswi masih bersiap siap di kamar asrama masing masing. Tiba tiba Jongin lupa kalau earphonenya tertinggal di dalam lokernya. Ia segera keluar sementara Sehun masih mandi.

Tiba tiba langkah Jongin terhenti ia melihat seseorang tengah membuka loker milik Sehun. Perlahan Jongin mendekatinya. Dugaannya benar, sepertinya Jimin ingin mencurangi Sehun. Jongin tau apa yang harus ia lakukan. Dia tidak akan membiarkan Jimin melakukan ini kepada Sehun.

Jimin menutup loker Sehun kemudian balik badan. Ia terkejut melihat Jongin sudah bediri tegap dibelakangnya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jimin, ia sepertinya benar benar kaget.

"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan?" Jongin melangkahkan kakinya kedepan mendekati Jimin

"Apa maksudmu?" Jimin mendorong Jongin menjauh.

"Dasar curang!  Jika kau mampu lakukan dengan sportif! Kekanakan sekali kau ini. Kau mau melukai Sehun dengan menaruh paku di sepatunya? Cihh kurang ajar kau!" Jongin imembuka loker Sehun, mengambil paku yang Jimin taruh dan menutup loker dengan hentakan keras. "Kau benar benar pengecut!" 
Jongin ingin menonjok Jimin tapi dapat Jimin tangkap tangannya.

"Kau tidak usah ikut campur! Aku tidak mengganggumu bukan? " Jimin mendorong Jongin sekali lagi lalu ia melangkah pergi
.
"Ya! Kau benar benar kurang ajar!" Sekali lagi Jongin melayangkan tinjunya tapi Jimin buru buru menendang Jongin hingga ia terhuyung dan terhuyung lalu apa yang terjadi? Oh tidak.

"Aigo." Jimin membelalakan matanya melihat Jongin jatuh berguling guling di tangga. Benar benar mengerikan. Jimin menoleh ke bawah, Jongin merintih kesakitan. Bibirmya berdarah, wajahnya luka luka

"Omo! Kim Jongin." Seru seorang siswa di bawah. Mendengar ada seseorang, Jimin mengundur langkahnya. Tubuhnya bergetar hebat lalu ia kabur berlari kembali ke kamarnya.

Baru saja Sehun ingin mengambil sepatu kesayangannya di loker tiba tiba seluruh siswa berhamburan berlari. Sehun melihat setiap orang yang lewat wajah mereka begitu panik. "Ada apa ribut ribut?" Tanya Sehun penasaran.

"Jongin jatuh dari tangga. Lukanya parah."

DEG

Kaki Sehun terasa lemas. Ia tidak sadar telah berlari , bahkan berlari dengan sangat kencang. Suara sirine ambulance terus berbunyi. Air mata Sehun tak dapat ia bendung. Dari kejauhan ia melihat tubuh lemas Jongin yang kini berbaring dan di bawa masuk ke dalam ambulance.

Dalam hati Sehun meyakinkan dirinya kalau Jongin pasti akan baik baik saja.  Sehun menerobos kerumunan siswa yang berdiri melihat Jongin penuh luka. Sehun kini berdiri di depan pintu mobil ambulance yang masih terbuka. " Ya! Jongin-ah! Ayo bangun! Kenapa kau lemah seperti ini huh?" Sehun menyeka air matanya. "Kim Jongin Wae?" Teriak Sehun histeris.

Lee Songsaengnim melihat Sehun langsung menenangkannya. "Jongin akan baik baik saja." Ujarnya segera masuk ikut mengantar Jongin ke rumah sakit.

Tanpa meminta ijin dan berkata apapun Sehun langsung naik dan menggenggam tangan Jongin. "Jongin-ah! Kim Jongin kau harus segera bangun. Kau bilang kita akan menjadi juara! Kenapa kau malah berbaring lemah seperti ini? Hiks hiks." Sehun menangis sesenggukan. Mobil ambulance segera membawa mereka ke rumah sakit.

--------

Sehun berlari mengikuti kereta yang membawa Jongin ke ruang ICU. Lee Songsaengnim yang masih berada disana merasakan betapa dekatnya pertemanan antara Jongin dan Sehun. Sedari tadi Sehun tak hentinya meneteskan air mata. Ia terus menerus berkata Jongin kau harus bangun.
Dokter membawa Jongin masuk ICU sementara Sehun menunggu diluar bersama Lee Songsaengnim

"Apakah Jongin akan baik baik saja?" Tanya Sehun polos menatap ke arah Lee Songsaengnim

Seolah mencoba menenangkan Sehun, Lee Songsaengnim menatap Sehun dan berkata "kita doakan Jongin agar segera sembuh dan bisa menari bersama lagi, eo?" Lee Songsaengnim tersenyum ia merasa benar benar kecewa karena Jongin siswa terbaiknya tidak bisa mengikuti selesksi besar ini. Betapa malangnya dia. Ponsel Lee Songsaengnim berdering ia menerima telepon dari seseorang. "Oh? Baiklah. Kami akan segera kesana." Lalu ia menutup sambungan ponselnya.

"Seleksi akan segera dimulai. Kita kembali ke sekolah." Lee Songsaengnim berdiri. Ia menatap Sehun tetapi anak didiknya itu masih menatap ke arah ruang ICU. "Kau tidak ingin  mengecewakan Jongin kan? Setidaknya kau tidak mengecewakan Jongin yang selalu mendukungmu selama ini. Kau harus menang dan buat temanmu bangga." Lee Songsaengnim masih menunggu Sehun.

Kata kata Jongin waktu itu terngiang di telinga Sehun. Kau harus buktikan kepada mereka yang mentertawakanmu bahwa kau ada bintang yang bersinar paling terang. Sehun bangkit segera melangkah menjauh dari ruang ICU bersama Lee Songsaengnim.m
Di dalam taxi Sehun hanya terdiam sambil menatap ke arah jendela. Pikirannya tak luput dari Jongin. Entah apa yang akan terjadi kalau tak ada Jongin di sisinya.

"Gwenchana?" Tanya Lee Songsaengnim membuat Sehun menoleh. Sehun hanya mengangguk lesu. " Seorang dancer harus kuat dan tahan banting. Kau juga harus begitu! Semangat Oh Sehun, dulu aku juga sepertimu tetapi aku selalu berusaha dan selalu berlatih. Jangan lesu seperti itu! Jongin pasti akan kesal jika melihatmu menangis seperti wanita. arasseo?" Lee Songsaengnim menepuk pundak Sehun.

Setibanya di Sekolah seleksi sudah di mulai. Cepat cepat Sehun berlari ke arah loker mengambil sepatunya dan segera berlari ke aula sekolah. Nafasnya ngos ngosan. Seorang teman menatapnya "Jongin bagaimana keadaannya?"

"Jongin masuk ruang ICU."

"Itu berarti dia tidak bisa ikut seleksi kan? Aigu malangnya Jongin. Tapi aku masih penasaran kenapa dia bisa terjatuh dari tangga?" Siswa itu bergosip dengan teman teman yang lainnya. Sehun juga merasakan ada yang aneh. Tidak mungkin Jongin seceroboh itu jika berjalan.

Beberapa siswa telah dipanggil dan sekarang giliran Sehun dan Jimin yang tampil. Sebelum naik ke atas panggung Sehun menarik nafas panjang lalu ia hembuskan. Semua akan baik baik saja. Sehun akan berusaha keras agar Jongin bangga mempunyai teman sepertinya.

Musik mulai di play Jimin melakukan dance lebih awal sementara Sehun hanya menghentakkan kaki dan memainkan tangannya serta kepalanya menggelen mengikuti irama. Kemudian Sehun mengambil alih permainan di atas panggung itu. Semua penonton yang menonton berteriak histeria melihat Sehun menari.

Battle kali ini benar benar panas. Baik Sehun maupun Jimin berusaha menunjukkan yang terbaik. tetapi kali ini Jimin terlihat kurang fokus Sehun tidak tau apa yang tengah dipikirikan olehnya.

-------skip------

Di back stage Jimin menghampiri Sehun ia melipat kedua tangannya di dada. " Ya! Jangan harap kau mendapatkannya. Jangan terlalu sombong. Kemampuanmu tak seberapa dibandingkan ku." Ujarnya dengan tatapan aneh.

Sehun menyipitkan matanya "kau takut kukalahkan huh? Tak perlu kau peringati aku seperti itu. Kita lihat saja nanti!" Sehun menyusul teman teman yang lain menaiki panggung. Hasil seleksi akan segera diumumkan. Perasaan Sehun benar benar campur aduk. Andai saja ada Jongin disini menenagkannya.

2 orang penari wanita telah dipilih. Mereka mendapatkan kontrak di WoW Ent betapa menyenangkannya. Kini giliran pengumuman untuk kategori penari pria. Sehun memejamlan matanya. Detak jantungnya begitu cepat tetapi Jongin seolah olah ada disisinya dan berkata. Jangan khawatir semua akan baik baik saja.

"Sehun dan Jimin Chukkae." Suara juri yang menilai penampilan mereka membuat Sehun membelalak kaget. Ini semu seperti mimpi. Sehun menepuk pipinya tak percaya sementara Jimin berselebrasi dengan hebohnya.

"Oh Sehun! Chukkae!" Ujar seorang teman. Sehun membungkuk berterimakasih lalu ia turun ke bawah bersalaman dengan para juri dan Lee Songsaengnim. Sehun segera bergegas mengikuti para juri ke kantor depan untuk mengurus segala surat perjanjian.

---------

Keesokan harinya Sehun pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Jongin tetapi sebelum sempat masuk ke dalam ruangan, Sehun melihat ada Lee Songsaengnim di dalam. Pintu sedikit terbuka, Sehun bisa mendengar percakapan mereka.

"Kau baik baik saja?" Tanya Lee Songsaengnim.

Wajah Jongin sangat pucat. Dia hanya menatap kakinya yang dibalut perban. Ia menunduk tanpa menjawab pertanyaan Lee Songsaengnim

"Dokter bilang kau harus full istirahat. Tidak ada latihan dance atau kegiatan keras lainnya. Keadaan kakimu sangat parah." Jongin masih menunduk ia tak menjawab apapun.
"Semoga saja tak begitu parah. Jika hal itu terjadi mungkin... selamanya kau tidak akan bisa menari lagi." Perkataan Lee Songsaengnim tadi membuat Sehun terkesiap. Tubuhnya terasa tak bertenaga lagi. Sehun melirik Jongin. Namja kuat itu menangis. Jongin yang selama ini selalu menuntunnya selalu mebantunya dan mengihuburnya ketika menangis tengah bersedih. Jongin meneteskan air mata tetapi ia berusaha menahan tangisnya.

"Kenapa kau menagis! Kau masih bisa menari. Kau harus kuat Kim Jong In." Lee Songsaengnim sepertinya merasa terharu. "Aish. Berhentilah menangis." Lee Songsaengnim membuang muka sambil berusaha leras menahan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya. "Istirahat yang baik huh? Kau harus menari lagi."  Ia meninggalkan Jongin seorang diri sementara Sehun duduk terpaku di luar. 

Setelah Lee Songsaengnim pergi, Sehun masuk ke dalam menemui Jongin. Perlahan ia mendekati Jongin yang tengah menatap ke arah Jendela.

Ia menaruh buah yang dibawakan untuk Jongin. Kemudian berdiri di sebelah Jongin. Sehun menatap wajahnya. Namja itu menatap dengan tatapan kosong.
"Jongin-ah. Gwenchana?" Tanya Sehun melirik Jongin.

"Em. Nan gwenchana." Jongin menatap Sehun lalu tersenyum dengan bibirnya yang kering.

"Jeongmal?" Sehun tau Jongin berbohong. Jongin tidak berbakat berbohong. Sangat terlihat jelas di wajahnya kalau saat ini ia merasa tertekan.

Mata Jongin berkaca kaca tetapi ia berpura pura kuat di depan Sehun. "Chukkae Sehun-ah. Kau membuatku bangga menjadi temanmu."

"Aku sangat berterimakasih kepadamu. Kalau bukan karenamu aku tidak bisa seperti ini."
Jongin menunduk lagi memikirkan sesuatu. 

"Sekarang aku hanya bisa mendorongmu dari belakang. Aku tidak bisa menarikmu lagi dari depan. Mian." Ujarnya dengan mata berkaca kaca.

"Ya! Kim Jongin apa yang kau katakan! Kita akan selalu bersama baik susah maupun senang." Sehun memegang kedua pundak Jongin. "Sama seperti aku yang terjatuh di ruang dance, seorang namja menolongku. Dia mengulurkan tangannya menunjukkanku bagaimana sebuah perjuangan itu." Sehun mengangkat dagu Jongin. "Kim Jongin! Kita mulai bersama sama. Aku akan selalu berada disisimu eo?" Sehun merasa Jongin mulai terisak.

"Aku tidak diperbolehkan menari selama kakiku belum sembuh. Bahkan jika hal buruk terjadi selamanya aku tidak akan bisa menari lagi." Air matanya Jongin tak dapat ia bendung.

Sehun mencoba menenangkan Jongin sahabatnya. "Maka dari itu. Ikuti kata dokter jangan menjadi pembangkang. Kau harus cepat sembuh tanpa kau disisiku aku merasa kesepian. Kim Jongin berjanjilah padaku bahwa kau akan kembali ke sekolah dan menari bersamaku." Sehun tersenyum ke arah Jongin. Namja yang kini menatapnya menyeka air matanya. Ia tersenyum menatap Sehun.

----------

Sekolah terasa sepi tanpa kehadiran Jongin. Sehun memasukki kelas, ia mendengar desas desus yang kurang mengenakkan. Seseorang berbisik kepadanya temannya. Benarkah dia yang mencelakakan Kim Jongin? Bukankah mereka bersahabat? Sehun menaruh tasnya berusaha tidak menghiraukan celotehan siswa siswi di kelas.

Gosip itu terus merembet. Hingga suatu hari ketika Sehun kembali dari gedung WoW Ent, dia kembali ke sekolah tiba tiba saja Sehun di cegat oleh seorang siswa sebelum ia sempat menaruh tasnya. "Aigu. Teganya kau kepada Kim Jongin. Hanya karena ingin menang seleksi kau mencelakainya? Kau benar benar bocah tengil."

Sehun mengerutkan alisnya. "Apa yang kau katakan?" Mata Sehun melirik Jimin yang tengah duduk santai memakai earphone.
Seluruh siswa di kelas saling berbisik. Mereka menuduh Sehun mencelakai Kim Jongin. Cobaan apalagi yang menimpa Sehun. 

"Kau benar benar jahat ya Oh Sehun. Bukankah Jongin sangat baik denganmu? Kenapa kau tega melakukannya?" Tanya seorang siswi membuat mata Sehun memerah.

"Ya! Aku bertanya! Tegakah aku melakukannya huh? Menurutmu apakah aku akan tega melakukannya kepada sahabat ku sendiri? Aku buka rubah yang rakus hanya karena ingin menang lalu mencelakai orang. Berpikir rasionallah sebelum kalian menuduh orang!." Sehun melangkahkan kakinya tetapi urung karena seorang siswa mulai berceloteh.

"Aish. Tampang polosmu benar benar menipu Oh Sehun. Sebaiknya kita jaga jaga dengan orang seperti dia."
Sehun menatap namja itu "lebih baik kau berjaga jaga dari orang yang memberitaumu." Sehun melangkah tetapi tiba tiba  ada seseorang yang melempar sebutir telur dan meleset di samping Sehun. Mata Sehun berkaca kaca ia mengepalkan tangannya.

Tiba tiba dari kejauhan beberapa butir telur dilemparkan lagi. Ya, Sehun ditidak dapat menghindar ia memejamkan matanya.

Plak

Kenapa Tak terasa apapun? Sehun membuka matanya, seseorang berdiri menghadapnya. Dari bau parfumnya Sehun tau siapa orangnya. "Jongin-ah." Sehun mengerjapkan matanya. "Aigo." Sehun melirik punggung Jongin penuh telur.

Jongin balik badan lalu ia menatap semua siswa di kelas. Kakinya berbalut perban dan ia berdiri memakai tongkat. Sangat meprihatinkan. 

"Apa yang kalian lakukan dengan temanku? JAWAB AKU!" Jongin berteriak.

"Ya! Kim Jongin! Kenapa kau membela Sehun yang jelas jelas telah mencelakaimu?" Seru seorang siswa.

Tatapan Jongin terarah kepada Jimin yang masih asik dengan dunianya sendiri. "Haha. Kalian lucu sekali. Kalian mau tau siapa yang mencelakaiku hah?"

Sehun yang masih berdiri di balik punggung Jongin kini berdiri di sebelahnya. "Dia juga ingin mencelakai Sehun. Dia menaruh paku di dalam sepatu Sehun tetapi aku segera melabraknya dia marah dan melakukan ini kepadaku." Sehun terkejut menengar penuturan Jongin. Jafi Jongin terluka karena menyelamatkan dirinya? Sehun tak habis pikir.

"Lalu siapa pelakunya."

Jongin memgeluarkan ponselnya dan menunjukkannya kepada teman teman juga Sehun. "Menurut kalian siapa dia?" Tanya Kim Jongin.

Semua mata menatap Jimin kesal juga dongkol. "Ya! Jimin ! Bukan hanya mencelakai orang kau juga tukang fitnah! Aku tidak menyangka kau seperti itu."

Siswa pria yang sangat kasar menarik earphone Jimin dan membantingnya. "Pecundang tukang fitnah! Apa kau tidak tau malu hah?" Mata Jimin memerah ia mengepalkan tanganya menatap seluruh siswa yang benar benar kesal dengannya. Beberapa telur dilempar ke arah Jimin. Ia hanya berdiri mematung menatap Jongin dan Sehun. Kemudian segera pergi meninggalkan kelas. 

"Pergi saja kau! Memalukan sekali, kami tidak ingin memiliki teman sepertimu."

------------

Kini kemanapun Jongin pergi, Sehun selalu bersamanya. Merangkulnya yang susah untuk sekedar melangkahkan kakinya. 2 kali seminggu Jongin melakukan terapi penyembuhan dengan seorang dokter, sayang sekali Sehun tidak pernah bisa ikut karena ia harus menyelesaikan sebuah projek.

2 bulan sudah kaki Jongin terbalut perban rasanya pasti sangat mengganggu gerak kaki. Tapi hari ini dokter bilang kalau kaki Jongin sudah mulai membaik. Perbannya bisa dibuka, dia juga sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat lagi tetapi untuk latihan yang serius Jongin belum diperbolehkan.

Suara music memenuhi ruang latihan dance. Jongin menari seorang diri. Keringatnya bercucuran. Perlahan lahan ia menggerakan kakinya yang tak terbiasa bergerak cepat lagi.
Sehun yang baru saja pulang dari WoW Ent mendengar denduman music mengalun di ruang dance. Ia berjalan dan melihat Jongin tengah berusaha keras. Sehun hanya menatapnya dari luar. Ketika ia berputar kakinya yang patah tidak dapat menopang badan Jongin.

BRAK

Jongin terjatuh, lama ia tak bangkit, Jongin mengepalkan tangannya.

-----Jongin POV-----

Melakukan ini saja aku tidak bisa? Bodohnya aku! Sekuat apapun aku berusaha tetap tidak bisa. Benar benar menyebalkan!
"Menyebalkan!" Teriakku. "Aaaaarhgh!! Kaki sialan!!" Kenapa aku menjadi lemah seperti ini? Ah ini benar benar mengecewakan!
Nasibku sangat buruk. Dulu hanya sekedar berputar seperti ini sangat mudah kulakukan tapi sekarang? Untuk sekali berputar saja aku tak bisa.

Tiba tiba seseorang mengulurkan tangannya kepadaku. Ku lihat siapa orangnya. Ya, dia namja cengeng yang dulu sering menangis. ia menunjukkan senyumnya kepadaku.
"Hold my hand, bangunlah Kim Jongin. Latihan cukup sampai disini. Kakimu belum sembuh total." Ujarnya menceramahiku. Aku tidak marah karena aku tau dia melakukan ini untuk kebaikanku.

Aku menerima uluran tangannya kemudian berdiri dihadapannya. Sehun menggiringku duduk di lantai. Ia menyodorkan minuman kepadaku dan handuk kecil.
"Kau lelah?" Tanyanya.

Aku hanya terdiam. Aku ingin menjawab aku sangat lelah karena aku berlatih sendirian tanpa seorang sahabat.

Seolah bisa membaca pikiranku Sehun berkata. "Mianhae. Aku menyesal tidak bisa berlatih bersama denganmu. Tapi, tadi aku disuruh buru buru datang ke WoW Ent. Mianhae jeongmal mianhae Jongin-ah." Sehun menatapku penuh penyesalan.

Aku memang ingin dia berlatih bersamaku tetapi aku tidak egois dengan menghancurkan pekerjaan sahabatku. "Masih ada hari esok kan?" Ucapku menaikkan sebelah alisku.
"Kau benar benar sahabat terbaikku Kim Jongin. Ngomong ngomong, aku belum berterima kasih atas kejadian itu. Karena menyelamatkanku dari jebakan Jimin kau jadi seperti ini" mata Sehun berkaca kaca. Dia memang masih namja cengeng yang suka menangis.

"Berapa kali kau ucapkan terima kasih kepadaku? Bahkan kata terimakasih darimu memenuhi memoriku. Berhentilah berterimakasih eo?" Aku menepuk bahunya. Tapi Sehun malah menjewer pipiku. Yang benar saja, apakah aku terlihat begitu imut? Aneh sekali.

"Ya! Kau ingin mendengarkan lagu itu?" Tanya Sehun masih sibuk dengan ponselnya. Aku hanya mengangguk lalu ia menyerahkan sebelah headsetnya kepadaku. Lagu Coffee boy I'll be on your side mengalun merdu.

-----authot POV-----

Sehun menemui Jimin di atap sekolah. Ia berdiri di sebelah Jimin. Namja sombong itu terlihat begitu lesu. Bahkan kemarin ia tidak datang ke WoW Ent.

"Ya! Gwenchana?" Tanya Sehun baik baik.
Tatapan Jimin masih mengerikan. "Jangan sok akrab." Jawabnya ketus.

"Aku hanya kasihan kepadamu. Disaat seperti ini tidak ada seorang teman yang berada disisimu untuk membelamu."
Jimin menatap ke arah lapangan basket di bawah. "Aku tidak akan meminta maaf kepada siapapun. Jangan mengasihaniku."

"Ngomong ngomong, gomawo Jimin-ah. Berkat ejekanmu aku jadi bersemangat latihan dan menjadi seperti sekarang ini." Sehun masih menelaah ekspresi wajah Jimin. 

"Carilah teman eo? Jangan memperbanyak musuh." Sehun menepuk punggung Jimin.
Dari bawah Jongin berteriak memanggil Sehun. "Oh Sehun! Kemarilah! Ayo bermain bersama sama." Teriaknya.

"Ne! Chamkamanyo." Sehun segera meninggalkan Jimin dan bergerak le bawah menghampiri Jongin.

Ya, mereka kini baik baik saja. Rasa sedih rasa terluka dan rasa kecewa telah merubah mereka menjadi sosok yang lebih kuat. Baik sekarang ataupun esok Kim Jongin dan Oh Sehun akan selalu bersahabat. Suatu saat Jongin akan menggapai mimpinya juga. Sehun akan menolong Jongin untuk menggapainya sama seperi saat Jongin yang selalu mengulurkan tangannya kepada Sehu.

Kau selalu berada disisiku. Jeongmal Gomawo nae chingu. Terimakasih telah menghiasi masa SMAku. Kau akan selalu berada di dalam kenanganku untuk selamanya.

------END-------

Hahhhh-- akhirnya selesai juga FF friendship ini. Mohon komentarnya yeth don't be silence reader. Ah iya ini hanya fiktif belaka jadi don't bash everyone  saranghae 

Kamis, 18 Juni 2015

FF Brothership [ FANFICTION : We Will Remember]

Tittle : We Will Remember
Genre : Brothership, Sad
Cast : Gongchan, Sandeul, Baro, Jinyoung, CNU, Bang Yong Guk , RapMon
Author : Saya sendiri

Karena ini hanyalah FF dan cuma fiktif belaka jadi gak ada yang boleh ngeBASH yes ☺ . Mian kalo ceritanya gak terlalu ngena because this is ma first Brothership FF tbh 😀. Ok, let's reading~~

----GongChan POV----

Malam berkabut, dibalik semak-semak ku dengar gengster itu membentak Sandeul hyung dengan kasar. Tak ada perlawanan apapun dari Sandeul hyung. Ia hanya berdiri terpaku.

"YA! paboya! Kenapa kau diam saja?" Seorang yang berambut blonde mendorong dorong jidat Sandeul hyung. Tangan si berambut blonde di tangkap oleh sandeul hyung, membuat mereka berdua terkesiap.

"Aku tidak ingin ribut." Sandeul hyung menghempaskan tangan si rambut blonde yang terlihat begitu garang. Tetapi seorang yang berambut hitam dan bermasker hitam yang menutupi separuh wajahnya malah menendang Sandeul hyung sampai sampai ia jatuh tersungkur.

"Hyung!!" Pekikku tanpa ku sadari. Aku membangunkan sandeul hyung dan menatap ke arah gengster. "Ya! Apa yang kalian lakukan!" Aku masih merangkul sandeul.

"Wah wah wah. Kau ingin menawarkan diri rupanya?" Si berambut hitam yang memiliki suara berat itu mentapku dengan tajam. "Kau ingin bermain main dengan kami? Huh?" Bisiknya ditelinga ku.

"Sudahlah hyung. Kita pergi saja. Rupanya mereka tengah mabuk." Aku menggiring Sandeul menjauh dari gengster tersebut.

"Mimpi yang indah anak ingusan." Teriak salah seorang dari mereka.

----Author POV----

Gongchan dan Sandeul berjalan beriringan menuju dorm. Tiba-tiba Sandeul menghentikan langkahnya. Ia menatap Gongchan. Mulutnya terbuka tanpa ada kata yang ia sampaikan, sandeul mengatupkan mulutnya kembali.

"Ya! hyung, apa masalahmu dengan mereka?" Tanya Gongchan memegang lengan Sandeul yang terlihat begitu syok.

"Eobseo." Sandeul masih melangkahkan kakinya kembali.

"Tapi, kenapa mereka me-" Gongchan menghentikan kata katanya ketika melihat tatapan mengerikan dari Sandeul.
"Jangan bahas masalah ini lagi. Jangan ikut campur. Arasseo?" Sandeul kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Gongchan.

Sandeul yang ceria dan pecicilan tiba tiba saja berubah menjadi sangat dingin dan lemah. Gongchan mengerutkan dahinya kemudian berjalan kembali ke dorm.

Dorm B1A4 10:40 pm KST

Seperti biasa suasana dorm sangat ramai oleh celotehannya Baro. Dia bagaikan dalang diantara kedua hyungnya.
"YA! Hyung kau tau bagaimana gaya hamster pup?" Baro berdiri dan menirukan nya.

"Kau gila." CNU dan baro tertawa terbahak bahak.

KLEK

Pintu terbuka semua mata menatap kearah pintu dan mendapati Sandeul tengah berdiri disana.

"Ya! Sandeulie, kemarilah kau harus-" Jinyoung menghentikan kata katanya.

"Aku lelah." Ucapnya langsung pergi ke kamar.

Ketiga member saling memandang. Mereka merasa aneh melihat Sandeul. Tidak biasanya dia seperti itu. Sekalem itu.

Sekali lagi pintu terbuka. Ternyata maknae datang membawa sekantong plastik penuh dengan snack. Tanpa basa basi ketiga hyungdeul langsung menyerbu kantong plastik yang dibawa Gongchan.

"Sandeul hyung eodi?" Gongchan menatap ke seluruh ruang tengah dorm. 

CNU berdiri sambil melahap roti. "Di kamar. Sepertinya dia tengah ada masalah. Raut wajahnya terlihat begitu mengerikan."

"Sebaiknya aku hibur dia." Baro bangkit ingin menemui Sandeul. Tetapi Gongchan mencegahnya dan menggeleng.

Keesokan harinya, 10:05 pm KST

Gongchan duduk disebelah Sandeul di ruang tengah. Kini mereka hanya berdua di dorm. Member yang lain sedang keluar untuk membeli makanan. Sandeul menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa sambil memegang remote control.

"Hyung. Gwenchana?" Gongchan menyelidiki raut wajah Sandeul.

"Eo." Jawab Sandeul singkat.

"Jinjja? Tetapi kenapa aku merasa hyung berubah. Apa karena gengster waktu itu?"

Sandeul menegakkan tubuhnya. Ia menatap Gongchan lekat lekat. "Sudah kubilang jangan bahas itu lagi!!" Sandeul membentak Gongchan. Raut wajah maknae itu berubah. "Hyung mohon. Jangan ikut campur, anggap saja kau tak pernah tau kejadian semalam." Sandeul membuang muka.

"Sireo! Hyung pikir aku bisa seperti itu hah? Kau berurusan dengan gengster. Mereka berbahaya hyung. Aku tidak ingin kau kenapa napa." Gongchan memegang tangan Sandeul.

"Aku lebih takut kau kenapa napa." Tatapan Sandeul membuat Gongchan melepaskan tangannya. "Jika kau ikut campur sama saja dengan kau masuk ke dalam kandang buaya! Jadi tetaplah diam dan jangan lakukan apapun." Tv sandeul matikan ia melangkah ke kamar meninggalkan Gongchan sendirian di ruang tengah.

----Sandeul POV----

Aku memejamkan mata tetapi pikiranku masih kemana mana. Gara gara kejadian waktu itu aku harus berurusan dengan Yong Guk dan RapMon. Tapi aku akan sangat menyalahkan diriku jika tidak menolong anak itu dari ancaman Yong Guk dan RapMon.

Setiap melihatku mereka selalu mencari masalah. Bahkan aku selalu di  teror oleh meraka. Aku sangat takut setelah kejadian kemarin malam. Kejadian kemarin malam sangat mirib dengan kejadian waktu itu, saat aku menolong anak itu dari tindasan Yong Guk dan RapMon.

Gongchan sepertinya dalam masalah. Aku tidak ingin maknae itu dipermainkan oleh mereka berdua. Tetapi anak itu terlalu nakal. Menolongku dari gengster sama saja dengan menyerahkan diri sebagai penggantinya.

----author POV----
1 minggu kemudian

Pagi telah tiba. Semua member telah berkumpul di ruang latihan hanya Gongchan yang belum datang.

"Hari ini kita akan latihan ngedance Tired to walk. Gongchan belum datang?" Jinyoung menatap semua member.

Baro menggeleng. "Akhir akhir ini Gongchan selalu pulang larut malam. Sepertinya kali ini dia bangun kesiangan." Ujar Baro sambil merangkul Sandeul.

"Pulang larut malam?" Sandeul bergumam.
Pintu ruang latihan terbuka. Gongchan datang dengan senyum menyungging di bibirnya. Ia membungkuk 90 derajat. "Mian. Aku tidur terlalu nyenyak." Gongchan segera bergabung dengan member dan para dancer. Sementara itu Sandeul merasakan ada yang aneh dari Gongchan. Jangan jangan...

Setengah lagu telah diputar dan mereka menari mengikuti alunan musik, tiba tiba saja

BRAK

Semua mata menatap kearah belakang. Gongchan terjatuh dari kursi tempat ia berdiri.

"Gongchanie, gwenchana?"  Semua orang mengerumuninya. Gongchan memegangi kakinya dan meringis kesakitan.

"Gwenchana." Gongchan berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan di kakinya. "Kita lanjutkan saja."  Gongchan kembali berdiri.

----skip----

Setelah selesai latihan dance Sandeul menarik tangan Gongchan menuju kebun dorm. "Kau baik baik saja kan Channie?" Sandeul terlihat begitu kawatir.

Gongcham tersenyum manis. "Gomawo hyung sudah mengkawatirkanku." Gongchan segera menggiring Sandeul masuk ke dalam dorm.

11:10 pm KST

Malam ini Gongchan mengenakan jaket hitam dan topi hitam menutupi kepalanya. Ia menyelinap keluar tanpa seorangpun yang mengetahui. Dipersimpangan jalan yang sangat sepi ponsel Gongchan berdering ia segera merogoh saku jaketnya.

"Wae?" Jawabnya ketus. "Dimana kau Bang Yong Guk? Cepat keluar." Gongchan menatap kesegala arah. "Jangan bermain main denganku." Gongchan memutuskan sambungan ponselnya

"Kau datang juga rupanya." Bang Yong Guk membawa sebatang besi yang ia seret sementara Rap Mon mengikutinya dari belakang. Mereka mendekati Gongchan sambil terus mengoceh.

"Kau merasa hebat huh?" Rap Mon mendorong tubuh Gongchan hingga ia terhuyung ke arah Yong Guk.

"Berani beraninya kau!" Gongchan melayangkan tinjunya ke arah wajah RapMon.

"Oh oh oh. Hanya segitu? Biar ku tunjukkan."

BUG BUG BUG

"Akh~" sudut bibir Gongchan berdarah. Ia kembali melayangkan tinju tetapi kakinya dipukul dengan besi oleh Yong Guk. Gongchan merintih kesakitan. Ia terjatuh di tanah sambil memegangi kakinya. Tanpa diampuni Yong Guk malah menginjak keras kaki Gongchan hingga berdarah.

"Kurang ajar kau!!" Gongchan mencoba bangkit dan ingin menyerang Yong Guk tetapi tubuhnya ditendang keras di bagian punggung oleh RapMon hingga ia terjatuh pas di kaki Yong Guk. "Kalian bisanya hanya main kroyokan!!!" Gongchan kembali mencoba berdiri tetapi Yong Guk menginjak keras perut Gongchan.

"Akh~" tatapan Gongchan begitu sayup. Tetapi ia masih berusaha bangkit. RapMon segera memegangi tubuh Gongchan dengan sangat erat. Sementara Yong Guk mendekatinya sambil menyeret besi yang ia bawa.

"Ku rasa kau tidak akan bisa menari lagi. Lihatlah kakimu. Hahaha. Setelah ku pukul waktu itu kupikir kau tidak akan berani lagi muncul di hadapan kami. Ternyata kau begitu keras kepala ya." Bang Yong Guk menarik rambut Gongchan hingga wajahnya terangkat.

"Lepaskan aku! Kalian main curang! Sampah!!" Gongchan tersenyum hingga sederet giginya yang berlumuran darah terlihat.

Bang Yong Guk mengepalkan tangannya. "Kurang ajar kau!!"

"Akh~"

Ponsel Gongchan tiba - tiba berdering. Yong Guk merebut ponsel dari Gongchan dan menggeser tombol hijau.
"Channie! Gongchannie! Eodie? Kau baik baik saja?" Terdengar suara Jinyoung kepanikan.

"H-Hyung." Gongchan mencoba berbicara tetapi rasa tidak kuat lagi setelah dipukuli berkali kali oleh gengster sialan ini.

"Bawa dia." RapMon dan Yong Guk menggiring Gongchan memasukki mobil. Setelah itu semua terlihat gelap. Gongchan lupa dengan segalanya.

----skip----

Terdengar suara RapMon dan Yong Guk terngiang ngiang. Mereka tertawa dan berbisik. Perlahan Gongchan membuka matanya. Ia merasa tubuhnya sangat sakit. Gongchan menatap kesegala arah, ia tengah berada di dalam sebuah ruang di gedung tak terurus. Gongchan menegakkan tubuhnya tetapi seluruh badannya terasa sangat sakit.

"Mimpi indah?" Tanya Yong Guk masih duduk di kursinya. Sementara RapMon menghampiri Gongchan.

Mata Gongchan membelalak menatap RapMon yang perlahan semakin mendekat ke arahnya. "Kau puas sekarang? Kau senang sudah menyiksa orang lain hah?" Gongchan masih menatap RapMon kesal

"Berani beraninya kau menatapku seperti itu." RapMon semakin mendekat ke arah Gongchan.

"Hidup kalian sangat menyedihkan! Aku merasa kasihan dengan kalian!!" Bibir gongchan bergetar ia merasa begitu emosinya. "Rasakan kau SAMPAH!!!" Gongchan menyerang RapMon dengan tubuhnya yang lemas. Ia berhasil meninju wajah RapMon tetapi kali ini Gongchan balik dipukul olehnya berkali kali hingga Gongchan bersimpuh di hadapan RapMon.

"Bangun kau! Bangun!" RapMon menendang Gongchan hingga terpental dan tubuhnya membentur tembok. Darah segar keluar dari mulut Gongchan.

"Uhhuk uhhuk." Gongchan memegangi perutnya. Tubuhnya sudah benar benar sangat lemas. RapMon ingin menyerang Gongchan kembali tetapi Yong Guk menghentikannya.

Yong Guk berlutut di hadapan Gongchan. "Ya! Angkat wajahmu! Ada seseorang yang ingin berbicara."

Di layar ponsel terlihat wajah Sandeul. Ekspresi wajahnya begitu syok ketika melihat Gongchan berlumuran darah tak berdaya dan wajahnya babak belur.

"Chan-ah. Gwenchana? Kenapa kau bodoh seperti ini! Chankamanyo. Hyung akan menyelamatkanmu." Nafas Sandeul Ngos ngosan sepertinya dia berlari sangat jauh.

"A-ndwe H-hyung. Jangan kemari." Gongchan tak bisa banyak bicara lagi ia sudah tak kuat.

Tak berselang waktu cukup lama terdengar suara Sandeul memanggil manggil. "YA! Bang Yong Guk! RapMon! Dimana kau! Jangan bersembunyi pengecut!" Teriaknya keras.

Ponsel Gongchan kembali berdering. Sengaja tak Yong Guk matikan. Gongchan hanya bisa duduk lemas di pojokan tanpa bisa melakukan apapun.

BRAK

Pintu ditendang keras oleh Sandeul hingga terbuka. Tatapannya menyapu ke segala arah. Ia mendapati GongChan terduduk lemas di pojokan sana. Dengan terburu buru Sandeul menghampiri dongseng tercintanya itu.

"Chan-ah. Paboya! Kenapa kau lakukan ini huh? Kenapa kau mebahayakan dirimu!" Sandeul memeluk tubuh Gongchan. Sementara Gongchan tak bisa berkata-kata. "Bertahanlah. Hyungdeul akan segera datang eo!" Sandeul menghapus air mata yang menetes di pipinya.

GBRAK

Yong Guk melempar kursi kearah Sandeul dan Gongchan. Merasa dihina, Sandeul berdiri dan menendang kursi hingga terlepar ke arah Yong Guk.

"Wah~ akhirnya kita berkumpul disini. Apa kabarmu Lee San Deul pengecut?" Ujar Yong Guk mengejek.

RapMon tertawa seperti orang gila. "Sayang sekali pahlawanmu sudah tak berdaya lagi. Bagaimana ini? Hahahah."

Kini Yong Guk menatap lekat kearab Sandeul. "Salah siap yang sok menjadi pahlawan? Salah kami? Hahahha omong kosong!" Bang Yong Guk mendekat beberapa langkah. "Siapa yang ingin menyelamatkan mangsa kami berarti dia menawarkan diri menjadi mangsa kami. Kalian paham? Paham tidak!?" Bentak Yong Guk.

"Selama ini aku tak ingin mencari masalah dengan sampah sepertimu. Aku bungkam bukan berarti kalah. Karena kau berani melukai dongsaengku. Aku akan mengabisi kalian!" Sandeul mendorong tubuh RapMon kasar. "Kalau kalian pemberani maju satu satu! Aku tidak meladeni keroyokan!" Sandeul melangkah mendekati Yong Guk. Mereka saling memukul hingga terhuyung lemas.
Sandeul benar benar membabi buta. Ia melayangkan tinjunya berkali kali ke arah Yong Guk. Matanya merah tubuhnya bergetar hebat. Gongchan tidak tau setan apa yang merasuki hyungnya hingga membabi buta menyerang Yong Guk.

"Ini untuk mu karena berani melukai Gongchan!" Sandeul melayangkam tinjunya tepat mengenai perut Yong Guk.
"Akh~ uhhuk."

BRAK

Tubuh Yong Guk terjatuh di atas kursi yang sudah patah. Ia merintih kesakitan. Sementara itu Gongchan mengamati RapMon di sisi kanan. Dia terlihat tengah menyiapkan sesuatu kemudian menyimpannya di saku jaketnya. Darah di hidung Sandeul menetes begitu saja. Wajahnya lebam dan penuh luka.

"Kemari kau pengecut!"  Sandeul mendekati RapMon tetapi sepertinya RapMon sudah berancang ancang. Ia balik badan langsung menendang Sandeul hingga terjatuh. Tak ingin kalah Sandeul segera bangun dan meladeni RapMon. Mereka saling adu tinju.

BRAK BUG DUG

"Akh~" RapMon merintih kesakitan. Tubuhnya terpentah dan membentur meja.

"Cuh!" Sandeul meludah. "Hanya segini kekuatan kalian? Menyedihkan sekali!" Sandeul menendang perut RapMon. "Kau pias sekarang? Kurang?" Sandeul menendangnya sekali lagi kemudian berjalan dengan gontay ke arah Gongchan. Ia menunjukkan senyumnya tetapi tatapan Gongchan begitu sayup. "Gwenchana." Sandeul semakin mendekat kearah Gongchan tetapi mata Gongchan tiba tiba saja membelalak. Mulutnya membuka dan ia berusaha bangkit.

"Ku habisi kau Lee Sandeul!!!!" RapMon berlari membawa pisau mengkilap dan siap menikam Sandeul.

"Hyung!!" Gongchan Menarik tubuh Sandeul dan memeluknya erat.

CRUK

Mata Sandeul tak berkedip. Ia menatap RapMon terkapar tak sadarkan diri di sebelahnya. Sementara Gongchan masih memeluknya erat. saat itu waktu terasa tiba tiba berhenti berputar. Sandeul meraba punggung Gongchan, sesuatu membasahi tangan Sandeul. Tubuh Sandeul bergetar, tangannya dipenuhi darah segar.

"Eotteokhae? Eotteokhae?" Gumamnya. Bibir sandeul bergetar. Matanya berkaca kaca dan pikirannya kacau. Gongchan melepaskan pelukannya, anak itu malah tersenyum kearah sandeul. Jelas jelas wajahnya begitu pucat.

"Gongchan-ah eotteokhae?" Sandeul masih tak bisa menerima apa yang telah terjadi. Dari punggung ke perut Gongchan di tembus oleh pisau yang dibawa RapMon.

"H-hyung. Gwenchana~." Gongchan mencoba tersenyum matanya menatala dengan tatapan kosong, kemudian ia meringis kesakitan. "Uhhuk."

Air mata Sandeul tak bisa ia bendung Gongchan yang kini bersimpuh dihadapannya begitu lemah. "Bertahanlah Chan-ah kau harus bertahan." Sandeul memegang pipi Gongchan.

Lagi lagi gongchan tersenyum. "U-uljima Lee Sandeul. Mi-mianhae. Akh~." Gongchan memegangi luka akibat bacokan. "Semua sudah selesai." Ia tersenyum. Sesaat menatap mata Sandeul lalu tubuh Gongchan tumbang kearah Sandeul.

"Ah, Chan-ah!! Gong Chan Shik!! Bertahanlah. Aa channie ini tidak boleh terjadi!!" Pekik Sandeul. Derap langkah kaki memasuki ruangan. Para polisi, para member dan menejer hyungnim memenuhi ruangan. Sementara para polisi membawa RapMon dan Bang Yong Guk ke kantor polisi,  para member dan menejer hyungnim mengahampiri Sandeul dan Gongchan. Jinyoung merasa kakinya lemas. CNU segera mengangkat tubuh Gongchan dari Sandeul. Baro terkejut dan mendekap Sandeul yang masih bergetar hebat. Sementara menejer hyungnim tertunduk lemas.

"Na ttaemune." Sandeul menangis terus terusan sambil memegangi tangan Gongchan. " gara gara aku Gongchan seperti ini. Semua salahku. Jika ada yang harus disalah akulah orangnya!!" Sandeul memeluk Gongchan. "Mianhae Channie "

"A-aniya Hyung. Ja-jangan menyalahkan dirimu. A-ku akan me-membencimu jika kau seperti it-u." Nafas Gongchan ngos ngosan.

"Channie." Ucap semua member dan menejer hyungnim
"Hyung Go-gomawo." Gongchan mentap semuanya. "Beejanjilah untuk ti-tidak menyalahkan dirimu sen-diri." Gongcah mengacungoan jari kelingkingnya kepada Sandeul.

"Yakseo." Ucap sendeul parau. Ia melihag senyum tipi di bibir Gongchan.

"Galke." ucapnya pelan dan lemah. Matanya tertutup dan tubuhnya telah tak berdaya.

"Gongchan-ah~ wae?? Kenapa kau tinggalkan kami!" CNU memeluk erat tubuh Gongchan. Sementara yang lainnya terisak menangis sejadi jadinya.

"Andwee!!" Pekik jinyoung seraya memeluk CNU dan Gongchan.

----Sandeul POV----

Chan-ah jeongmal gomawo. Kau adalah malaikat tanpa sayap yang dikirim untuk menyelamatkanku. Kami akan selalu mengingatmu dan merindukan candamu senyummu keisenganmu Channie

-----END-----

Sekali lagi ini hanyalah fiktif belaka jadi jangan ada yang Bash ya. Makasih udah membaca. Happy reading yeorobun.