Judul : I Love You?
Author : Asri Wijayanti
Note : Cinta itu aneh. Cinta itu ajaib. Cinta itu menyakitkan. Satu kata banyak makna itu kadang membingungkan. Karena cinta tidak dapat diselesaikan dengan rumus phytagoras.
Pagi yang sangat sejuk membangunkan Hyu ra dari tidurnya yang nyenyak. Ia tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit. Ia bergegas mandi 2 jari atau apalah itu sebutannya. Pakai seragam sisiran seadanya lalu ia bergegas keluar dari kamar menuruni tangga dan tanpa sarapan apa-apa ia segera menaiki sepedanya untuk pergi ke sekolah.
Di sekolah, Dae hyun tengah gelisah menunggu Hyu ra datang. Namja bertubuh tinggi, berkaca mata dengan rambutnya yang dicukur rapi masih berdiri di halaman depan sekolah.
Sesekali Dae hyun melihat jam tangannya dan kembali mengamati kedatangan Hyu ra. Hingga akhirnya bel tanda jam pelajaran pertama dimulai Hyu ra tak kunjung datang. Membuat Dae hyun pasrah karena temannya itu akan kena hukum lagi.
Sebenarnya Dae hyun heran. Sepertinya Hyu ra lebih malas darinya. Padahal dia seorang yeoja. Bahkan dia tidak suka berdandan sedikitpun
Langkah Dae hyun menuju kelas terhenti ketika ia mendengar keributan di depan gerbang sekolah. Ia menoleh ke belakang. Dan melihat Hyu ra terjepit di tengah-tengah pintu gerbang yang hampir ditutup. Seperti biasanya Hyu ra gagal membujuk pak satpam dan akhirnya memaksa untuk menerobos masuk.
Tanpa basa basi lagi Dae hyun mencoba membantu Hyu ra. Karena tanpa Hyu ra hari ini akan terasa sangat mengerikan. Pelajaran Matematika sangat Dae hyun benci. Hanya Hyu ra lah yang bisa ia andalkan.
"Ahjusshi~ "Teriak Dae hyun.
"Wae? Kau jangan ikut campur ya. Cepat masuk ke kelas sana!" ujar pak satpam mendelik Dae hyun.
"Tadi temanku ini pulang untuk mengambil uang jajannya. Ahjussi mau tanggung jika dia tidak belajar matematika hari ini. DHS akan terancam karena master matematikanya tidak bisa belajar gara-gara terlambat kesekolah dan di hadang oleh satpam sekolah?" Ceroscos Dae hyun.
Satpam menatap mereka berdua dengan curiga. Tapi mimik wajah Dae hyun dan Hyu ra sangat meyakinkan. Sehingga satpam pun luluh lantah.
Mereka berdua bergegas berlari menuju ruang kelas. Untung saja Kim songsaengnim belum sampai di kelas. Karena tadi mereka melihat beliau masih mengobrol dengan Kang songsaengnim di koridor sekolah.
"Kau berhutang budi denganku." ujar Dae Hyun duduk di bangkunya.
"Arasseo." Hyu ra merapikan rambutnya dengan jari tangannya.
"Kau harus membalasnya."
"Ne!!. Dasar teman yang jahat. Kau menolongku ternyata tidak iklas. Lebih baik kapan-kapan jangan tolong aku jika kau tidak iklas." Ujar Hyu ra.
"Hhusssssst! Kau mengganggu konsentrasiku saja." Dae Hyun menatap ke arah yeoja yang baru saja memasuki kelas. Sepertinya baru saja dari perpustakaan.
Yeoja itu bertubuh tinggi. Rambutnya yang panjang tertata rapi dan terlihat sangat cute. Datang ke sekolah pagi-pagi. Dan senyumnya yang sangat ramah. Itulah yeoja yang Dae hyun cari-cari.
"Seperti itulah yeoja yang sesungguhnya." Ujar Dae Hyun menatap Na Young.
"Karena kau suka dia. Jadi menurutmu dia lebih cantik dari miss Korea." Ujar Hyu ra mengejek Dae hyun.
" Andaikan dia menyukaiku seperti aku menyukainya." Kata Dae Hyun masih menatap Na young yang kini telah duduk di sebelahnya.
Senyum Na young membuatnya melayang bahkan jantungnya mendadak berdenyut lebih kencang. Sementara Hyu ra, masih mengerjakan tugas matematika Dae hyun yang masih bolong-bolong.
_____________________
Ketika jam istirahat tiba, Dae hyun menarik tangan Hyu ra. Mereka menuju taman sekolah yang tempatnya agak lebih tinggi dari halam sekolah.
Rambut Hyu ra yang ia ikat menari-nari di punggunya. Ia masih mengikuti kemana ia di giring oleh Dae hyun.
"Untuk apa kita ke sini? Aku lapar. Lebih baik aku ke kantin saja." Hyu ra ingin pergi karena perutnya lapar. Tadi pagi ia tidak sempat sarapan gara-gara terlambat bangun. Dan sekarang perutnya benar-benar lapar. Tapi Dae hyun memohon agar Hyu ra tetap di sana untuk membicarakan sesuatu yang sangat rahasia.
Tanpa bisa menolak, Hyu ra terpaksa mengiakan permintaan Dae hyun. Mereka duduk di sebuah bangku dan memulai perundingan.
"Jadi apa yang ingin kau katakan?"
"Bantu aku untuk mendapatkan hati Na young. Aku mohon?"
Wajah Hyu ra melongo. Ia kira percakapan ini akan lebih serius dari konverensi meja bundar. Ternyata hanya sebatas mimpi seorang namja bodoh.
"Dae hyun. Dengarkan aku. Aku temanmu yang sangat mengenal seluruh yeoja di DHS ini." Ujar Hyu ra memegang pundak Dae hyun. "Na young itu menyukai Jin woo. Kapten sepak bola yang sok keren. Jadi jangan terlalu banyak berharap. Aku takut kau akan kecewa."
Tatapan menjengkelkan Dae Hyun membuat Hyu ra mengangkat tangannya. Ia memalingkan wajahnya.
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu." Ujar Dae hyun. "Aku mohon. Bantulah aku Park Hyu Ra??"
Sepertinya Dae hyun bersungguh-sungguh. Hyu ra tidak tega melihat temannya memohon-mohon seperti itu. Setidaknya ia akan membantu Dae hyun sekemampuannya.
"Apa yang dapat aku bantu? Bahkan akupun belum pernah menyicipi rasanya cinta dan pacaran. Apalagi un."
"Cukup! Kau hanya perlu menanyakan sesuatu yang sangat disukai oleh Na young dan sebagainya." Ujar Dae hyun.
Hyu ra hanya menggangguk. Ia tidak yakin ini akan berhasil. Tetapi ia juga tidak ingin membuat Dae hyun kecewa.
Di perpustakaan
Dae hyun berpura-pura membaca di bangku bagian belakang. Ia mengawasi Hyu ra yang terlihat ragu-ragu untuk menghampiri Na young. Sesekali Hyu ra menoleh ke arah Dae hyun. Dan namja itu hanya memberikan semangat.
"Eh hem." Hyu ra masih berdiri di sebelah Na young yang membaca sendirian.
Na young menoleh dan menunjukkan senyum ramahnya.
"Hyu ra? Kau suka membaca juga? Ayo duduk." Na young mempersilahkan Hyu ra untuk duduk.
"Tidak. Umm maksudku ia." Hyu ra terlihat gelagapan. "Sendirian?" tanya Hyu ra.
"Seperti yang kau lihat. Tumben kau tidak bersama Dae hyun. Dimana dia?"
Hyu ra mengernyitkan alisnya. "Ohh. Kenapa kau menanyakannya? Apakah kau menyukainya?" Goda Hyu ra.
"Ahh. Bukan begitu, hanya saja terlihat kurang. Kalian kan selalu bersama."
"Dia sedang jatuh cinta." Hyu ra menatap Na young. "Aku mau tanya. Kau ini kan cantik. Tapi belum punya pacar. Seperti apa namja yang kau cari?"
"Hahaha. Pertanyaanmu aneh sekali."
"Aneh? Menurutku tidak. Lalu seperti apa?"
"Umm. Namja yang cool. Tinggi. Suka olahraga seperti sepak bola dan romantis. Seperti itulah. Lalu kalau kau bagaimana?"
"Ahh. Tipeku seperti Lee Seung Gi oppa. Mirib-mirib seperti itulah. Hehe."
_________________
Di coffee shop
Dae hyun masih menunggu Hyu ra. Karena katanya ia ingin mengatakan sesuatu menyangkut misi membuat Na young jatuh cinta kepadanya. Tidak sabar Dae hyun menunggu kedatangan Hyu ra. Hingga akhirnya, yeoja berkuncir dua datang dengan tas jeansnya.
Ia segera duduk dan meneguk cappucino milik Dae hyun. Tanpa berkedip Dae hyun menatap temannya. Dia sangat heran dengan kepribadian Hyu ra.
"Huuust! Kau ini. Aku sudah memesankan mocacino untukmu. Kenapa kau habiskan milikku?" seru Dae hyun.
"Mian. Aku haus."
Hyu ra mengubrak-abrik tasnya dan akhirnya ia menemukan buku catatan kecil. Ia segera memberikannya kedapa Dae hyun untuk membacanya.
Mata Dae hyun mencermati setiap tulisan dan mencernanya. Ia menghembuskan nafas pelan lalu meletakkan buku itu ke atas meja.
"Apakah aku sudah keren?"
"Maka dari itu. Kita harus segera ke salon. Untuk mengubah penampilanmu ini. Kau sudah bawa uang banyak kan? Seperti yang ku perintahkan?"
"Tidak terlalu banyak.". Ujar Dae Hyun.
Tanpa basa basi lagi Hyu ra segera menyetop taxi dan meninggalkan sepedanya di sana. Sebelum ke salon, Hyu ra mengajak Dae hyun ke pusat belanja di daerah myeongdong. Disana Hyu ra memilihkan baju dan jaket keren masa kini. Juga topi keren dan seragam sepak bola tentunya. Sepatu juga perlu di ganti dan kupluk perlu di beli.
Setelah berbelanja begitu banyak, Hyu ra menggandeng tangan Dae hyun yang terlihat lemas menuju salon di dekat pusat perbelanjaan.
"Dae hyun! Jalannya lebih cepat! Belanjaanmu ini berat sekali."
"Berat sekali? Kau hanya bawa 1 kantong. Dan aku?"
Hyu ra menoleh ke arah belakang seraya mengernyit. Ia mengacak rambut Dae hyun lalu berjalan beriringan menuju salon.
Sebenarnya Hyu ra salut dengan keinginan Dae hyun. Ia rela merubah penampilannya demi Na young. Hyu ra akan membantunya hingga misi ini berhasil.
Sesampainya di salon, Dae hyun segera di tarik dan siap untuk di cakar-cakar. Eh maksudnya di permak.
"Jadikan dia mirib seperti aktor korea yang romantis." Ujar Hyu ra.
Kemudian, yeoja itu menunggu di ruang tunggu salon bersama berkantong-kantong belanjaan Dae hyun. 30 menit kemudian, mata Hyu ra terasa berat dan ia pun tertidur pulas.
1 jam kemudian, Dae hyun keluar dari salon dan membayarnya. Ia celingukan mencari Hyu ra. Dan matanya melotot ke arah yeoja yang tidur di sofa ruang tunggu. Persis seperti kucing jalanan.
Saking nyenyaknya Hyu ra tertidur, bahkan ketika Dae hyun mengguncang tubuhnya ia tidak terbangun. Tingkah jailnya Dae hyun kumat lagi. Ia mengeluarkan ponselnya dan siap untuk memfoto wajah Hyu ra ketika tertidur.
Cahaya kamera ponsel yg menerpa wajah Hyu ra membangunkannya. Ia tetap tidak sadar telah difoto.
Ketika melihat ke arah Dae hyun, mata Hyu ra tidak berkedip sedikitpun. Matanya sibuk mengamati Dae hyun dari atas sampai bawah.
"Apakah aku sudah keren?" pertanyaan itu tidak terjawab oleh Hyu ra. "Hey! Nona Drama! Apakah aku sudah keren?"
"Masih kalah keren dari Lee Seung gi oppa."
"Ahh kau ini mematahkan semangatku."
"Memangnya di dalam kau tidak berkaca. Kalau kau sudah merasa puas berarti ini sudah maksimal. Salon ini adalah salon terbaik di myeongdong. Jangan kuwatir. Tranformasimu akan berbuah manis. Aku yakin." ujar Hyu ra meyakinkan Dae hyun.
"Tapi kau tidak berkata aku keren. Berarti.."
"Sudahlah Dae hyun. Lebih baik kita ke galeri appamu yang tidak terpakai. Kita susun rencana untuk besok." kata Hyu ra seraya tersenyum.
___________________
Pagi itu para yeoja banyak sekali yang terpana dengan style baru Dae hyun. Melihat reaksi para yeoja itu, Hyu ra merasa senang dan ia segera bermaksud menemui Dae hyun.
Hyu ra kebingungan mencari-cari Dae hyun. Hingga akhirnya ia melihat punggung seorang namja berkaos sepak bola. Hyu ra segera melompat dan menghadang Dae hyun.
"Dooorr! Kau tau? Ada berita menarik!" Ujar Hyu ra sumbringah.
"wae?" Tanya Dae hyun lemas.
Tanpa bermaksud memberi tau Dae hyun buru-buru, Hyu ra memegang bahu Dae hyun.
"Ya! Katanya mau terlihat keren. Tapi kenapa kau lemas seperti ini huh? Semangat!!" Hyu ra mengguncangkan tubuh Dae hyun.
"Tapi aku tidak yakin kalau Jin woo akan menambahkanku di tim sepak bolanya."
"Bukan dia yang berwenang, tapi Bae songsaengnim yang berwenang untuk memutuskan itu. Jadi kau harus tetap semangat!!" Hyu ra mengangkat ujung bibir Dae hyun dengan telunjuknya agar namja itu menunjukkan senyum manisnya.
"Jadi apa berita baiknya?" Tanya Dae hyun.
Sambil berjalan menuju lapangan sepak bola, Hyu ra menjelaskannya. Dan Dae hyun tak henti-hentinya tertawa puas. Ketika ia akan memasuki lapangan, tiba-tiba Dae hyun menyiku Hyu ra.
"Auu, sakit bodoh!" Ujar Hyu ra mendelik Dae hyun.
Dae hyun mengisyaratkan Hyu ra untuk menengok ke kanan dan tepat sekali, Na young tengah berjalan sendirian bersama bukunya yang ia peluk.
Hyu ra mengerti maksud Dae hyun. Ia segera melesat menghampiri Na young.
"Hay! Kau mau kemana?"
"Ohh. Aniyo. Aku pikir akan ke kelas saja."
"Kau tidak sedang sibuk kan?"
Na young hanya menggeleng. Sementara Dae hyun masih berdiri dengan sangat tampan di sisi lapangan. Ia berharap Na young berhasil di bujuk oleh Hyu ra. Dan ia berharap bisa menjadi pemain bola yang baik hari ini di mata Na young. Walaupun hanya di mata Na young.
Hyu ra datang menggandeng Na young. Dan entah apa yang Dae hyun rasakan saat itu. Ia terlihat sangat gerogi tingkat akut.
"Na young, hari ini Dae hyun akan ikut sleksi tim sepak bola DHS. Kau harus menonton jagoan yg tampan ini."
Sementara Dae hyun, dia hanya membalas tatapan Na young sambil tersenyum ramah. Walaupun tingkah groginya sangat terlihat.
Di bangku penonton sudah duduk banyak siswi yang tau kalau hari ini Dae hyun ikut sleksi sepak bola. Semenjak transformasi style yang dilakukan Dae hyun, semakin banyak yeoja di sekolah yang meliriknya.
Sebenarnya.. Dia tidak perlu merubah style seperti ini. Karena sejak lahir Dae hyun sudah tampan dan...
"Hyu ra! Lihat! Dae hyun akan membobol gawang lawan."
"Oh? Benarkah?" Hyu ra menutup buku diarynya. Ia sangat bersemangat sampai-sampai ia berdiri di bangku penonton dan menarik tangan Na young untuk ikuut berdiri. Tapi semangat Hyu ra tak terkalahkan.
"Dae hyun!! Semangat! Kau pasti bisa!!" Teriak Hyu ra sekencang-kencangnya. Kemudian ia menyiku Na young untuk memberi Dae hyun semangat.
"Dae hyun!!!" Teriak Na young.
Tepat saat itu Dae hyun menoleh dan Na young menyemangatinya. Dae hyun menunjukkan tanda "OK" dengan jarinya lalu ia berlari kembali. Rambutnya yang lurus dan subur terlihat sangat keren ketika tertiup angin. Dan mengundang histeria para yeoja.
Tak berselang waktu lama, Dae hyun mencetak goal. Dan seluruh penonton bertepuk tangan. Dae hyun melakukan selebrasi yang sangat keren.
"Dia keren bukan?" Tanya Hyu ra kepada Na young yang tersipu malu. Yeoja manis itu hanya mengangguk.
__________________
Kira-kira sudah seminggu ini Dae hyun dan Na young terlihat semakin dekat. Itu artinya misi Hyu ra berhasil. Tetapi entah kenapa ia merasa ada hal yang aneh. Cepat-cepat Hyu ra menepis lamunannya dan beranjak keluar mencari udara segar.
Sepanjang koridor sekolah, Hyu ra ingat ketika Dae hyun tertawa bersama Na Young di kelas. Sementara dirinya sibuk menyelesaikan tugas matematika Dae hyun. Senyum Hyu ra mengembang.
"Bodohkah aku? Cihh dasar yeoja bodoh!" Mengejek dirinya sendiri.
Hyu ra menaiki jalan setapak menuju taman sekolah. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti, matanya sibuk mengamati Dae hyun dan Na young yang sedang bercerita sesuatu. Sepertinya sangat seru.
Kalau aku kesana aku hanya akan merusak suasana. Lebih baik aku pergi..
Secepat mungkin Hyu ra pergi, agar Dae hyun tidak melihatnya. Tapi.. Memang kenapa kalau Dae hyun melihatnya? Entahlah.. Belakangan ini Hyu merasa ada hal yang aneh.
Jam pulang sekolah
Dae hyun celingukan mencari seseorang. Kali ini bukan Na young. Karena yeoja itu sudah pulang bersama temannya tadi. Ia tidak tau kemana Hyu ra pergi.
Seharian ini kelas mereka tidak dapat jam pelajaran karena kebetulan guru yang mengajar sedang ada halangan. Dae hyun terlalu sibuk bercerita bersama Na young, sampai-sampai ia tidak sadar kalau Hyu ra sudah tidak ada.
"Apakah dia sudah pulang? Ahh orang itu membuatku serba salah." Dae hyun meninggalkan sekolah sambil menaiki sepeda gayungnya.
Akhir-akhir ini kebersamaan Dae hyun dan Na young memang sudah semakin terlihat jelas. Tapi saat bersama Na young, Dae hyun berusaha keras menjadi sesosok namja yang terbaik di mata Na young. Membuatnya keluar dari zona nyamannya. Lain halnya saat bersama Hyu ra, ia merasa lebih bebas berekspresi, lebih gila dan lebih dari segalanya..
Apakah ini yang namanya persahabatan? Ataukah...
________________
Hari ini Hyu ra tidak bersekolah karena ia sakit. Sepulang sekolah Dae hyun dan Na young bermaksud menjenguk Hyu ra bersama. Di dalam bus mereka duduk bersebelahan.
"Kau terlihat sangat kuwatir." kata Na young manis.
"Oh? Ia kah? Mungkin karena dia sahabat terdekatku."
"Kau menyukainya?"
"Oh?" Dae hyun menggaruk-garuk kepalanya.
"Hmmm. Aku hanya bercanda." Ucap Na young seraya tersenyum.
Mereka segera turun. Dan 15 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Hyu ra. Sepertinya tidak ada siapapun. Dae hyun memencet bell tetapi tidak ada yang menjawab. Mobil appanya Hyu ra juga tidak ada di garasi.
Dae hyun membuka pintu dan ternyata tidak di kunci. Ia dan Na young langsung masuk ke rumah Hyu ra. Mereka segera menuju kamar Hyu ra di lantai atas. Ketika mereka membuka pintu terlihat Hyu ra tengah menonton drama korea. Melihat kedatangan Dae hyun dan Na young secepatnya Hyu ra menatikan drama yang sedang ia tonton.
"Eeh. Dasar miss drama." Ujar Dae hyun langsung duduk di ranjang Hyu ra dan mengacak rambutnya.
"Jangan panggil aku seperti itu, namja bodoh!." grutu Hyu ra
Sementara, Na young masih berdiri. Ia menyaksikan kelegaan Dae hyun dan kegembiraannya itu.
"Na young. Terima kasih sudah menjengukku. Aku tidak bisa membuatkan sesuatu. Duduklah sebentar!" ujar Hyu ra.
"Ahh. Sama-sama Hyu ra. Kau sudah. Membaik kan? Dae hyun terlihat sangat cemas."
"Hah?"
Dae hyun dan Hyu ra saling menatap kebingungan.
"Semoga kau cepat sembuh ne?"
"Gomawo. Na young."
"Cheonma. Sepertinya aku harus pulang sekarang."
"Kenapa cepat sekali? Bahkan kita belum banyak mengobrol."
"Lain kali kita akan mengobrol. Hari ini aku sudah ada janji dengan eomma. Aku pulang sekarang ne?"
"Ne. Baiklah.."
"Aku akan mengantarmu." Ujar Dae hyun berjalan mengikuti Na young keluar.
Meraka berjalan menuruni tangga dan akhirnya berdiri di teras rumah Hyu ra.
"Sampai di sini saja mengantarku. Aku pulang duluan."
"Kau serius?"
Na young mengangguk seraya pergi menjauh dari rumah Hyu ra. Setelah Na young menghilang dari pandangan Dae hyun, ia segera masuk menemui Hyu ra. Tetapi sepertinya Hyu ra sedang tidak ada di kamarnya.
Sambil menunggu Hyu ra, Dae hyun melihat-lihat DVD drama korea milik Hyu ra. Ketika sedang melihat-lihat. Tidak sengaja mata Dae hyun menangkap sebuah buku bersampul warna kuning dan sangat indah. Terllihat seperti buku catatan. Dae hyun segera membukanya, tetapi sebelum ia sempat membaca, Hyu ra masuk ke kamarnya dan membuat Dae hyun terkejut. Ia segera memasukkan buku itu ke tasnya.
"Hey! Kau mau mencuri DVD ku?" Ujar Hyu ra mengikat rambutnya.
"Ohh! Aniyo. Kau pikir aku suka mencuri hah? Dasar miss drama."
"Siapa tau. Lebih baik kita mengobrol di bawah saja." Ujar Hyu ra.
Mereka segera menuruni tangga menuju ruang tamu. Dae hyun berjalan di belakang Hyu ra. Sambil menonton tv Dae hyun mengamati wajah Hyu ra. Ia melihat mata Hyu ra yang sembab.
"Kau sakit apa?" Tanya Dae hyun.
"Umm? Entahlah.. Sepertinya hanya demam." Hyu ra masih menatap menatap ke arah tv.
"Kau habis menangis?"
Hyu ra menoleh ke arah Dae hyun yang sedari tadi menatap ke arahnya. Tatapan Dae hyun membuat jantung Hyu ra berdegub semakin cepat dan semakin cepat. Sesegera mungkin Hyu ra memalingkan wajahnya.
"Karena menonton drama."
"Oh. Aku pikir karena hal yang lebih serius."
"Kau mau tau bagaimana ceritanya?" Tanya Hyu ra.
"Ceritakanlah."
Hyu ra masih mentapa ke arah depan sambil bercerita.
"Seorang yeoja yang sangat bodoh tidak mengerti dengan perasaannya sendiri yang ternyata sudah lama menyukai sahabatnya. Sahabat baiknya. Dia hanya bisa memendamnya dan mencoba membuang perasaan kepada namja itu jauh-jauh."
"Kenapa yeoja itu harus membuang perasaannya?" Tanya Dae hyun.
"Karena namja itu telah menyukai yeoja lain. Yeoja yang lebih baik dari siapun. Dan jika yeoja ini tetap mempertahankan perasaannya, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Karena ia ingin namja yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama itu bahagia dengan yeoja yang ia inginkan. Bukankah lebih baik seperti itu?" Tanya Hyu ra.
Dae hyun terlihat kebingungan. Kemudian namja manis itu menunduk entah kenapa.
"Ahh. Bodohnya aku. Kau kan bukan sutradaranya. Haha." Tawa garing yang terdengar sangat jelas membuat Dae hyun menatap Hyu ra penuh tanya.
"Oh iya. Tahun baru sebentar lagi. Kau sudah siap menyatakan perasaanmu itu kepada Na young?" Tanya Hyu ra.
"Mmmm" Dae hyun terlihat sangat bingung. " Aku tidak yakin."
"segeralah! Sebelum semuanya terlambat." Hyu ra tersenyum simpul. Karena hatinya sangat sakit ketika ia harus mengatakan hal yang bertolak belakang dengan kata hati kecilnya.
__________________
Sesampainya di rumah, Dae hyun membuka buku yang ia ambil dari meja di kamar Hyu ra. Ia membuka halaman per halaman. Dan ketika ia membaca sebuah halaman yang berhiaskan jantung-jantung retak, sesuatu yang aneh membuat Dae hyun berfikir. Ia mengerti segalanya sekarang.
"Karena namja itu telah menyukai yeoja lain. Yeoja yang lebih baik dari siapun. Dan jika yeoja ini tetap mempertahankan perasaannya, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Karena ia ingin namja yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama itu bahagia dengan yeoja yang ia inginkan. Bukankah lebih baik seperti itu?"
Cerita itu bukanlah drama. Cerita itu adalah cerita mereka. Dae hyun kembali membaca halaman berikutnya.
"sungguh. Aku tidak mengerti dengan diriku ini. Aku merasakan kehilangan sosoknya. Sosok namja yang sangat ceria yang selalu menatapku dengan senyumnya yang indah. Walaupun ia menatapku dengan maksud yang biasa saja. Tapi aku merasa senang. Sangat senang. Apakah aku jatuh cinta? Apakah aku menyukainya? Kalau ia, apakah aku harus menyudahi hayalanku ini?"
Sebenarnya.. Dia tidak perlu merubah style seperti ini. Karena sejak lahir Dae hyun sudah tampan dan...
Tangan Dae hyun bergerak dan membuka halaman berukutnya. Hanya tertulis beberapa kata saja.
"bagaimana dia bisa mengerti? Bahkan akupun tidak mengerti kenapa aku harus menangis di atas kebahagiaanya :-( "
Dae hyun memasukkan buku diary Hyu ra ke dalam tasnya. Ia berbaring di tempat tidur sambil melihat layar ponselnya. Ia melihat foto Hyu ra yang ia ambil saat Hyu ra tidur di salon. Pikiran Dae hyun melayang jauh, hingga ia tidak sadar telah menekan tombol call di kontak Hyu ra.
"Dae hyun!! Dae hyun?!" suara Hyu ra terdengar sangat keheranan. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Dae hyun menelponnya tanpa bicara apa-apa.
"Dae hyun! Kau bermimpi hah?" Teriak Hyu ra di ujung sana.
"Aku.. Hanya ingin mendengar suaramu."
"Hhh apa? Aku mengantuk! Lebih baik kau tidur."
"Ahh ne ne. Selamat tidur. Sampai bertemu besok."
"Ne."
Tuut tuut tuut
Sambungan ponselpun di putuskan oleh Hyu ra. Dae hyun membenamkan wajahnya di bantal dan ia tidak tau apa yang telah ia rasakan saat ini. Kenapa harus sekarang? Kenapa perasaannya yang sudah lama ia lupakan harus kembali muncul di saat Na young sudah dekat dengannya? Sejak dulu Dae hyun memang sudah menyukai Hyu ra,tetapi ia tidak menghiraukan perasaannya itu. Ia senang tau kalau Hyu ra menyukainya. Tapi Na young akan tersakiti. Memikirkannya membuat Dae hyun emosi. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.
_________________
Jam istirahat telah tiba. Dae hyun dan Hyu ra berdiri di tepi koridor bersisian.
"Ceritakan lagi drama korea yang kau ceritakan kemarin." Ujar Dae hyun.
"Mw. Mwo?"
"Kenapa kau bingung seperti itu?"
"Ah. Aniya."
"Apakah akhirnya namja itu tau perasaan si yeoja?"
"Ani. Karena yeoja itu tidak akan memberitaunya."
"Kenapa tidak? Bagaimana kalau namja itu juga menyukainya?"
"Hhhh. Tidak mungkin. Dia akan bahagia bersama yeoja lain. Kau mengerti?"
Tiba-tiba Dae hyun terdiam. Ia menatap mata Hyu ra penuh arti. Membuat jantung Hyu ra berdebar sangat cepat lagi.
"Jangan menatapku seperti itu! Kau sangat menyeramkan!" Hyu ra mendorong jidat Dae hyun.
Saat itu juga Na young datang dari arah toilet. Hyu ra menepuk pundak Dae hyun dan menyemangatinya. Setelah itu, Hyu ra menghilang dari hadapan Dae hyun.
Hingga akhirnya Na young berdiri di sebelah Dae hyun, namja itu masih menatap kepergian Hyu ra. Ia tidak habis pikir, sikap Hyu ra akan sangat meyakiti hatinya sendiri demi kebahagian Dae hyun.
"Dae hyun!"
"Oh? Na young."
"Kemana Hyu ra?"
"Entalah."
Tatapan Dae hyun kosong. Dan Na young sangat mengerti karena apa. Yeoja itu menepuk pundak Dae hyun.
"Biarkan hatimu yang memilih. Kau adalah teman baikku." saat mengucapkan nada teman ditekankan oleh Na young
Dae hyun melirik Na young. Lalu ia memeluk Na young dengan sangat lembut. Mereka berdua tersenyum bahagia.
____________
Ketika jam pulang sekolah tiba. Hanya tinggal Dae hyun dan Hyu ra di kelas. Mereka berjalan keluar menyusuri koridor sekolah.
"Seandainya kau menjadi yeoja di drama itu dan aku namjanya. Apakah kau akan bersikap sepertinya?" Tanya Dae hyun.
Mendadak langkah Hyu ra terhenti. Matanya membelalak kaget. Otaknya berusaha berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Dae hyun. Semampunya ia mencoba tersenyum dan bersikap tenang
"Kenapa kau se serius itu? Jangan bahas drama itu lagi. Ne?" Hyu ra tersenyum. "Oh iya bagaimana dengan misi membuat Na young jatuh hati kepadamu?" Hyu ra tersenyum manis lagi.
Dae hyun menghembuskan nafas panjang. Ia menahan tangan Hyu ra.
"Jangan membohongiku lagi! Jangan katakan kau baik-baik saja dengan menunjukkan senyummu itu."
"Apa maksudmu?"
Mereka masih berdiri di koridor sekolah. Dae hyun mulai mengatakan bahwa ia sudah tau kalau cerita itu bukanlah cerita dalam drama. Dan ekspresi wajah Hyu ra sangat kebingungan.
"Kau menyukaiku! Itulah perasaan yeoja itu." Dae Hyun memegan kedua pundak Hyu ra.
Tapi Hyu ra masih tidak mengerti. Maksudnya, ia pura-pura tidak mengerti. Ia tidak tau kenapa Dae hyun bisa tau kalau.. Kalau dirinya menyimpan perasaan dengan Dae hyun.
Hyu ra ingin segera pergi melangkahkan kakinya. Tetapi cengkraman tangan Dae hyun membuatnya tidak bisa pergi.
"Aku mencintaimu Park Hyu ra." Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Dae hyun membuat Hyu ra bergetar. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"Kita sahabat. Aku..."
"Kau juga mencintai ku. Dan aku juga mencintaimu. Kenapa kau mengelak? Kau cemburu kan ketika aku bersama Na young? Kau menangis ketika aku dekat dengan Na young!" Ceroscos Dae hyun.
"Aniyo!!"
Karena Hyu ra terus membantah, Dae hyun mengeluarkan buku diary Hyu ra yang tidak sengaja ia ambil. Melihat buku itu dibawa oleh Dae hyun, mata Hyu ra mulai berlinang air mata. Ia mengambil bukunya dan mendorong tubuh Dae hyun menjauh.
"Kau!! Kenapa kau lakukan ini hah??" Teriak Hyu ra.
"Kau tidak bisa menyangkal lagi Hyu ra." Dae hyun mendekati Hyu ra yang menunduk sambil terisak. "Aku juga menyukaimu."
"Jangan kasihani aku! Kau mengatakannya karena kau kasihan denganku! Ia kan?" Hyu ra menghapus air matanya. "Jangan katakan itu jika kau hanya kasihan! Kau jahat! Kau.. Kau jahat Dae hyun! Kenapa kau membaca buku ini!" Hyu ra mendorong Dae hyun sekali lagi. "AKU MEMBENCIMU!" yeoja itu segera pergi ke parkiran.
Secepat mungkin Dae hyun menyusul Hyu ra. Ya. Dae hyun tau kalau tindakannya itu kurang ajar, tetapi semua yang ia lakukan ketidak sengajaan.
"Hyu ra!" Dae hyun menahan Hyu ra.
"Lepaskan aku!"
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja mengambil buku diarymu."
Hyu ra hanya terdiam. Ia masih berusaha membelokkan sepedanya.
"Hyu ra, dengarkan aku! Aku menyukaimu sudah sejak dulu. Kau mungkin tidak tau itu. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Bukan karena aku membaca buku diarymu! Kau ingat, ketika aku ingin mengatakan sesuatu di pantai? Aku ingin memgungkapkan perasaanku, tetapi kau segera mengajakku balapan lari. Aku tidak sempat mengatakannya. Sampai detik ini aku masih menyukaimu!"
"Ya!!! Lalu kenapa kau mendekati Na young? Kau mau menyakitinya hah?"
"Aniyo! Aku bingung. Aku sama seperti perasaanmu. Dan aku sadar kalau aku tidak mencintai Na young. Itu hanya sekedar obsesi saja. Dan sekarang kita sudah menjadi teman."
Hyu ra tidak menghiraukan perkataan Dae hyun ia segera mengayuh sepedanya. Air matanya terus menetes. Ia tidak mengerti kenapa ia harus menangis. Mungkin karena kelancangan Dae hyun. Ahh. Entahlah, saat ini Hyu ra hanya ingin cepat sampai di rumah.
Sudah hampir seminggu Dae hyun dan Hyu ra marahan. Mereka tidak bicara sama sekali. Hingga hari ini yaitu tanggal 31 Desember, Dae hyun menghampiri Hyu ra ketika pulang sekolah.
Sebisanya Dae hyun mencoba meminta maaf kepada Hyu ra, tetapi Hyu ra tidak menanggapinya. Ia hanya duduk di halte sambil menunggu bus datang.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?" Tanya Dae hyun. Tetapi tidak ada jawaban apapun dari mulut Hyu ra.
"Jawab aku Hyu ra! Apa yang harus aku lakukan?"
"Entahlah." Ujar Hyu ra sombong.
Dae hyun berfikir sejenak. Sebelum ia memutuskan untuk berbicara.
"Aku menunggumu nanti malam di taman. Jika kau tidak datang, itu artinya aku siap melupakanmu. Untuk selamanya. Agar kau tidak merasa terganggu. Selamat sore." Dae hyun segera pergi mengayuh sepedanya.
____________________
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Hyu ra terlihat sangat rapi dengan polesan make up yang natural dan rambutnya di gerai begitu indah. Ia masih berdiri di depan cermin.
Untuk apa aku berdandan? Apakah aku harus kesana? Kalau aku berdandan, dia akan meledekku. Ahh seperti biasa lebih baik. Tapi, tunggu dulu, kenapa aku setegang ini? Ini bukan acara kencan ataupun candle light dinner!
Beberapa menit kemudian Hyu ra sampai di taman. Perlahan Hyu ra mendekati Dae hyun yang tengah duduk di bangku panjang sendirian.
Mendengar langkah kaki mendekat, Dae hyun menoleh ke belakang dan... Ia merasa sangat sangat senang. Dae hyun bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Hyu ra untuk duduk bersama di bangku.
Mereka duduk sambil memandangi namsan tower dari kejauhan. Lampu-lampu gedung pencakar langit terlihat sangat indah. Dan Dae hyun memulai percakapannya dengan Hyu ra.
"Ini artinya kau memaafkanku?"
"Menurutmu?"
"Gomawo." Dae hyun menatap Hyu ra yang terlihat sangat gugup. "Apa yang kau rasakan?" Tanya Dae hyun.
"Aku tidak merasakan apapun." Hyu ra masih bersikap cuek. Tapi Dae hyun tau gadis itu sedang gugup. Dae hyun duduk lebih dekat dengan Hyu ra.
"Aku punya sesuatu untukmu."
Tiba-tiba saja Ponsel Hyu ra bergetar. Ada 2 pesan masuk di kakao talk.
Pesan yang pertama adalah foto Dae hyun memegang bunga dan pesan yang ke dua adalah foto Dae hyun memegang kertas bertuliskan "I love Hyu ra. Answer please?".
Hyu ra menoleh ke arah Dae hyun. Ia menatap wajah Dae hyun yang sangat lugu. Dengan sedikit terkikik, Hyu ra mulai mengetik sesuatu di ponselnya.
Lalu ponsel Dae hyun bergetar. Ada pesan. Masuk di kakao talk. "Hyu ra: Nado saranghaeyo Paboya!"
Kemudian ponsel Hyu ra bergetar lagi. "Dae hyun: POPPO :-* "
Mata Hyu ra membelalak. Dan ia menatap ke arah Dae hyun yang tersenyum riang gembira.
"Chagiya, poppo?"
"Aish! Dasar bodoh! Aku tidak mau menciummu!"
"Em baiklah. Tapi kau tau?"
"Aniya."
"Perasaanku saat ini seperti itu." Dae hyun menunjuk ke langit di malam tahun baru.
Cahaya kembang api terlihat sangat indah di langit segelap itu. Membuat Hyu ra terkagum-kagum. Tanpa ia sangka, Dae hyun menggenggam tangannya dengan lembut. Hyu ra hanya tersenyum lalu ia merebahkan kepalanya di pundak Dae hyun.
"Kita akan selalu bersama kan Dae hyun?"
"Gerom. Kita akan selalu bersama. Selamanya."
Tiba-tiba Hyu ra mengecup pipi Dae hyun lalu ia menutup wajahnya malu.
"Oh?" Dae hyun masih membelalak kaget. Tapi ia tersenyum senang sambil memegangi pipinya.