Kamis, 07 November 2013

Terror of Psycopath part II end | cerpen |

Author : Asri Wijayanti
Genre : Horror

Sebelumnya

"Kenapa harus aku dan Haruka??" Keiko menunduk. Ia seakan tengah berbicara dengan dirinya sendiri.

"Lihat-lihat ke laptop!" Yosada mengangkat wajah Keiko. "Titipkan salamku kepada mereka."

Sebuah video pembunuhan Mizaki sensei membuat Keiko menjerit.

"Tidaakkk!!!! Aku tidak mau melihatnya! Tidak!!"

Part II

Keiko mencoba menutup matanya tetapi Yosada memaksanya untuk melihat video pembunuhan Mizaki sensei.

"Mi. Mizaki sensei? Kau?"

Yosada sensei benar-benar sudah gila. Tega-teganya dia membunuh dan menyiksa Mizaki sensei. Ia mengikat Mizaki sensei di sebuah bangku tepat di ruang bawah tanah asrama. Tanpa segan-segan Yosada menampar Mizaki jika ia berani menjerit. Mizaki terlihat mencoba melawan dan Yosada semakin murka.

Sebuah pisau tajam Yosada tunjukkan ke arah kamera. Ia segera berbalik dan mendekatkan pisau itu ke wajah Mizaki.

Suara jam dinding berbunyi. Yosada terlihat semakin menyeramkan. Jam dinding terus berbunyi terdengar sangat menyeramkan dan mencekam.

"Oh.  Tidak! Aku melukai wajahnya." ujar Yosada sambil menatap Keiko.

Yosada menggoreskan pisau itu di pipi Mizaki. Air mata Mizaki menetes dan ia merintih kesakitan. Ia menggoreskannya tak hanya sekali tapi berkali-kali.

Keiko tidak bisa mendengar kata-kata yang di ucapkan Mizaki. Nafas Keiko naik turun dan ia hanya bisa menangis ketika rambutnya ditarik agar wajahnya tidak menunduk.

"Hentikan. Aku mohon hentikan!!!" Teriak Keiko.

Pisau tajam itu perlahan-lahan membus perut Mizaki. Mizaki tidak bisa bernafas. Karena Yosada menutup hidung dan mulutnya dengan tangan kirinya. Darah segar mengucur.keluar dari perutnya yang sudah robek. Nyawa Mizaki telah melayang. Tangan Yosada terlihat penuh darah.

"Lihat! Aku sudah membunuhnya. Haha. Tapi.. " Yosada menundukkan wajahnya. "Aku takut Keiko."

Keiko melihat Yosada menunduk ketakutan. Yosada yang ramah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Keadaan itu membuat Keiko kepanikan. Wajahnya basah oleh keringat dan matanya sembab karena menangis.

Suara ponsel terdengar seperti denting jam dinding. Ternyata ponsel Mizaki sensei yang berdering. Ia kembali melihat ke arah laptop dan tepat saat itu. Yosada tengah mencari-cari ponsel Mizaki di dalam tasnya. Dan tiba-tiba ia menoleh ke belakang. Ya. Tepat saat itu Haruka membuka pintu yang ternyata lupa Yosada kunci.

Semula yang terlihat hanyalah kaki Haruka. Kemudian Yosada sensei menarik sebuah tongkat baseball yang berada tak jauh dari sana. Tanpa belas kasihan, ia memukul kepala Haruka sampai pecah. Yosada terlihat membabi buta hingga akhirnya ia rasa Haruka telah mati, ia pun menghentikannya. Tiba - tiba Keiko menjerit.

"HARUKA!!!!" Keiko meloncat ke arah meja dan menutup laptop itu. Keiko seperti orang kesurupan. Ia menjerit jerit sambil memegangi kepalanya.  Ia menemukan sebuah pisau. Keiko menggambilnya dan menodongkannya ke arah Yosada.

"Jangan mendekat!!"

"Hhaha. Kau pikir kau bisa mengancam ku? " Yosada semakin mendekati Keiko.

Keiko berlari ke arah pintu. Ia mencoba membukanya tapi pintu ternyata di kunci.

"Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya." ujar Yosada. Senyumnya sangat menyeramkan. Ia benar-benar sudah sakit jiwa.

Keiko menggedor pintu sambil berteriak meminta tolong. Ia berharap kakaknya akan mendengar teriakannya jika mereka masuk ke dalam sekolah.

"Jangan mendekat!! Aku bilang jangan mendekat!" Keiko menodongkan pisau ke arah Yosada. Ia masih memakai baju rumah sakit. Dan rambut panjangnya tak beraturan.

"Keiko!!" Panggil seseorang dari luar.

"Diam!! Kau mau mereka aku bunuh juga hah??" Yosada mendelik Keiko untuk tidak menjawab panggilan Mei dari luar.

"Kakak! Yuto tolong aku." Keiko menangis. Ia tidak mau menuruti kata-kata Yosada. Bahkan ia menggedor pintu sekuat yang ia bisa.

Tiba-tiba ketika Keiko lengah tanpa ia sangka Yosada mengambil pisaunya dan menahan tangannya dengan sangat kuat. Matanya mengerikan dan dia sangat menyeramkan.

"Aku. Mohon! Jangan bunuh aku sensei." Keiko menangis. Poninya ditarik ke atas oleh Yosada sehingga Keiko mendongak menatap Yosada yang kini berdiri di belakangnya.

                 ***

"Disana!"

Mei mendengar bunyi seseorang menggedor pintu. Ia yakin teriakan minta tolong tadi adalah suara Keiko.

Mereka cepat-cepat menuju gudang. Mei mendengarkannya. Itu memang suara Keiko.

"Keiko!!" panggil Mei.

"Kakak. Yuto tolong aku." Suara tangisan Keiko membuat Mei sedih. Ia tidak ingin adiknya terluka.

Tak berselang waktu lama, Mei mendengar suara pekikan. Ia kepanikan dan mencoba mendobrak pintu gudang.

"Keiko!! Apa yang harus kakak lakukan?"

Tidak ada tanggapan dari dalam. Mei sensei menggedor pintu, bibirnya bergetar. Ia terlihat sangat panik dan tak henti-hentinya ia menggedor pintu.

"Keiko! Bertahanlah! Keiko!!" Mei menangis sambil masih mencoba menubrukkan badannya ke pintu.

Yuto berlari dan meninggalkan Mei. Semua yang dia lihat tadi ternyata bukanlah halusinasi. Seseorang yang melambaikan tangan tadi memang benar-benar Keiko.

Sekuat tenaga Yuto berlari. Ia harap belum terlambat. Tidak ada yang boleh menjadi korban teror lagi. Ia harus menyelamatkan Keiko. Karena dia adalah seseorang yang sangat Yuto sayangi. Walaupun mungkin Keiko tidak menyadarinya.

Sesampainya di sana ternyata jendela sudah di tutup rapat.

Apa yang harus aku lakukan??

Tangan Yuto berusaha mencari sesuatu yang bisa menghancurkan kaca jendela. Di sana sangat gelap. Yuto bahkan tidak bisa melihat batu atau bata atau apapun itu.

"Jangan! Aku tidak mau mati." terdengar suara tangis Keiko. Yuto tidak bisa lama-lama lagi. Ia berdiri di depan jendela.

Ini tidak akan sakit Yuto!!

Dalam hitungan tiga Yuto melepaskan pukulan ke arah kaca jendela berkali-kali hingga kaca jendela hancur berkeping - keping. Darah di tangan Yuto menetes begitu banyak. Yah. Itu pasti sangat perih.

Tanpa basa basi lagi Yuto segera masuk ke dalam. Tiba-tiba lampu senter yang semula hidup di atas meja mati. Ruangan jadi gelap gulita. Yuto tidak bisa melihat apapun.

Ia menggambil ponsel di saku jaketnya. Dan berusaha mencari Keiko.

"Keiko!!" Teriak Yuto.

"Ahhh!!" Tubuh Yuto terjatuh di lantai. Ia merasa seseorang sudah menggoreskan benda tajam pada kakinya. "Awhh." Yuto mengarahkan ponselnya ke arah samping. Tidak ia lihat siapapun juga. Yuto mencoba bangun walaupun tangan dan kakinya terasa perih. Ia berjalan berusaha tanpa suara. Agar pembunuh itu tidak mengetahuinya.

Aku harus hati-hati. Dia pasti bersembunyi. Baiklah.. Kita mulai permainan ini.

Dengan sedikit pincang Yuto berjalan mendekati meja tempat laptop. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu jatuh dari arah belakang rak buku. Yuto melangkahkan kakinya. Entah kenapa hentakan kaki ia buat sedemikian kerasnya.
                      

                  ***

Yosada menyeret Keiko untuk bersembunyi di belakang rak buku. Karena seseorang terdengar telah memecahkan kaca jendela.

Yuto. Itu pasti kau. Tolong aku...

Terdengar berkali-kali suara Yuto memukul kaca jendela. Keiko menangis tanpa suara. Karena Yosada menutup mulutnya. Ia benci dengan Yosada. Karena teror ini, banyak darah yang menetes.

Seluruh ruangan menjadi gelap. Dada Keiko bedegub semakin kencang. Ia takut gelap. Ia tidak suka dengan gelap. Tiba-tiba ia mendegar Yuto merintih kesakitan. Dan terdengar suara tubuhnya terjatuh.

"Awhh."

Yuto.. Kau harus kuat.. Kau harus tolong aku..

Yosada mendorong tubuh Keiko. Ia mengikat seluruh tubuh Keiko dan menyumpal mulutnya. Kemudian laki-laki sakit jiwa itu memasukkannya ke dalam sebuah lemari.

Keiko mencoba melawan. Bisa-bisa ia akan mati jika terus di kurung di dalam sana dengan kondisi gelap. Tapi apa daya, sekarang Keiko sudah berada di dalam lemari bersama debu-debu di dalam sana.

Ketika Yosada pikir Yuto sudah pergi, ia berjalan ke arah meja tempat laptop. Kemudian sesuatu mencengkram kakinya dengan keras.

"Binggo!!" Yuto mencengkram erat pergelangan kaki Yosada. Ia bersembunyi di bawah meja.

"Heh!! Lepaskan kakiku. Beraninya kau!" Yosada menendang tubuh Yuto hingga terlempar ke dinding.

Yuto memegangi punggungnya. Ia menatap pembunuh itu dan matanya membelalak kaget. Ia mengucek-ucek matanya dan tetap saja seseorang yang kini berdiri di hadapannya masih sama. Yosada sensei.

"Yosada sensei?" Yuto berdiri dan mendekati Yosada yang masih memegang pisau. "Kenapa kau lakukan ini?"

"Sebenarnya ini bukan urusanmu. Tetapi sepertinya kau ingin mati juga seperti mereka." Yosada membersihkan darah di pisau dengan tangannya.

"Mereka?" Yuto melirik ke segala arah. "Dimana Keiko? Kenapa kau menyakitinya?"

"Kau diam saja." Ujar Yosada santai.

"Bagimana aku bisa diam? Ada apa denganmu sensei? Kenapa kau seperti ini?" Teriak Yuto.

"Hey!! Beraninya kau membentak ku!" Yosada menodongkan pisaunya ke arah Yuto.

Perlahan Yuto menggerakkan kakinya agar terhindar dari pisau yang dipegang Yosada. Ia fokus menatap pisau itu dan kemudian ia menghempaskan tangan Yosada. Pisau terlempar jauh dan mata Yosada membelalak geram.

Gerakkannya sangat cepat. Yosada memukul perut Yuto sampai-sampai Yuto terhuyung-huyung. Yosada melipat lengan bajunya dan ia berdiri di depan Yuto yang tengah bersandar di dinding.

"Kau mau mati dengan cara apa hah?"

"Sensei. Uhhuk uhhuk." Yuto batuk-batuk akibat pukulan dari Yosada tadi.

"Ohh pahlawan kesiangan yang malang. Uuh?" Yosada memegang dagu Yuto. Tapi Yuto menghempaskan tangan Yosada.

"Jangan biarkan aku memukulmu sensei. Kau adalah sensei yang sangat aku hormati."
"Haha. Oh. Kau kesini untuk mencari pacarmu hah? Wah wah rela mati demi cinta. Bodoh sekali!! Kau tau? Keiko mungkin sekarang sudahh. Maaaa tiii!!"

Tiba-tiba mata Yuto berlinang air mata. Tangannya bergetar hebat dan ia tidak sadar telah menarik kerah baju Yosada dan memukul Yosada dengan tangannya yang berdarah akibat memukul kaca jendela. Tidak ada rasa sakit sedikitpun. Ia memukul Yosada tanpa henti. Yuto sepertinya sangat marah ketika mendengar pengakuan Yosada.

"Beritau aku sensei!! Dimana kau sembunyikan Keiko??" Yuto menyenderkan Yosada di dinding.

Yosada menghapus darah di bibirnya. Kemudian tanpa Yuto sangka Yosada tak kehilangan tenaga setelah ia pukul. Bahkan ia semakin kejam. Yosada mendorong Yuto ke pintu hingga pintu berbunyi sangat keras. Terdengar pekikan dari luar dan di dalam lemari. Yosada memukul Yuto tanpa henti.

Samar-samar Yuto melihat lemari bergoyang. "Ke..iii.. Keiko.. Uhukk." Yosada masih memukulinya.

                  ***

Ketika Mei masih mencoba membuka pintu. Ia mendengar suara hentakan keras dari dalam. Mei menjerit dan ia berusaha membukanya.

"Pasti ada jalan lain."

Mei berlari keluar. Hingga ia melewati sebuah kaca jendela.yang pecah. Percikan darah mengotori kaca yang telah pecah itu. Mei berhenti. Ia menyibak sedikit gorden. Matanya membelalak kaget. Lalu ia menutupnya kembali. Mei menutup mulutnya.

                    ***

"Sen..sei! Hentikan!"

Yosada melepaskan kerah baju Yuto. Dan tubuh Yuto terjatuh lemas. Wajahnya penuh luka disana sini. Tiba-tiba Yuto mencengkram kaki Yosada.

"Cukup aku saja! Jangan uhhuk uhhuk. Jangan ada korban lagi.." tanpa Yuto sadari ia menangis.

Luka di wajahnya sangat parah. Dan darah di tangan Yuto keluar semakin banyak. Wajahnya sangat pucat dan tatapannya sangat sayup.

Yosada berjalan menuju lemari tak jauh dari rak buku. Ia membuka kuncinya dan terlihat tubuh lemas Keiko. Matanya sayup. Wajahnya basah penuh  air mata dan tubuhnya terikat tali.

Perlahan Yuto menatap ke arah Keiko. Air matanya menetes sedikit demi sedikit. Dan tubuhnya bergetar. Ketika Yuto memanggil Keiko terlihat gigi Yuto yang penuh darah.

"Hmm siapa yang harus ku habiskan terlebih dulu?" Yosada berjalan ke arah Yuto. Keiko yang melihat Yosada mendekati Yuto ingin mencegahnya tetapi ia tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya terikat tali.

"Sepertinya aku harus membunuh pahlawan kesiangan dulu." Yosada mengambil pisaunya dan memdekati Yuto.

Keiko menggeleng ketakutan. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Tubuhnya terlalu lemah untuk memberontak.

"Kau mau menyampaikan kata-kata terakhir?" Yosada jongkok di hadapan Yuto yang tak bertenaga. Yosada menepuk-nepuk pipi Yuto.

"Ak..u ha..nya ing..in tau alasan..mu me..la..ku..kan se..mua ini sen...sei."

"Oh itu. Aku.. Intinya. Aku benci dengan manusia yang senang merendahkan orang lain. Kau.mengerti?"

"Ap..a mak..sud mu? Lalu ad..akah hub..ungan..nya de..ngan kau mem..bunuh Har..ruka?"

"Karena dia melihatku membunuh Mizaki. Hhh malangnya dia, bukan begitu huh?" Yosada mendekatkan pisau ke baju Yuto.

Tanpa Yosada ketahui Yuto telah merekam perkataannya. Dan itu akan menjadi bukti pendukung kejahatan Yosada.

Perlahan pisau merobek baju Yuto tapi tapi Yuto memberanikan diri menendang tubuh Yosada sekeras mungkin hingga ia jatuh di tumbukan barang-barang yang tidak berguna lagi.

"Ahh. Rupanya kau masih kuat. Baiklah. Kita akhiri sekarang juga." Yosada perlahan mendekati Yuto ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ya. Sebuah pistol.

Mata Yuto membelalak. Ia berusaha bangkit tetapi ia tidak terlalu kuat untuk bangkit.

"Matilah kau!!'

"Yaaat"

BUG!!

Untung saja Mei datang dan memukul punggung Yosada. Sekarang ia tak sadarkan diri. Yosada telungkup di lantai.

Mei menutup mulutnya tidak percaya. Ia meneteskan air mata ketika melihat pelaku pembunuhan itu adalah Yosada. Seseorang yang sangat ia kagumi. Yosada pernah menjadi seseorang yang menghiasi hari-harinya. Dialah orang pertama yang menerima Mei sebagai guru baru di sekolah tersebut. Mei jongkok sambil menangis di hadapan Yuto.

"Kei..ko." Yuto menunjuk ke arah lemari yang terbuka.

Tanpa basa-basi lagi Mei menolong adiknya yang sudah lemas. Ia mencoba menyuruh Keiko berjalan tetapi sepertinya dia terlalu lemas.

"Kau tidak apa-apa kan Keiko?" Mei melihat darah di tangan Keiko akibat terkena goresan pecahan gelas dan luka gores di telapak kakinya.

"Biar kakak gendong kita harus cepat pergi."

"Tidak usah. Aku bisa sendiri." Keiko berjalan terhuyun huyun hingga ia terjatuh.

Sekuat tenaga Mei mencoba menggendong Keiko. Tetapi tubuh Keiko lebih besar darinya. Mei tidak kuat menggendong Keiko.

"Biar aku saja." Yuto jongkok di hadapan mereka berdua. Wajahnya benar-benar sudah habis terluka. Dan deret giginya tak terlihat karena tertutup darah.

Ia segera menggendong Keiko dan Mei mengambil kunci gudang dari saku celana Yosada. Sebelum pergi Mei mengikat kaki Yosada dan tangannya agar dia tidak melarikan diri.

Perlahan-lahan Yuto melangkahkan kakinya. Melihat wajah Yuto yang sangat pucat membuat Mei kuwatir. Karena banyak darah yang menetes dari tangan Yuto. Bahkan bajunya telah sobek. Ia hampir mati gara-gara menyelamatkan Keiko.

"Sensei.. Kalau aku pergi. Aku ingin kau berjanji."

"Apa maksudmu?"

Sebelum sempat Yuto menjawab. Mereka telah tiba di halaman sekolah. Beberapa mobil polisi datang membuat mata mereka silau.

Yuto menurunkan Keiko. Ia merasa tidak ada tenaga lagi. Semua terlihat samar-samar. Dan matanya mulai berkunang-kunang.

"Yuto.. Kau baik-baik saja?" Ujar Mei.

Keiko yang kini berada di pangkuan Mei menggenggam erat tangan Yuto yang kini tengah bersimpuh.

"Sen..sei.. Jagalah di..rimu dan Kei..ko baik-ba..ik. Uhhuk uhuuk." Darah segar keluar dari mulut Yuto. Ia mencoba membuka matanya tetapi dadanya terasa sakit. Dan seluruh tubuhnya terasa lemas.

"Beri..kan in..i kepa..da polisi sen..sei." Yuto memberikan rekaman suara perbincangannya dengan Yosada.

Tangan Yuto terjatuh lemas dan ia pun tak sadarkan diri. Tubuhnya terlentang di halaman sekolah. Keiko dan Mei menangis tersedu-sedu. Mereka meminta pertolongan untuk membawa Yuto ke rumah sakit sesegera mungkin.

                ***

Kini Yosada sudah ditangkap. Begitu juga kematian Mizaki dan Haruka telah terungkap.

Tiba-tiba Mei mendengar isak tangis di ruang UGD. Dengan sedikit berlari ia memasuki ruang UGD. Orang tua Yuto dan keluarganya memangis. Mei melihat ke arah dokter dan dokter hanya menggeleng.

"Apa? Tidak bisakah kau berusaha lagi. Dia siswa yang kuat!"

"dia kehilangan bayak darah. Kami sudah melakukan yang terbaik. Maafkan kami."

"Yuto.." Mei menangis sambil memeluk ibu Yuto yang terlihat sangat kehilangan.

Sambil memikirkan semua hal yang telah terjadi, Mei kini berjalan di koridor rumah sakit. Wajahnya masih kusut dan kecewa. Tiba-tiba lamunannya buyar akibat teriakan Keiko yang berlari menabraknya.

"Keiko!" Cegah Mei.

"Aku mau menemui Yuto kak. Aku harus menemuinya." Mei tidak bisa menahan Keiko. Ia hanya bisa mengejar Keiko yang kini berada di ruang UGD.

Gadis itu terisak. Air matanya jatuh tak henti-hentinya. Ia mendekati Yuto yang tak bernyawa lagi. Wajah Yuto penuh luka. Dan tanpa segan Keiko menangis di dada Yuto. Ia merasa berhutang nyawa dengan Yuto. Bagaimana pun Yuto adalah orang yang telah menyelamatkannya.

"Kenapa kau meninggalkanku? Bukankah dulu kau bilang akan melindungiku selamanya hah? Kau pembohong ihhik ihhik." Keiko menangis tersedu-sedu.

                          ***

Kini Mei tengah bergegas ke kantor polisi karena rekaman suara yang diberikan Yuto belum sempat ia berikan kepada polisi. Setibanya disana, ia melihat Yosada tengah di borgol dan di introgasi.

"Maaf. Ini bukti lainnya pak." Mei memberikan rekaman suara itu. Sebelum ia pergi, Mei menatap mata Yosada.

"Kenapa kau lakukan semua ini.Yosada?"

Yosada hanya terdiam. Ia hanya membalas menatap tatapan Mei.

"Kenapa kau membunuh orang-orang yang tak bersalah seperti mereka? Apa kau sudah gila. Apa mungkin kau juga akan membunuhku jika kasus ini belum terungkap?" Mata Mei berkaca-kaca. Ia berusaha tegar dan bergegas pergi. Tetapi kata-kata Yosada membuatnya menghentikan langkahnya.

"Aku tidak akan melakukannya kepadamu. Mizaki.." Yosada menunduk. "Mizaki telah mempermalukanku di hadapanmu waktu makan malam bersama rekan-rekan. Aku sakit hati kepadanya."

"Apa?" air mata Mei mulai menetes. "Dasar." Mei segera pergi meninggalkan Yosada.

Yosada malu ketika Mizaki mengejeknya di hadapanku saat makan berasama dengan rekan-rekan guru? Tapi.. Apakah dia harus bertindak seceroboh dan sebodoh itu? Dia memang sudah sakit jiwa!!

                  ***

Keiko masih dirawat di rumah sakit. Ibu Yuto memberikan Keiko sebuah buku skets. Di atas ranjang Keiko membuka-buka buku skets milik Yuto. Di dalamnya banyak gambar wajah Keiko.

Keiko.. Ketika malam tiba aku sangat senang. Karena itu artinya besok kita akan bertemu.

Jika seseorang bertanya siapa yang ku pikirkan saat aku membuka mata. Jawabannya adalah Keiko

Ketika salju turun.. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu Keiko Sato

Terror of Psycopath part II end | cerpen |

Author : Asri Wijayanti
Genre : Horror

Sebelumnya

"Kenapa harus aku dan Haruka??" Keiko menunduk. Ia seakan tengah berbicara dengan dirinya sendiri.

"Lihat-lihat ke laptop!" Yosada mengangkat wajah Keiko. "Titipkan salamku kepada mereka."

Sebuah video pembunuhan Mizaki sensei membuat Keiko menjerit.

"Tidaakkk!!!! Aku tidak mau melihatnya! Tidak!!"

Part II

Keiko mencoba menutup matanya tetapi Yosada memaksanya untuk melihat video pembunuhan Mizaki sensei.

"Mi. Mizaki sensei? Kau?"

Yosada sensei benar-benar sudah gila. Tega-teganya dia membunuh dan menyiksa Mizaki sensei. Ia mengikat Mizaki sensei di sebuah bangku tepat di ruang bawah tanah asrama. Tanpa segan-segan Yosada menampar Mizaki jika ia berani menjerit. Mizaki terlihat mencoba melawan dan Yosada semakin murka.

Sebuah pisau tajam Yosada tunjukkan ke arah kamera. Ia segera berbalik dan mendekatkan pisau itu ke wajah Mizaki.

Suara jam dinding berbunyi. Yosada terlihat semakin menyeramkan. Jam dinding terus berbunyi terdengar sangat menyeramkan dan mencekam.

"Oh.  Tidak! Aku melukai wajahnya." ujar Yosada sambil menatap Keiko.

Yosada menggoreskan pisau itu di pipi Mizaki. Air mata Mizaki menetes dan ia merintih kesakitan. Ia menggoreskannya tak hanya sekali tapi berkali-kali.

Keiko tidak bisa mendengar kata-kata yang di ucapkan Mizaki. Nafas Keiko naik turun dan ia hanya bisa menangis ketika rambutnya ditarik agar wajahnya tidak menunduk.

"Hentikan. Aku mohon hentikan!!!" Teriak Keiko.

Pisau tajam itu perlahan-lahan membus perut Mizaki. Mizaki tidak bisa bernafas. Karena Yosada menutup hidung dan mulutnya dengan tangan kirinya. Darah segar mengucur.keluar dari perutnya yang sudah robek. Nyawa Mizaki telah melayang. Tangan Yosada terlihat penuh darah.

"Lihat! Aku sudah membunuhnya. Haha. Tapi.. " Yosada menundukkan wajahnya. "Aku takut Keiko."

Keiko melihat Yosada menunduk ketakutan. Yosada yang ramah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Keadaan itu membuat Keiko kepanikan. Wajahnya basah oleh keringat dan matanya sembab karena menangis.

Suara ponsel terdengar seperti denting jam dinding. Ternyata ponsel Mizaki sensei yang berdering. Ia kembali melihat ke arah laptop dan tepat saat itu. Yosada tengah mencari-cari ponsel Mizaki di dalam tasnya. Dan tiba-tiba ia menoleh ke belakang. Ya. Tepat saat itu Haruka membuka pintu yang ternyata lupa Yosada kunci.

Semula yang terlihat hanyalah kaki Haruka. Kemudian Yosada sensei menarik sebuah tongkat baseball yang berada tak jauh dari sana. Tanpa belas kasihan, ia memukul kepala Haruka sampai pecah. Yosada terlihat membabi buta hingga akhirnya ia rasa Haruka telah mati, ia pun menghentikannya. Tiba - tiba Keiko menjerit.

"HARUKA!!!!" Keiko meloncat ke arah meja dan menutup laptop itu. Keiko seperti orang kesurupan. Ia menjerit jerit sambil memegangi kepalanya.  Ia menemukan sebuah pisau. Keiko menggambilnya dan menodongkannya ke arah Yosada.

"Jangan mendekat!!"

"Hhaha. Kau pikir kau bisa mengancam ku? " Yosada semakin mendekati Keiko.

Keiko berlari ke arah pintu. Ia mencoba membukanya tapi pintu ternyata di kunci.

"Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya." ujar Yosada. Senyumnya sangat menyeramkan. Ia benar-benar sudah sakit jiwa.

Keiko menggedor pintu sambil berteriak meminta tolong. Ia berharap kakaknya akan mendengar teriakannya jika mereka masuk ke dalam sekolah.

"Jangan mendekat!! Aku bilang jangan mendekat!" Keiko menodongkan pisau ke arah Yosada. Ia masih memakai baju rumah sakit. Dan rambut panjangnya tak beraturan.

"Keiko!!" Panggil seseorang dari luar.

"Diam!! Kau mau mereka aku bunuh juga hah??" Yosada mendelik Keiko untuk tidak menjawab panggilan Mei dari luar.

"Kakak! Yuto tolong aku." Keiko menangis. Ia tidak mau menuruti kata-kata Yosada. Bahkan ia menggedor pintu sekuat yang ia bisa.

Tiba-tiba ketika Keiko lengah tanpa ia sangka Yosada mengambil pisaunya dan menahan tangannya dengan sangat kuat. Matanya mengerikan dan dia sangat menyeramkan.

"Aku. Mohon! Jangan bunuh aku sensei." Keiko menangis. Poninya ditarik ke atas oleh Yosada sehingga Keiko mendongak menatap Yosada yang kini berdiri di belakangnya.

                 ***

"Disana!"

Mei mendengar bunyi seseorang menggedor pintu. Ia yakin teriakan minta tolong tadi adalah suara Keiko.

Mereka cepat-cepat menuju gudang. Mei mendengarkannya. Itu memang suara Keiko.

"Keiko!!" panggil Mei.

"Kakak. Yuto tolong aku." Suara tangisan Keiko membuat Mei sedih. Ia tidak ingin adiknya terluka.

Tak berselang waktu lama, Mei mendengar suara pekikan. Ia kepanikan dan mencoba mendobrak pintu gudang.

"Keiko!! Apa yang harus kakak lakukan?"

Tidak ada tanggapan dari dalam. Mei sensei menggedor pintu, bibirnya bergetar. Ia terlihat sangat panik dan tak henti-hentinya ia menggedor pintu.

"Keiko! Bertahanlah! Keiko!!" Mei menangis sambil masih mencoba menubrukkan badannya ke pintu.

Yuto berlari dan meninggalkan Mei. Semua yang dia lihat tadi ternyata bukanlah halusinasi. Seseorang yang melambaikan tangan tadi memang benar-benar Keiko.

Sekuat tenaga Yuto berlari. Ia harap belum terlambat. Tidak ada yang boleh menjadi korban teror lagi. Ia harus menyelamatkan Keiko. Karena dia adalah seseorang yang sangat Yuto sayangi. Walaupun mungkin Keiko tidak menyadarinya.

Sesampainya di sana ternyata jendela sudah di tutup rapat.

Apa yang harus aku lakukan??

Tangan Yuto berusaha mencari sesuatu yang bisa menghancurkan kaca jendela. Di sana sangat gelap. Yuto bahkan tidak bisa melihat batu atau bata atau apapun itu.

"Jangan! Aku tidak mau mati." terdengar suara tangis Keiko. Yuto tidak bisa lama-lama lagi. Ia berdiri di depan jendela.

Ini tidak akan sakit Yuto!!

Dalam hitungan tiga Yuto melepaskan pukulan ke arah kaca jendela berkali-kali hingga kaca jendela hancur berkeping - keping. Darah di tangan Yuto menetes begitu banyak. Yah. Itu pasti sangat perih.

Tanpa basa basi lagi Yuto segera masuk ke dalam. Tiba-tiba lampu senter yang semula hidup di atas meja mati. Ruangan jadi gelap gulita. Yuto tidak bisa melihat apapun.

Ia menggambil ponsel di saku jaketnya. Dan berusaha mencari Keiko.

"Keiko!!" Teriak Yuto.

"Ahhh!!" Tubuh Yuto terjatuh di lantai. Ia merasa seseorang sudah menggoreskan benda tajam pada kakinya. "Awhh." Yuto mengarahkan ponselnya ke arah samping. Tidak ia lihat siapapun juga. Yuto mencoba bangun walaupun tangan dan kakinya terasa perih. Ia berjalan berusaha tanpa suara. Agar pembunuh itu tidak mengetahuinya.

Aku harus hati-hati. Dia pasti bersembunyi. Baiklah.. Kita mulai permainan ini.

Dengan sedikit pincang Yuto berjalan mendekati meja tempat laptop. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu jatuh dari arah belakang rak buku. Yuto melangkahkan kakinya. Entah kenapa hentakan kaki ia buat sedemikian kerasnya.
                      

                  ***

Yosada menyeret Keiko untuk bersembunyi di belakang rak buku. Karena seseorang terdengar telah memecahkan kaca jendela.

Yuto. Itu pasti kau. Tolong aku...

Terdengar berkali-kali suara Yuto memukul kaca jendela. Keiko menangis tanpa suara. Karena Yosada menutup mulutnya. Ia benci dengan Yosada. Karena teror ini, banyak darah yang menetes.

Seluruh ruangan menjadi gelap. Dada Keiko bedegub semakin kencang. Ia takut gelap. Ia tidak suka dengan gelap. Tiba-tiba ia mendegar Yuto merintih kesakitan. Dan terdengar suara tubuhnya terjatuh.

"Awhh."

Yuto.. Kau harus kuat.. Kau harus tolong aku..

Yosada mendorong tubuh Keiko. Ia mengikat seluruh tubuh Keiko dan menyumpal mulutnya. Kemudian laki-laki sakit jiwa itu memasukkannya ke dalam sebuah lemari.

Keiko mencoba melawan. Bisa-bisa ia akan mati jika terus di kurung di dalam sana dengan kondisi gelap. Tapi apa daya, sekarang Keiko sudah berada di dalam lemari bersama debu-debu di dalam sana.

Ketika Yosada pikir Yuto sudah pergi, ia berjalan ke arah meja tempat laptop. Kemudian sesuatu mencengkram kakinya dengan keras.

"Binggo!!" Yuto mencengkram erat pergelangan kaki Yosada. Ia bersembunyi di bawah meja.

"Heh!! Lepaskan kakiku. Beraninya kau!" Yosada menendang tubuh Yuto hingga terlempar ke dinding.

Yuto memegangi punggungnya. Ia menatap pembunuh itu dan matanya membelalak kaget. Ia mengucek-ucek matanya dan tetap saja seseorang yang kini berdiri di hadapannya masih sama. Yosada sensei.

"Yosada sensei?" Yuto berdiri dan mendekati Yosada yang masih memegang pisau. "Kenapa kau lakukan ini?"

"Sebenarnya ini bukan urusanmu. Tetapi sepertinya kau ingin mati juga seperti mereka." Yosada membersihkan darah di pisau dengan tangannya.

"Mereka?" Yuto melirik ke segala arah. "Dimana Keiko? Kenapa kau menyakitinya?"

"Kau diam saja." Ujar Yosada santai.

"Bagimana aku bisa diam? Ada apa denganmu sensei? Kenapa kau seperti ini?" Teriak Yuto.

"Hey!! Beraninya kau membentak ku!" Yosada menodongkan pisaunya ke arah Yuto.

Perlahan Yuto menggerakkan kakinya agar terhindar dari pisau yang dipegang Yosada. Ia fokus menatap pisau itu dan kemudian ia menghempaskan tangan Yosada. Pisau terlempar jauh dan mata Yosada membelalak geram.

Gerakkannya sangat cepat. Yosada memukul perut Yuto sampai-sampai Yuto terhuyung-huyung. Yosada melipat lengan bajunya dan ia berdiri di depan Yuto yang tengah bersandar di dinding.

"Kau mau mati dengan cara apa hah?"

"Sensei. Uhhuk uhhuk." Yuto batuk-batuk akibat pukulan dari Yosada tadi.

"Ohh pahlawan kesiangan yang malang. Uuh?" Yosada memegang dagu Yuto. Tapi Yuto menghempaskan tangan Yosada.

"Jangan biarkan aku memukulmu sensei. Kau adalah sensei yang sangat aku hormati."
"Haha. Oh. Kau kesini untuk mencari pacarmu hah? Wah wah rela mati demi cinta. Bodoh sekali!! Kau tau? Keiko mungkin sekarang sudahh. Maaaa tiii!!"

Tiba-tiba mata Yuto berlinang air mata. Tangannya bergetar hebat dan ia tidak sadar telah menarik kerah baju Yosada dan memukul Yosada dengan tangannya yang berdarah akibat memukul kaca jendela. Tidak ada rasa sakit sedikitpun. Ia memukul Yosada tanpa henti. Yuto sepertinya sangat marah ketika mendengar pengakuan Yosada.

"Beritau aku sensei!! Dimana kau sembunyikan Keiko??" Yuto menyenderkan Yosada di dinding.

Yosada menghapus darah di bibirnya. Kemudian tanpa Yuto sangka Yosada tak kehilangan tenaga setelah ia pukul. Bahkan ia semakin kejam. Yosada mendorong Yuto ke pintu hingga pintu berbunyi sangat keras. Terdengar pekikan dari luar dan di dalam lemari. Yosada memukul Yuto tanpa henti.

Samar-samar Yuto melihat lemari bergoyang. "Ke..iii.. Keiko.. Uhukk." Yosada masih memukulinya.

                  ***

Ketika Mei masih mencoba membuka pintu. Ia mendengar suara hentakan keras dari dalam. Mei menjerit dan ia berusaha membukanya.

"Pasti ada jalan lain."

Mei berlari keluar. Hingga ia melewati sebuah kaca jendela.yang pecah. Percikan darah mengotori kaca yang telah pecah itu. Mei berhenti. Ia menyibak sedikit gorden. Matanya membelalak kaget. Lalu ia menutupnya kembali. Mei menutup mulutnya.

                    ***

"Sen..sei! Hentikan!"

Yosada melepaskan kerah baju Yuto. Dan tubuh Yuto terjatuh lemas. Wajahnya penuh luka disana sini. Tiba-tiba Yuto mencengkram kaki Yosada.

"Cukup aku saja! Jangan uhhuk uhhuk. Jangan ada korban lagi.." tanpa Yuto sadari ia menangis.

Luka di wajahnya sangat parah. Dan darah di tangan Yuto keluar semakin banyak. Wajahnya sangat pucat dan tatapannya sangat sayup.

Yosada berjalan menuju lemari tak jauh dari rak buku. Ia membuka kuncinya dan terlihat tubuh lemas Keiko. Matanya sayup. Wajahnya basah penuh  air mata dan tubuhnya terikat tali.

Perlahan Yuto menatap ke arah Keiko. Air matanya menetes sedikit demi sedikit. Dan tubuhnya bergetar. Ketika Yuto memanggil Keiko terlihat gigi Yuto yang penuh darah.

"Hmm siapa yang harus ku habiskan terlebih dulu?" Yosada berjalan ke arah Yuto. Keiko yang melihat Yosada mendekati Yuto ingin mencegahnya tetapi ia tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya terikat tali.

"Sepertinya aku harus membunuh pahlawan kesiangan dulu." Yosada mengambil pisaunya dan memdekati Yuto.

Keiko menggeleng ketakutan. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Tubuhnya terlalu lemah untuk memberontak.

"Kau mau menyampaikan kata-kata terakhir?" Yosada jongkok di hadapan Yuto yang tak bertenaga. Yosada menepuk-nepuk pipi Yuto.

"Ak..u ha..nya ing..in tau alasan..mu me..la..ku..kan se..mua ini sen...sei."

"Oh itu. Aku.. Intinya. Aku benci dengan manusia yang senang merendahkan orang lain. Kau.mengerti?"

"Ap..a mak..sud mu? Lalu ad..akah hub..ungan..nya de..ngan kau mem..bunuh Har..ruka?"

"Karena dia melihatku membunuh Mizaki. Hhh malangnya dia, bukan begitu huh?" Yosada mendekatkan pisau ke baju Yuto.

Tanpa Yosada ketahui Yuto telah merekam perkataannya. Dan itu akan menjadi bukti pendukung kejahatan Yosada.

Perlahan pisau merobek baju Yuto tapi tapi Yuto memberanikan diri menendang tubuh Yosada sekeras mungkin hingga ia jatuh di tumbukan barang-barang yang tidak berguna lagi.

"Ahh. Rupanya kau masih kuat. Baiklah. Kita akhiri sekarang juga." Yosada perlahan mendekati Yuto ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ya. Sebuah pistol.

Mata Yuto membelalak. Ia berusaha bangkit tetapi ia tidak terlalu kuat untuk bangkit.

"Matilah kau!!'

"Yaaat"

BUG!!

Untung saja Mei datang dan memukul punggung Yosada. Sekarang ia tak sadarkan diri. Yosada telungkup di lantai.

Mei menutup mulutnya tidak percaya. Ia meneteskan air mata ketika melihat pelaku pembunuhan itu adalah Yosada. Seseorang yang sangat ia kagumi. Yosada pernah menjadi seseorang yang menghiasi hari-harinya. Dialah orang pertama yang menerima Mei sebagai guru baru di sekolah tersebut. Mei jongkok sambil menangis di hadapan Yuto.

"Kei..ko." Yuto menunjuk ke arah lemari yang terbuka.

Tanpa basa-basi lagi Mei menolong adiknya yang sudah lemas. Ia mencoba menyuruh Keiko berjalan tetapi sepertinya dia terlalu lemas.

"Kau tidak apa-apa kan Keiko?" Mei melihat darah di tangan Keiko akibat terkena goresan pecahan gelas dan luka gores di telapak kakinya.

"Biar kakak gendong kita harus cepat pergi."

"Tidak usah. Aku bisa sendiri." Keiko berjalan terhuyun huyun hingga ia terjatuh.

Sekuat tenaga Mei mencoba menggendong Keiko. Tetapi tubuh Keiko lebih besar darinya. Mei tidak kuat menggendong Keiko.

"Biar aku saja." Yuto jongkok di hadapan mereka berdua. Wajahnya benar-benar sudah habis terluka. Dan deret giginya tak terlihat karena tertutup darah.

Ia segera menggendong Keiko dan Mei mengambil kunci gudang dari saku celana Yosada. Sebelum pergi Mei mengikat kaki Yosada dan tangannya agar dia tidak melarikan diri.

Perlahan-lahan Yuto melangkahkan kakinya. Melihat wajah Yuto yang sangat pucat membuat Mei kuwatir. Karena banyak darah yang menetes dari tangan Yuto. Bahkan bajunya telah sobek. Ia hampir mati gara-gara menyelamatkan Keiko.

"Sensei.. Kalau aku pergi. Aku ingin kau berjanji."

"Apa maksudmu?"

Sebelum sempat Yuto menjawab. Mereka telah tiba di halaman sekolah. Beberapa mobil polisi datang membuat mata mereka silau.

Yuto menurunkan Keiko. Ia merasa tidak ada tenaga lagi. Semua terlihat samar-samar. Dan matanya mulai berkunang-kunang.

"Yuto.. Kau baik-baik saja?" Ujar Mei.

Keiko yang kini berada di pangkuan Mei menggenggam erat tangan Yuto yang kini tengah bersimpuh.

"Sen..sei.. Jagalah di..rimu dan Kei..ko baik-ba..ik. Uhhuk uhuuk." Darah segar keluar dari mulut Yuto. Ia mencoba membuka matanya tetapi dadanya terasa sakit. Dan seluruh tubuhnya terasa lemas.

"Beri..kan in..i kepa..da polisi sen..sei." Yuto memberikan rekaman suara perbincangannya dengan Yosada.

Tangan Yuto terjatuh lemas dan ia pun tak sadarkan diri. Tubuhnya terlentang di halaman sekolah. Keiko dan Mei menangis tersedu-sedu. Mereka meminta pertolongan untuk membawa Yuto ke rumah sakit sesegera mungkin.

                ***

Kini Yosada sudah ditangkap. Begitu juga kematian Mizaki dan Haruka telah terungkap.

Tiba-tiba Mei mendengar isak tangis di ruang UGD. Dengan sedikit berlari ia memasuki ruang UGD. Orang tua Yuto dan keluarganya memangis. Mei melihat ke arah dokter dan dokter hanya menggeleng.

"Apa? Tidak bisakah kau berusaha lagi. Dia siswa yang kuat!"

"dia kehilangan bayak darah. Kami sudah melakukan yang terbaik. Maafkan kami."

"Yuto.." Mei menangis sambil memeluk ibu Yuto yang terlihat sangat kehilangan.

Sambil memikirkan semua hal yang telah terjadi, Mei kini berjalan di koridor rumah sakit. Wajahnya masih kusut dan kecewa. Tiba-tiba lamunannya buyar akibat teriakan Keiko yang berlari menabraknya.

"Keiko!" Cegah Mei.

"Aku mau menemui Yuto kak. Aku harus menemuinya." Mei tidak bisa menahan Keiko. Ia hanya bisa mengejar Keiko yang kini berada di ruang UGD.

Gadis itu terisak. Air matanya jatuh tak henti-hentinya. Ia mendekati Yuto yang tak bernyawa lagi. Wajah Yuto penuh luka. Dan tanpa segan Keiko menangis di dada Yuto. Ia merasa berhutang nyawa dengan Yuto. Bagaimana pun Yuto adalah orang yang telah menyelamatkannya.

"Kenapa kau meninggalkanku? Bukankah dulu kau bilang akan melindungiku selamanya hah? Kau pembohong ihhik ihhik." Keiko menangis tersedu-sedu.

                          ***

Kini Mei tengah bergegas ke kantor polisi karena rekaman suara yang diberikan Yuto belum sempat ia berikan kepada polisi. Setibanya disana, ia melihat Yosada tengah di borgol dan di introgasi.

"Maaf. Ini bukti lainnya pak." Mei memberikan rekaman suara itu. Sebelum ia pergi, Mei menatap mata Yosada.

"Kenapa kau lakukan semua ini.Yosada?"

Yosada hanya terdiam. Ia hanya membalas menatap tatapan Mei.

"Kenapa kau membunuh orang-orang yang tak bersalah seperti mereka? Apa kau sudah gila. Apa mungkin kau juga akan membunuhku jika kasus ini belum terungkap?" Mata Mei berkaca-kaca. Ia berusaha tegar dan bergegas pergi. Tetapi kata-kata Yosada membuatnya menghentikan langkahnya.

"Aku tidak akan melakukannya kepadamu. Mizaki.." Yosada menunduk. "Mizaki telah mempermalukanku di hadapanmu waktu makan malam bersama rekan-rekan. Aku sakit hati kepadanya."

"Apa?" air mata Mei mulai menetes. "Dasar." Mei segera pergi meninggalkan Yosada.

Yosada malu ketika Mizaki mengejeknya di hadapanku saat makan berasama dengan rekan-rekan guru? Tapi.. Apakah dia harus bertindak seceroboh dan sebodoh itu? Dia memang sudah sakit jiwa!!

                  ***

Keiko masih dirawat di rumah sakit. Ibu Yuto memberikan Keiko sebuah buku skets. Di atas ranjang Keiko membuka-buka buku skets milik Yuto. Di dalamnya banyak gambar wajah Keiko.

Keiko.. Ketika malam tiba aku sangat senang. Karena itu artinya besok kita akan bertemu.

Jika seseorang bertanya siapa yang ku pikirkan saat aku membuka mata. Jawabannya adalah Keiko

Ketika salju turun.. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu Keiko Sato