Minggu, 21 Juni 2015

FF EXO Oneshot [I'll Be On Your Side]


Tittle : I'll Be On Your Side
Cast : Sehun EXO as Sehun , Kai EXO as Kim Jong In, Jimin (BTS) as Jimin, EunHyuk (Suju) as Lee Songsaengnim
Genre : Friendship
Author : Kim Jaemi (naega)
Note : Sehun dan Jongin adalah teman sekelas di salah satu SMA Seni di Seoul. Mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Jongin sangatlah percaya diri dan agak sedikit emosian sedangkan Sehun tidak terlalu percaya diri dan sedikit pendiam.
--------
Karena kita sahabat, karena kau sahabatku, terima kasih telah melindungiku. Jangan khawatir semua akan baik baik saja.
Di Sekolah
Seluruh siswa berjalan bergandengan di koridor sekolah. Mereka saling mengobrol satu sama lain. Sementara Sehun berjalan seorang diri diantara kerumunan siswa lainnya. Ia seolah waspada dengan lingkungan sekitar. Tatapan mata Sehun menyapu seluruh sudut koridor. Ia selalu terlihat berjaga jaga. Sesuatu terasa aneh, ia merasa seseorang membuntutinya dari belakang. Langkah kaki ia percepat seolah ingin kabur dari seseorang. Tiba tiba ketika seseorang menepuk pundaknya ia refleks langsung menyiku perut orang tersebut.

"YA!! Oh Sehun, ada apa denganmu." Jongin memegangi perutnya. "Omo perutku."
Sehun terlihat begitu terkejut karena telah menyiku perut Jongin sahabatnya. "Aigu~ mianhae Jongin. Kupikir kau siapa."

Melihat betapa gelisahnya Sehun membuat Jongin curiga dengan temannya ini. "Kaupikir aku setan hah? Aigu aigu perutku." Jongin berdiri tegap karena sebenarnya sikuan Sehun tak terasa apapun di perutnya yang six pack itu. Kemudian Ia menyipitkan matanya seolah menyelidiki Sehun. "Jimin membuat masalah lagi?" Jongin menatap mata Sehun tetapi anak itu memalingkan wajahnya.

"Ani." Tanpa berbicara apapun lagi Sehun melangkahkan kakinya tetapi Jongin menarik tas hitam yang bertengger di punggung Sehun. "YA! Apa apaan kau ini."

"Sekali lagi aku bertanya. Jimin membuat masalah lagi kan?" Jongin menunggu jawaban dari Sehun.

"Kau sudah tau kenapa bertanya lagi!?" Sehun melangkah pergi meninggalkan Jongin.
Dengan sedikit berlari Jongin menyusul Sehun dan merangkul sahabat karibnya. "Ishh kenapa kau jadi pemarah seperti ini huh?" Jongin masih merangkul bahu Sehun.

Tatapan mata Sehun membuat Jongin takut. "Lepaskan tanganmu atau akan kujitak kepalamu."

"Aish" Jongin mengeratkan rangkulan tangannya di bahu Sehun dan menjitak jidat Sehun.

"Ya! KIM JONGIN!" Bentak Sehun. Ia berlari mengejar Jongin yang sengaja melakukan itu kepadanya. "Jangan kabur kau Kim Jongin!"
Mereka berlarian sepanjang koridor hingga akhirnya Sehun mendapatkan Jongin dan menjitak kepalanya. "Ku hajar kau!!." Sehun merangkul bahu Jongin seraya menjitakinya.

"Oh Sehun kau psyco hah? Kau membuat kepalaku sakit!" Sehun dan Jongin tertawa bersama di depan ruang dance. Karena hari ini akan ada kelas dance.

Sebelumnya Sehun ragu untuk ikut kelas ini karena cukup tau diri Sehun tidak terlalu bisa meliuk liukan tubuh seperti Jongin maupun Jimin yang terkenal sebagai the best dancer di sekolah. Berkat dukungan Jongin akhirnya Sehun mau mengikutinya. Sebenarnya menurut pandangan mata seorang Jongin, ia melihat ada bakat terpendam di dalam diri 
Sehun hanya saja dia tidak pernah melatihnya. Kepercayaan dirinya terlalu rapuh dan mudah runtuh hanya gara gara perkataan tak berbobot Jimin.

Di dalam ruangan terlihat sudah sangat ramai. Jongin menatap Sehun dan merangkul sahabatnya itu. Tetapi belum sempat melangkahkan kaki, tiba tiba pembuat masalah yang kesepian datang dengan senyum liciknya. Benar benar ingin Jongin robek wajah sombong tengilnya Jimin.

"Aigu~. Untuk apa kau bawa dia kemari?" Jimin menatap Sehun seolah merendahkannya.

Api amarah membara di sekeliling Jongin. "Ya Jimin! menyingkirlah!"

Tatapan Jimin membuat Sehun benar benar merasa kesal. Tetapi ia tidak ingin mencari masalah untuk hari ini. Ia membalas tatapan Jimin kemudian berkata "Kita lihat saja nanti." Ucap Sehun dingin membuat Jimin tertawa

"Bhahahaha. Baiklah kita lihat pertunjukan menarikmu Oh Sehun." Jimin menyingkir dan membiarkan mereka masuk. Saking kesalnya Jongin ingin sekali menonjok wajah Jimin tetapi Sehun mencegahnya dan segera menarik tangan Jongin segera masuk kedalam ruang dance.

Seluruh siswa berbaris dengan rapi. Jimin berbaris di barisan paling depan. Ia memang benar benar sombong. Berhasil membuat Jongin kesal dengan tingkahnya. Sesekali ia menoleh ke arah Sehun seolah ingin mendropkan mental Sehun.
Jongin menyiku lengan Sehun "Jangan dihiraukan eo?" Seraya tersenyum.
Mendengar ucapan Jongin tadi membuat Sehun kembali percaya diri. Seorang teman memang selalu berada di sisi kita disaat senang maupun susah. Sehun mengangguk dan tersenyum lalu menatap lurus kedepan.

Lee Songsaengnim memasuki ruangan dengan penuh wibawa. Beliau memang selalu memakai pakaian dance karena dia adalah dancer terkenal di Seoul. Dia memiliki style yang sangat menarik.

"Perhatian! Hari ini akan diadakan test permulaan untuk seluruh siswa yang masuk ke kelas dance. Satu persatu akan saya panggil untuk maju kedepan." Ucapnya segera membuka buku absen. "Oh iya. Test kali ini bukan hanya untuk mencari nilai tetapi dalam rangka melatih diri untuk persiapan seleksi dancer oleh agensi terkenal WoW Ent (agensi milik author kkkk)"

"Woa~ keren sekali aku akan ikut sleksi itu " ujar seluruh siswa di ruangan itu. Seorang siswa mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan. "Sem! Bagaimana cara daftarnya?"

"Seluruh siswa yang terdaftar dalam kelas dance akan sekolah daftarkan tidak terkecuali." Ujar songsaengnim membuat seluruh siswa berteriak histeris.
"Maka dari itu, berlatihlah dengan giat dan kedepankan disiplin. Arayo?" Songsaengnim menyemangati seluruh siswa.

"Ne Sem!"

Sehun terlihat begitu gugup padahal hari ini hanya latihan. Jongin mencoba menenangkannya. "Ya! Gwenchana?" Tanya Jongin. Sehun hanya menggeleng pelan.

"Aku tidak yakin." Ujar Sehun. Keringatnya bercucuran.

"Oh Sehun ini bukan perlombaan. Rilex saja huh?." Jongin menepuk bahu Sehun.
"Em. Gomawo Jongin-ah." Sehun menarik nafas lalu ia hembuskan.

Songsaengnim memanggil nama Jimin dan serempak seluruh ruangan berteriak menyemangati. Anak itu semakin menjadi jadi. Ia menaikan sebelah alisnya, menatap Sehun dengan tatapan menyindir. Jongin mengepalkan tangannya dan menujukannya kepada Jimin. Tetapi Sehun segera menurunkan tangan Jongin. "Apa apaan kau!"

"Dia menyebalkan! Aku tidak suka melihat kau terus direndahkan." Jongin menjelaskan kepada Sehun.

"Sudahlah." Sehun mempersiapkan  diri karena ia memiliki feeling setelah ini ia akan dipanggil.

Lagu beralun. Jimin benar benar menguasai lagu ini. Yah lagu Taeyang Bigbang Ringa Linga benar benar dapat dia jiwai. Bahkan Sehun terkesima melihat bagaimana cara Jimin meliuk liukan badannya.

Beberapa menit berlalu musik berhenti. Jimin menghentikan gerakannya , ia tersenyum bangga menatap seluruh siswa di ruangan itu. Kemudian melangkah kembali ke tempatnya. Ia mengangkat wajahnya sombong sambil menyunggingkan senyum liciknya.

"Oh Sehun." Panggil songsaengnim mengejutkan Sehun. Ia menelan ludah dan menoleh ke arah Jongin, namja itu menyemangatinya terus terusan.

Semua mata menatap Sehun yang kini telah berdiri di depan. Mereka berbisik tentang Sehun. Mata Sehun metatap seluruh siswa di hadapannya.
Ya! Untuk apa dia disini?
Apakah dia bisa ngedance?
Apa dia hanya ingin bermain main?
Kurasa dia tidak akan bisa melakukannya. Tidak bisa dance untuk apa ikut kelas dance? Dasar tidak tau malu.

Semua bisikan itu dapat Sehun dengar. Sehun mengepalkan tangannya dan ia menggigit bibirnya. Detak jantungnya berdegub sangat kencang

Dalam hati Sehun berkata aku tidak bisa melakukannya. Sehun menatap Jongin, namja itu berharap cemas dan terus menyemangatinya seolah berkata. Sehun kau pasti bisa!

"Oh Sehun kau ingin kami melihat patung berdiri seperti itu hah? Jangan diam saja." Ujar Jimin memprovokator yang lainnya agar ikut memojokkan Sehun.

Seperti orang kebingungan Sehun hanya menunduk sambil mengepalkan tangannya. "Oh Sehun kau sudah siap?" Tanya Songsaengnim.

"Eo? Eo." Ucap Sehun gelagapan.
Musikpun beralun tetapi tubuh sehun terasa kaku untuk digerakkan. Kakinya terasa berat. Seperti di ikat oleh tali. semua yang ia pelajari selama ini tiba tiba melenyap begitu saja dari pikirannya. 30 detik musik beralun ia hanya bisa melakukan gerak robotik saja. Tubuh Sehun terjatuh begitu saja.

Brak.

Semua mata terpaku menatap Sehun sementara Jimin tertawa terbahak bahak melihat Sehun terjatuh bersimpuh dihadapannya. Songsaengnim mengentikan musiknya.

"Sepertinya kau belum pemanasan." Ucap Songsaengnim menutup buku absen.

"Pemanasan pun mungkin dia tidak bisa. Bahaha, apalagi melakukan gerakan dance." Ujar Jimin mengajak seluruh siswa mentertawai Sehun. Serempak seluruh isi ruangan mentertawai Sehun. Tangan Sehun mengepal ia masih bersimpuh.

------Sehun POV-----

Kenapa harus aku? Apa salahku? Kenapa aku harus secengeng ini. Air mata menetes dia atas kepalan tanganku. Sekuat mungkin ku coba menahan tetesan air mataku. Tetapi rasa malu yang ku rasakan rasa kesal yang ku derita dan rasa menyesal yang kupikirkan telah meluap luap.

Benar kata mereka. Seharusnya aku tidak berada disini berdiri seperti patung. Saking bodohnya diriku sampai sampai kini aku seperti badut yang ditertawakan oleh mereka. Ku tatap wajah wajah mereka semua. Semua mata yang menatapku seolah mengejekku. Kau bodoh! Ya! Keluar saja dari kelas ini memalukan! . AKu bersumpah akan membuat kalian terkeseima denganku. Ingat itu baik baik.

-----Author POV----

Tanpa mengucapkan apapun Sehun bangkit. Ia berdiri kemudian berlari meninggalkan ruang dance. Jongin yang sedari tadi terlihat cemas langsung menyusul tanpa berpamitan dengan songsaengnim. Ia mengejar Sehun yang masih berlari di hadapannya. Jongin memanggil manggil tetapi Sehun tidak mau behenti dia terus berlari semakin jauh.

"Ya! Oh Sehun! Kenapa kau berlari! Kau seperti pengecut jika seperti ini." Bentak Jongin. Perlahan kaki Sehun berhenti melangkah. Jongin segera berdiri di hadapan Sehun. Namja berambut blonde dengan kulit putih itu hanya menunduk sambil sesenggukan menangis. Jongin berkacak pinggang.
"Mwo? Kenapa kau menangis?." Tanpa menjawab pertanyaan Jongin mata Sehun terus meneteskan butiran butiran bening. Dasar anak polos ini. "Sehun-a uljima. Kau harus kuat kau pasti bisa." Jongin memegang pundak Sehun meyakinkan sahabatnya. Tetapi Sehun hanya menggeleng sembari terus menangis.

"Aku. Aku Kim Jongin berjanji akan membantumu. Kau harus berusaha keras. Kau tunjukkan kepada mereka yang mentertawakanmu bahwa kau adalah bintang yang bersinar paling terang. Eo?" Jongin menatap Sehun lekat lekat

Perlahan Sehun menggeleng. "A-aku tidak bisa!" Ucapnya pelan sambil menyeka air matanya.

Jongin mengangkat wajah Sehun. "Kenapa kau terus berkata aku tidak bisa? Ya! Kau dengarkan aku. Kau harus yakin bahwa kau bisa! Aku yakin kau bisa! Kita akan berlatih bersama. Ketika kau jatuh aku selalu berada disisimu mengulurkan tangan membantumu berdiri lagi dan menari mengikuti alunan lagu hingga akhir. Arasseo?" Jongin menunjukkan senyumnya kepada Sehun. "Smile." Dengan telunjukknya Jongin menarik ujung bibir Sehun agar namja itu tersenyum kembali. "Busungkan dadamu Oh Sehun." Ujar Jongin menepuk punggung Sehun.

Senyum itu kembali melekat di bibir manis Sehun. "Gomawo nae jinjja jinjja jangida chinguya." Sehun mememeluk Jongin berterima kasih banyak.

"Ya! Lepaskan pelukanmu." Jongin berucap ketus dalam pelukan Sehun membuat Sehun menatapnya aneh. "Aku haus, kita beli minum saja eo?" Jongin mengacak rambut Sehun kemudian berlari meninggalkan Sehun.

"Aish, tunggu aku!" Sehun menyusul Jongin.

--------

Ketika seluruh siswa di asrama tengah tertidur pulas lain halnya dengan Sehun dan Jongin. Mereka menggunakan ruangan dance untuk berlatih. Sesekali Sehun terjatuh sesekali ia mengeluh tetapi Jongin selalu menarik tangan Sehun ketika ia sudah kelelahan dan ingin mundur. Ia selalu menariknya agar berlatih dan berlatih.

Setiap hari mereka berdua selalu berlatih berdua. Perlahan Jongin menunjukkan beberapa Dance kepada Sehun dan dia mulai mengikuti gerakan tersebut. Lagu barat tersebut terus berputar menembus heningnya malam. Derap langkah dan liukan tubuh mereka semakin lama semakin beriringan. Jongin tersenyum melihat betapa kerennya Sehun ketika melakukan  dance seperti sekarang ini.

"Ya! Kau hebat Sehun-ah!" Jongin high 5 dengan Sehun. Keringat mereka bercucuran. Walaupun tubuh begitu lelahnya, Jongin cukup senang bisa membantu Sehun yang semakin lama semakin menjadi.

Setengan botol air Sehun teguk habis. Ia duduk di lantai kayu di ruangan itu bersama Jongin di sebelahnya.

"Kau lelah?" Tanya Jongin mengulurkan handuk kecil kepada Sehun.

"Tidak. Karena bersama sahabat keren sepertimu aku tidak merasa lelah." Ujar Sehun polos.

Mendengar ucapan Sehun membuat Jongin berdecih. " Kau menggodaku? Ya! Aku bukan seorang gadis." Jongin mengutak atik ponselnya.

"Siapa juga yang bilang kau seorang gadis. Tapi ngomong ngomong aku tidak bisa membalas jasamu Jongin. Kau begitu baik denganku. Tetapi waktu itu kau kabur dari kelas apa tidak masalah?" Sehun menoleh ke arah Jongin.

Sepertinya Jongin tidak mendengarkan kata-kata Sehun barusan. Atau mungkin ia berpura pura tidak mendengarkannya. "Kau dengarkanlah. Ini jawabankun" Jongin mengulurkan sebelah headsetnya kepada Sehun. Mereka mendengarkan lagu Coffee boy feat Haeun I'll be on your side. Sehun hanya menoleh Jongin lalu mereka tersenyum bersama. Lagu terus mengalun membawa mereka menelusuri pikiran mereka masing masing.
                          
Nuga nae mameul wirohalkka nuga nae mameul arajulkka moduga nareul biutneun geot gata kidael got hana eopne
Siapa yang bisa mengerti perasaanku ?
Siapa yang bisa mengetahui perasaanku ?
Semua orang sepertinya menertawakanku.
Aku tidak punya tempat untuk bersandar.

 ijen gwaenchanhda haesseotneunde iksukhaejin jul aratneunde dasi chajaon i jeolmange naneun tto sseuryeojyeo honja namaitne
 Aku bilang aku baik2 saja sekarang.
Ku pikir aku sudah terbiasa dengan itu sekarang. Keputusasaan kini menemuiku lagi . Dan aku jatuh lagi

naega ni pyeoni doe.eojulke gwaenchanhda marhaejulke da jal dwilgeorago neon bitnalgeorago neon na.ege sojunghandago
Aku akan berada di sisimu.
Aku akan memberitahumu semuanya.
Ini semuanya akan baik2 saja dan kau akan bersinar.
Kamu sangat penting bagiku.

modu kkeutnan geot gateun nare nae moksoril gi.eokhae gwaenchanha da jal doelgeoya neon na.ege gajang sojunghan saram
Ketika kau pikir semuanya sudah berakhir
Ingatlah suaraku.
Tidak usah khawatir semuanya akan baik2 saja.
Kamu orang yang paling penting bagiku

-------

Kelas dance telah dimulai. Sehun berdiri disebelah Jongin. Kali ini ia terlihat lebih percaya diri sambil sesekali menghentak hentakkan kakinya. Ketika Jongin dipanggil oleh Songsaengnim , Sehun tersenyum dan memeperhatikannya dengan baik.

Bukan hanya gerakan bahkan Jongin dapat mengekspresikan lagu tersebut lewat mimik wajahnya. Sehun merasa kini dirinya telah menjadi fans pengagum dance Jongin.
Songsaengnim sudah pasti memberikan tepuk tangan kepada Jongin karena dia adalah murid kesayangannya.

Setelah beberapa siswa maju Songsaengnim menghentikan ucapannya. Ia menoleh ke arah Sehun. "Oh Sehun. Kau sudah pemanasan?" Seluruh siswa menoleh ke arah. Sehun mengangguk tegas lalu songsaengnim segera menunjukknya maju.

Bisikan bisikan itu bisa Sehun dengar tetapi ia tidak akan menghiraukannya lagi. Anggap saja mereka yang ada di hadapan adalah fans berat yang begitu mengaguminya.
Ya, ini lagu yang pas untuk Sehun. Ia menikmati penampilannya. Ia merasa rilexs tanpa beban. Sehun benar benar telah berusaha keras. Ia berhasil memukai songsengnim dan seluruh siswa disana kecuali Jimin yang mulai merasa tersaingi.

Musikpun berhenti. Sehun merentangkan kedua tangannya masih menatap kedepan. Jongin dan Songsaengnim bertepuk tangan diikuti oleh seluruh siswa yang lainnya. Sehun menunjukkan senyum manisnya seraya membungkukkan badannya.

"Gamsahabnida."

Wajah Jimin terlihat begitu kesal. Tatapan Sehun berhasil membuatnya kesal tetapi Sehun tak ingin membuat masalah ia melewati Jimin sambil tersenyum. Kemudian high5 dengan Jongin dan teman yang lainnya.

"Ya! Kau keren sekali." Tutur Jongin seraya merangkul Sehun.

"Karena kau juga. Jeongmal gomawo eo?" Sehun membalas merangkul Jongin.

Jam istirahat

Semua siswa berkerumun di hadapan monitor pengumuman. Jongin yang baru saja keluar dari wc langsung berlari ke arah kerumunan. Ternyata pengumuman sleksi dancer yang diadakan WoW Ent.

Mereka akan melakukannya dengan cara battle dance. Menarik sekali. Setiap siswa akan dipasangkan satusamalain. Jongin menatap daftar battle dance. Ia tidak masalah harus bettle dengan Min Joon. Dia terus menatap daftar itu dan matanya membulat sempurna.

"Pertarungan yang sebenarnya." Jongin segera berlari menemui Sehun yang tengah berlatih di ruang dance.

"Sehun-ah. Oh Sehun! Ini benar benar pertarungan yang sebenarnya!" nafas Jongin ngos ngosan.

Sehun menegerutkan keningnya. Ia samasekali tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Jongin.

"Kau! Di seleksi itu kau akan battle dengan Jimin! Woah keren bukan?"

"MWO??" Pekik Sehun seraya membulakan matanya ia terlihat sangat syok. "Yang benar saja! Aku dan Jimin. Apa jadinya?" Sehun merasa benar benar khawatir.

"Masih saja seperti ini. Anggap saja dia lebih bodoh darimu! Yang terpenting harus menang huh?" Jongin menepuk pipi Sehun.

Lama Sehun melamun entah apa yang dia pikirkan. Lalu ia menatap Jongin. "Bagaimana denganmu? Siapa pasanganmu?"

"Aku? Aku berpasangan dengan Min Joon. Ku dengar akan dipilih 2 orang dancer pria dan 2 dancer wanita. Kau dan aku harus menjadi juaranya. Eo? Maka dari itu Kita harus terus berusaha." Jongin terlihat begitu gembira.

"Tapi aku tidak yakin." Ujar Sehun

"Ya! Sekali lagi kau berkata seperti itu kubotaki kepalamu Oh Sehun."

"Andwe! Hahaha."

"Berhentilah latihan. Kita santai dulu. Eotteyo?" Jongin merangkul bahu Sehun seraya mengedipkan matanya.

"Aish! Kau terlihat seperti orang cacingan."

Tanpa mereka sadari Jimin tengah memantau mereka. Sepertinya setelah melihat kemampuan dance Sehun dia merasa Sehun tidak bisa diremehkan lagi. Dia benar benar menjadi bomerang bagi Jimin.

Hari Seleksi  WoW Ent

Hari ini adalah hari dimana Wow Ent akan mengadakan seleksi di sekolah dimana Sehun dan Jongin bersekolah. Jam masih menunjukkan pukul 7. Siswa siswi masih bersiap siap di kamar asrama masing masing. Tiba tiba Jongin lupa kalau earphonenya tertinggal di dalam lokernya. Ia segera keluar sementara Sehun masih mandi.

Tiba tiba langkah Jongin terhenti ia melihat seseorang tengah membuka loker milik Sehun. Perlahan Jongin mendekatinya. Dugaannya benar, sepertinya Jimin ingin mencurangi Sehun. Jongin tau apa yang harus ia lakukan. Dia tidak akan membiarkan Jimin melakukan ini kepada Sehun.

Jimin menutup loker Sehun kemudian balik badan. Ia terkejut melihat Jongin sudah bediri tegap dibelakangnya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jimin, ia sepertinya benar benar kaget.

"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan?" Jongin melangkahkan kakinya kedepan mendekati Jimin

"Apa maksudmu?" Jimin mendorong Jongin menjauh.

"Dasar curang!  Jika kau mampu lakukan dengan sportif! Kekanakan sekali kau ini. Kau mau melukai Sehun dengan menaruh paku di sepatunya? Cihh kurang ajar kau!" Jongin imembuka loker Sehun, mengambil paku yang Jimin taruh dan menutup loker dengan hentakan keras. "Kau benar benar pengecut!" 
Jongin ingin menonjok Jimin tapi dapat Jimin tangkap tangannya.

"Kau tidak usah ikut campur! Aku tidak mengganggumu bukan? " Jimin mendorong Jongin sekali lagi lalu ia melangkah pergi
.
"Ya! Kau benar benar kurang ajar!" Sekali lagi Jongin melayangkan tinjunya tapi Jimin buru buru menendang Jongin hingga ia terhuyung dan terhuyung lalu apa yang terjadi? Oh tidak.

"Aigo." Jimin membelalakan matanya melihat Jongin jatuh berguling guling di tangga. Benar benar mengerikan. Jimin menoleh ke bawah, Jongin merintih kesakitan. Bibirmya berdarah, wajahnya luka luka

"Omo! Kim Jongin." Seru seorang siswa di bawah. Mendengar ada seseorang, Jimin mengundur langkahnya. Tubuhnya bergetar hebat lalu ia kabur berlari kembali ke kamarnya.

Baru saja Sehun ingin mengambil sepatu kesayangannya di loker tiba tiba seluruh siswa berhamburan berlari. Sehun melihat setiap orang yang lewat wajah mereka begitu panik. "Ada apa ribut ribut?" Tanya Sehun penasaran.

"Jongin jatuh dari tangga. Lukanya parah."

DEG

Kaki Sehun terasa lemas. Ia tidak sadar telah berlari , bahkan berlari dengan sangat kencang. Suara sirine ambulance terus berbunyi. Air mata Sehun tak dapat ia bendung. Dari kejauhan ia melihat tubuh lemas Jongin yang kini berbaring dan di bawa masuk ke dalam ambulance.

Dalam hati Sehun meyakinkan dirinya kalau Jongin pasti akan baik baik saja.  Sehun menerobos kerumunan siswa yang berdiri melihat Jongin penuh luka. Sehun kini berdiri di depan pintu mobil ambulance yang masih terbuka. " Ya! Jongin-ah! Ayo bangun! Kenapa kau lemah seperti ini huh?" Sehun menyeka air matanya. "Kim Jongin Wae?" Teriak Sehun histeris.

Lee Songsaengnim melihat Sehun langsung menenangkannya. "Jongin akan baik baik saja." Ujarnya segera masuk ikut mengantar Jongin ke rumah sakit.

Tanpa meminta ijin dan berkata apapun Sehun langsung naik dan menggenggam tangan Jongin. "Jongin-ah! Kim Jongin kau harus segera bangun. Kau bilang kita akan menjadi juara! Kenapa kau malah berbaring lemah seperti ini? Hiks hiks." Sehun menangis sesenggukan. Mobil ambulance segera membawa mereka ke rumah sakit.

--------

Sehun berlari mengikuti kereta yang membawa Jongin ke ruang ICU. Lee Songsaengnim yang masih berada disana merasakan betapa dekatnya pertemanan antara Jongin dan Sehun. Sedari tadi Sehun tak hentinya meneteskan air mata. Ia terus menerus berkata Jongin kau harus bangun.
Dokter membawa Jongin masuk ICU sementara Sehun menunggu diluar bersama Lee Songsaengnim

"Apakah Jongin akan baik baik saja?" Tanya Sehun polos menatap ke arah Lee Songsaengnim

Seolah mencoba menenangkan Sehun, Lee Songsaengnim menatap Sehun dan berkata "kita doakan Jongin agar segera sembuh dan bisa menari bersama lagi, eo?" Lee Songsaengnim tersenyum ia merasa benar benar kecewa karena Jongin siswa terbaiknya tidak bisa mengikuti selesksi besar ini. Betapa malangnya dia. Ponsel Lee Songsaengnim berdering ia menerima telepon dari seseorang. "Oh? Baiklah. Kami akan segera kesana." Lalu ia menutup sambungan ponselnya.

"Seleksi akan segera dimulai. Kita kembali ke sekolah." Lee Songsaengnim berdiri. Ia menatap Sehun tetapi anak didiknya itu masih menatap ke arah ruang ICU. "Kau tidak ingin  mengecewakan Jongin kan? Setidaknya kau tidak mengecewakan Jongin yang selalu mendukungmu selama ini. Kau harus menang dan buat temanmu bangga." Lee Songsaengnim masih menunggu Sehun.

Kata kata Jongin waktu itu terngiang di telinga Sehun. Kau harus buktikan kepada mereka yang mentertawakanmu bahwa kau ada bintang yang bersinar paling terang. Sehun bangkit segera melangkah menjauh dari ruang ICU bersama Lee Songsaengnim.m
Di dalam taxi Sehun hanya terdiam sambil menatap ke arah jendela. Pikirannya tak luput dari Jongin. Entah apa yang akan terjadi kalau tak ada Jongin di sisinya.

"Gwenchana?" Tanya Lee Songsaengnim membuat Sehun menoleh. Sehun hanya mengangguk lesu. " Seorang dancer harus kuat dan tahan banting. Kau juga harus begitu! Semangat Oh Sehun, dulu aku juga sepertimu tetapi aku selalu berusaha dan selalu berlatih. Jangan lesu seperti itu! Jongin pasti akan kesal jika melihatmu menangis seperti wanita. arasseo?" Lee Songsaengnim menepuk pundak Sehun.

Setibanya di Sekolah seleksi sudah di mulai. Cepat cepat Sehun berlari ke arah loker mengambil sepatunya dan segera berlari ke aula sekolah. Nafasnya ngos ngosan. Seorang teman menatapnya "Jongin bagaimana keadaannya?"

"Jongin masuk ruang ICU."

"Itu berarti dia tidak bisa ikut seleksi kan? Aigu malangnya Jongin. Tapi aku masih penasaran kenapa dia bisa terjatuh dari tangga?" Siswa itu bergosip dengan teman teman yang lainnya. Sehun juga merasakan ada yang aneh. Tidak mungkin Jongin seceroboh itu jika berjalan.

Beberapa siswa telah dipanggil dan sekarang giliran Sehun dan Jimin yang tampil. Sebelum naik ke atas panggung Sehun menarik nafas panjang lalu ia hembuskan. Semua akan baik baik saja. Sehun akan berusaha keras agar Jongin bangga mempunyai teman sepertinya.

Musik mulai di play Jimin melakukan dance lebih awal sementara Sehun hanya menghentakkan kaki dan memainkan tangannya serta kepalanya menggelen mengikuti irama. Kemudian Sehun mengambil alih permainan di atas panggung itu. Semua penonton yang menonton berteriak histeria melihat Sehun menari.

Battle kali ini benar benar panas. Baik Sehun maupun Jimin berusaha menunjukkan yang terbaik. tetapi kali ini Jimin terlihat kurang fokus Sehun tidak tau apa yang tengah dipikirikan olehnya.

-------skip------

Di back stage Jimin menghampiri Sehun ia melipat kedua tangannya di dada. " Ya! Jangan harap kau mendapatkannya. Jangan terlalu sombong. Kemampuanmu tak seberapa dibandingkan ku." Ujarnya dengan tatapan aneh.

Sehun menyipitkan matanya "kau takut kukalahkan huh? Tak perlu kau peringati aku seperti itu. Kita lihat saja nanti!" Sehun menyusul teman teman yang lain menaiki panggung. Hasil seleksi akan segera diumumkan. Perasaan Sehun benar benar campur aduk. Andai saja ada Jongin disini menenagkannya.

2 orang penari wanita telah dipilih. Mereka mendapatkan kontrak di WoW Ent betapa menyenangkannya. Kini giliran pengumuman untuk kategori penari pria. Sehun memejamlan matanya. Detak jantungnya begitu cepat tetapi Jongin seolah olah ada disisinya dan berkata. Jangan khawatir semua akan baik baik saja.

"Sehun dan Jimin Chukkae." Suara juri yang menilai penampilan mereka membuat Sehun membelalak kaget. Ini semu seperti mimpi. Sehun menepuk pipinya tak percaya sementara Jimin berselebrasi dengan hebohnya.

"Oh Sehun! Chukkae!" Ujar seorang teman. Sehun membungkuk berterimakasih lalu ia turun ke bawah bersalaman dengan para juri dan Lee Songsaengnim. Sehun segera bergegas mengikuti para juri ke kantor depan untuk mengurus segala surat perjanjian.

---------

Keesokan harinya Sehun pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Jongin tetapi sebelum sempat masuk ke dalam ruangan, Sehun melihat ada Lee Songsaengnim di dalam. Pintu sedikit terbuka, Sehun bisa mendengar percakapan mereka.

"Kau baik baik saja?" Tanya Lee Songsaengnim.

Wajah Jongin sangat pucat. Dia hanya menatap kakinya yang dibalut perban. Ia menunduk tanpa menjawab pertanyaan Lee Songsaengnim

"Dokter bilang kau harus full istirahat. Tidak ada latihan dance atau kegiatan keras lainnya. Keadaan kakimu sangat parah." Jongin masih menunduk ia tak menjawab apapun.
"Semoga saja tak begitu parah. Jika hal itu terjadi mungkin... selamanya kau tidak akan bisa menari lagi." Perkataan Lee Songsaengnim tadi membuat Sehun terkesiap. Tubuhnya terasa tak bertenaga lagi. Sehun melirik Jongin. Namja kuat itu menangis. Jongin yang selama ini selalu menuntunnya selalu mebantunya dan mengihuburnya ketika menangis tengah bersedih. Jongin meneteskan air mata tetapi ia berusaha menahan tangisnya.

"Kenapa kau menagis! Kau masih bisa menari. Kau harus kuat Kim Jong In." Lee Songsaengnim sepertinya merasa terharu. "Aish. Berhentilah menangis." Lee Songsaengnim membuang muka sambil berusaha leras menahan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya. "Istirahat yang baik huh? Kau harus menari lagi."  Ia meninggalkan Jongin seorang diri sementara Sehun duduk terpaku di luar. 

Setelah Lee Songsaengnim pergi, Sehun masuk ke dalam menemui Jongin. Perlahan ia mendekati Jongin yang tengah menatap ke arah Jendela.

Ia menaruh buah yang dibawakan untuk Jongin. Kemudian berdiri di sebelah Jongin. Sehun menatap wajahnya. Namja itu menatap dengan tatapan kosong.
"Jongin-ah. Gwenchana?" Tanya Sehun melirik Jongin.

"Em. Nan gwenchana." Jongin menatap Sehun lalu tersenyum dengan bibirnya yang kering.

"Jeongmal?" Sehun tau Jongin berbohong. Jongin tidak berbakat berbohong. Sangat terlihat jelas di wajahnya kalau saat ini ia merasa tertekan.

Mata Jongin berkaca kaca tetapi ia berpura pura kuat di depan Sehun. "Chukkae Sehun-ah. Kau membuatku bangga menjadi temanmu."

"Aku sangat berterimakasih kepadamu. Kalau bukan karenamu aku tidak bisa seperti ini."
Jongin menunduk lagi memikirkan sesuatu. 

"Sekarang aku hanya bisa mendorongmu dari belakang. Aku tidak bisa menarikmu lagi dari depan. Mian." Ujarnya dengan mata berkaca kaca.

"Ya! Kim Jongin apa yang kau katakan! Kita akan selalu bersama baik susah maupun senang." Sehun memegang kedua pundak Jongin. "Sama seperti aku yang terjatuh di ruang dance, seorang namja menolongku. Dia mengulurkan tangannya menunjukkanku bagaimana sebuah perjuangan itu." Sehun mengangkat dagu Jongin. "Kim Jongin! Kita mulai bersama sama. Aku akan selalu berada disisimu eo?" Sehun merasa Jongin mulai terisak.

"Aku tidak diperbolehkan menari selama kakiku belum sembuh. Bahkan jika hal buruk terjadi selamanya aku tidak akan bisa menari lagi." Air matanya Jongin tak dapat ia bendung.

Sehun mencoba menenangkan Jongin sahabatnya. "Maka dari itu. Ikuti kata dokter jangan menjadi pembangkang. Kau harus cepat sembuh tanpa kau disisiku aku merasa kesepian. Kim Jongin berjanjilah padaku bahwa kau akan kembali ke sekolah dan menari bersamaku." Sehun tersenyum ke arah Jongin. Namja yang kini menatapnya menyeka air matanya. Ia tersenyum menatap Sehun.

----------

Sekolah terasa sepi tanpa kehadiran Jongin. Sehun memasukki kelas, ia mendengar desas desus yang kurang mengenakkan. Seseorang berbisik kepadanya temannya. Benarkah dia yang mencelakakan Kim Jongin? Bukankah mereka bersahabat? Sehun menaruh tasnya berusaha tidak menghiraukan celotehan siswa siswi di kelas.

Gosip itu terus merembet. Hingga suatu hari ketika Sehun kembali dari gedung WoW Ent, dia kembali ke sekolah tiba tiba saja Sehun di cegat oleh seorang siswa sebelum ia sempat menaruh tasnya. "Aigu. Teganya kau kepada Kim Jongin. Hanya karena ingin menang seleksi kau mencelakainya? Kau benar benar bocah tengil."

Sehun mengerutkan alisnya. "Apa yang kau katakan?" Mata Sehun melirik Jimin yang tengah duduk santai memakai earphone.
Seluruh siswa di kelas saling berbisik. Mereka menuduh Sehun mencelakai Kim Jongin. Cobaan apalagi yang menimpa Sehun. 

"Kau benar benar jahat ya Oh Sehun. Bukankah Jongin sangat baik denganmu? Kenapa kau tega melakukannya?" Tanya seorang siswi membuat mata Sehun memerah.

"Ya! Aku bertanya! Tegakah aku melakukannya huh? Menurutmu apakah aku akan tega melakukannya kepada sahabat ku sendiri? Aku buka rubah yang rakus hanya karena ingin menang lalu mencelakai orang. Berpikir rasionallah sebelum kalian menuduh orang!." Sehun melangkahkan kakinya tetapi urung karena seorang siswa mulai berceloteh.

"Aish. Tampang polosmu benar benar menipu Oh Sehun. Sebaiknya kita jaga jaga dengan orang seperti dia."
Sehun menatap namja itu "lebih baik kau berjaga jaga dari orang yang memberitaumu." Sehun melangkah tetapi tiba tiba  ada seseorang yang melempar sebutir telur dan meleset di samping Sehun. Mata Sehun berkaca kaca ia mengepalkan tangannya.

Tiba tiba dari kejauhan beberapa butir telur dilemparkan lagi. Ya, Sehun ditidak dapat menghindar ia memejamkan matanya.

Plak

Kenapa Tak terasa apapun? Sehun membuka matanya, seseorang berdiri menghadapnya. Dari bau parfumnya Sehun tau siapa orangnya. "Jongin-ah." Sehun mengerjapkan matanya. "Aigo." Sehun melirik punggung Jongin penuh telur.

Jongin balik badan lalu ia menatap semua siswa di kelas. Kakinya berbalut perban dan ia berdiri memakai tongkat. Sangat meprihatinkan. 

"Apa yang kalian lakukan dengan temanku? JAWAB AKU!" Jongin berteriak.

"Ya! Kim Jongin! Kenapa kau membela Sehun yang jelas jelas telah mencelakaimu?" Seru seorang siswa.

Tatapan Jongin terarah kepada Jimin yang masih asik dengan dunianya sendiri. "Haha. Kalian lucu sekali. Kalian mau tau siapa yang mencelakaiku hah?"

Sehun yang masih berdiri di balik punggung Jongin kini berdiri di sebelahnya. "Dia juga ingin mencelakai Sehun. Dia menaruh paku di dalam sepatu Sehun tetapi aku segera melabraknya dia marah dan melakukan ini kepadaku." Sehun terkejut menengar penuturan Jongin. Jafi Jongin terluka karena menyelamatkan dirinya? Sehun tak habis pikir.

"Lalu siapa pelakunya."

Jongin memgeluarkan ponselnya dan menunjukkannya kepada teman teman juga Sehun. "Menurut kalian siapa dia?" Tanya Kim Jongin.

Semua mata menatap Jimin kesal juga dongkol. "Ya! Jimin ! Bukan hanya mencelakai orang kau juga tukang fitnah! Aku tidak menyangka kau seperti itu."

Siswa pria yang sangat kasar menarik earphone Jimin dan membantingnya. "Pecundang tukang fitnah! Apa kau tidak tau malu hah?" Mata Jimin memerah ia mengepalkan tanganya menatap seluruh siswa yang benar benar kesal dengannya. Beberapa telur dilempar ke arah Jimin. Ia hanya berdiri mematung menatap Jongin dan Sehun. Kemudian segera pergi meninggalkan kelas. 

"Pergi saja kau! Memalukan sekali, kami tidak ingin memiliki teman sepertimu."

------------

Kini kemanapun Jongin pergi, Sehun selalu bersamanya. Merangkulnya yang susah untuk sekedar melangkahkan kakinya. 2 kali seminggu Jongin melakukan terapi penyembuhan dengan seorang dokter, sayang sekali Sehun tidak pernah bisa ikut karena ia harus menyelesaikan sebuah projek.

2 bulan sudah kaki Jongin terbalut perban rasanya pasti sangat mengganggu gerak kaki. Tapi hari ini dokter bilang kalau kaki Jongin sudah mulai membaik. Perbannya bisa dibuka, dia juga sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat lagi tetapi untuk latihan yang serius Jongin belum diperbolehkan.

Suara music memenuhi ruang latihan dance. Jongin menari seorang diri. Keringatnya bercucuran. Perlahan lahan ia menggerakan kakinya yang tak terbiasa bergerak cepat lagi.
Sehun yang baru saja pulang dari WoW Ent mendengar denduman music mengalun di ruang dance. Ia berjalan dan melihat Jongin tengah berusaha keras. Sehun hanya menatapnya dari luar. Ketika ia berputar kakinya yang patah tidak dapat menopang badan Jongin.

BRAK

Jongin terjatuh, lama ia tak bangkit, Jongin mengepalkan tangannya.

-----Jongin POV-----

Melakukan ini saja aku tidak bisa? Bodohnya aku! Sekuat apapun aku berusaha tetap tidak bisa. Benar benar menyebalkan!
"Menyebalkan!" Teriakku. "Aaaaarhgh!! Kaki sialan!!" Kenapa aku menjadi lemah seperti ini? Ah ini benar benar mengecewakan!
Nasibku sangat buruk. Dulu hanya sekedar berputar seperti ini sangat mudah kulakukan tapi sekarang? Untuk sekali berputar saja aku tak bisa.

Tiba tiba seseorang mengulurkan tangannya kepadaku. Ku lihat siapa orangnya. Ya, dia namja cengeng yang dulu sering menangis. ia menunjukkan senyumnya kepadaku.
"Hold my hand, bangunlah Kim Jongin. Latihan cukup sampai disini. Kakimu belum sembuh total." Ujarnya menceramahiku. Aku tidak marah karena aku tau dia melakukan ini untuk kebaikanku.

Aku menerima uluran tangannya kemudian berdiri dihadapannya. Sehun menggiringku duduk di lantai. Ia menyodorkan minuman kepadaku dan handuk kecil.
"Kau lelah?" Tanyanya.

Aku hanya terdiam. Aku ingin menjawab aku sangat lelah karena aku berlatih sendirian tanpa seorang sahabat.

Seolah bisa membaca pikiranku Sehun berkata. "Mianhae. Aku menyesal tidak bisa berlatih bersama denganmu. Tapi, tadi aku disuruh buru buru datang ke WoW Ent. Mianhae jeongmal mianhae Jongin-ah." Sehun menatapku penuh penyesalan.

Aku memang ingin dia berlatih bersamaku tetapi aku tidak egois dengan menghancurkan pekerjaan sahabatku. "Masih ada hari esok kan?" Ucapku menaikkan sebelah alisku.
"Kau benar benar sahabat terbaikku Kim Jongin. Ngomong ngomong, aku belum berterima kasih atas kejadian itu. Karena menyelamatkanku dari jebakan Jimin kau jadi seperti ini" mata Sehun berkaca kaca. Dia memang masih namja cengeng yang suka menangis.

"Berapa kali kau ucapkan terima kasih kepadaku? Bahkan kata terimakasih darimu memenuhi memoriku. Berhentilah berterimakasih eo?" Aku menepuk bahunya. Tapi Sehun malah menjewer pipiku. Yang benar saja, apakah aku terlihat begitu imut? Aneh sekali.

"Ya! Kau ingin mendengarkan lagu itu?" Tanya Sehun masih sibuk dengan ponselnya. Aku hanya mengangguk lalu ia menyerahkan sebelah headsetnya kepadaku. Lagu Coffee boy I'll be on your side mengalun merdu.

-----authot POV-----

Sehun menemui Jimin di atap sekolah. Ia berdiri di sebelah Jimin. Namja sombong itu terlihat begitu lesu. Bahkan kemarin ia tidak datang ke WoW Ent.

"Ya! Gwenchana?" Tanya Sehun baik baik.
Tatapan Jimin masih mengerikan. "Jangan sok akrab." Jawabnya ketus.

"Aku hanya kasihan kepadamu. Disaat seperti ini tidak ada seorang teman yang berada disisimu untuk membelamu."
Jimin menatap ke arah lapangan basket di bawah. "Aku tidak akan meminta maaf kepada siapapun. Jangan mengasihaniku."

"Ngomong ngomong, gomawo Jimin-ah. Berkat ejekanmu aku jadi bersemangat latihan dan menjadi seperti sekarang ini." Sehun masih menelaah ekspresi wajah Jimin. 

"Carilah teman eo? Jangan memperbanyak musuh." Sehun menepuk punggung Jimin.
Dari bawah Jongin berteriak memanggil Sehun. "Oh Sehun! Kemarilah! Ayo bermain bersama sama." Teriaknya.

"Ne! Chamkamanyo." Sehun segera meninggalkan Jimin dan bergerak le bawah menghampiri Jongin.

Ya, mereka kini baik baik saja. Rasa sedih rasa terluka dan rasa kecewa telah merubah mereka menjadi sosok yang lebih kuat. Baik sekarang ataupun esok Kim Jongin dan Oh Sehun akan selalu bersahabat. Suatu saat Jongin akan menggapai mimpinya juga. Sehun akan menolong Jongin untuk menggapainya sama seperi saat Jongin yang selalu mengulurkan tangannya kepada Sehu.

Kau selalu berada disisiku. Jeongmal Gomawo nae chingu. Terimakasih telah menghiasi masa SMAku. Kau akan selalu berada di dalam kenanganku untuk selamanya.

------END-------

Hahhhh-- akhirnya selesai juga FF friendship ini. Mohon komentarnya yeth don't be silence reader. Ah iya ini hanya fiktif belaka jadi don't bash everyone  saranghae 

Kamis, 18 Juni 2015

FF Brothership [ FANFICTION : We Will Remember]

Tittle : We Will Remember
Genre : Brothership, Sad
Cast : Gongchan, Sandeul, Baro, Jinyoung, CNU, Bang Yong Guk , RapMon
Author : Saya sendiri

Karena ini hanyalah FF dan cuma fiktif belaka jadi gak ada yang boleh ngeBASH yes ☺ . Mian kalo ceritanya gak terlalu ngena because this is ma first Brothership FF tbh 😀. Ok, let's reading~~

----GongChan POV----

Malam berkabut, dibalik semak-semak ku dengar gengster itu membentak Sandeul hyung dengan kasar. Tak ada perlawanan apapun dari Sandeul hyung. Ia hanya berdiri terpaku.

"YA! paboya! Kenapa kau diam saja?" Seorang yang berambut blonde mendorong dorong jidat Sandeul hyung. Tangan si berambut blonde di tangkap oleh sandeul hyung, membuat mereka berdua terkesiap.

"Aku tidak ingin ribut." Sandeul hyung menghempaskan tangan si rambut blonde yang terlihat begitu garang. Tetapi seorang yang berambut hitam dan bermasker hitam yang menutupi separuh wajahnya malah menendang Sandeul hyung sampai sampai ia jatuh tersungkur.

"Hyung!!" Pekikku tanpa ku sadari. Aku membangunkan sandeul hyung dan menatap ke arah gengster. "Ya! Apa yang kalian lakukan!" Aku masih merangkul sandeul.

"Wah wah wah. Kau ingin menawarkan diri rupanya?" Si berambut hitam yang memiliki suara berat itu mentapku dengan tajam. "Kau ingin bermain main dengan kami? Huh?" Bisiknya ditelinga ku.

"Sudahlah hyung. Kita pergi saja. Rupanya mereka tengah mabuk." Aku menggiring Sandeul menjauh dari gengster tersebut.

"Mimpi yang indah anak ingusan." Teriak salah seorang dari mereka.

----Author POV----

Gongchan dan Sandeul berjalan beriringan menuju dorm. Tiba-tiba Sandeul menghentikan langkahnya. Ia menatap Gongchan. Mulutnya terbuka tanpa ada kata yang ia sampaikan, sandeul mengatupkan mulutnya kembali.

"Ya! hyung, apa masalahmu dengan mereka?" Tanya Gongchan memegang lengan Sandeul yang terlihat begitu syok.

"Eobseo." Sandeul masih melangkahkan kakinya kembali.

"Tapi, kenapa mereka me-" Gongchan menghentikan kata katanya ketika melihat tatapan mengerikan dari Sandeul.
"Jangan bahas masalah ini lagi. Jangan ikut campur. Arasseo?" Sandeul kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Gongchan.

Sandeul yang ceria dan pecicilan tiba tiba saja berubah menjadi sangat dingin dan lemah. Gongchan mengerutkan dahinya kemudian berjalan kembali ke dorm.

Dorm B1A4 10:40 pm KST

Seperti biasa suasana dorm sangat ramai oleh celotehannya Baro. Dia bagaikan dalang diantara kedua hyungnya.
"YA! Hyung kau tau bagaimana gaya hamster pup?" Baro berdiri dan menirukan nya.

"Kau gila." CNU dan baro tertawa terbahak bahak.

KLEK

Pintu terbuka semua mata menatap kearah pintu dan mendapati Sandeul tengah berdiri disana.

"Ya! Sandeulie, kemarilah kau harus-" Jinyoung menghentikan kata katanya.

"Aku lelah." Ucapnya langsung pergi ke kamar.

Ketiga member saling memandang. Mereka merasa aneh melihat Sandeul. Tidak biasanya dia seperti itu. Sekalem itu.

Sekali lagi pintu terbuka. Ternyata maknae datang membawa sekantong plastik penuh dengan snack. Tanpa basa basi ketiga hyungdeul langsung menyerbu kantong plastik yang dibawa Gongchan.

"Sandeul hyung eodi?" Gongchan menatap ke seluruh ruang tengah dorm. 

CNU berdiri sambil melahap roti. "Di kamar. Sepertinya dia tengah ada masalah. Raut wajahnya terlihat begitu mengerikan."

"Sebaiknya aku hibur dia." Baro bangkit ingin menemui Sandeul. Tetapi Gongchan mencegahnya dan menggeleng.

Keesokan harinya, 10:05 pm KST

Gongchan duduk disebelah Sandeul di ruang tengah. Kini mereka hanya berdua di dorm. Member yang lain sedang keluar untuk membeli makanan. Sandeul menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa sambil memegang remote control.

"Hyung. Gwenchana?" Gongchan menyelidiki raut wajah Sandeul.

"Eo." Jawab Sandeul singkat.

"Jinjja? Tetapi kenapa aku merasa hyung berubah. Apa karena gengster waktu itu?"

Sandeul menegakkan tubuhnya. Ia menatap Gongchan lekat lekat. "Sudah kubilang jangan bahas itu lagi!!" Sandeul membentak Gongchan. Raut wajah maknae itu berubah. "Hyung mohon. Jangan ikut campur, anggap saja kau tak pernah tau kejadian semalam." Sandeul membuang muka.

"Sireo! Hyung pikir aku bisa seperti itu hah? Kau berurusan dengan gengster. Mereka berbahaya hyung. Aku tidak ingin kau kenapa napa." Gongchan memegang tangan Sandeul.

"Aku lebih takut kau kenapa napa." Tatapan Sandeul membuat Gongchan melepaskan tangannya. "Jika kau ikut campur sama saja dengan kau masuk ke dalam kandang buaya! Jadi tetaplah diam dan jangan lakukan apapun." Tv sandeul matikan ia melangkah ke kamar meninggalkan Gongchan sendirian di ruang tengah.

----Sandeul POV----

Aku memejamkan mata tetapi pikiranku masih kemana mana. Gara gara kejadian waktu itu aku harus berurusan dengan Yong Guk dan RapMon. Tapi aku akan sangat menyalahkan diriku jika tidak menolong anak itu dari ancaman Yong Guk dan RapMon.

Setiap melihatku mereka selalu mencari masalah. Bahkan aku selalu di  teror oleh meraka. Aku sangat takut setelah kejadian kemarin malam. Kejadian kemarin malam sangat mirib dengan kejadian waktu itu, saat aku menolong anak itu dari tindasan Yong Guk dan RapMon.

Gongchan sepertinya dalam masalah. Aku tidak ingin maknae itu dipermainkan oleh mereka berdua. Tetapi anak itu terlalu nakal. Menolongku dari gengster sama saja dengan menyerahkan diri sebagai penggantinya.

----author POV----
1 minggu kemudian

Pagi telah tiba. Semua member telah berkumpul di ruang latihan hanya Gongchan yang belum datang.

"Hari ini kita akan latihan ngedance Tired to walk. Gongchan belum datang?" Jinyoung menatap semua member.

Baro menggeleng. "Akhir akhir ini Gongchan selalu pulang larut malam. Sepertinya kali ini dia bangun kesiangan." Ujar Baro sambil merangkul Sandeul.

"Pulang larut malam?" Sandeul bergumam.
Pintu ruang latihan terbuka. Gongchan datang dengan senyum menyungging di bibirnya. Ia membungkuk 90 derajat. "Mian. Aku tidur terlalu nyenyak." Gongchan segera bergabung dengan member dan para dancer. Sementara itu Sandeul merasakan ada yang aneh dari Gongchan. Jangan jangan...

Setengah lagu telah diputar dan mereka menari mengikuti alunan musik, tiba tiba saja

BRAK

Semua mata menatap kearah belakang. Gongchan terjatuh dari kursi tempat ia berdiri.

"Gongchanie, gwenchana?"  Semua orang mengerumuninya. Gongchan memegangi kakinya dan meringis kesakitan.

"Gwenchana." Gongchan berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan di kakinya. "Kita lanjutkan saja."  Gongchan kembali berdiri.

----skip----

Setelah selesai latihan dance Sandeul menarik tangan Gongchan menuju kebun dorm. "Kau baik baik saja kan Channie?" Sandeul terlihat begitu kawatir.

Gongcham tersenyum manis. "Gomawo hyung sudah mengkawatirkanku." Gongchan segera menggiring Sandeul masuk ke dalam dorm.

11:10 pm KST

Malam ini Gongchan mengenakan jaket hitam dan topi hitam menutupi kepalanya. Ia menyelinap keluar tanpa seorangpun yang mengetahui. Dipersimpangan jalan yang sangat sepi ponsel Gongchan berdering ia segera merogoh saku jaketnya.

"Wae?" Jawabnya ketus. "Dimana kau Bang Yong Guk? Cepat keluar." Gongchan menatap kesegala arah. "Jangan bermain main denganku." Gongchan memutuskan sambungan ponselnya

"Kau datang juga rupanya." Bang Yong Guk membawa sebatang besi yang ia seret sementara Rap Mon mengikutinya dari belakang. Mereka mendekati Gongchan sambil terus mengoceh.

"Kau merasa hebat huh?" Rap Mon mendorong tubuh Gongchan hingga ia terhuyung ke arah Yong Guk.

"Berani beraninya kau!" Gongchan melayangkan tinjunya ke arah wajah RapMon.

"Oh oh oh. Hanya segitu? Biar ku tunjukkan."

BUG BUG BUG

"Akh~" sudut bibir Gongchan berdarah. Ia kembali melayangkan tinju tetapi kakinya dipukul dengan besi oleh Yong Guk. Gongchan merintih kesakitan. Ia terjatuh di tanah sambil memegangi kakinya. Tanpa diampuni Yong Guk malah menginjak keras kaki Gongchan hingga berdarah.

"Kurang ajar kau!!" Gongchan mencoba bangkit dan ingin menyerang Yong Guk tetapi tubuhnya ditendang keras di bagian punggung oleh RapMon hingga ia terjatuh pas di kaki Yong Guk. "Kalian bisanya hanya main kroyokan!!!" Gongchan kembali mencoba berdiri tetapi Yong Guk menginjak keras perut Gongchan.

"Akh~" tatapan Gongchan begitu sayup. Tetapi ia masih berusaha bangkit. RapMon segera memegangi tubuh Gongchan dengan sangat erat. Sementara Yong Guk mendekatinya sambil menyeret besi yang ia bawa.

"Ku rasa kau tidak akan bisa menari lagi. Lihatlah kakimu. Hahaha. Setelah ku pukul waktu itu kupikir kau tidak akan berani lagi muncul di hadapan kami. Ternyata kau begitu keras kepala ya." Bang Yong Guk menarik rambut Gongchan hingga wajahnya terangkat.

"Lepaskan aku! Kalian main curang! Sampah!!" Gongchan tersenyum hingga sederet giginya yang berlumuran darah terlihat.

Bang Yong Guk mengepalkan tangannya. "Kurang ajar kau!!"

"Akh~"

Ponsel Gongchan tiba - tiba berdering. Yong Guk merebut ponsel dari Gongchan dan menggeser tombol hijau.
"Channie! Gongchannie! Eodie? Kau baik baik saja?" Terdengar suara Jinyoung kepanikan.

"H-Hyung." Gongchan mencoba berbicara tetapi rasa tidak kuat lagi setelah dipukuli berkali kali oleh gengster sialan ini.

"Bawa dia." RapMon dan Yong Guk menggiring Gongchan memasukki mobil. Setelah itu semua terlihat gelap. Gongchan lupa dengan segalanya.

----skip----

Terdengar suara RapMon dan Yong Guk terngiang ngiang. Mereka tertawa dan berbisik. Perlahan Gongchan membuka matanya. Ia merasa tubuhnya sangat sakit. Gongchan menatap kesegala arah, ia tengah berada di dalam sebuah ruang di gedung tak terurus. Gongchan menegakkan tubuhnya tetapi seluruh badannya terasa sangat sakit.

"Mimpi indah?" Tanya Yong Guk masih duduk di kursinya. Sementara RapMon menghampiri Gongchan.

Mata Gongchan membelalak menatap RapMon yang perlahan semakin mendekat ke arahnya. "Kau puas sekarang? Kau senang sudah menyiksa orang lain hah?" Gongchan masih menatap RapMon kesal

"Berani beraninya kau menatapku seperti itu." RapMon semakin mendekat ke arah Gongchan.

"Hidup kalian sangat menyedihkan! Aku merasa kasihan dengan kalian!!" Bibir gongchan bergetar ia merasa begitu emosinya. "Rasakan kau SAMPAH!!!" Gongchan menyerang RapMon dengan tubuhnya yang lemas. Ia berhasil meninju wajah RapMon tetapi kali ini Gongchan balik dipukul olehnya berkali kali hingga Gongchan bersimpuh di hadapan RapMon.

"Bangun kau! Bangun!" RapMon menendang Gongchan hingga terpental dan tubuhnya membentur tembok. Darah segar keluar dari mulut Gongchan.

"Uhhuk uhhuk." Gongchan memegangi perutnya. Tubuhnya sudah benar benar sangat lemas. RapMon ingin menyerang Gongchan kembali tetapi Yong Guk menghentikannya.

Yong Guk berlutut di hadapan Gongchan. "Ya! Angkat wajahmu! Ada seseorang yang ingin berbicara."

Di layar ponsel terlihat wajah Sandeul. Ekspresi wajahnya begitu syok ketika melihat Gongchan berlumuran darah tak berdaya dan wajahnya babak belur.

"Chan-ah. Gwenchana? Kenapa kau bodoh seperti ini! Chankamanyo. Hyung akan menyelamatkanmu." Nafas Sandeul Ngos ngosan sepertinya dia berlari sangat jauh.

"A-ndwe H-hyung. Jangan kemari." Gongchan tak bisa banyak bicara lagi ia sudah tak kuat.

Tak berselang waktu cukup lama terdengar suara Sandeul memanggil manggil. "YA! Bang Yong Guk! RapMon! Dimana kau! Jangan bersembunyi pengecut!" Teriaknya keras.

Ponsel Gongchan kembali berdering. Sengaja tak Yong Guk matikan. Gongchan hanya bisa duduk lemas di pojokan tanpa bisa melakukan apapun.

BRAK

Pintu ditendang keras oleh Sandeul hingga terbuka. Tatapannya menyapu ke segala arah. Ia mendapati GongChan terduduk lemas di pojokan sana. Dengan terburu buru Sandeul menghampiri dongseng tercintanya itu.

"Chan-ah. Paboya! Kenapa kau lakukan ini huh? Kenapa kau mebahayakan dirimu!" Sandeul memeluk tubuh Gongchan. Sementara Gongchan tak bisa berkata-kata. "Bertahanlah. Hyungdeul akan segera datang eo!" Sandeul menghapus air mata yang menetes di pipinya.

GBRAK

Yong Guk melempar kursi kearah Sandeul dan Gongchan. Merasa dihina, Sandeul berdiri dan menendang kursi hingga terlepar ke arah Yong Guk.

"Wah~ akhirnya kita berkumpul disini. Apa kabarmu Lee San Deul pengecut?" Ujar Yong Guk mengejek.

RapMon tertawa seperti orang gila. "Sayang sekali pahlawanmu sudah tak berdaya lagi. Bagaimana ini? Hahahah."

Kini Yong Guk menatap lekat kearab Sandeul. "Salah siap yang sok menjadi pahlawan? Salah kami? Hahahha omong kosong!" Bang Yong Guk mendekat beberapa langkah. "Siapa yang ingin menyelamatkan mangsa kami berarti dia menawarkan diri menjadi mangsa kami. Kalian paham? Paham tidak!?" Bentak Yong Guk.

"Selama ini aku tak ingin mencari masalah dengan sampah sepertimu. Aku bungkam bukan berarti kalah. Karena kau berani melukai dongsaengku. Aku akan mengabisi kalian!" Sandeul mendorong tubuh RapMon kasar. "Kalau kalian pemberani maju satu satu! Aku tidak meladeni keroyokan!" Sandeul melangkah mendekati Yong Guk. Mereka saling memukul hingga terhuyung lemas.
Sandeul benar benar membabi buta. Ia melayangkan tinjunya berkali kali ke arah Yong Guk. Matanya merah tubuhnya bergetar hebat. Gongchan tidak tau setan apa yang merasuki hyungnya hingga membabi buta menyerang Yong Guk.

"Ini untuk mu karena berani melukai Gongchan!" Sandeul melayangkam tinjunya tepat mengenai perut Yong Guk.
"Akh~ uhhuk."

BRAK

Tubuh Yong Guk terjatuh di atas kursi yang sudah patah. Ia merintih kesakitan. Sementara itu Gongchan mengamati RapMon di sisi kanan. Dia terlihat tengah menyiapkan sesuatu kemudian menyimpannya di saku jaketnya. Darah di hidung Sandeul menetes begitu saja. Wajahnya lebam dan penuh luka.

"Kemari kau pengecut!"  Sandeul mendekati RapMon tetapi sepertinya RapMon sudah berancang ancang. Ia balik badan langsung menendang Sandeul hingga terjatuh. Tak ingin kalah Sandeul segera bangun dan meladeni RapMon. Mereka saling adu tinju.

BRAK BUG DUG

"Akh~" RapMon merintih kesakitan. Tubuhnya terpentah dan membentur meja.

"Cuh!" Sandeul meludah. "Hanya segini kekuatan kalian? Menyedihkan sekali!" Sandeul menendang perut RapMon. "Kau pias sekarang? Kurang?" Sandeul menendangnya sekali lagi kemudian berjalan dengan gontay ke arah Gongchan. Ia menunjukkan senyumnya tetapi tatapan Gongchan begitu sayup. "Gwenchana." Sandeul semakin mendekat kearah Gongchan tetapi mata Gongchan tiba tiba saja membelalak. Mulutnya membuka dan ia berusaha bangkit.

"Ku habisi kau Lee Sandeul!!!!" RapMon berlari membawa pisau mengkilap dan siap menikam Sandeul.

"Hyung!!" Gongchan Menarik tubuh Sandeul dan memeluknya erat.

CRUK

Mata Sandeul tak berkedip. Ia menatap RapMon terkapar tak sadarkan diri di sebelahnya. Sementara Gongchan masih memeluknya erat. saat itu waktu terasa tiba tiba berhenti berputar. Sandeul meraba punggung Gongchan, sesuatu membasahi tangan Sandeul. Tubuh Sandeul bergetar, tangannya dipenuhi darah segar.

"Eotteokhae? Eotteokhae?" Gumamnya. Bibir sandeul bergetar. Matanya berkaca kaca dan pikirannya kacau. Gongchan melepaskan pelukannya, anak itu malah tersenyum kearah sandeul. Jelas jelas wajahnya begitu pucat.

"Gongchan-ah eotteokhae?" Sandeul masih tak bisa menerima apa yang telah terjadi. Dari punggung ke perut Gongchan di tembus oleh pisau yang dibawa RapMon.

"H-hyung. Gwenchana~." Gongchan mencoba tersenyum matanya menatala dengan tatapan kosong, kemudian ia meringis kesakitan. "Uhhuk."

Air mata Sandeul tak bisa ia bendung Gongchan yang kini bersimpuh dihadapannya begitu lemah. "Bertahanlah Chan-ah kau harus bertahan." Sandeul memegang pipi Gongchan.

Lagi lagi gongchan tersenyum. "U-uljima Lee Sandeul. Mi-mianhae. Akh~." Gongchan memegangi luka akibat bacokan. "Semua sudah selesai." Ia tersenyum. Sesaat menatap mata Sandeul lalu tubuh Gongchan tumbang kearah Sandeul.

"Ah, Chan-ah!! Gong Chan Shik!! Bertahanlah. Aa channie ini tidak boleh terjadi!!" Pekik Sandeul. Derap langkah kaki memasuki ruangan. Para polisi, para member dan menejer hyungnim memenuhi ruangan. Sementara para polisi membawa RapMon dan Bang Yong Guk ke kantor polisi,  para member dan menejer hyungnim mengahampiri Sandeul dan Gongchan. Jinyoung merasa kakinya lemas. CNU segera mengangkat tubuh Gongchan dari Sandeul. Baro terkejut dan mendekap Sandeul yang masih bergetar hebat. Sementara menejer hyungnim tertunduk lemas.

"Na ttaemune." Sandeul menangis terus terusan sambil memegangi tangan Gongchan. " gara gara aku Gongchan seperti ini. Semua salahku. Jika ada yang harus disalah akulah orangnya!!" Sandeul memeluk Gongchan. "Mianhae Channie "

"A-aniya Hyung. Ja-jangan menyalahkan dirimu. A-ku akan me-membencimu jika kau seperti it-u." Nafas Gongchan ngos ngosan.

"Channie." Ucap semua member dan menejer hyungnim
"Hyung Go-gomawo." Gongchan mentap semuanya. "Beejanjilah untuk ti-tidak menyalahkan dirimu sen-diri." Gongcah mengacungoan jari kelingkingnya kepada Sandeul.

"Yakseo." Ucap sendeul parau. Ia melihag senyum tipi di bibir Gongchan.

"Galke." ucapnya pelan dan lemah. Matanya tertutup dan tubuhnya telah tak berdaya.

"Gongchan-ah~ wae?? Kenapa kau tinggalkan kami!" CNU memeluk erat tubuh Gongchan. Sementara yang lainnya terisak menangis sejadi jadinya.

"Andwee!!" Pekik jinyoung seraya memeluk CNU dan Gongchan.

----Sandeul POV----

Chan-ah jeongmal gomawo. Kau adalah malaikat tanpa sayap yang dikirim untuk menyelamatkanku. Kami akan selalu mengingatmu dan merindukan candamu senyummu keisenganmu Channie

-----END-----

Sekali lagi ini hanyalah fiktif belaka jadi jangan ada yang Bash ya. Makasih udah membaca. Happy reading yeorobun.

Sabtu, 12 April 2014

[FF B1A4] Ketika Baro Sakit Gigi

Author : Kim SeoRa (asri wijayanti Pororo)
Cast : Member B1A4

Ini FF tergaje yang pernah terfikir di otak saya. Nah.. FF ini mucul ketika saya lagi galau dan mikirin oppadeul. Ga ada yang mau tau ya? Ok ya udah, abaikan :-P

Malam hari yang amat sangat biasa saja. Sandeul masih belajar kimia di kamarnya. Sebenarnya sih dia ga serius belajar. Karena dia lagi smsan sama Baro. Padahal Baro ada di tempat tidur di belakangnya Sandeul (?)

Baro : Coy! Bantuin gue huahuahua :'(
Sandeul : Lu nangis ?
Baro : Kagak, gue ngerapp.
Sandeul : Oh. Kirain nangis.
Baro : Demi kuntilanak di kutub utara. Demi penguasa bumi dan surga. Otak lu udah error kali ye. Gue nangis. Nih gigi gue lagi sakit makanye gue sms lu. Gue kagak bisa ngomong. Aduhh
Sandeul : Lagian sih lu. Udah dibilangin abis makan cuci tangan biar ga sakit gigi. Gini kan jadinya.

Baro merasa semakin panas. Ia ingin teriak tapi apadaya mulut tak bisa di buka. Telinga baro keluar asep (?) pengen memutilasi sandeul (?)

Baro : dapet ilmu dimana lu ? Sejak kapan penyebab sakit gigi jadi kaya gitu? Lagian gue makan juga pake spatula kali (?). Jadi ga perlu cuci tangan

Sandeul : dapet ilmu dari author nih. ( lah kok Sandeul oppa malah nyalahin aku? Kkk )

Baro : Udahlah.. Gue mau minta tolong pokoknya beliin gue obat sekarang juga!
Sandeul : obat apa? Dimana? Berapa harganya? Sekarang ya?
Baro : adooh. Sandeulie. Ya obat sakit gigi lah. Beli noh di warung makan bu mimin. Ya di apotek lah. Harganya? Ya mana gue tau. Sebagai soulmate gue yg baik gue minta tolong sekarang juga. Hikhikhik

Sandeul segera bergegas keluar.

Baro teringat sesuatu. Akhir-akhir ini Sandeul diserang penyakit pikun. Baro mengusap jidatnya gemas. Sepertinya Sandeul tidak bisa diandalkan. Ia segera keluar kamar melihat Gongchan tengah menonton upin ipin.

"Eh hyung. Kenapa? Mau jengkol rasa kare ayam? Enak loh."

Lu kagak tau apa hyung lagi sakit gigi.

"Tumben diem " Ujar gongchan masih menonton upin ipin. Gongchan ngefans banget sama si mail. Katanya mirib sama baro. :-P

Baro segera menunjukkan sebuah kertas yang udah ditulisinya. Dan gongchan membaca seperti lagi baca soal UN mata pelajaran bahasa alien XD

" Aku ga punya uang lah hyung. Ga dapet job juga akunya. Hyung kan banyak job. Sini dong bagi duitnya buat beli obat. " Tuntut Gongchan. Dengan berat hati Baro memberikannya. "eh tapi hyung. Nanti aku ketinggalan upin ipin dong? Gimana nih?" Gongchan berusaha berfikir.

"Ah. Hyung ceritain entar kalo udah sembuh ne?" Baro hanya mengangguk. Dan merasa lega kalo sekarang maknae cerewet bin ajaib itu sudah pergi.
"Hyung." Tiba-tiba gongchan muncul lagi.

Lu orang kedua yang pengen gue cekek Gongchan!!

"Dimana beli obatnya?" tanya Gongchan cengengesan.

Baro menulis di kertas dan menununjukannya ke gongchan.

"Baiklah. Da hyung." Gongchan pergi sambil nyanyi lagu upin ipin tanam-tanam ubi.

Bisakah gue andelin tu anak? Kayaknya gak deh.

Baro merasa kesal seperempat mati (?) lalu ia menghampiri Jinyoung di ruang rekaman. Jinyoung seperti zombie yang tengah menatap kosong ke layar komputer. Baro menyentuh bahu jinyoung. Dan terkejut melihat kantong mata jinyoung.

Baro menunjukkan kertas yang sama seperti yang ditunjukkan ke Gongchan. Jinyoung pun mengangguk lalu segera pergi. Baro tidak tau apakah jinyoung terjaga atau malah dia setengah tertidur.

Hanya CNU hyung.yang bisa diandalkan. Tapi dia malah keluar hari ini. Ahh. Aku harap jinyoung hyung dapat membantuku.

------- skip ---------

Sandeul kebingungan di tepi jalan. Ia tidak ingat di suruh beli apa tadi sama baro. Seingatnya baro ada masalah sama gigi. Sandeul menciba mengingat tapi tidak ingat juga.

"Kayaknya bukan masalah serius deh tadi. Ahh kenapa pikun gini sih gue? Apa jangan-jangan gara-gara sering main catur  bareng nenek-nenek di komplek ye?" Sandeul duduk di halte masih berfikir keras.

Sementara itu, Gongchan si maknae berjalan sambil meloncat-loncat gembira. Tiba-tiba ia melihat anjing manis di tepi jalan. Ia pun menghampirinya.

"Woy! Sendiri aja. Mana emak lu? Lucu banget sih. " Gongchan mengelus kepala anjing itu. Tanpa disangka, anjing itu marah dan menggong-gong gongchan.
"Gong gong. "
"wah lu kenal gue juga? Lu tau nama gue?" Gongchan belum sadar kalo anjing itu marah. Lalu anjing itupun mengejar Gongchan sampai keujung dunia (?).
"aaaaaaaaaa emak CNU tolongin." Gongchan lari terseok-seok kiri kanan di jalan karena anjing itu terus mengejarnya. Sampai-sampai gongchan ga sadar udah nangkring kaya  kuntilanak di atas pohon.

"Lah? Terus turunnya gimana?" Gongchan kebingungan.

Lain halnya dengan Jinyoung. Matanya terasa berat karena udah 1 minggu begadang (?). Jinyoung ga ikutin saran roma irama sih. :-P ia berjalan dengan lemasnya

"Ngantuk. Pake banget. Ngapain juga gue ada di sini? Aneh. Tapi tadi Baro nyuruh apa gitu? Gue lupa karena ngantuk yang tak tertahankan lagi. Sepertinya ini cuma halusinasi doang. Mending tidur ah." Jinyoung malah tidur di emperan toko seperti gelandangan.

---------skip--------
Baro masih menunggu di dorm sambil memegangi pipinya. Tiba-tiba bel berbunyi.

"Ya. Baro. Hyung merasa sangaaaaaaaaaaat senang." CNU menjewer pipi baro.

Seperti roket yang mau lepas.landas baro meluncur kesana kemari di dorm kehilangan kendali sambil berteriak histeris. "AaaaaaAaaAaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriakan itu berhasil membuat CNU latah

"Eh tuyul gondrong " CNU ikut berlari mengikuti Baro karena ia tidak tau ada masalah apa

"Baro. Tunggu hyung. Ada apa toh? Kok lari? Ada maling? Kamu kemalingan? Atau selebrasi kemenangan timnas? Kamu dicari ulat bulu? Atau ini tarian terbaru di yks?"

Sandeul, Gongchan, jinyoung tertegun mendengar teriakan Baro yang nyaring dan menusuk telinga.

Jeng jeng "Baro?" dengan ekspresi terkejutnya sandeul mulutnya mirib sama bebek.

Jeng jeng " Baro hyung?" langsung loncat dari pohon seperti superman turun dari langit.

Jeng jeng "Baro?" langsung bersila seperti petapa di gunung apalah itu.

"Baroooooooo" ketiga lelaki itu.langsung lari kembali ke dorm. Dan tanpa direncanakan mereka betemu di perjalanan.

"Ada apa dengan soulmate gue? Apakah dia digigit kecoa? Atau dia yang gigit kecoa?"

"Jangan-jangan hyung di culik lagi? Terus mereka minta uang tebusan ke kita. Kan ribet jadinya. Kasihan kan uang kita buat nebus baro hyung mending ditabung."

"Sepertinya Baro baik-baik saja. Kenapa kalian harus panik?" ujar Jinyoung.

"lalu kenapa hyung panik?"

"Gue ga panik."

"Buktinya larinya paling kenceng."

"Eh iya. Mangap deh."

Hampir sampai di dorm eh Sandeul malah masih lari kenceng.

"Eh kecebong! (kasian sandeul dibilanv kecebong :-P) Ini nih rumah kita. Lu mau kemane ah? Ke rumahnya bang toyib? Entar ditularin mau? Ga pulang-pulang lagi." Ceroscos Jinyoung yg ngantuknya tiba-tiba ilang.

"Salahnya ayu tingting sih ngasi alamat palsu. Kan bang toyib jadi nyasar makanya ga pulang-pulang.'

"Emang gitu ya ceritanya? Kok aku baru tau? " Gongchan melongo.

"Aaaaa tolongin gue. Baro membabi buta. Tolongin!! " Teriak CNU menerobos pintu sampai-sampai pintu dorm bolong. Waduhh

CNU lari mengelilingi dorm di susul Baro yang mengajar sambil membawa panci pengorengan dan seperangkat alat masak lainnya.

"Maafin hyung. Ga tau kalo lu lagi sakit gigi. Ini mah namanya lari malem. Bisa-bisa tubuh gue semakin perfect. " Cnu lari terbirit-birit. Sambil menghindari panci yang berterbangan di atasnya.

"Gue kagak kuat lagiiii."
"Hyung!! Terima balasanku."
Sebuah spatula terbang ke arah pantat CNU.

KROEEEEK

"Oh Ma God." Celana CNU sobek dan Baro menari gembira.

"Setelah ini.  Sepertinya pengeluaran semakin banyak. Dan uang kas semakin menipis gara-gara peralatan rumah tangga pada rusak." Jinyoung menulis di buku nota sambil bersila di tanah. Sementara SanChan menatap Jinyoung aneh.

----------end--------

Maaf ga lucu. Karena saya author belum berpengalaman di bidang perepepan.. Makasi.udah mau baca FF ini..

Sabtu, 25 Januari 2014

Love then - B1A4 feat Harim

Gakkeum mami neomu apaseo
Jamdo mot irwotjyo
Gakkeum neomu himi deureoseo
Wonmangdo haesseotjyo

Nae gieok sok ibyeorui gieok
Ijeneun useul su itjyo
Apahago himdeureotjiman
Ijen useul su inneyo

Sarang geuttaen naege haengbogeul jwotjiman
Gyeolguk ibyeoriran seulpeumeul jueotjyo
Ibyeol geuttaen naege seulpeumeul jwotjiman
Ijen apeumbodan joheun chueok

Ajik geuttaereul geuriwohajiman
Yejeoncheoreom himdeuljineun annneyo
Jiugo jiwodo jiul su eobseotdeon
Geuttaega jeomjeom huimihaejyeoyo

Nae gieok sok ibyeorui gieok
Ijeneun useul su itjyo
Apahago himdeureotjiman
Ijen useul su inneyo

Sarang geuttaen naege haengbogeul jwotjiman
Gyeolguk ibyeoriran seulpeumeul jueotjyo
Ibyeol geuttaen naege seulpeumeul jwotjiman
Ijen apeumbodan joheun chueok

Siganeun heulleoganda mulcheoreom heulleoganda
Gyeolgugen byeonhaeganda (sesangeun byeonhaeganda)
Modeun geon byeonhanda

Sarang geuttaen naege haengbogeul jwotjiman
Gyeolguk ibyeoriran seulpeumeul jueotjyo
Ibyeol geuttaen naege seulpeumeul jwotjiman
Ijen apeumbodan joheun chueok

Barami bureoonda nae modeungeol sseureoganda
Sigani heulleoganda


English Translation:

Sometimes, my heart ached so much that I couldn’t sleep
Sometimes, it was so hard that I resented you
In my memories, the memories of breaking up, now I can laugh about it
It was painful and hard but now I can smile

Love back then gave me happiness
But in the end, it gave me the sadness of breaking up
Breaking up back then gave me sadness
But now it gives me good memories rather than pain

I still long for those times but
It’s not as hard as before
I tried to erase and erase but I couldn’t erase those times
But now, it gets faint

In my memories, the memories of breaking up, now I can laugh about it
It was painful and hard but now I can smile

Love back then gave me happiness
But in the end, it gave me the sadness of breaking up
Breaking up back then gave me sadness
But now it gives me good memories rather than pain

Time is flowing by, flowing by like water
In the end, things change (the world changes), everything changes

Love back then gave me happiness
But in the end, it gave me the sadness of breaking up
Breaking up back then gave me sadness
But now it gives me good memories rather than pain

The wind is blowing, sweeping away all of me, time is flowing

Selasa, 21 Januari 2014

Lirik Too much - B1A4 SANDEUL & GONGCHAN

Romanized:

[SANDEUL] Haru jongil bogowado neomu bogo sipeun nal
Eotteokhae nado eojjeol jul molla eosaekhande

[GONGCHAN] Bogo isseodo geuriwo jakku boge dwae
Neoneun meotjjeokge sonsaraereul chine

[SANDEUL] Amuri jigeum nae maeumeul pyohyeon haryeogo haedo
Soyongi eomneungeol soyongi eomneungeol

[GONGCHAN] Geuriumeun kkeutdo eomneun bada jakkuman deoreonaedo
Tto geuriwo geuripgo geuriwo
Yeojeonhi geuriwo geuripgo geuriwo

[SANDEUL] Geuriumeun heulleoganeun sigan amuri magabwado
I’m missing you missing you missing you
I can’t stop missing you missing you missing you

[GONGCHAN] Nega geunyang heullin maldo naegeneun
Neomu keoseo gakkeumeun beokchal ttaedo isseo

[SANDEUL] Oneuldo gwaenhi sasohan ne gwansim hanaedo
Gaseumi ttwineun geol gaseumi ttwineun geol

[GONGCHAN] Geuriumeun kkeutdo eomneun bada jakkuman deoreonaedo
Tto geuriwo geuripgo geuriwo
Yeojeonhi geuriwo geuripgo geuriwo

[SANDEUL] Geuriumeun heulleoganeun sigan amuri magabwado
I’m missing you missing you missing you
I can’t stop missing you missing you missing you

[GONGCHAN] Na na eotteoke jinaesseulkka neol mollatdeon
Geuttaeui na jal utjido anhanneunde

[SANDEUL] Naega neol mannaseo cham manhido byeonhaesseo byeolgeo anin ire
Na jakkuman useumi tteonajil anko meorissogen neo bakke eomna bwa

[GONGCHAN] Nae sarangeun kkeutdo eomneun bada jakkuman chaewobwado
Tto saranghae saranghae saranghae
Yeojeonhi saranghae saranghae saranghae

[SANDEUL] Nae sarangeun heulleoganeun sigan amuri geoseulleodo
I’m loving you loving you loving you
I can’t stop loving you loving you loving you

English Translation:

Days when I miss you even when I see you all day
What should I do? I don’t know what to do either, it’s awkward
I’m looking at you but I miss you, I keep looking at you
You uncomfortably wave your hand
No matter how much I try to express my heart right now
There’s no use, there’s no use
Missing you is like a bottomless ocean, I keep emptying you out
But I miss you, miss you and miss you
I still miss you, miss you and miss you
Missing you is like the passing time, no matter how hard I try to block it
I’m missing you missing you missing you
I can’t stop missing you missing you missing you
Sometimes, words that you just say
Are so big to me that it’s overwhelming
Again today, at your small interest
My heart is racing, my heart is racing
Missing you is like a bottomless ocean, I keep emptying you out
But I miss you, miss you and miss you
I still miss you, miss you and miss you
Missing you is like the passing time, no matter how hard I try to block it
I’m missing you missing you missing you
I can’t stop missing you missing you missing you
How did I live when I didn’t know you?
I didn’t even smile that much back then
After meeting you, I changed so much
I keep laughing over nothing and only you live in my head
My love is like the bottomless ocean, I keep filling it up
But I love you, I love you, I love you
I still love you, love you, love you
My love is like the passing time, no matter how much I turn it back
I’m loving you loving you loving you
I can’t stop loving you loving you loving you

Jumat, 17 Januari 2014

I Love You? | teenlit |

Judul : I Love You?
Author : Asri Wijayanti

Note : Cinta itu aneh. Cinta itu ajaib. Cinta itu menyakitkan. Satu kata banyak makna itu kadang membingungkan. Karena cinta tidak dapat diselesaikan dengan rumus phytagoras.

Pagi yang sangat sejuk membangunkan Hyu ra dari tidurnya yang nyenyak. Ia tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit. Ia bergegas mandi 2 jari atau apalah itu sebutannya. Pakai seragam sisiran seadanya lalu ia bergegas keluar dari kamar menuruni tangga dan tanpa sarapan apa-apa ia segera menaiki sepedanya untuk pergi ke sekolah.

Di sekolah, Dae hyun tengah gelisah menunggu Hyu ra datang. Namja bertubuh tinggi, berkaca mata dengan rambutnya yang dicukur rapi masih berdiri di halaman depan sekolah.

Sesekali Dae hyun melihat jam tangannya dan kembali mengamati kedatangan Hyu ra. Hingga akhirnya bel tanda jam pelajaran pertama dimulai Hyu ra tak kunjung datang. Membuat Dae hyun pasrah karena temannya itu akan kena hukum lagi.

Sebenarnya Dae hyun heran. Sepertinya Hyu ra lebih malas darinya. Padahal dia seorang yeoja. Bahkan dia tidak suka berdandan sedikitpun

Langkah Dae hyun menuju kelas terhenti ketika ia mendengar keributan di depan gerbang sekolah. Ia menoleh ke belakang. Dan melihat Hyu ra terjepit di tengah-tengah pintu gerbang yang hampir ditutup. Seperti biasanya Hyu ra gagal membujuk pak satpam dan akhirnya memaksa untuk menerobos masuk.

Tanpa basa basi lagi Dae hyun mencoba membantu Hyu ra. Karena tanpa Hyu ra hari ini akan terasa sangat mengerikan. Pelajaran Matematika sangat Dae hyun benci. Hanya Hyu ra lah yang bisa ia andalkan.

"Ahjusshi~ "Teriak Dae hyun.
"Wae? Kau jangan ikut campur ya. Cepat masuk ke kelas sana!" ujar pak satpam mendelik Dae hyun.
"Tadi temanku ini pulang untuk mengambil uang jajannya. Ahjussi mau tanggung jika dia tidak belajar matematika hari ini. DHS akan terancam karena master matematikanya tidak bisa belajar gara-gara terlambat kesekolah dan di hadang oleh satpam sekolah?" Ceroscos Dae hyun.

Satpam menatap mereka berdua dengan curiga. Tapi mimik wajah Dae hyun dan Hyu ra sangat meyakinkan. Sehingga satpam pun luluh lantah.

Mereka berdua bergegas berlari menuju ruang kelas. Untung saja Kim songsaengnim belum sampai di kelas. Karena tadi mereka melihat beliau masih mengobrol dengan Kang songsaengnim di koridor sekolah.

"Kau berhutang budi denganku." ujar Dae Hyun duduk di bangkunya.
"Arasseo." Hyu ra merapikan rambutnya dengan jari tangannya.
"Kau harus membalasnya."
"Ne!!. Dasar teman yang jahat. Kau menolongku ternyata tidak iklas. Lebih baik kapan-kapan jangan tolong aku jika kau tidak iklas." Ujar Hyu ra.
"Hhusssssst! Kau mengganggu konsentrasiku saja." Dae Hyun menatap ke arah yeoja yang baru saja memasuki kelas. Sepertinya baru saja dari perpustakaan.

Yeoja itu bertubuh tinggi. Rambutnya yang panjang tertata rapi dan terlihat sangat cute. Datang ke sekolah pagi-pagi. Dan senyumnya yang sangat ramah. Itulah yeoja yang Dae hyun cari-cari.

"Seperti itulah yeoja yang sesungguhnya." Ujar Dae Hyun menatap Na Young.
"Karena kau suka dia. Jadi menurutmu dia lebih cantik dari miss Korea." Ujar Hyu ra mengejek Dae hyun.
" Andaikan dia menyukaiku seperti aku menyukainya." Kata Dae Hyun masih menatap Na young yang kini telah duduk di sebelahnya.

Senyum Na young membuatnya melayang bahkan jantungnya mendadak berdenyut lebih kencang. Sementara Hyu ra, masih mengerjakan tugas matematika Dae hyun yang masih bolong-bolong.

_____________________

Ketika jam istirahat tiba, Dae hyun menarik tangan Hyu ra. Mereka menuju taman sekolah yang tempatnya agak lebih tinggi dari halam sekolah.

Rambut Hyu ra yang ia ikat menari-nari di punggunya. Ia masih mengikuti kemana ia di giring oleh Dae hyun.

"Untuk apa kita ke sini? Aku lapar. Lebih baik aku ke kantin saja." Hyu ra ingin pergi karena perutnya lapar. Tadi pagi ia tidak sempat sarapan gara-gara terlambat bangun. Dan sekarang perutnya benar-benar lapar. Tapi Dae hyun memohon agar Hyu ra tetap di sana untuk membicarakan sesuatu yang sangat rahasia.

Tanpa bisa menolak, Hyu ra terpaksa mengiakan permintaan Dae hyun. Mereka duduk di sebuah bangku dan memulai perundingan.

"Jadi apa yang ingin kau katakan?"
"Bantu aku untuk mendapatkan hati Na young. Aku mohon?"
Wajah Hyu ra melongo. Ia kira percakapan ini akan lebih serius dari konverensi meja bundar. Ternyata hanya sebatas mimpi seorang namja bodoh.
"Dae hyun. Dengarkan aku. Aku temanmu yang sangat mengenal seluruh yeoja di DHS ini." Ujar Hyu ra memegang pundak Dae hyun. "Na young itu menyukai Jin woo. Kapten sepak bola yang sok keren. Jadi jangan terlalu banyak berharap. Aku takut kau akan kecewa."

Tatapan menjengkelkan Dae Hyun membuat Hyu ra mengangkat tangannya. Ia memalingkan wajahnya.

"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu." Ujar Dae hyun. "Aku mohon. Bantulah aku Park Hyu Ra??"

Sepertinya Dae hyun bersungguh-sungguh. Hyu ra tidak tega melihat temannya memohon-mohon seperti itu. Setidaknya ia akan membantu Dae hyun sekemampuannya.

"Apa yang dapat aku bantu? Bahkan akupun belum pernah menyicipi rasanya cinta dan pacaran. Apalagi un."

"Cukup! Kau hanya perlu menanyakan sesuatu yang sangat disukai oleh Na young dan sebagainya." Ujar Dae hyun.

Hyu ra hanya menggangguk. Ia tidak yakin ini akan berhasil. Tetapi ia juga tidak ingin membuat Dae hyun kecewa.

Di perpustakaan

Dae hyun berpura-pura membaca di bangku bagian belakang. Ia mengawasi Hyu ra yang terlihat ragu-ragu untuk menghampiri Na young. Sesekali Hyu ra menoleh ke arah Dae hyun. Dan namja itu hanya memberikan semangat.

"Eh hem." Hyu ra masih berdiri di sebelah Na young yang membaca sendirian.

Na young menoleh dan menunjukkan senyum ramahnya.
"Hyu ra? Kau suka membaca juga? Ayo duduk." Na young mempersilahkan Hyu ra untuk duduk.
"Tidak. Umm maksudku ia." Hyu ra terlihat gelagapan. "Sendirian?" tanya Hyu ra.
"Seperti yang kau lihat. Tumben kau tidak bersama Dae hyun. Dimana dia?"

Hyu ra mengernyitkan alisnya. "Ohh. Kenapa kau menanyakannya? Apakah kau menyukainya?" Goda Hyu ra.
"Ahh. Bukan begitu, hanya saja terlihat kurang. Kalian kan selalu bersama."
"Dia sedang jatuh cinta." Hyu ra menatap Na young. "Aku mau tanya. Kau ini kan cantik. Tapi belum punya pacar. Seperti apa namja yang kau cari?"

"Hahaha. Pertanyaanmu aneh sekali."
"Aneh? Menurutku tidak. Lalu seperti apa?"
"Umm. Namja yang cool. Tinggi. Suka olahraga seperti sepak bola dan romantis. Seperti itulah. Lalu kalau kau bagaimana?"
"Ahh. Tipeku seperti Lee Seung Gi oppa. Mirib-mirib seperti itulah. Hehe."

_________________

Di coffee shop

Dae hyun masih menunggu Hyu ra. Karena katanya ia ingin mengatakan sesuatu menyangkut misi membuat Na young jatuh cinta kepadanya. Tidak sabar Dae hyun menunggu kedatangan Hyu ra. Hingga akhirnya, yeoja berkuncir dua datang dengan tas jeansnya.

Ia segera duduk dan meneguk cappucino milik Dae hyun. Tanpa berkedip Dae hyun menatap temannya. Dia sangat heran dengan kepribadian Hyu ra.

"Huuust! Kau ini. Aku sudah memesankan mocacino untukmu. Kenapa kau habiskan milikku?" seru Dae hyun.
"Mian. Aku haus."
Hyu ra mengubrak-abrik tasnya dan akhirnya ia menemukan buku catatan kecil. Ia segera memberikannya kedapa Dae hyun untuk membacanya.

Mata Dae hyun mencermati setiap tulisan dan mencernanya. Ia menghembuskan nafas pelan lalu meletakkan buku itu ke atas meja.

"Apakah aku sudah keren?"
"Maka dari itu. Kita harus segera ke salon. Untuk mengubah penampilanmu ini. Kau sudah bawa uang banyak kan? Seperti yang ku perintahkan?"
"Tidak terlalu banyak.". Ujar Dae Hyun.

Tanpa basa basi lagi Hyu ra segera menyetop taxi dan meninggalkan sepedanya di sana. Sebelum ke salon, Hyu ra mengajak Dae hyun ke pusat belanja di daerah myeongdong. Disana Hyu ra memilihkan baju dan jaket keren masa kini. Juga topi keren dan seragam sepak bola tentunya. Sepatu juga perlu di ganti dan kupluk perlu di beli.

Setelah berbelanja begitu banyak, Hyu ra menggandeng tangan Dae hyun yang terlihat lemas menuju salon di dekat pusat perbelanjaan.

"Dae hyun! Jalannya lebih cepat! Belanjaanmu ini berat sekali."
"Berat sekali? Kau hanya bawa 1 kantong. Dan aku?"

Hyu ra menoleh ke arah belakang seraya mengernyit. Ia mengacak rambut Dae hyun lalu berjalan beriringan menuju salon.

Sebenarnya Hyu ra salut dengan keinginan Dae hyun. Ia rela merubah penampilannya demi Na young. Hyu ra akan membantunya hingga misi ini berhasil.

Sesampainya di salon, Dae hyun segera di tarik dan siap untuk di cakar-cakar. Eh maksudnya di permak.

"Jadikan dia mirib seperti aktor korea yang romantis." Ujar Hyu ra.

Kemudian, yeoja itu menunggu di ruang tunggu salon bersama berkantong-kantong belanjaan Dae hyun. 30 menit kemudian, mata Hyu ra terasa berat dan ia pun tertidur pulas.

1 jam kemudian, Dae hyun keluar dari salon dan membayarnya. Ia celingukan mencari Hyu ra. Dan matanya melotot ke arah yeoja yang tidur di sofa ruang tunggu. Persis seperti kucing jalanan.

Saking nyenyaknya Hyu ra tertidur, bahkan ketika Dae hyun mengguncang tubuhnya ia tidak terbangun. Tingkah jailnya Dae hyun kumat lagi. Ia mengeluarkan ponselnya dan siap untuk memfoto wajah Hyu ra ketika tertidur.

Cahaya kamera ponsel yg menerpa wajah Hyu ra membangunkannya. Ia tetap tidak sadar telah difoto.

Ketika melihat ke arah Dae hyun, mata Hyu ra tidak berkedip sedikitpun. Matanya sibuk mengamati Dae hyun dari atas sampai bawah.

"Apakah aku sudah keren?" pertanyaan itu tidak terjawab oleh Hyu ra. "Hey! Nona Drama! Apakah aku sudah keren?"
"Masih kalah keren dari Lee Seung gi oppa."
"Ahh kau ini mematahkan semangatku."
"Memangnya di dalam kau tidak berkaca. Kalau kau sudah merasa puas berarti ini sudah maksimal. Salon ini adalah salon terbaik di myeongdong. Jangan kuwatir. Tranformasimu akan berbuah manis. Aku yakin." ujar Hyu ra meyakinkan Dae hyun.
"Tapi kau tidak berkata aku keren. Berarti.."
"Sudahlah Dae hyun. Lebih baik kita ke galeri appamu yang tidak terpakai. Kita susun rencana untuk besok." kata Hyu ra seraya tersenyum.

___________________

Pagi itu para yeoja banyak sekali yang terpana dengan style baru Dae hyun. Melihat reaksi para yeoja itu, Hyu ra merasa senang dan ia segera bermaksud menemui Dae hyun.

Hyu ra kebingungan mencari-cari Dae hyun. Hingga akhirnya ia melihat punggung seorang namja berkaos sepak bola. Hyu ra segera melompat dan menghadang Dae hyun.

"Dooorr! Kau tau? Ada berita menarik!" Ujar Hyu ra sumbringah.
"wae?" Tanya Dae hyun lemas.

Tanpa bermaksud memberi tau Dae hyun buru-buru, Hyu ra memegang bahu Dae hyun.

"Ya! Katanya mau terlihat keren. Tapi kenapa kau lemas seperti ini huh? Semangat!!" Hyu ra mengguncangkan tubuh Dae hyun.
"Tapi aku tidak yakin kalau Jin woo akan menambahkanku di tim sepak bolanya."
"Bukan dia yang berwenang,  tapi Bae songsaengnim yang berwenang untuk memutuskan itu. Jadi kau harus tetap semangat!!" Hyu ra mengangkat ujung bibir Dae hyun dengan telunjuknya agar namja itu menunjukkan senyum manisnya.

"Jadi apa berita baiknya?" Tanya Dae hyun.
Sambil berjalan menuju lapangan sepak bola, Hyu ra menjelaskannya. Dan Dae hyun tak henti-hentinya tertawa puas. Ketika ia akan memasuki lapangan, tiba-tiba Dae hyun menyiku Hyu ra.

"Auu, sakit bodoh!" Ujar Hyu ra mendelik Dae hyun.

Dae hyun mengisyaratkan Hyu ra untuk menengok ke kanan dan tepat sekali, Na young tengah berjalan sendirian bersama bukunya yang ia peluk.

Hyu ra mengerti maksud Dae hyun. Ia segera melesat menghampiri Na young.

"Hay! Kau mau kemana?"
"Ohh. Aniyo. Aku pikir akan ke kelas saja."
"Kau tidak sedang sibuk kan?"

Na young hanya menggeleng. Sementara Dae hyun masih berdiri dengan sangat tampan di sisi lapangan. Ia berharap Na young berhasil di bujuk oleh Hyu ra. Dan ia berharap bisa menjadi  pemain bola yang baik hari ini di mata Na young. Walaupun hanya di mata Na young.

Hyu ra datang menggandeng Na young. Dan entah apa yang Dae hyun rasakan saat itu. Ia terlihat sangat gerogi tingkat akut.

"Na young, hari ini Dae hyun akan ikut sleksi tim sepak bola DHS. Kau harus menonton jagoan yg tampan ini."

Sementara Dae hyun, dia hanya membalas tatapan Na young sambil tersenyum ramah. Walaupun tingkah groginya sangat terlihat.

Di bangku penonton sudah duduk banyak siswi yang tau kalau hari ini  Dae hyun ikut sleksi sepak bola. Semenjak transformasi style yang dilakukan Dae hyun, semakin banyak yeoja di sekolah yang meliriknya.

Sebenarnya.. Dia tidak perlu merubah style seperti ini. Karena sejak lahir Dae hyun sudah tampan dan...

"Hyu ra! Lihat! Dae hyun akan membobol gawang lawan."
"Oh? Benarkah?" Hyu ra menutup buku diarynya. Ia sangat bersemangat sampai-sampai ia berdiri di bangku penonton dan menarik tangan Na young untuk ikuut berdiri. Tapi semangat Hyu ra tak terkalahkan.

"Dae hyun!! Semangat! Kau pasti bisa!!" Teriak Hyu ra sekencang-kencangnya. Kemudian ia menyiku Na young untuk memberi Dae hyun semangat.
"Dae hyun!!!" Teriak Na young.

Tepat saat itu Dae hyun menoleh dan Na young menyemangatinya. Dae hyun menunjukkan tanda "OK" dengan jarinya lalu ia berlari kembali. Rambutnya yang lurus dan subur terlihat sangat keren ketika tertiup angin. Dan mengundang histeria para yeoja.

Tak berselang waktu lama, Dae hyun mencetak goal. Dan seluruh penonton bertepuk tangan. Dae hyun melakukan selebrasi yang sangat keren.

"Dia keren bukan?" Tanya Hyu ra kepada Na young yang tersipu malu. Yeoja manis itu hanya mengangguk.

__________________

Kira-kira sudah seminggu ini Dae hyun dan Na young terlihat semakin dekat. Itu artinya misi Hyu ra berhasil. Tetapi entah kenapa ia merasa ada hal yang aneh. Cepat-cepat Hyu ra menepis lamunannya dan beranjak keluar mencari udara segar.

Sepanjang koridor sekolah, Hyu ra ingat ketika Dae hyun tertawa bersama Na Young di kelas. Sementara dirinya sibuk menyelesaikan tugas matematika Dae hyun. Senyum Hyu ra mengembang.

"Bodohkah aku? Cihh dasar yeoja bodoh!" Mengejek dirinya sendiri.

Hyu ra menaiki jalan setapak menuju taman sekolah. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti, matanya sibuk mengamati Dae hyun dan Na young yang sedang bercerita sesuatu. Sepertinya sangat seru.

Kalau aku kesana aku hanya akan merusak suasana. Lebih baik aku pergi..

Secepat mungkin Hyu ra pergi, agar Dae hyun tidak melihatnya. Tapi.. Memang kenapa kalau Dae hyun melihatnya? Entahlah.. Belakangan ini Hyu merasa ada hal yang aneh.

Jam pulang sekolah

Dae hyun celingukan mencari seseorang. Kali ini bukan Na young. Karena yeoja itu sudah pulang bersama temannya tadi. Ia tidak tau kemana Hyu ra pergi.

Seharian ini kelas mereka tidak dapat jam pelajaran karena kebetulan guru yang mengajar sedang ada halangan. Dae hyun terlalu sibuk bercerita bersama Na young, sampai-sampai ia tidak sadar kalau Hyu ra sudah tidak ada.

"Apakah dia sudah pulang? Ahh orang itu membuatku serba salah." Dae hyun meninggalkan sekolah sambil menaiki sepeda gayungnya.

Akhir-akhir ini kebersamaan Dae hyun dan Na young memang sudah semakin terlihat jelas. Tapi saat bersama Na young, Dae hyun berusaha keras menjadi sesosok namja yang terbaik di mata Na young. Membuatnya keluar dari zona nyamannya. Lain halnya saat bersama Hyu ra, ia merasa lebih bebas berekspresi, lebih gila dan lebih dari segalanya..

Apakah ini yang namanya persahabatan? Ataukah...

________________

Hari ini Hyu ra tidak bersekolah karena ia sakit. Sepulang sekolah Dae hyun dan Na young bermaksud menjenguk Hyu ra bersama. Di dalam bus mereka duduk bersebelahan.

"Kau terlihat sangat kuwatir." kata Na young manis.

"Oh? Ia kah? Mungkin karena dia sahabat terdekatku."

"Kau menyukainya?"

"Oh?" Dae hyun menggaruk-garuk kepalanya.

"Hmmm. Aku hanya bercanda." Ucap Na young seraya tersenyum.

Mereka segera turun. Dan 15 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Hyu ra. Sepertinya tidak ada siapapun. Dae hyun memencet bell tetapi tidak ada yang menjawab. Mobil appanya Hyu ra juga tidak ada di garasi.

Dae hyun membuka pintu dan ternyata tidak di kunci. Ia dan Na young langsung masuk ke rumah Hyu ra. Mereka segera menuju kamar Hyu ra di lantai atas. Ketika mereka membuka pintu terlihat Hyu ra tengah menonton drama korea. Melihat kedatangan Dae hyun dan Na young secepatnya Hyu ra menatikan drama yang sedang ia tonton.

"Eeh. Dasar miss drama." Ujar Dae hyun langsung duduk di ranjang Hyu ra dan mengacak rambutnya.

"Jangan panggil aku seperti itu, namja bodoh!." grutu Hyu ra

Sementara, Na young masih berdiri. Ia menyaksikan kelegaan Dae hyun dan kegembiraannya itu.

"Na young. Terima kasih sudah menjengukku. Aku tidak bisa membuatkan sesuatu. Duduklah sebentar!" ujar Hyu ra.

"Ahh. Sama-sama Hyu ra. Kau sudah. Membaik kan? Dae hyun terlihat sangat cemas."

"Hah?"

Dae hyun dan Hyu ra saling menatap kebingungan.

"Semoga kau cepat sembuh ne?"

"Gomawo. Na young."

"Cheonma. Sepertinya aku harus pulang sekarang."

"Kenapa cepat sekali? Bahkan kita belum banyak mengobrol."

"Lain kali kita akan mengobrol. Hari ini aku sudah ada janji dengan eomma. Aku pulang sekarang ne?"

"Ne. Baiklah.."

"Aku akan mengantarmu." Ujar Dae hyun berjalan mengikuti Na young keluar.

Meraka berjalan menuruni tangga dan akhirnya berdiri di teras rumah Hyu ra.

"Sampai di sini saja mengantarku. Aku pulang duluan."

"Kau serius?"

Na young mengangguk seraya pergi menjauh dari rumah Hyu ra. Setelah Na young menghilang dari pandangan Dae hyun, ia segera masuk menemui Hyu ra. Tetapi sepertinya Hyu ra sedang tidak ada di kamarnya.

Sambil menunggu Hyu ra, Dae hyun melihat-lihat DVD drama korea milik Hyu ra. Ketika sedang melihat-lihat. Tidak sengaja mata Dae hyun menangkap sebuah buku bersampul warna kuning dan sangat indah. Terllihat seperti buku catatan. Dae hyun segera membukanya, tetapi sebelum ia sempat membaca, Hyu ra masuk ke kamarnya dan membuat Dae hyun terkejut. Ia segera memasukkan buku itu ke tasnya.

"Hey! Kau mau mencuri DVD ku?" Ujar Hyu ra mengikat rambutnya.

"Ohh! Aniyo. Kau pikir aku suka mencuri hah? Dasar miss drama."

"Siapa tau. Lebih baik kita mengobrol di bawah saja." Ujar Hyu ra.

Mereka segera menuruni tangga menuju ruang tamu. Dae hyun berjalan di belakang Hyu ra. Sambil menonton tv Dae hyun mengamati wajah Hyu ra. Ia melihat mata Hyu ra yang sembab.

"Kau sakit apa?" Tanya Dae hyun.

"Umm? Entahlah.. Sepertinya hanya demam." Hyu ra masih menatap menatap ke arah tv.

"Kau habis menangis?"

Hyu ra menoleh ke arah Dae hyun yang sedari tadi menatap ke arahnya. Tatapan Dae hyun membuat jantung Hyu ra berdegub semakin cepat dan semakin cepat. Sesegera mungkin Hyu ra memalingkan wajahnya.

"Karena menonton drama."

"Oh. Aku pikir karena hal yang lebih serius."

"Kau mau tau bagaimana ceritanya?" Tanya Hyu ra.

"Ceritakanlah."

Hyu ra masih mentapa ke arah depan sambil bercerita.

"Seorang yeoja yang sangat bodoh tidak mengerti dengan perasaannya sendiri yang ternyata sudah lama menyukai sahabatnya. Sahabat baiknya. Dia hanya bisa memendamnya dan mencoba membuang perasaan kepada namja itu jauh-jauh."

"Kenapa yeoja itu harus membuang perasaannya?" Tanya Dae hyun.

"Karena namja itu telah menyukai yeoja lain. Yeoja yang lebih baik dari siapun. Dan jika yeoja ini tetap mempertahankan perasaannya, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Karena ia ingin namja yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama itu bahagia dengan yeoja yang ia inginkan. Bukankah lebih baik seperti itu?" Tanya Hyu ra.

Dae hyun terlihat kebingungan. Kemudian namja manis itu menunduk entah kenapa.

"Ahh. Bodohnya aku. Kau kan bukan sutradaranya. Haha." Tawa garing yang terdengar sangat jelas membuat Dae hyun menatap Hyu ra penuh tanya.

"Oh iya. Tahun baru sebentar lagi. Kau sudah siap menyatakan perasaanmu itu kepada Na young?" Tanya Hyu ra.

"Mmmm" Dae hyun terlihat sangat bingung. " Aku tidak yakin."

"segeralah! Sebelum semuanya terlambat." Hyu ra tersenyum simpul. Karena hatinya sangat sakit ketika ia harus mengatakan hal yang bertolak belakang dengan kata hati kecilnya.

__________________

Sesampainya di rumah, Dae hyun membuka buku yang ia ambil dari meja di kamar Hyu ra. Ia membuka halaman per halaman. Dan ketika ia membaca sebuah halaman yang berhiaskan jantung-jantung retak, sesuatu yang aneh membuat Dae hyun berfikir. Ia mengerti segalanya sekarang.

"Karena namja itu telah menyukai yeoja lain. Yeoja yang lebih baik dari siapun. Dan jika yeoja ini tetap mempertahankan perasaannya, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Karena ia ingin namja yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama itu bahagia dengan yeoja yang ia inginkan. Bukankah lebih baik seperti itu?"

Cerita itu bukanlah drama. Cerita itu adalah cerita mereka. Dae hyun kembali membaca halaman berikutnya.

"sungguh. Aku tidak mengerti dengan diriku ini. Aku merasakan kehilangan sosoknya. Sosok namja yang sangat ceria yang selalu menatapku dengan senyumnya yang indah. Walaupun ia menatapku dengan maksud yang biasa saja. Tapi aku merasa senang. Sangat senang. Apakah aku jatuh cinta? Apakah aku menyukainya? Kalau ia, apakah aku harus menyudahi hayalanku ini?"

Sebenarnya.. Dia tidak perlu merubah style seperti ini. Karena sejak lahir Dae hyun sudah tampan dan...

Tangan Dae hyun bergerak dan membuka halaman berukutnya. Hanya tertulis beberapa kata saja.

"bagaimana dia bisa mengerti? Bahkan akupun tidak mengerti kenapa aku harus menangis di atas kebahagiaanya :-( "

Dae hyun memasukkan buku diary Hyu ra ke dalam tasnya. Ia berbaring di tempat tidur sambil melihat layar ponselnya. Ia melihat foto Hyu ra yang ia ambil saat Hyu ra tidur di salon. Pikiran Dae hyun melayang jauh, hingga ia tidak sadar telah menekan tombol call di kontak Hyu ra.

"Dae hyun!! Dae hyun?!" suara Hyu ra terdengar sangat keheranan. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Dae hyun menelponnya tanpa bicara apa-apa.

"Dae hyun! Kau bermimpi hah?" Teriak Hyu ra di ujung sana.

"Aku.. Hanya ingin mendengar suaramu."

"Hhh apa? Aku mengantuk! Lebih baik kau tidur."

"Ahh ne ne. Selamat tidur. Sampai bertemu besok."

"Ne."

Tuut tuut tuut

Sambungan ponselpun di putuskan oleh Hyu ra. Dae hyun membenamkan wajahnya di bantal dan ia tidak tau apa yang telah ia rasakan saat ini. Kenapa harus sekarang? Kenapa perasaannya yang sudah lama ia lupakan harus kembali muncul di saat Na young sudah dekat dengannya? Sejak dulu Dae hyun memang sudah menyukai Hyu ra,tetapi ia tidak menghiraukan perasaannya itu. Ia senang tau kalau Hyu ra menyukainya. Tapi Na young akan tersakiti. Memikirkannya membuat Dae hyun emosi. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.

_________________

Jam istirahat telah tiba. Dae hyun dan Hyu ra berdiri di tepi koridor bersisian.

"Ceritakan lagi drama korea yang kau ceritakan kemarin." Ujar Dae hyun.

"Mw. Mwo?"

"Kenapa kau bingung seperti itu?"

"Ah. Aniya."

"Apakah akhirnya namja itu tau perasaan si yeoja?"

"Ani. Karena yeoja itu tidak akan memberitaunya."

"Kenapa tidak? Bagaimana kalau namja itu juga menyukainya?"

"Hhhh. Tidak mungkin. Dia akan bahagia bersama yeoja lain. Kau mengerti?"

Tiba-tiba Dae hyun terdiam. Ia menatap mata Hyu ra penuh arti. Membuat jantung Hyu ra berdebar sangat cepat lagi.

"Jangan menatapku seperti itu! Kau sangat menyeramkan!" Hyu ra mendorong jidat Dae hyun.

Saat itu juga Na young datang dari arah toilet. Hyu ra menepuk pundak Dae hyun dan menyemangatinya. Setelah itu, Hyu ra menghilang dari hadapan Dae hyun.

Hingga akhirnya Na young berdiri di sebelah Dae hyun, namja itu masih menatap kepergian Hyu ra. Ia tidak habis pikir, sikap Hyu ra akan sangat meyakiti hatinya sendiri demi kebahagian Dae hyun.

"Dae hyun!"

"Oh? Na young."

"Kemana Hyu ra?"

"Entalah."

Tatapan Dae hyun kosong. Dan Na young sangat mengerti karena apa. Yeoja itu menepuk pundak Dae hyun.

"Biarkan hatimu yang memilih. Kau adalah teman baikku." saat mengucapkan nada teman ditekankan oleh Na young

Dae hyun melirik Na young. Lalu ia memeluk Na young dengan sangat lembut. Mereka berdua tersenyum bahagia.

____________

Ketika jam pulang sekolah tiba. Hanya tinggal Dae hyun dan Hyu ra di kelas. Mereka berjalan keluar menyusuri koridor sekolah.

"Seandainya kau menjadi yeoja di drama itu dan aku namjanya. Apakah kau akan bersikap sepertinya?" Tanya Dae hyun.

Mendadak langkah Hyu ra terhenti. Matanya membelalak kaget. Otaknya berusaha berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Dae hyun. Semampunya ia mencoba tersenyum dan bersikap tenang

"Kenapa kau se serius itu? Jangan bahas drama itu lagi. Ne?" Hyu ra tersenyum. "Oh iya bagaimana dengan misi membuat Na young jatuh hati kepadamu?" Hyu ra tersenyum manis lagi.

Dae hyun menghembuskan nafas panjang. Ia menahan tangan Hyu ra.

"Jangan membohongiku lagi! Jangan katakan kau baik-baik saja dengan menunjukkan senyummu itu."

"Apa maksudmu?"

Mereka masih berdiri di koridor sekolah. Dae hyun mulai mengatakan bahwa ia sudah tau kalau cerita itu bukanlah cerita dalam drama. Dan ekspresi wajah Hyu ra sangat kebingungan.

"Kau menyukaiku! Itulah perasaan yeoja itu." Dae Hyun memegan kedua pundak Hyu ra.

Tapi Hyu ra masih tidak mengerti. Maksudnya, ia pura-pura tidak mengerti. Ia tidak tau kenapa Dae hyun bisa tau kalau.. Kalau dirinya menyimpan perasaan dengan Dae hyun.

Hyu ra ingin segera pergi melangkahkan kakinya. Tetapi cengkraman tangan Dae hyun membuatnya tidak bisa pergi.

"Aku mencintaimu Park Hyu ra." Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Dae hyun membuat Hyu ra bergetar. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa.

"Kita sahabat. Aku..."

"Kau juga mencintai ku. Dan aku juga mencintaimu. Kenapa kau mengelak? Kau cemburu kan ketika aku bersama Na young? Kau menangis ketika aku dekat dengan Na young!" Ceroscos Dae hyun.

"Aniyo!!"

Karena Hyu ra terus membantah, Dae hyun mengeluarkan buku diary Hyu ra yang tidak sengaja ia ambil. Melihat buku itu dibawa oleh Dae hyun, mata Hyu ra mulai berlinang air mata. Ia mengambil bukunya dan mendorong tubuh Dae hyun menjauh.

"Kau!! Kenapa kau lakukan ini hah??" Teriak Hyu ra.

"Kau tidak bisa menyangkal lagi Hyu ra." Dae hyun mendekati Hyu ra yang menunduk sambil terisak. "Aku juga menyukaimu."

"Jangan kasihani aku! Kau mengatakannya karena kau kasihan denganku! Ia kan?" Hyu ra menghapus air matanya. "Jangan katakan itu jika kau hanya kasihan! Kau jahat! Kau.. Kau jahat Dae hyun! Kenapa kau membaca buku ini!" Hyu ra mendorong Dae hyun sekali lagi. "AKU MEMBENCIMU!" yeoja itu segera pergi ke parkiran.

Secepat mungkin Dae hyun menyusul Hyu ra. Ya. Dae hyun tau kalau tindakannya itu kurang ajar, tetapi semua yang ia lakukan ketidak sengajaan.

"Hyu ra!" Dae hyun menahan Hyu ra.

"Lepaskan aku!"

"Maafkan aku. Aku tidak sengaja mengambil buku diarymu."

Hyu ra hanya terdiam. Ia masih berusaha membelokkan sepedanya.

"Hyu ra, dengarkan aku! Aku menyukaimu sudah sejak dulu. Kau mungkin tidak tau itu. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Bukan karena aku membaca buku diarymu! Kau ingat, ketika aku ingin mengatakan sesuatu di pantai? Aku ingin memgungkapkan perasaanku, tetapi kau segera mengajakku balapan lari. Aku tidak sempat mengatakannya. Sampai detik ini aku masih menyukaimu!"

"Ya!!! Lalu kenapa kau mendekati Na young? Kau mau menyakitinya hah?"

"Aniyo! Aku bingung. Aku sama seperti perasaanmu. Dan aku sadar kalau aku tidak mencintai Na young. Itu hanya sekedar obsesi saja. Dan sekarang kita sudah menjadi teman."

Hyu ra tidak menghiraukan perkataan Dae hyun ia segera mengayuh sepedanya. Air matanya terus menetes. Ia tidak mengerti kenapa ia harus menangis. Mungkin karena kelancangan Dae hyun. Ahh. Entahlah, saat ini Hyu ra hanya ingin cepat sampai di rumah.

Sudah hampir seminggu Dae hyun dan Hyu ra marahan. Mereka tidak bicara sama sekali. Hingga hari ini yaitu tanggal 31 Desember, Dae hyun menghampiri Hyu ra ketika pulang sekolah.

Sebisanya Dae hyun mencoba meminta maaf kepada Hyu ra, tetapi Hyu ra tidak menanggapinya. Ia hanya duduk di halte sambil menunggu bus datang.

"Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?" Tanya Dae hyun. Tetapi tidak ada jawaban apapun dari mulut Hyu ra.
"Jawab aku Hyu ra! Apa yang harus aku lakukan?"

"Entahlah." Ujar Hyu ra sombong.

Dae hyun berfikir sejenak. Sebelum ia memutuskan untuk berbicara.

"Aku menunggumu nanti malam di taman. Jika kau tidak datang, itu artinya aku siap melupakanmu. Untuk selamanya. Agar kau tidak merasa terganggu. Selamat sore." Dae hyun segera pergi mengayuh sepedanya.

____________________

Jam menunjukkan pukul 8 malam. Hyu ra terlihat sangat rapi dengan polesan make up yang natural dan rambutnya di gerai begitu indah. Ia masih berdiri di depan cermin.

Untuk apa aku berdandan?  Apakah aku harus kesana? Kalau aku berdandan, dia akan meledekku. Ahh seperti biasa lebih baik. Tapi, tunggu dulu, kenapa aku setegang ini? Ini bukan acara kencan ataupun candle light dinner!

Beberapa menit kemudian Hyu ra sampai di taman. Perlahan Hyu ra mendekati Dae hyun yang tengah duduk di bangku panjang sendirian.

Mendengar langkah kaki mendekat, Dae hyun menoleh ke belakang dan... Ia merasa sangat sangat senang. Dae hyun bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Hyu ra untuk duduk bersama di bangku.

Mereka duduk sambil memandangi namsan tower dari kejauhan. Lampu-lampu gedung pencakar langit terlihat sangat indah. Dan Dae hyun memulai percakapannya dengan Hyu ra.

"Ini artinya kau memaafkanku?"

"Menurutmu?"

"Gomawo." Dae hyun menatap Hyu ra yang terlihat sangat gugup. "Apa yang kau rasakan?" Tanya Dae hyun.

"Aku tidak merasakan apapun." Hyu ra masih bersikap cuek. Tapi Dae hyun tau gadis itu sedang gugup. Dae hyun duduk lebih dekat dengan Hyu ra.

"Aku punya sesuatu untukmu."

Tiba-tiba saja Ponsel Hyu ra bergetar. Ada 2 pesan masuk di kakao talk.

Pesan yang pertama adalah foto Dae hyun memegang bunga dan pesan yang ke dua adalah foto Dae hyun memegang kertas bertuliskan "I love Hyu ra. Answer please?".

Hyu ra menoleh ke arah Dae hyun. Ia menatap wajah Dae hyun yang sangat lugu. Dengan sedikit terkikik, Hyu ra mulai mengetik sesuatu di ponselnya.

Lalu ponsel Dae hyun bergetar. Ada pesan. Masuk di kakao talk. "Hyu ra: Nado saranghaeyo Paboya!"

Kemudian ponsel Hyu ra bergetar lagi. "Dae hyun: POPPO :-* "

Mata Hyu ra membelalak. Dan ia menatap ke arah Dae hyun yang tersenyum riang gembira.

"Chagiya, poppo?"
"Aish! Dasar bodoh! Aku tidak mau menciummu!"
"Em baiklah. Tapi kau tau?"
"Aniya."
"Perasaanku saat ini seperti itu." Dae hyun menunjuk ke langit di malam tahun baru.

Cahaya kembang api terlihat sangat indah di langit segelap itu. Membuat Hyu ra terkagum-kagum. Tanpa ia sangka, Dae hyun menggenggam tangannya dengan lembut. Hyu ra hanya tersenyum lalu ia merebahkan kepalanya di pundak Dae hyun.

"Kita akan selalu bersama kan Dae hyun?"

"Gerom. Kita akan selalu bersama. Selamanya."

Tiba-tiba Hyu ra mengecup pipi Dae hyun lalu ia menutup wajahnya malu.

"Oh?" Dae hyun masih membelalak kaget. Tapi ia tersenyum senang sambil memegangi pipinya.